
"Bagaimana? Sudah lega?" Salman menatap Fira yang termenung.
"Belum sih Mas. Tapi aku sudah melakukan kewajibanku. Mengingatkan Leana agar ia tidak menyesal nantinya. Tapi kalau Leana maunya tetap menikah dengan Mas Andre, ya itu haknya. Hanya saja aku merasa kasihan pada Leana dan juga wanita itu."
Salman tersenyum. Dia mendekati Fira dan mengelus kepalanya, "Jadi orang jangan terlalu baik." Salman mengecup kening Fira.
"Ayo, kita makan! Kamu sedang hamil jangan telat makan. Apa masih belum menginginkan sesuatu?"
Fira tertawa, "Mas ini lucu deh. Pengen banget aku ngidam. Tapi aku nggak pengen apa-apa sekarang. Cuma ingin makan saja. Lapar."
"Ya udah. Tunggu apalagi?" Salman bangkit dan mengulurkan tangannya pada Fira.
Ia menggandeng Fira keluar dari ruangannya.
"Kita nggak makan di kantin kantormu saja Mas?"
"Nggak! Makan di tempat lain saja."
***
Di sebuah rumah makan.
"Kurangi makan pedas sayang!" Salman mengingatkan Fira saat istrinya itu hendak menambahkan satu sendok penuh sambal ke makanannya. Fira menggantung tangannya di udara. Sendok yang penuh sambal terhenti.
"Aku justru mual kalau makannya nggak pedas, Mas."
"Tapi kasihan anak kita."
Fira menatap Salman penuh tanya, "Apa ngefek ke bayiku?"
"Kalau ke bayi sih enggak, cuma kalau ibunya makan makanan pedas terus sakit kan anaknya juga ikut kena imbasnya nanti." Salman mengambil sendok sambal dari tangan Fira.
"Jangan terlalu pedas ya!" pinta Salman lembut.
Fira nurut. Ia lalu menghabiskan makanannya tanpa menambahkan sambal.
Saat mereka sedang menikmati makan siang, ponsel Salman berdering. Salman melihatnya dan dahinya berkerut.
"Bu Hera." Salman memberitahu Fira siapa yang menghubunginya.
"Mamanya Elsa. Angkat, Mas! Siapa tahu penting."
"Nanti saja saat kita sudah selesai makan." Salman membiarkan saja ponselnya terus bersuara. Bahkan ia mengubahnya ke mode silent agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan yang lain.
Setelah mereka selesai makan dan membayar makanan, mereka keluar. Sambil berjalan ke mobil, Fira mengingatkan Salman tentang panggilan dari Bu Hera.
"Mas, jangan lupa telepon Bu Hera balik!"
"Ah iya. Makasih sayang sudah diingatkan." Salman mengecup pucuk kepala Fira.
"Mas, kalau mau mesra lihat tempat dong. Aku malu dilihatin banyak orang."
Salman tersenyum sambil melirik ke arah orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Aku telepon dulu, ya?" Salman berkata saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
Fira mengangguk.
Salman menyetel mode loud agar Fira juga bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Assalamualaikum, Man. Akhirnya kau menghubungi ibu."
"Waalaikumsalam. Maaf, Bu. Tadi sedang tidak bisa mengangkat telepon. Apa ada hal yang penting sehingga ibu menelepon saya?"
Terdengar tawa Bu Hera. "Sekarang harus ada hal penting baru aku bisa menghubungimu ya?"
"Bukan begitu, Bu. Maksud saya tidak biasanya ibu menelepon saya, jadi kalau sampai ibu menelepon tandanya ada yang penting yang mau ibu sampaikan."
"Kau benar. Bisakah kau ke Jakarta? Ardi sakit."
__ADS_1
Salman dan Fira tersentak.
"Apa, Bu? Ardi sakit?"
"Iya, Man. Awalnya ibu tidak ingin mengganggumu tapi lama-lama ibu kasihan pada Ardi. Dia selalu mengigau memanggil-manggil namamu.'
Salman menatap Fira dan dibalas dengan anggukan.
"Baik, Bu. Saya akan berangkat sore ini."
"Terima kasih ya, Man. Maaf merepotkan dan salam untuk Fira."
"Iya Bu." Balas Salman lalu menjawab salam yang diucapkan Bu Hera sebagai tanda berakhirnya percakapan mereka.
"Sayang, aku akan ke Jakarta sore ini. Kamu bisa nggak ijin pulang lebih awal?"
Fira mengangguk. "Antar aku ke kantor dan aku akan memberitahu stafku dan minta ijin pada Alan. Eh, tapi Alan sedang mempersiapkan pernikahan. Dua hari lagi dia menikah."
"Ya sudah. Kamu telepon dia saja!" titah Salman lalu melajukan mobilnya.
Salman menghubungi Juna untuk mencarikan tiket buat tiga orang.
"Mas, kok tiga orang?"
"Kenapa? Tiga itu aku, kamu dan Ryan. Kalian akan ikut aku ke Jakarta kan?"
"Mas, kita kan tidak tahu sampai berapa hari Mas Salman di sana. Aku nggak bisa ijin seenaknya juga. Jadi, Mas Salman sendiri saja yang berangkat."
Salman diam. Dia khawatir jika harus meninggalkan Fira sendirian.
"Tapi kamu akan sendirian."
"Ada Ryan."
"Fira, Ryan hanya anak kecil." Salman gusar.
Fira mengelus lengan Salman. "Yakinlah, Allah akan melindungi kami. Kami akan baik-baik saja. Mas saja yang ke Jakarta dan cepat kembali ya!" Fira tersenyum lembut menenangkan Salman.
Sesampainya di tempat kerja Fira, Salman menunggu di mobilnya. Fira masuk untuk memberitahu bawahannya bahwa ia pulang cepat karena ada kepentingan.
"Wik, jika ada yang penting hubungi saja aku!" titah Fira pada Dewi.
"Siap, Bu. Laksanakan! Tapi ibu mau kemana?"
"Mas Salman mau ke Jakarta jadi aku haris menyiapkan keperluannya."
"Jadi ibu sendirian di rumah?"
Dewi menatap Fira khawatir.
"Sementara Wik. Nanti kalau Mas Salman dah pulang ya nggak sendiri lagi. Dulupun aku juga sendiri Wik, hanya ditemani Ryan."
Dewi diam memandang sahabat yang juga atasannya itu. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan.
...Aku berharap semua akan baik-baik saja....
***
"Apa yang perlu kau bawa, Mas? Biar aku siapkan."
Fira berkata sambil menaruh tas kerjanya di meja. Ia membuka almari dan memeriksa pakaian apa yang akan suaminya bawa.
Grep
Salman memeluknya dari belakang.
"Aku nggak butuh bawa apa-apa. Barang barangku juga ada di apartemenku." Salman meletakkan dagunya di bahu Fira.
"Lalu untuk apa aku pulang cepat? Ku kira Mas butuh aku untuk menyiapkan barang bawaanmu." Fira menutup kembali almari pakaian mereka.
__ADS_1
Salman memutar tubuh Fira hingga menghadapnya.
"Aku akan ke Jakarta dan kau tidak bisa ikut. Kau pikir aku nggak butuh bekal, hah?"
"Bekal? Mas, jangan aneh deh. Mas mau naik pesawat. Lapar bisa beli. Untuk apa membawa bekal?" Fira tersenyum geli.
"Kalau perutku yang lapar aku bisa beli sayang, tapi kalau ini yang lapar, apa aku juga boleh beli?" Salman membimbing tangan Fira memegang bagian bawah tubuhnya.
"Enak saja. Awas kalau berani!!" ancam Fira.
"Makanya aku butuh bekal. Setidaknya cukup untuk tiga hari."
"Maksudnya??"
"Tiga ronde sayang." Kata Salman langsung mengangkat dan menggendong Fira lalu membawanya ke singasana cinta mereka.
Fira memandangi wajah lelap suaminya. Ia tersenyum sambil mengelus wajah Salman.
"Aku mencintaimu, Mas" lirih Fira lalu beringsut dan mengecup dahi Salman.
Fira melihat jam, "Masih satu jam lagi. Biarkan dia istirahat dulu. Pasti capek banget. Aku tidak pernah menyangka pemuda tampan, cuek dan kalem yang ku kenal dulu ternyata tingkat kemesumannya sangat tinggi. Tapi untungnya kamu hanya mesum padaku, Mas." Fira masih memandangi Salman sambil bergumam lirih.
Fira kembali beringsut mendekati wajah Salman dan mendaratkan ciuman kilat di bibir Salman. Ia tertawa lirih kemudian beranjak turun untuk mandi.
Satu jam kemudian, Fira sibuk menyiapkan pakaian yang akan Salman pakai. Suaminya itu sudah bangun dan sekarang sedang berada di kamar mandi.
Fira duduk di ranjang menunggu Salman selesai mandi.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Salman keluar dengan mengenakan jubah mandinya. Ia berjalan menuju pakaiannya yang ada di atas ranjang di sebelah Fita.
"Pakaikan dong!" Salman menyodorkan pakaiannya pada Fira.
"Ih, manja." ledek Fira namun ia menuruti kemauan suaminya.
"Sayang, aku menyuruh Juna buat antar jemput kalian selama aku tidak ada."
Fira diam. Tiba-tiba hatinya merasa sedih. Dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Salman tanpa kata.
"Sayang. Kau tidak apa-apa?" Salman mengangkat dagu Fira. Kini ia bisa melihat mata Fira yang berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Kalau kamu nggak mau aku pergi, aku nggak akan pergi." Salman memeluk Fira.
"Aku nggak papa. Hanya sedikit sedih karena Mas akan pergi."
"Sedikit?"
"Banyak sih." Fira tertawa dalam isaknya.
"Doakan Ardi nggak serius sakitnya jadi aku bisa segera pulang."
"Mas, kenapa nggak kau bawa Ardi ke sini saja?"
"Bukan aku nggak mau tapi kalau Ardi tinggal sama kita, keluarga Elsa pasti akan sering kemari. Mungkin Elsa juga. Aku nggak mau itu terjadi. Biar Ardi sama mereka. Kita yang datang mengunjunginya."
Fira mengangguk. Ia lalu kembali merapikan kemeja Salman.
"Dah! Siap."
"Ingat! Jangan kemana-mana tanpa Juna ya!"
"Iya, Bos." Fira mengangguk.
"Sampaikan pamitku pada Ryan." Salman mengecup kening Fira. Ia lalu keluar dan masuk ke mobil.
Setelah melambaikan tangan, Salman melajukan mobilnya meninggalkan Fira yang terus memandang mobil itu sampai menghilang.
Cepat pulang ya, Mas. Aku tidak lengkap tanpamu.
__ADS_1
Fira menghapus air mata yang menetes lalu kembali masuk ke rumahnya.
...----------------...