Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Ciuman Pagi


__ADS_3

Aku meninggalkan kamar yang di sewa Kak Salman dan kembali ke kamarku sendiri.Di dalam kamar ada Eka, teman sekamarku yang berasal dari kota lain.


"Anakmu sudah pulang?Sebenarnya semalam kamu ajak tidur di sini juga nggak papa kali Fir." kata Eka


"Belum. Ia sedang berenang."jawabku. "Iya mbak, takut ganggu istirahat mbak saja."


"Fir, mumpung masih pagi, temani aku jalan jalan di sekitar hotel yuk! Sekalian ambil beberapa foto buat kenangan." ajak Eka.


"Boleh."


Kami lalu keluar dan turun ke lantai dasar. Berjalan menghirup udara segar di taman samping hotel dan terus berjalan.


"Wow...siapa mereka. Keren banget." seru Eka. Aku menoleh dan mengikuti arah pandangan Eka. Mataku terbelalak melihat siapa yang Eka puji. Alan dan Kak Salman yang tengah bertelanjang dada dan hanya memakai celana renang sebatas paha. Mataku terpaku pada sosok Kak Salman. Tubuhnya masih sangat bagus. Dadanya bidang berotot dan..astaghfirullah. Aku memalingkan wajah saat sadar telah melakukan kesalahan.


"Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Allah " gumamku.


"Siapa mereka?" tanya Eka pada dirinya sendiri. "Fir ayo!" Eka menarikku mendekati kolam renang.


Aku kebingungan. "Mbak..ini tidak pantas."


Aku menahan langkahku sebelum semakin dekat ke kolam renang.


"Kenapa?Aku hanya ingin melihat dari dekat. Syukur-syukur bisa kenalan." Mata Eka masih memandangi Kak Salman dan Alan yang sekarang kembali masuk ke air dan berenang sambil bermain dengan Ryan.


Bagaimana ini.


Eka kembali menarikku.


"Mbak aku..."


"Bunda!!!!" teriak Ryan. Rupanya ia melihatku.


Aku tersenyum dan melambai ke arah Ryan tanpa berani menatap Alan apalagi Kak Salman.


"Bunda?Dia anakmu? Jadi kau mengenal mereka?" tanya Eka.


"Sayangnya begitu." jawabku kikuk.


"Ayo Fir. Kenalin aku..." rengek Eka sambil menarikku dengan kuat mendekati kolam renang.


Sudahlah. Apa boleh buat.


Aku akhirnya mengikuti langkah Eka. Di kolam renang Alan dan Kak Salman malah keluar dari kolam. Mereka berdiri berdampingan seolah menunggu kami.


Sedangkan Ryan masih di dalam air namun ada di tepi.


"Hai sayang. Kamu pasti anaknya Fira ya. Kenalin, tante teman sekamar mamamu." kata Eka menyapa Ryan.


Aku memalingkan wajahku. Namun ekor mataku bisa menangkap senyum Alan dan Kak Salman. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.


"Ra!" panggil Alan dan Kak Salman kompak.


."Ya!" jawabku


"Siapa diantara kami yang tubuhnya lebih bagus?" tanya Alan. Kak Salman tertawa kecil. Aku tahu mereka sedang menggodaku. Mereka pasti senang melihatku salah tingkah dan mukaku yang memerah jengah.

__ADS_1


"Dua-duanya bagus." Eka yang menjawab.


Aku menoleh ke Eka yang sedang menatap Alan dan Kak Salman dengan mupeng. Aku berjalan ke arah kursi yang ada di tepi kolam. Mengambil kimono mandi yang aku yakini milik mereka berdua lalu melemparkannya ke arah mereka.


Alan dan Kak Salman tertawa sambil menukar kimono.


'Istri kita marah, Man. Dia nggak mau tubuh bagus kita dilihat wanita lain." seloroh Alan membuat wajahku tambah memerah.


"Iya, rupanya ia ingin menikmati kita sendirian." Kak Salman menimpali candaan Alan.


"Kalian bisa diem nggak!?!" Aku menyembunyikan kegugupanku dengan berteriak kesal.


"Fir, katanya mau ngenalin?" Eka mendekatiku.


Ini nih biang masalahnya.


"Pak Alan, Kak Salman, ada yang mau kenalin nih." kataku jutek.


Kak Salman tersenyum.


"Mbak, itu Pak Alan. Dia atasanku di kantor. Dia masih bujang belum beristri..."


"Siapa bilang. Aku punya calon istri." jawab Alan membuat benteng.


"Kalau itu, namanya Kak Salman. Suami dari sahabatku." kataku lalu menelan ludah saat melihat wajah basah Kak Salman yang entah mengapa begitu mempesona.


Mataku melotot saat Kak Salman mengulurkan tangan ke arah Eka.


"Tidak!Ingat istri." aku menarik tangan Eka agar tidak menyambut uluran tangan Kak Salman. Aku khawatir, secara Eka adalah janda. Dan jika melihat ketertarikannya pada Kak Salman, bukan mustahil ia mau jadi istri kedua Kak Salman. Lalu Elsa, dia akan sakit hati pastinya.


"Kamu kenapa sih Fir?" kata Eka tak senang dengan sikapku.


"Maaf, Mbak. Dia suami sahabatku. Aku tidak mengijinkan kamu menggodanya." kataku tegas.


"Kalau bosmu?Boleh kan?" tanya Eka.


Aku melirik Alan yang sedang mengajak Ryan berenang.


Kalau Alan aku tidak khawatir. Filter Bu Myra sangat halus. Mustahil seorang Eka bisa melewatinya. Lagipula, Alan juga tidak akan menerimanya.


"Silahkan. Kalau kau mampu menundukkan hatinya dan hati ibunya." jawabku tersenyum.


"Yess!!! Pak Alan ya...masa sih masih jomblo. Ganteng lo. Banget malah." puji Eka sambil mengamati Alan.


"Kenapa aku nggak boleh kenalan denganya?Kamu takut ya?" bisik Kak Salman dekat ke telingaku. Reflek aku menoleh dan hidungku langsung menyentuh pipi dingin Kak Salman.


"Astaghfirullah. Kak!" pekikku kaget.


Kak Salman justru tersenyum sambil mengelus pipinya.


"Lumayan. Ciuman pagi." bisiknya lagi.


Aku menjauh sambik memegang dadaku yang sudah nggak karuan. Jantungku melompat kesana kemari bagai main trampolin.


"Ryan, cepat naik. Mandi!!" teriakku pada Ryan. Mengalihkan perhatianku agar tidak memikirkan insiden barusan.

__ADS_1


Alan membawa Ryan menepi.


"Pak Alan boleh dong minta no hpnya?" Eka menyambutnya.


Alan menatapku tajam saat aku tidak bereaksi apa-apa atas sikap Eka padanya.


"Boleh!" jawaban singkat Alan mengagetkanku. Kupikir ia akan menolak permintaan Eka. Aku menatapnya sambil mengeringkan tubuh Ryan. Tanpa memutus kontak matanya kepadaku, Alan mengetik no hpnya di ponsel Eka.


Aku tersenyum lalu menunduk.


Kalau itu maunya Alan. Aku bisa berbuat apa.


"Kak aku siapkan Ryan dulu." ijinku pada Kak Salman lalu membawa Ryan ke kamar ganti.


Ku dengar Eka masih mengobrol dengan Alan sambil tertawa manja.


"Sudah siap?" tanya Kak Salman yang juga sudah berpakaian rapi saat aku keluar membawa Ryan. Aku tidak melihat Eka dan Alan.


"Mereka kemana?" tanyaku.


"Oh..mereka janjian makan pagi bersama. Eka kembali ke kamarnya untuk bersiap, dan Alan ada di kamar ganti tuh."


"Oh." hanya itu yang bisa kuucapkan.


"Ayo, Ryan. Kita sarapan sebelum pulang. Aku kan juga dapat jatah makan pagi." Kata Kak Salman sambil merangkul Ryan menuju resto hotel. Aku mengikuti dari belakang.


Resto masih sepi karena ini masih pagi, tapi hidangan makan pagi sudah siap. Aku membantu Ryan mengambil makanan yang ia mau lalu membawanya ke meja. Lalu mengambil salad untukku.


Berdua kami makan bersama.


"Enakkan kan Yan?" Kak Salman datang dan bergabung. Sekilas kami nampak seperti keluarga.


Tak lama kemudian aku melihat Alan datang bersama Eka. Eka menggandeng mesra lengan Alan dan anehnya Alan membiarkannya. Aku menatap mereka hampir tak berkedip. Seorang Alan berjalan mesra dengan wanita, baru kali ini aku melihatnya. Alan hanya melirikku sekilas lalu kembali berakrab akrab dengan Eka.


"Kamu kenapa Ra?Cemburu melihat Alan sama Eka?" tanya Kak Salman.


"Ah enggak Kak. Hanya heran saja, baru kali ini aku melihat Alan mesra sama wanita." jawabku sambil kembali melanjutkan makanku.


"Itu karena dia berusaha membuka hatinya untuk wanita lain. Katanya kamu yang memintanya." Kak Salman menjelaskan.


"Iya sih. Tapi bukan dengan Eka. Aku mau dia membuka hatinya pada Anita. Wanita yang ibunya jodohkan. Agar ibunya bahagia. Aku sudah berjanji pada ibu Alan untuk mendekatkan Alan pada Anita. Bahkan Bu Myra memintaku melaporkan wanita mana saja yang mendekati Alan."


"Dan kau mau?"


Aku mengangguk lemah, "Aku nggak punya pilihan Kak." jawabku jujur.


"Ra, adakalanya kau harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Tanpa perlu peduli pada orang lain."


"Tapi kalau kebahagiaanku merenggut kebahagiaan orang lain, aku tidak akan melakukannya kak." jawabku tegas.


"Itulah kamu. Terlalu baik." Kak Salman mengusap kepalaku. Aku kaget dan spontan menarik mundur tubuhku. Entah mengapa, mataku melirik Alan. Ia memandang kami dengan tegang. Saat mataku bersitatap dengannya, ia langsung berpaling dan tersenyum lebar pada Eka.


*Maafkan aku Lan.


...###...

__ADS_1


Like ya...coment juga*.


__ADS_2