Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Kata Netizen Sih Unboxing


__ADS_3

"Aaa." pekikku saat tubuhku serasa melayang fan jatuh di pelukan Kak Salman.


Kak Salman menatapku sambil menahan senyum. Aku kebingungan bagaimana cara menutupi tubuhku yang polos.


"Kak handuk!" desisku.


Tanpa melepaskan tubuhku perlahan Kak Salman menutup bagain belakang tubuhku dengan handuk. Matanya masih terus menatapku dengan sorot mata lapar. Pelan Kak Salman melangkah maju hingga tubuhku terdorong mundur.


"Kak." suara bergetar.


Kak Salman kembali menggangkat tubuhku dan membaringkanku di ranjang. Kali ini ia mengunci tubuhku dengan kedua kakinya. Matanya menelusuri tiap inchi tubuhku. Mukaku terasa amat panas. Aku benar-benar malu ditatap Kak Salman dalam keadaan seperti ini.


Tanpa berkata-kata, Kak Salman mengelus wajahku dengan punggung tangannya. Aku memalingkan wajahku karena sangat malu. Ia lalu menundukkan tubuhnya menindihku. Bibirnya langsung menyusuri leherku dan memberikan kecupan juga gigitan yang meninggalkan bekas kemerahan. Tangannya mengelus pinggangku yang polos dan terus naik ke dadaku dengan sangat pelan membuat tubuhku meremang.


Kak Salman kembali menegakkan tubuhnya. Ia melepas kaos dan tampaklah otot dada dan perutnya yang bentuknya sempurna.


Aaahh aku tidak tahan melihatnya


Aku kembali memejamkan mata.


"Buka sayang! Ini milikmu!" bisik Kak Salman. Ia memegang tanganku dan mengarahkannya ke dadanya. "Peganglah!" titahnya.


Aku menelusuri otot dada Kak Salman dengan tangan gemetar. Kak Salman mendesis, matanya sebentar terpejam sebentar terbuka.


"Bundaaaaa!" teriakan Ryan mengagetkanku dan Kak Salman.


'Kak! Ryan." Aku mendorong dada Kak Salman. Kak Salman langsung bangun dari tubuhku. Aku berlari ke arah almari.


Tok Tok Tok


"Bunda di dalam ya!! Ada budhe Mirna, nih."


"Kak! Pintu!"


Kak Salman langsung ke pintu kamar dan menguncinya.


"Bunda!!!" Ryan mencoba membuka pintu. Untunh Kak Salman sempat menguncinya.


Kak Salman memungut dan memakai kaosnya. Aku mengambil daster panjang dan langsung mengenakannya.


"Kak mm sembunyi dulu ya! Di kamar mandi." kataku menahan tawa.


Kak Salman menatapku dengan tajam lalu berjalan ke kamar mandi.


Aku membuka pintu kamar.


"Kenaoa di kunci bunda?" Ruan vemberut berdiri di depan kamarku.


"Bunda lagi mandi." jawabku. "Mana budhe?!"


"Di depan." Ruan lalu menggandengku ke depan.


"Kak! Makasih sudah mengantar Ryan." Aku duduk di sebelah Kak Mirma di sofa ruang tamu.


"Iya. Dia nggak sabar nunggu kau jemput. Lagian tumben kamu nggak datang jemput Ryan. Biasanya setelah pulang kantor langsung jemput Ryan."


"Tadi aku naik taksi online Kak. Jadi pulang dulu. Maunya habis mandi jemput."


Kak Mirna memandangku. Matanya sedikit melebar seolah melihat hal yang aneh pada diriku.


"Ra! Itu, lehermu kenapa?!" Kak Mirna mendekat dan menyibak rambutku, "ini..." Mata Kak Mirna memandangku penuh tanda tanya.


Aku menunduk sambil menggigit bibir bawahku.

__ADS_1


"Ra! Apa ada yang kau sembunyikan dari kakak?"


"Kak, Ada yang ingin aku ceritakan."kataku gugup. Aku lalu menceritakan pernikahan super kilatku dengan Kak Salman.


"Alhamdulillah. Selamat ya Ra." Kak Mirna memelukku. Aku mengira ia akan marah namun Kak Mirna justru sangat bahagia.


"Lalu ini?" Kak Mirna memandang leherku lagi.


Aku meraba tanda kepemilikan yang dibuat Kak Salman sambil menunduk malu.


"Maaf Ra. Jadi kedatanganku mengganggu ya? Jadi itu sebabnya kamu terlambat menjemput Ryan?" Kak Marni mengerling menggodaku. Aku tersipu.


"Dimana dia?"


"Di kamar."


"Jangan bilang ia sedang nggak pakai baju." Kembali Kak Mirna menggodaku.


"Kaaak." Aku mencubit Kak Mirna.


"Ya udah. Aku nggak akan mengganggu kalian. Ajak dia ke rumah ya!"


Aku mengangguk.


Kak Mirna bangkit dari duduknya.


"Ryan budhe pulang dulu ya.." teriak Kak Mirna.


"Iya budhe." jawab Ryan dari dalam kamarnya.


Setelah Kak Mirna pulang, aku mengunci gerbang dan kembali masuk ke rumah. Kak Salman sudah keluar dari kamar dan sudah ganti baju. Dia mengenakan sarung dan baju koko.


"Kau cerita ke Kak Mirna?"


Aku mengangguk.


"Dikamarnya."


Kak Salman melangkah ke kamar Ryan. Aku mengikutinya dari belakang.


"Assalamualaikum Ryan!" sapa Kak Salman sambil membuka pintu. Ryan tampak kaget dengan kedatangan Kak Salman.


"Ayah Salman." Ryan langsung menghambur dan memeluk Kak Salman.


Kak Salman mengangkat Ryan lalu memutarnya.


"Sudah cukup. Sekarang bersiaplah, ikut ayah ke masjid ya!"


Ryan mengangguk dengan semangat. Ia lalu mengambil.baju koko dan sarungnya.


"Perlu bunda bantu?"


"Nggak. Ryan bisa sendiri." tolak Ryan.


"Dia sudah mandiri, nggak perlu dibantj. Aku yang perlu bantuanmu." bisik Kak Salman lalu mencuri ciuman di bibirku.


"Kak." Aku memukul lengannya."Ada Ryan."


"Sudah nggak tahan." bisik Kak Salman lagi.


"Ayah, sudah." Ryan berdiri sambil tersenyum.


"Mantab anak ayah. Kita berangkat yuk. Ra, aku ke masjid dulu sekalian mau undang bapak-bapak untuk tasyakuran pernikahan kita sekaligus pengumuman agar mereka tahu kalau kita sudah menikah. Jadi aku bisa bebas tinggal di sini." kata Kak Salman.

__ADS_1


"Kapan Kak?"


"Besok."


"Apa?Kenapa mendadak?"


"Sudah kita bahas nanti aepulang aku dari maajid.Assalamualaikum, sayang." Kak Salman mengecup pipiku.


"Kok bunda dicium?" Ruan menatap kami bingung.


"Ryan, sekarang ayah dan bunda sudah menikah. Jadi ayah audah boleh cium bunda. Ayo! Nanti telat." Kak Salman menggandeng Ryan keluar. Aku ikut keluar untuk membukakan gerbang.


***


"Ruan sudah tidur?" Kak Salman menyusulku ke kamar Ryan.


Aku mengangguk sambil menyelimuti Ryan.


"Ayo!"


"Kemana?"


"Membahas tasyakuran besok." Kak Salman menggandengku ke kamar.


"Kita kan bisa bicara di sana Kak." Aku menunjuk ruang makan.


Kak Salman menutup pintu kamar. "Enakan di sini." katanya lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang. "Sini!" ia menepuk bagian kosong di sebelahnya.


Aku menelan ludah. Sudah terbayang apa yang akan terjadi nanti.


"Ra! Takut banget sama suami sendiri." kata Kak Salman melihatku enggan untuk naik ke ranjang.


"Bukan begitu kak, belum terbiasa."


"Makanya biasakan! Sini!"


Aku naik perlahan dan membaringkan tubuhku di sisi Kak Salman.


"Untuk tasyakuran besok apa nggak terlalu mendadak Kak?Aku belum menyiapkan semuanya." tanyaku membuka pembicaraan agar Kak Salman tidak melakukan yang lain.


Namun Kak Salman sepertinya masih penasaran dengan apa yang tertunda sore tadi. Tangannya mulai bergerilya.


"Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau jangan khawatir." katanya sebelum membenamkan wajahnya ke dadaku.


Aku menggelinjang kegelian.


"Tapi apa mereka percaya Kak?" Aku mendorong dada Kak Salam sedikit menjauh.


"Kenapa enggak?!" tanyanya sambil menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak menarik dasterku hinga tersingkap menampilkan pahaku yang langsung ia elus dengan lembut.


"Kita kan nggak ada bukti kak." Suaraku sudah mulai gemetar karena tindakan Kak Salman.


"Siapa bilang?" Kak Salman mengecup keningku."Ada." Ia mengecup kedua kelopak mataku. "Kita punya surat nikah." jawabnya lalu mencium bibirku. Kami berciuman dengan penuh perasaan. Tangan Kak Salman sudah mulai menyusup ke dalam dan menarik turun pengamanku dan mulai memainkan bagian tersensitif dalam tubuhku.


Aku mendesah, tubuhku melium mengijuti irama tangan Kak Salman.


"Ra,apa kau mencintaiku?" bisik Kak Salman.


"Aku sudah dalam kekuasaanmu seperti ini dan kau masih bertanya tentang perasaanku kak?" Aku mencengkram kaos Kak Salman sebelum.meloloskan *******.


Kak Salman memutar tubuhnya. Sekarang ia berada di atasku.


"Jawabanmu kuanggap kalau kau juga mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Sayang,malam ini kita satukan cinta kita."

__ADS_1


Malam itu menjadi malam pertama kami sebagai suami istri. Malam yang menjadi saksi bersatunya cinta kami setelah menunggu sekian lama. Malam dimana kami saling berpacu diiringi ******* dan erangan, ciuman, dekapan, remasan dan hentakan.


Semoga cinta kami abadi sampai akhir nanti.


__ADS_2