
“Nggak pulang?” Dewi mengagetkanku yang sedang duduk memandangi surat panggilan siding perceraianku yang pertama. Aku melirik benda bulat di pergelangan tanganku.
“Sudah sore ya?!” gumamku.
“Belum, masih subuh.” Seloroh Dewi membuatku tersenyum.
“Itu apa?” Dewi menunjuk amplop coklat yang aku pegang. Kutunjukan amplop itu padanya.
“Pengadilan agama?Sidang perceraian?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Kapan?”
“Besok. Aku nitip surat ijin untuk sidang besok.” Kataku lalu menyerahkan amplop putih berisi surat ijinku kepada Dewi.
“Lha?Kan kamu bisa langsung menghadap Pak Alan sekarang. Beliau belum pulang tuh! Masih mendekam di ruangannya.”
Jadi Alan belum pulang.
“Nitip saja ya!Please!” aku memohon pada Dewi.
Dewi mengernyitkan alisnya, “Kalian bertengkar?” tanyanya penuh selidik.
“Nggak!” jawabku pendek, “Hanya aku enggan nanti kalau dia tanya-tanya.” Elakku.
“Oooo.” Bibir Dewi membola namun matanya menatap tak percaya akan alasanku. Dia mengambil amplop
putih itu dan langsung membawanya keluar. Aku menggelengkan kepala melihat tingkatnya yang suka sladar sludur itu.
Aku hendak menstater motorku saat kudengar dering ponselku. Ku ambil posnselku dari dalam tas dan melihat nama Alan tertera di sana. Ku kembalikan lagi ponselku tanpa berniat mengangkat panggilan Alan. Akhirnya dering ponselku berhenti. Namun beberapa saat kemudian berbunti lagi.
Dasar Alan. Nggak menyerah juga dia. Maaf Lan kalau kali ini aku bersikap tegas. Aku tidak mau kau
menyalah artikan sikap baikku.
Kubiarkan ponselku terus berbunyi. Aku langsung menyalakan mesin motorku dan melaju menuju rumah. Sepanjang jalan dering ponselku tidak berhenti. Setiap kali berhenti, ia akan berbunyi lagi. Aku menepikan motorku
dan berhenti untuk memeriksa ponselku.
“Kak Salman.” Gumamku saat kulihat panggilan yang sedari tadi kudengar ternyata dari Kak Salman.
Aku segera menelepon balik.
“Assalamualaikum, Ra! Apa kau bisa menjemputku?Mobilku mogok di Jalan K, aku sudah telepon pihak
bengkel dan sebentar lagi mereka akan datang dan menderek mobilku. Jadi tolong ya! Jemput aku!” pinta Kak Salman.
“Waalaikumsalam, Iya kak!” jawabku pendek lalu mengakhiri panggilan. “Kenapa Kak Salman meneleponku?Kenapa bukan Alan?” gumamku. “Ah sudahlah. Aku kan menjemputnya.”
Kulajukan motorku menuju jalan K. Tak berapa lama kemudian aku sampai di jalan K. Dari kejauhan
aku bisa melihat mobil Kak Salman berhenti di pinggir jalan. Semakin dekat aku melihat jelas Kak Salman yang sedang berteduh di bawah pohon. Ia memakai kemeja putih dengan lengan digulung. Dua kancing atas dibiarkan terbuka. Bagian bawah kemeja putihnya dimasukkan ke celana bahan berwarna abu tua yang diikat dengan
sabut kulit. Rambutnya sedikit berantakan karena tiupan angin. Penampilan Kak Salman sore itu benar-benar maskulin.
“Mobilnya kenapa, Kak?” tanyaku basa-basi menghilangkan kegugupanku.
“Nggak tahu Ra. Tiba-tiba saja mogok. Begini kalau mobil sewaan.” Jawabnya sambil mendekatiku. “Terima
kasih ya sudah datang.”
Aku mengangguk.
“Aku menelepon Alan sebenarnya tadi, tapi tidak dia angkat. Mungkin ia sedang sibuk.”kata Kak
Salman.
Sibuk apa marah.batinku.
“Ra!” panggil Kak Salman menyentakku yang sedang melamun mengingat kejadian dengan Alan di kantor
tadi.
“Ya, Kak?” jawabku tergagap.
__ADS_1
“Ngelamunin apa?” Tanya Kak salman sambil tangannya memegang stang motorku.
“Nggak ada, Kak.” Jawabku sambil menggeser tanganku karena tangan kami berdekatan. Aku menunduk tidak
berani menatap Kak Salman.
“Nah itu mereka!” seru Kak Salman membuatku mendongak. Aku melihat aku melihat sebuah mobil derek
melaju ke arah kami dan di belakang mobil derek itu ada mobil lain berwarna hitam yang sepertinya mobil Alan. Namun saat mobil derek menepi ke arah kami, mobil hitam itu lewat begitu saja. Aku menatap kepergian mobil itu memastikan apakah itu mobil Alan.
Kenapa bisa lupa ya, berapa plat nomer mobil Alan.
“Ayo Ra!” ajak Kak Salman.
“Ha?Kemana Kak?” tanyaku kaget.
“Pulang. Turunlah!Aku yang akan nyetir.” Kak Salman mengambil alih stang motorku. Ia lalu naik dan aku duduk di belakangnya.
“Pegangan Ra!” titah Kak Salman.
“Sudah Kak.” Jawabku. Aku berpegangan pada bagian belakang motorku, “Jangan ngebut Kak! Aku takut
kecepatan.” Pintaku.
“Ya.” Jawab Kak Salman pendek.
Kami melaju memecah lalu lintas sore. Kak Salman mengendarai motorku dengan santai.
“Rumahmu dimana, Fir!!” teriak Kak Salman mengimbangi suara bising kendaraan yang lalu lalang.
“Di perumahan X, Kak.” Jawabku.
“Ok.” Balas Kak Salman. Ia lalu mengarahkan motor ke perumahanku.
“Kak! Bukannya Kak Salman mau ke hotel?” tanyaku.
“Nggak. Aku akan mengantarmu. Lalu motormu ku bawa pulang. Bolehkan?”
Aku mengangguk. Aku tahu Kak Salman bisa melihat anggukanku lewat kaca spion.
“Jadi ini rumahmu?” kata Kak Salman sambil memandangi rumahku.
“Iya. Tidak sebesar rumah Kak Salman kan?” jawabku.
“Rumah besar tidak menjamin akan bahagia, Ra. Boleh aku masuk?”
“Eee..maaf Kak. Aku sendirian jadi nggak enak kalau Kak Salman masuk. Takut para tetangga…”
“Ya. Aku mengerti.” Kak Salman tersenyum. “Ok. Aku balik ke hotel dulu. Oh ya, Ryan nggak di
rumah?Kangen aku sama anak itu.”
“Ryan ada di kakak. Biasanya habis magrib aku akan menjemputnya.”
“Kalau begitu, habis magrib aku kemari. Kita jemput Ryan.” Kata Kak Salman.
“Nggak usah Kak. Nanti Ryan biar diantar kakakku saja. Lagi pula aku banyak kerjaan.” Tolakku.
Kak Salman mengangguk-angguk,”Baiklah. Aku pamit ya!”
“Ya.”
“Assalamualaikum,Ra.”
“Waalaikumsalam,Kak.”
Kak Salman memutar motor dan melaju meninggalkan rumahku.
Aku masuk dan langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan mandi. Cukup lama aku berendam dengan air hangat untuk merilekskan otot-ototku yang terasa tegang. Stelah merasa segar, aku mengakhiri mandiku. Ku kenakan handuk kimonoku dan keluar dari kamar mandi.
“Kau?!!” pekikku kaget saat melihat Mas Andre berdiri dekat pintu kamar mandi. Aku berusaha masuk kembali ke
kamar mandi, namun terlambat. Mas Andre menarikku hingga aku menubruk tubuhnya. Ia kemudian mendorongku ke atas ranjang dan menindihku.
Aku berontak sekuat tenaga.
__ADS_1
“Kau!Berani kau menggugat cerai aku hah?!” bentak Mas Andre. Ia menarik kimonoku hingga terbuka memaperkan tubuh polosku. Mas Andre berusaha mencium dadaku.
“Tidakkk!! Lepaskan!!Kau sudah menalakku. Kau tidak lagi berhak atas tubuhku!!” teriaku sambil terus meronta. Mas Andre tidak menggubrisku, Ia terus berusaha mencumbuku dengan sangat kasar. Aku masih berusaha melepaskan diri sambil berterik menyadarkan Mas Andre.
“Lepaskan aku, Mas!!!Jangan sampai kita berbuat dosa!!” teriakku. “Lepaskan aku!!”
BRAKKK
Pintu kamarku didobrak dari luar. Aku dan Mas Andre menoleh. Ku lihat Kak Salman berdiri dengan mata dan wajah merah marah menatap ke arah kami. Ia lalu mendekat dan mencengkeram baju Mas Andre hingga tubuh Mas Andre terhenyak ke belakang. Lalu Kak Salman menghantamkan tinjuknya ke wajah Mas Andre. Mas Andre terhunyung sampai menabrak meja riasku,. Mas Andre memballas Kak Salman dengan melempar benda benda yang ada di atas meja riasku.
Aku menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku. Juga melingkarkan ke kepalaku. Hanya mataku yang terlihat mengawasi perkelahian antara Mas Andre dan Kak Salman.
Tubuhku gemetar.Aku benar-benar ketakutan dengan sikap Mas Andre yang hendak memperkosaku.
“Siapa kau?Ikut campur urusan orang huh?!” bentak Mas Andre.
“Aku temannya.” Jawab Kak Salman. “Calon suaminya.” Ia melanjutkan.
Mataku terbelalak mendengar jawaban Kak Salman.
“Hahahahahaha.” Mas Andre tertawa sambil tepuk tangan. “Hebat kau Fira. Sidang perceraian kita baru besok, tapi kau sudah menyiapkan calon suami. Ck Ck Ck. Ternyata kau jalang juga.” Ejek Mas Andre. Lalu ia menatap Kak
Salman yang masih memandangnya dengan tatapan murka. “Kau mau bekasku? Ambil…ambil. Aku sudah puassss.” Mas Andre mendekat lalu menepuk pundak Kak Salman. “Ambil. Dia sangat nikmat. Hahahaha.” Tawa Mas Andre terhenti saat tinju Kak Salman kembali bersarang di perutnya. Kak Salman mencengkeram bahunya dan mendorongnya hingga menempel daun pintu.
“Pergi kau!!! Jangan gangu Fira. Kalian sudah cerai!” tegas Kak Salman.
“Kalau aku tidak mau?” Mas Andre tersenyum mengejek.
“Akan aku suruh orang untuk memperkosa istri mudamu.” Ancam Kak Salman membuat wajah sinis Mas
Andre berubah. Ia lalu melepaskan tangan Kak Salman.
“Ini belum selesai.” Ucap Mas Andre lalu pergi.
Kak Salman berdiri menatap ke arah Mas Andre.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya masih dengan pose memunggungiku.
“Iya.” Jawabku lirih.
“Ku tunggu kau di luar.” Kak Salman lalu keluar sambil meutup pintu.
Aku bangkit melepaskan selimut lalu menganmbil pakaian. Selesai berpakaian aku keluar menemui Kak Salman
yang tampak duduk tenang di sofa depan.
Kak Salman menatapku saat aku mendekat. Aku menunduk malu. Kak Salman pasti melihat tubuh polosku tadi. Aku duduk di depan Kak Salman. Kami sama-sama diam. Suasana berubah menjadi canggung.
“Ra.”
“Kak.”
Kami berkata berbarengan.
“Kau dulu!” titah Kak Salman.
“Kok Kak Salman bisa datang?” tanyaku.
“Itu. Aku lupa meminta STNK sepedamu. Jadi aku kembali untuk memintanya. Aku takut terjadi apa-apa di jalan. Taku ada pemeriksaan kelengkapan surat-surat. Jadi aku kembali.” Kak Salman menjelaskan. “Dan saat aku datang pintu pagar terbuka dan ada sepeda. Lalu aku masuk saja. Saat dekat aku mendengar teriakanmu. Jadi aku
terus masuk dan mendobrak pintu kamarmu. Begitu.”
“Terima kasih Kak.” Ucapku lirih.
“Ra!”
“Iya, Kak?”
“Menikahlah denganku.”
“Kak, kita sudah membahasnya. Aku nggak bisa jadi istri kedua.” Jawabku.
“Kau tidak akan jadi istri kedua, Ra. Kau yang pertama. Aku sudah bercerai dari Elsa."
Aku mendongak menatap tak percaya ke wajah tampan Kak Salman.
__ADS_1