
Fira dan Salman menatap Ardi yang terus saja menunduk. Pagi itu mereka sedang sarapan bersama. Ardi lama sekali tidak keluar dari kamar. Sekalinya keluar, ia duduk diam menunduk.
"Kamu kenapa?" Salman mencoba bertanya.
Ardi menggeleng.
"Makan, nak!" Fira mengambilkan Ardi nasi dan lauk kesukaannya namun Ardi bergeming.
Sikap Ardi yang tak acuh pada Fira membuat Salman jengkel.
"Ardi, Bunda menawarimu makan." Suara Salman meninggi.
Ryan yang sedang menikmati makanannya menghentikan kegiatannya. Ia kaget mendengar nada tinggi Salman. Ardi mulai terisak. Ryan memegang tangan Ardi.
"Makan yuk!" katanya bijak.
"Mas." bisik Fira lirih agar kedua anak mereka tidak mendengarnya.
Salman menyunggar rambutnya. Ia menyesal karena telah kelepasan bicara dengan nada tinggi.
"Ardi, maafkan papa. Papa tidak bermaksud untuk ...Ardi!"
Ardi berlari meninggalkan meja makan.
"Kenapa lagi dengan anak itu." ucap Salman gusar.
"Bunda, Ryan mau menyusul Ardi." pamit Ryan.
"Ryan, bunda ingin bicara!"
Ryan batal meninggalkan kursinya. Ia kembali duduk.
"Ryan menepati janji itu wajib, tapu coba lihat kondisi Ardi. Dia butuh bantuan kita. Tapi papa dan bunda tidak bisa menolong Ardi jika kami tidak tahu masalahnya. Ryan paham kan maksud bunda?"
Ryan mengangguk dengan wajah sedih.
"Sekarang cerita ke bunda apa yang terjadi semalam!" titah Fira tegas.
Salman hanya diam menyimak percakapan istri dan anaknya.
"Semalam Ardi bermimpi, Bunda. Menurut Ardi mimpinya sangat menakutkan. saking takutnya Ardi sampai pipis." jawab Ryan lirih.
"Ardi ngompol?" Fira menegaskan.
"Nggak banyak. Ardi terbangun dan langsung ke kamar mandi. Tapi Ardi terus ketakutan setelahnya. Ardi takut dimarahi dan juga takut kalau mimpinya menjadi kenyataan."
"Memang Ardi mimpi apa?" Salman bersuara.
__ADS_1
"Mimpi dibawa kabur sama orang jahat yang ketemu di mall itu, Pa."
"Raul." Salman dan Fira berucap bersamaan.
"Bunda, Pa, Ryan sudah selesai. Ryan mau menyusul Ardi." Ryan beranjak bangun dari kursinya setelah mengusap bibirnya dengan lap.
"Ryan tunggu!" Fira mengambil piring dan menata makanan di atasnya.
"Bujuk Ardi untuk makan. Dan bilang jangan takut,karena Bunda sama Papa sangat menyayanginya!"
Ryan mengangguk, "Baik, Bund."
Ryan membawa meninggalkan ruang makan sambil membawa makanan untuj Ardi
"Mas, sepertinya mas harus bicara dengan Ardi. Ini akan buruk jika dibiarkan."
"Iya, sayang. Aku akan membawa Ardi dan Ryan jalan jalan bertiga lalu bicara. Sepertinya Ryan bisa membantu karena Ardi lebih terbuka padanya." Salman mengusap kepala Fira.
Fira menarik nafas panjang, "Untunglah mereka akur, seandainya tidak, Ardi akan merasa lebih tertekan."
"Kelebihan Ryan, ia mampu membuat orang yang ada di sekitarnya nyaman. Sama seperti kamu makanya Alan betah berada di sisimu." Salman mencolek hidung Fira.
"Makasih pujiannya, tapi Mas, aku masih heran dengan sikap Alan."
"Biarlah. Kita jangan mengurusinya." Salman melanjutkan makan.
Salman hanya tersenyum menanggapi ucapan Fira.
Aku tahu kau merasa bersalah dan karena itu aku tidak akan membiarkan Alan bertindak seenaknya pada Anita. Tapi aku juga nggak akan membiarkanmu terlibat lagi dalam kehidupan Alan. Biar aku saja.
Di kamar Ryan.
Ryan sedang membujuk Ardi agar mau makan.
"Ini Bunda lo yang ngambilin. Bunda sangat khawatir karena kamu belum makan. Makanlah!" Ryan menyodorkan makanan yang ia bawa.
Ardi memandangnya tak percaya.
"Bunda? Bunda tidak marah?"
Ryan menggeleng cepat "Bunda itu orangnya sabar. Dulu aku pernah juga ngompol. Aku takut kalau dimarahi. Tapi ternyata Bunda nggak marah. Ya memang sih aku disuruh membersihkannya sendiri, tapi itu karena Bunda ingin aku bertanggung jawab."
"Apa kau yakin kalau Bunda akan bersikap sama padaku?" Ardi menatap Ryan penuh harap.
Ruan mengangguk. "Sangat yakin." ucapnya mantap.
"Sudah makan gih!"
__ADS_1
Ardi menerima piring berisi makanan yang disodorkan Ryan sedari tadi. Ia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya dengan perlahan.
"Bunda itu orang yang paling sabar dan penyayang. Meski aku bukan anak kandungnya, Bunda nggak pernah bersikap beda padaku." ucap Ryan.
Ardi langsung menoleh, "Bunda bukan ibu kandungmu?!" tanya Ardi kaget.
"Ya. Aku anak angkat Bunda." gumam Ryan sambil menyungging senyum.
"Kau tidak sedih saat tahu kalau Bunda bukan ibumu?"
Ryan menggeleng," Aku justru senang. Kata Bunda aku ini anak yang kaya. Punya dua ibu dan dua bapak." Ryan menampilkan senyum jenakanya.
Ardi menyimak ucapan Ruan sambil mengunyah makanannya dengan perlahan.
"Aku juga sering dikata-katain sama teman sekolahku. Tapi aku biarkan. Mereka tidak tahu kebahagiaanku saat bersama Bunda."
"Mereka juga pernah bilang kalau aku ini anak yang nggak dimaui sama orangtuaku, makanya diberikan ke bunda."
"Apa kamu tidak merasa begitu?" Qrdi kembali menatao Ryan.
"Enggak. Sama sekali enggak. Justru aku merasa senang. Kalau aku ikut mamaku, aku akan berbagi dengan kakakku. Ikut Bunda, aku nggak perlu berbagi dengan siapa-siapa." Ryan tertawa lirih.
Ardi menaruh piring bekas makannya ke meja dekat tempatnya duduk.
"Yan, sebenarnya orang jahat yang ketemu di mall itu, papa kandungku."
"Apa?Jadi papa Salman?" Ryan kaget.
"Bukan papaku." lirih Ardi. Air mata menetes dari pelupuk netra beningnya.
"Lalu, kenapa kau bilang dia jahat?"
"Karena dia akan memisahkan aku dari mama dan papa. Aku tidak mau ikut dia. Aku maunya ikut papa." Ardi mulai menangis.
Ryan merangkulnya.
"Tenanglah. Ada papa dan Bunda. Papa dan Bunda tidak akan memberikanmu pada pria itu. Tapi, kamu harus cerita ke papa atau Bunda soal orang itu!"
Ardi mengangguk. "Papa sudah tahu."
"Dan soal.mimpimu, ceritalah ke papa atau bunda! Nanti kamu pasti nggak ketakutan lagi."
Ardi mengangguk.
Ryan tertawa. "Kita sama."
Ardi tersenyum. Ia merasa lega karena ada Ryan yang senasib dengannya.
__ADS_1