Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Mas!


__ADS_3

"Bunda!!" Ryan berlari menghambur ke arah Fira, "Papa mana, Bun?" Ia celingukan mencari keberadaan Salman.


"Papa lagi keluar kota, sayang." Fira mengelus rambut Ryan.


"Kok kita nggak diajak?"


"Tadinya mau diajak, tapi bunda yang nggak bisa ikut. Jadi papa berangkat sendiri."


"Kita naik apa Bun?" Tanya Ryan saat ia tidak melihat mobil ataupun motor yang biasa Fira pakai untuk menjemputnya.


"Kita naik taksi online. Bunda pesan dulu ya." Fira membuka ponselnya lalu mulai memesan taksi online. Lama Fira menunggu namun ia belum juga mendapatkan taksi yang ia pesan.


"Masih lama Bun? Ryan capek." Ryan malah ngejugruk di trotoar depan sekolahannya.


"Sayang bangun! Kotor."


"Ryan capek." Anak itu mulai merengek.


"Sabar, bunda juga tidak tahu kenapa nggak dapat-dapat nih taksinya. Mungkin karena cuaca mendung ini."


Fira mengacung-acungkan ponselnya mencari sinyal.


Thin..Thin..(Bunyi klakson mobil)


Sebuah mobil berhenti di depan mereka.


Alan.


Kaca mobil terbuka.


"Kalian sedang apa?" Wajah tampan Alan muncul.


Fira hendak membuka mulutnya untuk menjawab namun di dahului Ryan.


"Om Alan!" Ryan langsung bangkit dan mendekati mobil Alan. "Om, antarin kita pulang! Ryan sudah capek."


"Ryan!" tegur Fira. Ia merasa tidak enak pada Alan.


Alan tersenyum, "Masuk!"


"Horee!!" Tanpa pamit pada Fira Ryan langsung membuka pintu mobil Alan.


"Maaf, Pak. Ryan .."


"Sudahlah Fir! Di luar kantor kita adalah teman kan. Jangan sungkan! Kamu tidak mau masuk?" Alan memandang Fira.


Fira tersenyum lalu masuk dan duduk di sebelah Ryan.


(Wah Pak Camat jadi sopir nih😜)


"Mm..nggak ada yang duduk di depan nih?" Alan memandang keduanya dari spion.


"Ryan mau!" Ryan lalu melompat dan duduk di jok depan samping Alan.


Alan melajukan mobilnya.


"Salman kemana, Fir? Biasanya dia nggak pernah membiarkanmu sendirian?"


"Papa ke luar kota." Ryan yang membalas pertanyaan Alan.


"Urusan kerja?"


"Bukan. Dia ke Jakarta. Tadi Bu Hera menghubunginya dan mengabarkan kalau Ardi sakit. Jadi dia ingin Mas Salman melihat Ardi."


"Jadi Ardi sakit, Bunda?" Ryan melihat ke belakang.


"Iya. Doakan agar Ardi cepat sehat ya!"


Ryan mengangguk.

__ADS_1


"Ra! Apa tidak ada kabar dari Elsa?" Alan bertanya sambil melihat Fira melalui kaca spion.


"Aku belum dapat kabar apa-apa soal dia. Bagaimana denganmu?"


"Sama. Apa dia juga tidak menghubungi Salman?"


Fira menggeleng. "Kalau dia menghubungi Mas Salman, Mas Salman pasti cerita padaku."


Alan mengangguk. Ia membenarkan ucapan Fira. Dia tahu Salman tidak akan melakukan hal yang membuat Fira kecewa.


"Lan, bagaimana persiapan pernikahanmu?"


"Aku tidak tahu. Semua diurus oleh pihak W.O. Mereka melaporkannya ke ibuku." Alan mengangkat bahu. Pandangannya lurus ke depan, ke arah jalanan.


"Kau ini. Bagaimana kau bisa secuek ini. Kau calon mempelai pria, Lan."


"Aku mungkin akan antusias jika calonku adalah wanita yang aku cintai." Alan menatap Fira yang sedang melihat ke luar jendela mobil.


Mendengar jawaban Alan, Fira langsung menunduk. Alan tersenyum pahit.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah baru Fira.


"Terima kasih, Lan. Maaf aku tidak mengundangmu masuk karena suamiku tidak di rumah." ucap Fira setelah turun dari mobil Alan.


"Nggak papa. Aku mengerti. Ya udah, aku pamit. Dah Ryan!"


"Dah Om Alan. Makasih!" Ryan melambaikan tangannya.


"Ryan, lain kali kalau bertemu Om Alan, jangan merepotkan seperti tadi!" Fira menegur Ryan saat Alan sudah meninggalkan mereka.


"Iya, Bunda. Maaf. Soalnya Ryan sudah sangat capek." mohon Ryan memelas.


"Ya. Bunda maafkan. Masuk yuk!" Fira meraih bahu Ryan dan membawanya masuk ke halaman rumah mereka.


***


Salman menunggu bawahannya yang tadi ia telepon. Sambil menunggu, ia menghubungi Fira.


"Assalamualaikum, Mas. Sudah sampai ya?"


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah sudah, yang. Tadi jemput Ryan nggak naik motor kan?"


"Nggak, Mas. Tadi aku berangkat jemput Ryan naik taksi online. Terus pulangnya ketemu Alan dan sekalian diantar karena Ryan yang minta. Ryan bilang ia sudah sangat kelelahan makanya langsung minta Alan mengantar kami. Tapi aku tidak mempersilahkan dia mampir kok Mas. Tadi di menurunkan kami dan langsung cabut."


Salman terkekeh mendengar jawaban panjang dan jelas Fira.


"Kenapa Mas Salman tertawa?" Fira heran.


"Kamu lucu. Pertanyaanku pendek tapi jawabanmu panjang dan jelas. Seperti anak sekolah mengerjakan soal uraian." Salman kembali tertawa.


"Ck, Mas ini. Aku nggak mau nanti Mas salah paham. Makanya aku jelaskan. Daripada Mas Salman dengar dari orang lain, mending dengar dari aku kan."


"Iya, sayang. Aku percaya kok sama kamu. Yang, kangen nih." Suara Salman manja.


"Apaan sih, baru juga beberapa jam." Fira tertawa geli mendengar kemanjaan Salman.


"Nyatanya aku memang beneran kangen, gimana dong."


"Kalau begitu, pulang dong." Suara Fira tak kalah manja. Bahkan Fira membuat suaranya terdengar seksi.


Salman mengertakkan rahangnya gemas mendengar suara Fira.


"Sayang jangan menggodaku begitu! Nggak kasihan apa? Aku lagi jauh nih, bisa tersiksa nih si botak." bisik Salman.


"Pulang, Yang! Aku dah ready nih!" Fira semakin menjadi.


"Firraa!Sayang!!" Salman dibuat geram. "Awas kamu ya!"


Fira tertawa.

__ADS_1


"Pak Salman!"


Salman menoleh saat namanya dipanggil. Ia mengangguk dan mengangkat tangannya memberi tanda agar pria itu menunggunya selesai bicara.


"Yang, sudah dulu ya! Nanti malam aku vc. Jaga hati ya! Jangan tebar pesona!"


"Eh, nggak kebalik tuh?" Fira terkikik.


"Enggaklah. Kamu tuh banyak peminatnya."


"Produk kali." canda Fira.


"Untunglah aku pemenangnya."


"Iya. Iya. Udah ah. Tadi aku dengar ada yang memanggilmu Mas? Pasti yang menjemputmu ya? Tutup gih! Kasihan dia lama nungguin."


"Iya. Love You Fira."


"Love you too, Kak Salman."


Salman tersenyum. Lama ia tidak mendengar Fira memanggilnya kak.


"Wasaalamualaikum." Salman mengakhiri percakapan mereka.


"Waalaikumsalam."


Salman menyimpan ponselnya.


"Maaf, Wan! Istri saya." kata Salman kepada Ridwan, pria yang menjemputnya.


Ridwan tersenyum dan mengangguk.


"Tidak apa-apa, Pak. Mari!"


Salman melangkah dan diikuti oleh pria muda bawahannya dari kantor pusat.


"Ke rumah Bu Hera!" perintah Salman begitu dia duduk di dalam mobil.


"Baik, Pak!"


Ridwan melajukan mobilnya menuju rumah Bu Hera. Perjalanan mereka terhalang macet.


"Wan! Cari jalan alternatif saja. Biar nggak terkena macet."


"Baik, Pak. Saya usahakan." Ridwan lalu memutar kemudi dan mengarahkan mobilnya ke jalur alternatif yang ia tahu.


Cukup lama perjalanan mereka menuju rumah Bu Hera sampai akhirnya mobil yang dikemudikan Ridwan sampai juga ke rumah besar tempat tinggal keluarga Elsa.


Ridwan membunyikan klakson. Penjaga pintu gerbang rumah Elsa membukakan pintu.


Mobil masuk. Penjaga itu menunduk hormat saat melihat Salman.


"Ayo, Wan!"


"Saya menunggu di luar saja, Pak."


"Baiklah."


Salman melangkah menuju rumah Elsa. Saat ia meniti tangga, pintu rumah besar itu terbuka.


"Mas!"


Salman mendongak dan melihat Elsa berdiri menyambutnya dengan senyuman yang sangat manis."


...****************...


Alhamdulillah bisa up.


Kasih dukungan ya! Yang banyaaakkk.

__ADS_1


__ADS_2