Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Pulang


__ADS_3

Setelah kegiatan terakhir dan penutupan, aku lalu check out. Mataku melihat sekeliling mencari Alan.


"Ra!" suara yang sangat aku kenal mengagetkanku.


"Kak, kau sudah tiba? Ryan mana?" tanyaku saat tidak melihat keberadaan Ryan.


"Di rumah, sedang asik sama Ardi. Ayo!"


"Tunggu Alan dulu!" jawabku, " Dari tadi aku tidak melihatnya." Aku kembali mencari Alan.


"Bukankah itu Alan!"


Aku menoleh dan melihat ke arah yang Kak Salman maksud. Alan tiba dengan menyeret kopernya. Di sampingnya ada Eka yang semakin manja.


"Man, kau sudah datang rupanya. Maaf aku tadi masih..." Alan tidak melanjutkan ucapannya. Ia menunjuk dirinya dan Eka. Eka tersenyum penuh arti. "Bentar aku akan memberikan kunci kamarku dulu ke resepsionis, ayo sayang!" kata Alan.


Sayang?? Alan menyebut sayang ke Eka


Aku mematung memandang kepergian mereka berdua.


"Sepertinya mereka semakin akrab saja. Bahkan Alan memanggilnya sayang. Ra, apa kau yakin kalau Alan tertarik padanya?" ujar Kak Salman.


"Mana aku tahu Kak." jawabku cuek. "Lagipula kalau mang benar, itu haknya Alan kan?" sambungku.


"Kau tidak keberatan?"


Aku tertawa lirih. "Enggak Kak. Soal,perasaan Alan aku tidaj berhak ikut campur."


"Kalau perasaanku?"


Deg


Aku melirik Kak Salman yang sedang memandangku dengan lembut. Ia pasti bisa melihat wajahku yang memerah.


"Ayo!" ajak Alan. Alhamdulillah, ia fatang di saat yang tepat.


Alan menyeret kopernya dengan tangan kanan, tangan kirinya menggandeng Eka.


"Biar aku yang bawa!" Kak Salman membantuku membawa koper.


Kami menuju parkiran tempat mobil Kak Salman berada.


"Man, kamu nggak keberatan kan kalau aku mengajak Eka ke rumahmu? Karena nanti kami ingin bersama sama ke bandara."


"Kau ingin langsung pulang?Tidak ingin menginap barang semalam di rumahku?" tanya Kak Salman.


"Iya." jawan Alan pendek.


"Kamu juga Ra?" tanya Kak Salman.


"Aku datang bareng pak Alan, jadi kalau beliau pulang, maka aku juga akan pulang." jawabku sambil melihat Alan dati belakang. Samar tampak wajahnya tersenyum dari samping.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar kalian nanti.


**Di rumah Kak Salman**


" Ra, menginaplah!Ku lihat Ryan masih betah." bujuk Elsa.

__ADS_1


"Sa, aku harus pulang dan membuat laporan hasil kegiatanku di sini. Maaf ya, kali ini aku menolak permintaanmu."


"Tega kau Ra, menolak permintaan orang sekarat." keluh Elsa sedih.


"Hush...jangan bicara sembarangan. Kau pasti sembuh!" kataku memberinya semangat.


"Ra, kalau aku mati nanti, ku titipkan suami dan anakku padamu. Kau harus janji menjaganya dengan baik."


"Sa..."


"Stop!!! Tidak boleh menolak. Itu permintaan terakhirku."


Dengan berat aku mengangguk, lagipula aku berharap Elsa akan sehat dan panjang umur.


"Setelah dari sini, apa kau akan langsung mengurus perceraianmu?"


"Ya. Hubungan kami sudah tidak mungkin di pertahankan. Mas Andre sudah jelas dengan sikapnya. Ia lebih memilih wanita itu."


"Yang sabar ya Ra. Aku yakin semua akan berlalu dengan cepat dan kau akan mendapat ganti yang lebih baik."


"Aamiin." aku mengaminkan doa tulus Elsa.


"Sudah pamitannya?Alan dah nggak sabar tuh di depan." Kak Salman masuk ke kamar.


"Iya, sudah Kak." jawabku, "Sa aku pamit. Terimakasih sudah menjaga Ryan dan jaga dirimu baik-baik. Kau harus sembuh." aku memeluk Elsa.


"Makasih doanya Ra, dan ingat janjimu padaku." balas Elsa.


"Ma, aku mengantar mereka dulu." pamit Kak Salman pada Elsa.


Di Bandara


Alan sudah lebih dulu check in bareng Eka.


"Ra, kutunggu lanjutan novelnya." kata Kak Salman.


"Iya, kak. Aku akan berusaha. Ryan pamit sama Om Salman!"


Ryan mendekat dan mencium tangan Kak Salman, "Om Ryan pulang." katanya.


"Iya, lain kali ajak bunda ke rumah om lahi ya!" jawab Kak Salman sambil.mengusap rambut Ryan.


"Om saja yang gantian main ke rumah kami. Nanti Ryan ajak jalan jalan." Ryan mengundang Kak Salman.


"Hahahaha..boleh. Nanti Om main ke rumah Ryan"


"Kak kami masuk dulu." Aku mengangguk pamit pada Kak Salman.


"Iya, jaga dirimu dan tetaplah bahagia. Kalau Andre tidak mencintaimu, ingatlah di sini ada aku yang sangat mengharapkanmu."


Aku mengangguk lalu menggandeng Ryan melakukan check in.


Di ruang tunggu, lagi-lagi kulihat Alan sangat akrab dengan Eka.


"Tante itu kenapa bareng terus sama om Alan?" tanya Ryan


"Mereka teman. Sudah jangan ganggu mereka. Kita duduk di tempat lain saja." Aku mengajak Ryan menjauh dari tempat Alan berada.

__ADS_1


Saat aku tengah duduk sambil menikmati pemandangan di luat jendela, aku mendengar Alan memanggilku.


"Ra!"


Aku menoleh dan melihatnya berdiri di dekatku. Ia menyodorkan tiket.


"Bisa ganti tempat duduk, Eka ingin duduk bareng aku." pinta Alan.


"Oh bisa." jawabku sambil memberikan tiketku padanya. "Eh tunggu! Ryan?" aku baru ingat. Kalau aku memberikan tiketku pada Alan, berarti aku akan pisah tempat duduk dengan Ryan


"Maaf Lan, aku tidak bisa." kumasukkan lagi tiketku ke dalam tas. "Kau bisa tukar dengan orang yang duduk bareng Eka." saranku.


Alan mendengus lalu meninggalkanku.


Di dalam pesawat, aku duduk bertiga. Seperti biasa, Ryan ingin duduk dekat jendela. Aku berada di tengah dan di sebelahku seharusnya Alan. Tapi Alan menukar tempat duduknya dan akhirnya seorang pria mudalah yang sekarang berada di sampingku.


"Mau ke kota S mbak?" pemuda itu mencoba berbasa basi denganku. Aku mengangguk.


"Tinggal di sana?" ia kembali bertanya.


"Tidak. Saya tinggal di kota P."


"Benarkah?Sama kalau begitu. Kenapa saya tidak pernah melihat mbak ya?" katanya sambil memandangku.


"Itu..bukankah P kota yang luas dan penduduknya banyak jadi.."


"Iya, tapi yang cantik kayak mbak jarang. Aku pasti akan ingat kalau pernah bertemu mbak. Soalnya wajah mbak nggak mudah untuk dilupakan." ia menggombal membuatku jengah.


Pesawat mulai bergerak. Ini yang aku takutkan.


"Bunda pegang tanganku!" kata Ryan menyodorkan tangan mungilnya.


"Mbak takut?" pemuda di sampingku kembali bertanya. Aku mengangguk pelan.


"Mbak boleh memegang tanganku juga kalau mau!"


"Tidak perlu! Maaf, kita tukar tempat lagi!" Alan tiba tiba datang dan meminta bertukar tempat.


"Kenapa? Saya tidak mau." jawab si pemuda.


"Bapak-bapak silahkan duduk! Pesawat mau lepas landas."


Seorang pramugari datang dan menegur Alan.


"Mbak dia nggak mau pindah. Ini tempat duduk saya." Alan mengadu pada si pramugari.


"Mas, silahkan kembali ke tempat duduknya." pramugari membela Alan setelah tahu kebenaran kata kata Alan. Pamuda itupun akhirnya berdiri dan Alan langsung duduk.


Pesawat mulai naik perlahan. Rasa takutku kian menjadi. Aku memegang tangan Ryan kuat kuat dan tangan kananku mulai mencari pegangan juga. Sebuah telapak hangat tiba-tiba meraih telapak tanganku dan meremasnya.


"Jangan takut!Ada aku." bisik Alan lembut.


Aku mengangguk. Terimakasih, Lan.


...🍒🍒🍒...


Banyakin like dan komentarnya dong!!

__ADS_1


__ADS_2