Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Tragedi Ruang Meeting.


__ADS_3

"Selamat pagi." Alan membuka suara memulai meeting.


"Aku kumpulkan kalian pagi ini karena ada beberapa program kecamatan yang harus segera dilaksanakan mengingat sudah mendekati akhir tahun. Jadi saya harap sebelum tutup tahun semuanya sudah terealisasi agar anggaran bisa terserap seluruhnya. Untuk lebih jelasnya, Bu Sekcam yang akan memaparkannya. Silahkan bu!"


Fira mengangguk hormat kepada Alan. Ia membuka laptopnya dan mulai memaparkan program program yang belum terealisasi sempurna. Dia juga membagi tugas tiap tiap seksi sesuai bidangnya masing masing. Meeting dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Setelah selesai, masing masing seksi keluar dari ruang meeting. Tinggalah Alan, Fira dan Dewi.


Dewi sedang menyimak petunjuk dari Alan, sementara Fira membuka pesan di melalui laptopnya. Ia lupa jika sambungan ke proyektor belum ia cabut.


Fira membuka pesan dari Salman.


"Apa?" Fira memekik tanpa sadar saat melihat posisi tidurnya dengan mulut terbuka di foto oleh Salman.


Alan dan Dewi yang mendengar pekikan Fira menoleh dan mereka kaget karena di layar terpampang isi pesan Fira dan Salman.


Fira asyik membalas pesan Salman.


Fira : Usil banget, orang tidur di foto🀬


Salman membalas dengan mengirim foto lehernya yang banyak tanda merah buah karya Fira.


Salman: Lain kali jangan di leher ya sayang. Di tempat lain saja. Banyak jomblo di kantor ngenes lihat leherku 😘😘


Fira : Gitu aja protes. Mas juga buat banyak sekali. Tubuhku dah mirip ular bersisik πŸ˜’


Salman : Tapi kamu kan tertutup sayang. Lha aku?😍


Wajah Alan berubah tegang membaca pesan Salman dan Fira. Dewi menatap prihatin ke Alan.


Ceroboh banget bu sekcam ah.


Dewi membereskan berkasnya lalu pamit pada Alan. Dia berjalan melewati Fira dan langsung mencabut kabel penghubung laptop Fira dan proyektor.


Fira terkesiap. Ia baru sadar kalau pesan-pesannya terpampanh di layar


"Astagfirullah." ucap Fira. Ia melirik.ke Alan yang saat itu juga sedang menatapnya dengan sorot yang sulit dilukiskan. Ada luka dalam sorot mata Alan.


Sakit Fir. Ternyata susah sekali move on darimu. Tiap hari aku selalu menghibur diri jika suatu saat kita bisa bersama.


" Pak, saya permisi kembali ke ruangan saya dulu." Fira membereskan laptopnya dan beringsut hendak meninggalkan ruang meeting.


"Tunggu." Alan menyeru dengan suara rendah.


Fira berhenti dan berbalik. Matanya memandang Alan yang berjalan mendekatinya.


Kini mereka berhadapan. Alan terus menatap wajah Fira yang menunduk.


"Maaf, aku tidak bermaksud...aku..tidak sengaja tadi." gumam Fira.


"Tidak apa. Terima kasih." suara Alan bergetar.


Fira mengangkat wajahnya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih sudah menyadarkanku. Selama ini aku masih memendam harapan meski sedikit. Harapan kalau kita bisa bersama. Tapi hari ini, kau memangkasnya habis." Alan tersenyum getir.


"Maaf." gumam Fira lirih.


"Salman sangat mencintaimu. Dari dulu hanya kamu. Aku tahu itu. Jadi genggamlah cintanya dan percayalah pada dia. Hanya pada dia dan apa yang ia ucapkan. Ingatlah selalu pesanku ini Fir. Jangan biarkan kebahagiaanmu dirusak orang lagi."


Fira kembali menatap Alan. Kali ini ia menatap penuh kebingungan akan ucapan Alan.


"Maksudmu apa, Lan?"


"Bukan apa-apa. Hanya ingat saja ucapanku hari ini jika kamu ada masalah dengan Salman. Ingat kalau Salman orang yang bisa dipercaya. Dan, Ra. Tetaplah datang padaku jika kelak butuh bantuanku. Jangan menjauh dan menanggung semuanya sendiri. Aku masih kawan baikmu."


Alan mengulurkan tangannya hendak menyentuh lengan Fira namun urung.


"Salman pasti tidak suka jika tahu aku menyentuhmu." Alan menurunkan tangannya lagi.


"Makasih. Aku akan ingat selalu ucapanmu. Aku permisi." Fira membuka pintu dan keluar.


Brak


Alan meninju meja melepaskan sesak di dadanya.Tannganya mengepak dengan kuat. Tubuhnya bergetar. Setetes air jatih dari matanya membasahi meja.

__ADS_1


"Kak Alan?" Anita yang masuk ke ruangan meeting menatap khawatir melihat keadaan Alan.


Alan tidak sempat menyembunyikan apa yang ia rasakan karena Anita masuk dengan tiba-tiba. Ia mengangkat wajahnya menatap Anita.


Anita kaget melihat mata Alan berkaca kaca.


"Kak, kamu kenapa?" Anita mendekati Alan. Tanpa ia duga Alan menariknya dan memeluknya dengan erat.


"Sakit Nit. Sangat sakit." gumam Alan semakin mengeratkan dekapannya ke tubuh Anita seolah mencari kekuatan.


Meski bingung namun Anita tidak berani membuka mulutnya untuk bertanya. Ia hanya menepuk-nepuk punggung Alan pelan sambil terus berpikir mencari penyebabnya.


"Sabar kak. Semua pasti indah pada waktunya." Anita berusaha menghibur Alan.


"Kenapa mencintai sesakit ini Nit?"


Itu aku juga tidak tahu. Tapi aku bisa merasakan sakitmu kak. Karena aku juga mengalaminya. Mencintai orang yang tidak mencintai aku.


Anita mengelus lembut punggung Alan. Perlahan Alan melonggarkan dekapannya dan mengangkat wajahnya dari atas bahu Anita. Ia menatap Anita.


Anita menaikkan tangannya mengusap bekas air mata di pipi Alan.


Alan menangkap tangan Anita. Mereka saling menatap dan tanpa Anita duga, Alan mencium bibirnya.


Mata Anita terbelalak kaget. Sekejab otaknya seperti berhenti tanpa bisa berpikir apapun. Tubuhnya mematung. ciuman Alan bagai mengalirkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya yang membuat organ-organnya konslet.


Melihat Anita tidak menolak, Alan makin memperdalam ciumannya. Ia bahkan menarik tubuh Anita sehinga tiada lagi jarak antara keduanya.


Tarikan Alan menyadarkan Anita. Ia mendorong Alan dan


Plak


Anita menampar Alan. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu berbalik dan keluar dari ruang meeting meninggalkan Alan yang termangu sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Anita.


"Oh ****. Apa yang telah aku lakukan? ****. ****." Alan meremas rambutnya.


Anita


Alan keluar dan berusaha mengejar Anita.


"Pak!" Dewi memanggil Alan.


"Tarih di meja. Saya lagi sibuk." Apan meninggalkan Dewi. Baru beneraoa langkah ia berbalik.


"Wik, kau melihat Anita?"


Dewi menggeleng


"Sudahlah."


Alan kembali mencari Anita.


Setelah keluar dari ruang meeting, Anita berlari ke ruangan Fira.


"Mbak." ia memanggil Fira dengan suara bergetar dan wajah yang penuh air mata.


"Nit, kamu kenapa" Fira bangkit dati duduknya.


Anita menghambur memeluk Fira dan menumpahkan tangisnya dalam pelukan Fira.


Kini Fira yang berusaha menenangkan Anita.


"Menangislah. Setelah itu ceritakan padaku ada apa?" Fira mengelus punggung Anita.


Ceklek


Pintu ruangan Fira terbuka. Alan berdiri kaku melihat Anita yang menangis dalam pelukan Fira. Fira melihat ke arah Alan dan dari wajah Alan ia tahu kalau Alanlah penyebab tangisan Anita.


Alan menutup pintu dan beranjak pergi.


Anita menghentikan tangisnya.


"Duduklah dan ceritakan kalau kau mau cerita!" Fira membimbing Anita untuk duduk di sofa depan mejanya. Mereka duduk berdampingan.


"Ada apa? Apa ada hubungannya dengan Pak Alan?" tebak Fira.

__ADS_1


Anita mengangguk perlahan.


"Oh. Apa kau mau cerita?" Fira berkata dengan hati-hati.


Anita diam.


"Ya sudah. Nggak papa kalau kau nggak ingin cerita." Fira mengelus lengan Anita.


Ia lalu berdiri untuk mengambilkan Anita minum.


"Dia menciumku." ucap Anita.


Bug


Air mineral gelas yang Fira pegang jatuh saking kagetnya mendengar pengajuan Anita.


"Maaf. Aku kaget. " Fira mengambil gelas yang lain.


"Minumlah." Ia menyodorkan minuman itu pada Anita.


Anita meneguknya. Selesai minum ia menceritakan apa yang terjadi di ruang meeting.


"Aku disuruh Bu Riya menyampaikan undangan. Takut Kak Alan lupa. Ketika datang aku mencarinya ke ruangannya tapi dia tidak ada dan dari salah satu staf aku diberitahu kalau dia ada di ruang meeting. Saat aku masuk ruang meeting aku melihatnya dalam kondisi yang memprihatinkan. Dia seperti sangat tersiksa. Matanya dipenuhi airmata bahkan sudah meleleh ke pipinya."


Fira menelan ludah dengan susah payah. Bahkan ia minum agar tenggorokannya tidak tercekat.


Maafkan aku Lan.


"Aku mendekatinya dan bertanya. Tapi dia malah memelukku sambil mengeluh kalau hatinya sangat sakit."


Mata Fira mengerjab. Ia menengadah menahan agar airmatanya tidak jatuh.


Maafkan aku Lan


"Ia bahkan bertanya kenapa mencintai bisa sesakit ini, katanya. Aku diam kak. Saat aku mengusap air matanya, ia memegang tanganku dan tiba-tiba menciumku. Entah mengapa aku merasa marah dan menamparnya." lirih Anita.


Fira diam. Ia benar-benar tidak tahu harus komentar apa. Kejadian yang menimpa Anita berawal dari kecerobohannya.


"Mbak, aku harus bagaimana?" tanya Anita memelas.


FIra berpikir sejenak.


"Aku tidak menyalahkanmu. Dicium mendadak oleh pria yang bukan siapa siapa kita, marah itu wajar. Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu."


Fira lalu diam. Ia sibuk dengan perasaan bersalahnya.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Ya, seperti biasa saja. Kalau kau takut kejadian ini terulang, jangan pernah hanya berdua saja dengan Alan."


"Aku sudah menamparnya. Apa aku harus minta maaf?"


"Dia yang seharusnya minta maaf. Sudah. Tunggu saja ia datang minta maaf. Aku yakin dia akan mencarimu."


Tadipun ia sudah mencarimu.


Anita mengangguk.


"Aku akan ikuti nasehat mbak. Makasih mbak. Aku permisi. Kalau kelamaan, nanti kerjaan mbak jadi terganggu." Anita memasang senyumnya.


"Ya, hati-hati."


"Iya mbak. Salam ke kan Salman. Tapi ngomong-ngomong Mbak Fira gemukan ya?" Anita meneliti tubuh Fira.


"Iya nih. Tadi Mas Salman juga n


bilang begitu."


"Tandanya mbak bahagia."


"Amiin."


Setelah mengucap salam, Anita meninggalkan ruangan Fira.


...****************...

__ADS_1


Like, like, like, like nya donk....


Sambil nunggu up episode selanjutnya, mampir dong ke karya author yang lain. Siapa tahu jadi suka juga. Met membaca...


__ADS_2