
"Maaf Lan. Aku tidak bisa." jawabku tegas.
"Hahahaha..aku tahu kau pasti menolak. Meski begitu, aku masih mengatakannya dengan harapan kau bersedia."
Alan lalu meninggalkan ruanganku dengan langkah gontai.
"Huff. Benar-benar hari yang aneh. Bu Riya masuk rumah sakit. Apa aku harus menjenguknya? Ah lebih baik tidak.'
Ponselku kembali berdering. Kali ini dari Anita.
"Mbak, ibunya Mas Alan masuk rumah sakit. Sekarang aku sedang menemaninya jadi sore nanti aku tidak bisa menjemput mbak Fira."
"Nggak papa, Nit.Bagaimana kondisi Bu Riya?"
"Beliau sudah stabil. Sekarang sedang tidur."
"Jaga beliau baik-baik. Nggak usah memikirkan aku! Aku bisa pulang naik taksi online."
"Iya, mbak. Mbak, aku dan Mas Alan..kami.."
"Iya, aku tahu. Alan sudah cerita. Selamat! Mbak doakan kalian bahagia. Yakinlah! Cinta diantara kalian lambat laun juga akan tumbuh."
"Aamiin. Semoga mbak."
Setelah mengucap salam, Anita mengakhiri panggilannya.
Aku melihat arloji yang setia melingkar di lenganku. Pukul sebelas lebih dua puluh. Sebentar lagi dhuhur. Aku mengambil mukena dan melangkah ke mushola yang ada di halaman depan kantorku. Kutunaikan sholat dhuhur dan setelahnya aku berdoa. Apa yang terjadi hari ini semua di luar rencana dan impianku. Aku pasrah pada kehendakNya. Aku ridlo pada takdirNya.
__ADS_1
Aku merasakan hari ini berlalu dengan sangat lambat. Mungkin karena banyaknya kejadian dalam sehari yang membuat aku merasa sangat lelah dan ingin segera pulang untuk bermain bersama Ryan. Hanya itu hiburan terindahku.
Berkali kali aku melirik jam dinding. Kenapa jarumnya seolah tidak berjalan
Huff.
Dan Kak Salman. Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali? Dia menikahiku tanpa membicarakannya dulu denganku. Dan setelah menikah juga nggak ngasih kabar. Apa sih maunya orang ini?
Ck
Akhirnya....
Aku bernafas lega saat jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Segera kurapikan barangku dan bergegas meninggalkan kantor.
"Bu sekcam!" panggil Dewi. Ia berlari kecil mengejarku.
"Ibunya Pak Camat sakit. Ibu nggak mau jenguk?"
"Tumben manggil ibu."
"Hehehe..masih di kantor soalnya. Bagaimana? Jenguk apa nggak?"
"Mmm mungkin tidak sekarang Wik. Aku masih ada urusan."
"Bareng ya?!"
"InshaAllah."
__ADS_1
"Ok. Aku tunggu kabarnya." Dewi melambaikan tangan dan pergi.
Aku langsung memesan tajsi online dan sebentar kemudian taksi sudah melaju menuju rumah. Penat di tubuhku membuatku ingin segera sampai dan berbaring di kasurku yang empuk.
Kenapa sih rumahku terasa jauh.
Aku meminta sopir menambah kecepatan karena terasa lambat.
Akhirnya. Sorakku dalam hati saat melihat gerbang masuk ke perumahan tempat tinggalku.
"Home sweet home." gumamku pelan lalu turun dari taksi.
"Makaaih, Pak!" ucapku.
Aku membuka kunci pintu gerbang. Ku dorong pintu gerbang lalu aku masuk dan menutup sera mengunci pintu gerbang kembaki. Aku lalu duduk sebentar di kursi teras sambil menyelonjorkan kaki. Ku lepas sepatu dan kaos kakiku. Ku pijat kakiku yang terasa pegal dan kebas seharian terkurung dalam ruang sempit sepatu.
Setelah capekku sedikit hilang, aku berdiri dan menuju pintu rumah. Saat aku memasukkan kunci dan memutarnya, aku kaget karena ternyata pintu rumahku tidak terkunci.
"Kok?! Sepertinya tadi pagi aku kunci. Kok sekarang jadi nggak kekunci. Apa aku lupa? Ah paling aku lupa. Aku juga pernah dulu lupa mengunci pintu."
Aku mengangkat bahu lalu mulai membuka pintu. Kuucap salam lalu masuk. Baru beberapa langkah aku masuk, tiba-tiba dari arah belakang seseorang meraih pundakku dan menariknya ke belakang lalu memelukku.
"Aaaa."
...***...
To Be Continue 😛😛😛😛
__ADS_1
Readers....tolong like dong kalau habis baca. Kasih vote juga boleh...biar akunya semangat.