Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Selalu Salah Tingkah


__ADS_3

Acara open house di rumah Alan berlangsung meriah. Meski protokol kesehatan dilakukan tidak mengurangi aktivitas kami. Selama acara sesekali aku melihat Alan menatapku membuatku jengah.


"Bos lihatin kamu terus tuh." tunjuk Dewi dengan dagunya.


"Hush! Jangan mulai deh." gerutuku.


"Kayaknya bos menaruh hati padamu Ra. Bukankah kalian mantan teman SMA, jadi semacam clbk gitu." asumsi Dewi.


Aku tertawa kecil menanggapi ucapan Dewi. "Saat SMA antara kami tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana bisa disebut CLBK." jawabku.


"Kalau begitu CBBK. Cinta Baru Bersemi Kini." kata Dewi sambil.menggerakkan tangannya berdeklamasi.


Ku cubit lengan Dewi. Ia menjerit keras membuat yang lain menoleh ke arah kami. Tak terkecuali Alan.


"Bos, Fira menganiaya aku." Dewi mengadukanku pada Alan. Mata Alan tajam memandangku. Aku menggelengkan kepala dan tanganku.


"Kami hanya bercanda." jawabku lalu menyenggol Dewi karena kesal. Mubgkin karena sedang tidak fokus, Dewi akhirnya malah jatuh dari kursi akibat ku senggol. Semua tertawa, akupun tertawa geli melihat Dewi yang meringis kesakitan.


Ting


Notifikasi diponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Ku lihat dari Alan.


Tetaplah tertawa bahagia. Aku senang melihatnya


Isi pesan Alan. Tawaku langsung berhenti. Aku menunduk tanpa membalas pesan Alan.


Satu persatu teman temanku mohon diri dan pulang saat acara sudah berakhir. Begitupun aku.


"Pak, ibu dimana?" tanyaku pada Alan. Karena tadi aku sempat bertemu ibunya Alan, aku bermaksud pamit pada beliau.


"Cari saja di dalam." jawab Alan pendek sambil sibuk dengan ponselnya.


Aku mengucap salam lalu masuk ke rumah Alan. Ku lihat Bu Riya sedang duduk santai di kursi malasnya.


"Assalamualaikum bu! Saya mau pamit."


"Waalaikumsalam. Oh iya Ra." Bu Riya bangkit dan menuju ke arahku."Jangan lupa pesan ibu ya." Ia mengingatkan janjiku membantunya mendekatkan Anita dan Alan.


"InsyaAllah Bu, akan Fira coba." aku lalu mencium punggung tangan Bu Riya.


Di luar teman-temanku sudah pulang semua. Ku lihat Alan duduk masih sibuk dengan ponselnya.


"Lan, aku pulang. Assalamualaikum." pamitku.


Mungkin karena konsentrasi pada ponselnya, Alan tidak mendengarku.


Aku berjalan ke arah motorku dan mencoba menstaternya. Tapi motorku tak mau menyala juga. Berkali kali aku mencoba hasilnya sama.


"Kenapa?" tanya Alan mengagetkanku. Ia berdiri tepat di belakangku.


"Tahu nih. Nggak mau nyala." jawabku kesal.

__ADS_1


"Sini biar aku coba." Alan maju dan mengambil alih stang motor dari tanganku. Sekilas tangan kami bersentuhan. Alan melihat ke arahku. Aku menunduk.


Alan mencoba menstater namun hasilnya sama.


"Sepertinya rusak dan harus di bawa ke bengkel nih." kata Alan.


"Terus bagaimana? Adakah bengkel dekat sini?" tanyaku.


"Tinggalin saja di sini. Besok akan aku suruh orang membawanya ke bengkel." usul Alan.


"Terus aku pulangnya bagaimana?"


"Kuantar!" jawab Alan.


"Eh..tidak perlu. Aku bisa telpon Mas Andre untuk menjemputku." tolakku


Alan melengos.


Aku segera menghubungi Mas Andre. Namun Mas Andre tidak bisa menjemputku. Ia bilang ada kepentungan.


Huff. Aku menghela napas.


"Bagaimana? Apa dia bisa menjemputmu?" tanya Alan.


Aku menggeleng. "Ia ada kepentingan katanya."


Alan lalu menarik kain lengan bajuku.


"Tunggu. Aku ijin Maa Andre dulu."


Ku dengar Alan mendengus. Mungkin ia kesal akan sikapku. Aku mengirim pesan ke Mas Andre setelah beberapa kali kutelpon namun tidak diangkat.


"Sudah?" tanya Alan lagi.


"Tunggu. Ia belum membalas pesanku." jawabku sambil duduk di kursi para tamu open house Alan.


Lama aku menunggu jawaban Mas Andre. Jangankan jawaban, pesanku saja belum ia baca.


"Kamu akan menunggu berapa lama Ra?"


"Maaf Lan. Tapi aku tidak bisa bersama pria lain tanpa sepengetahuan dan seijin suamiku."


Ting.


Pesan masuk. Aku membukanya dan ternyata dari Mas Andre. Ia mengijinkan Alan mengantarku pulang.


"Ayo!" ajakku sambil berdiri. Alan membawaku menuju garasi mobilnya.


"Naiklah!" Alan membukakan pintu untukku.


Setelah kami sama sama naik, Alan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang bahkan cenderung pelan dan santai. Aku diam saja tanpa protes karena sejujurnya aku takut dengan kecepatan.

__ADS_1


Saat melewati sebuah gerai kosmetik, Alan semakin memperlambat mobilnya. Matanya menatap ke arah gerai tersebut. Aku yang heran karena mobil Alan malah berhenti, mengikuti arah pandangan Alan.


Deg. Hatiku terasa sesak dan sakit. Aku melihat Mas Andre bersama seorang wanita. Mereka baru saja keluar dari gerai kosmetik itu. Aku tidak bisa melihat wajah istri baru Mas Andre karena tertutup masker.


"Itukah kepentingan yang ia bilang padamu?" tanya Alan sinis.


Kupalingkan wajahku dari melihat Mas Andre. Aku menatap lurus ke depan.


"Jalan, Lan!" kataku dengan suara bergetar. Alan menjalankan mobilnya.


"Kau masih ingin mempertahankan rumah tanggamu setelah apa yang ia lakukan hari ini?" tanya Alan datar.


"Lan, dia juga istrinya. Mas Andre juga punya tanggung jawab terhadapnya." jawabku. Mungkin jawabanku terdengar membela Mas Andre, namun sebenarnya hanya untuk menenangkan hatiku sendiri.


"Cih." Alan mendecih sambil tersenyum sinis. Alan lalu memutar arah kemudinya. Jalan yang ia ambil bukan jalan menuju rumahku.


"Lan, kita mau kemana?" tanyaku bingung.


"Membawamu melihat kenyataan!" jawab Alan sedikit sarkasme.


"Lan, aku mau pulang." teriakku. Aku benar benar takut karena Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arah luar kota.


"Pulang untuk apa? Untuk mencium bau parfum wanita itu di tubuh suamimu, atau melihat bekas bibirnya di kemeja suaminu ha! Bercerailah Ra!" kata Alan yabg benar-benar mengagetkan aku.


"Lan, kau tak boleh bicara begitu. Dia suamiku." kataku menahan isak tangis. Apa yang diucapkan Alan memang benar. Aku sering mencium bau parfum yang bukan parfum Mas Andre di baju Mas Andre. Dulu itu membuatku sakit, tapi sekarang aku sudah terbiasa. Terbiasa dengan rasa sakit.


Alan tertawa sumbang, "Aku heran dengan dirimu. Benar-benar heran. Kau ini wanita sholehah, apa wanita bodoh!" kata Alan sinis.


Mendengar itu rasa di dadaku tak lagi bisa ku bendung.


"Kau benar Lan. Aku wanita bodoh. Bahkan sangat bodoh. Saking bodohnya aku ini tidak berharga dan tidak pantas untuk siapapun. Bahkan untuk Mas Andre yang hanya pegawai rendahan saja aku tak pantas." jeritku dengan terisak.


"Ra..ra..maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya tidak suka kau terlalu lemah." Alan menyesali perkatannya.


"Aku bukan lemah Lan." rintihku. "Aku hanya berusaha menjalani takdirku dengan ihklas dan sabar. Aku hanya berusaha ridlo pada apa yang Ia tetapkan untuk hidupku. Apa aku salah Lan." aku menangis. Alan menepikan mobilnya. Dia diam membiarkan aku menumpahkan semua yang aku rasakan dalam tangisku.


"Maaf, Ra!" Alan kembali mengucapkan permintaan maafnya. Aku melihat bayangan tangan Alan hendak mengelus kepalaku, namun urung.


"Ra...sudah ya. Nanti orang-orang bisa salah sangka. Maaf, aku tidak akan mengatakannya lagi. Aku janji." Alan membujukku.


"Lan seharusnya kau mendukungku. Bukan malah melemahkanku." ucapku di sela sela isakan yang mulai mereda.


"Iya maaf. Aku akan selalu mendukungmj. Mau didukung di mana? Di depan apa di belakang?"


"Nggak lucu." aku cemberut. Alan tergelak.


"Jangan cemberut. Kamu..." belum selesai Alan bicara aku memotongnya.


"Iya..iya..aku jelek kalau cemberut. Biarin jelek." omelku sewot.


"Siapa bilang jelek. Makanya jangan nyambar kalau ada orang bicara." Alan tertawa kecil. Ia lalu mendekat ke arahku, "Kamu imut kalau cemberut." bisiknya.

__ADS_1


Wajahku memanas. Mungkin saat ini mukaku merah. Aku tidak berani melihat ke arah Alan. Dalam hati aku mengeluh, mengapa pria ini selalu membuatku salah tingkah.


__ADS_2