
POV FIRA
Aku melihat rasa bersalah di wajah Kak Salman saat tahu kalau yang berkali-kaki meneleponku adalah adikku yang ingin mengabari kalau suaminya kecelakaan.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" katanya tegas dan langsung menggendongku untuk mandi bersama meski sebenarnya aku enggan. Namun ia berdalih agar lebih cepat.
Saat tiba di rumah sakit, aku bergegas menuju tempat adikku. Dengan setengah berlari aku menyusuri lorong rumah sakit.
"Jangan lari-lari!" Kak Salman mencekal tanganku. Membuat langkahku terhenti. Selanjutnya kami berjalan beriringan.
Saat mendekati ruang operasi,aku melihat adikku duduk di kursi dan di seberangnya duduk Alan dengan mengenakan jaket hitam. Ia menoleh saat mendengar langkah kaki kami. Aku tak berani melihatnya karena malu. Berkali-kali aku mengecewakannya, namun saat ini justru dia yang menolong adikku. Dia yang ada saat adik membutuhkan bantuan sementara aku malah ..ah..
"Dik!"
Aku memeluk adikku. Samar aku mendengar Kak Salman mengucap terimakasih pada Alan. Mereka berdua lalu pergi. Kak Salman bilang mau ke kantin.
"Apa luka Arif parah?" Aku menanyakan keadaan iparku.
"Ada tulang yang patah dan harus disambung." adikku menjelaskan. "Mbak maaf ya, pasti teleponku tadi mengganggumu."
"Nggak kok. Justru aku yang minta maaf karena tidak ada saat kamu membutuhkan bantuan."
Adikku tersenyum.
"Mbak bahagia sekarang?" tanyanya menatabku.
Aku mengangguk dengan penuh keyakinan. "Aku bahagia dik. Kamu jangan khawatir."
"Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana dengan Ryan? Apa dia bisa menerima Kak Salman?"
"Ryan lebih dekat ke Mas Salman daripada ke Mas Andre dulu. Mereka berdua dekat jauh sebelum aku menikah dengan Mas Salman." jelasku.
"Apa keluarga Mas Andre membiarkan Ryan tetap denganmu mbak?"
"Kakak bilang Ryan sudah menjadi anakku. Jadi selamanya dia akan menjadi anakku."
"Syukurlah. Kasihan anak itu jika harus jadi korban perceraian kalian." Senyum mengembang di wajah adikku. Sepertinya ia merasa lega karena masalahku telah berakhir.
Kami lalu diam. Kulihat adikku sibuk berzikir mendoakan suaminya. Aku melakukan hal yang sama. Namun ada resah di hatiku manakala Kak Salman dan Alan tak juga kembali.
Aku menoleh ke arah mereka pergi.
"Mbak mencemaskan mereka?" tanya adikku. Rupanya ia menyadari keresahanku.
"Itu..sedikit." jawabku.
"Mbak tenang saja. Mas Alan sepertinya sudah merelakan mbak. Lagipula bukankah Kak Salman sangat bijak. Mereka akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Yah. Semoga saja."
Aku benar benar khawatir. Tadi sebelum berangkat Kak Salman meminta cincin pemberian Alan. Saat ini ia pasti sedang mengembalikannya.
"Itu Kak Salman!" kata adikku. Aku menoleh. Kak Salman berjalan dengan santai ke arah kami. Bibirnya tersenyum saat matanya menatapku.
......................
POV SALMAN
Alan pamit pulang, dan aku kembali ke tempat Fira berada. Saat aku tiba, ia menatapku dengan pandangan penuh kekhawatiran. Kuberikan senyumku ahar dia tenang.
"Mas, Alan mana?" tanya Fira begitu aku kembali ke tempatnya sendirian tanpa Alan.
"Dia ijin pulang." jawabku pendek.
"Kok pulang? Aku belum berterimakasih dengan benar. Mas Alan tadi sedang mendaftar untuk jadwal kontrol ibunya. Beruntung aku bertemu dia." gumam adik Fira. Hatiku tercubit. Aku merasa bersalah karena tadi melarang Fira mengangkat panggilannya. Bahkan ia berkali-kali menelepon
Maaf ya dik. Soalnya tadi mbakmu sedang garang-garangnya. Jarang ia segarang tadi. Maka kakak menikmatinya dan nggak mau diganggu.
"Tapi aku jadi berhutang sama Mas Alan." sesalnya.
"Sudah aku bayar. Jadi kamu tidak usah khawatir. Pikirkan saja kesehatan suamimu." ucapku.
"Bener mas?" tanya Fira. Wajahnya tampak sumringah. Aku mengangguk.
"Makasih ya Mas." Fira tersenyum sangat manis. Aku duduk di sampingnya.
"Kak Salman terima kasih. Maaf merepotkan. Nanti uangnya aku ganti." kata adik Fira.
"Nggak usah dik. Maaf kalau tadi kami tidak datang tepat waktu." ucapku dengan sedikit rasa sesal.
"Tidak Kak. Nanti aku ganti." katanya kekeh.
"Ok. Kalau kamu memaksa tandanya kamu nggak menganggap aku kakakmu." ancamku agar dia mau menerima bantuanku.
"Bukan begitu kak, tapi..."
"Sudahlah dik. Terima saja. Toh nggak setiap hari juga." Fira ikut membujuk adiknya.
"Baiklah. Terima kasih. Maaf, tadi aku pasti mengganggu kalian ya?" tanya adik Fira menahan senyum.
"Nggak kok mengganggu apa?" jawab Fira.
Dia tidak tahu kalau adiknya pasti melihat tanda merah hasil karyanya di leherku. Membuatku merasa canggung dan malu.
Adiknya Fira tersenyum lalu menunduk.
"Bagaimana ceritanya bisa kecelakaan?" Aku berusaha mencairkan suasana yang canggung.
__ADS_1
"Aku juga belum jelas kak. Tadi saat dikabari temannya, aku langsung ke rumah sakit ini." jelas adik Fira.
Aku mengangguk. Kulirik Fira yang duduk di sebelahku. Ia menguap. Sepertinya ia mengantuk. Aku melihat arloji dan memang sudah mendekati pukul sembilan malam.
"Mbak tampaknya mengantuk ya? Mbak pulang saja!" saran adik Fira.
"Nggak kok. Aku masih bisa menemanimu menunggui Arif. Anak-anak sama siapa?"
"Ada ibunya Mas Arif yang menemani di rumah."
ceklek
Pintu ruang operasi terbuka.
"Bagaimana dok?" adik Fira bangkit dan langsung mendekati.
"Alhamdulillah. Operasinya lancar. Pasien sebentar lagi akan dipindahkan keruang perawatan."
"Alhamdulillah." syukur kami. Fira langsung memeluk adiknya.
Seorang perawat keluar dan meminta kami agar mengurus administrasi untuk rawat inap.
"Biar aku saja!"
"Makasih Kak!" kata adik Fira. Aku mengangguk dan tersenyum.
Aku menuju bagian pendaftaran kamar. Aku memesan kamar VIP untuk suami iparku itu Yah..hitung-hitung menebus rasa bersalahku. Urusan memesan kamar tidak rumit dan cepat selesai. Aku segera kembali ke tempat Fira dan adiknya.
"Bagaimana mas?Dapat kamar?" tanya Fira. Aku mengangguk sambil mengelus kepalanya.
"Dapat sayang."
Perawat yang tadi keluar dari ruang operasi lagi.
"Bagaimana pak?"
"Sudah sus. Ini berkasnya." aku menyerahkan berkas yang kubawa kepada perawat itu. Ia membawanya masuk. Lima belas menit kemudian pintu terbuka lagi dan sebuah brankar di dorong keluar. Suami adik iparku berbaring di atasnya.
"Mari! Kamarnya sudah siap." ajak para perawat.
Kami mengikuti mereka.
"Mas!" panggil Fira pelan.
"Hmm." balasku.
"Sekali lagi makasih." ucapnya sambil mengamit tanganku.
"Bukankah tadi sudah kubilang tidak gratis." balasku menahan senyum
__ADS_1
Ia malah mencubit lenganku.
...****************...