Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Karir Baru Fira


__ADS_3

"Fira!!!" suara renyah seorang wanita menyambutku saat aku masuk ke rumah mewah milik Kak Salman.


 Aku senang mendengar suara Elsa, namun kakiku seperti terpaku di tempatnya saat aku melihat kondisi Elsa.


Elsa yang dulu cantik, bertubuh bagus, tiinggi semampai, mengapa sekarang menjadi seorang wanita yang meski wajahnya masih tampak cantik, tubuhnya menjadi kurus kering.


"Kau tidak mau memelukku, Ra?" ucapan Elsa menyentakku. Aku tersadar dan dengan perlahan kudekati dia dan ku peluk. Aku tak bisa menahan airmataku.


"Sa, kenapa kau jadi begini?" tanyaku sambil terisak. Punggungku menghangat saat tetesan air mata Elsa jatuh di sana.


"Nanti aku cerita." bisik Elsa lalu melepaskan tubuhku. Aku begitu trenyuh melihat kondisi tubuhnya yang ringkih itu. Tiba-tiba Elsa memegang tanganku dengan kuat seolah mencari penopang. Tubuhnya tampak lemah.


"Sa? Kau tidak apa-apa?" tanyaku cemas.


Kulihat Kak Salman segera mendekat dan meraih tangan Elsa yang mencengkeram lenganku. Tubuhku meremang saat tangan Kak Salman tanpa sengaja menyentuh lenganku meski lenganku terlapisi kain.


"Ma, ayo duduk. Jangan memaksakan diri." suara lembut kak Salman meminta Elsa duduk kembali ke kursi.


Elsa menurut. Ia lalu duduk dan menatapku. Dengan isyarat tangannya, ia meminta aku duduk di sebelahnya.


Aku duduk di sebelah Elsa. Sahabat masa sekolahku itu langsung menggenggam tanganku.


"Maaf!" pintanya yang membuat aku tidak mengerti apa maksud dari permintaan maafnya. Meski begitu aku mengangguk saja supaya dia tenang.


Alan masuk bersama Ryan. Tadi ia menemani Ryan yang merengek minta membeli sesuatu yang dijual oleh pedagang di depan rumah kak Salman.


"Hai, Sa! Apa kabar?" sapa Alan biasa saja seolah keadaan Elsa yang seperti ini tidak mengganggunya.


"Seperti biasa, Lan." jawab Elsa seolah Alan memang sudah tahu kondisi dirinya. Apa memang Alan tahu dan hanya akulah yang tidak tahu.


"Hai..tampan. Ini pasti Ryan ya?" sapa Elsa pada Ryan. Ryan mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Elsa lalu menciumnya.


"Iya tante." jawab Ryan.


"Uhh gemesnya." Elsa mencubit pipi gembul Ryan membuat anakku itu tersenyum sambil meringis.


"Ardi dimana, Ma?" tanya kak Salman.


"Di kamar bermain. Biasa, dia paling betah di sana." jawab Elsa.


"Ryan, ayo ikut Om Salman. Ketemu sama anak om, nanti kalian bisa main bersama." ajak Kak Salman sambil mengulurkan tangan kepada Ryan. Ryan menatapku meminta ijin. Aku mengangguk. Ryan  lalu menerima tangan Kak Salman dan ikut dia ke kamar anaknya.


"Ra, aku ikut prihatin atas kondisi rumah tanggamu. Yang sabar dan kuat ya!" kata Elsa. Aku kaget. Darimana Elsa tahu tentang kondisi rumah tanggaku. Pandanganku langsung tertuju pada Alan.


"Jangan salahkan Alan. Aku yang selalu memintanya melaporkan tentang keadaanmu." tegur Elsa saat melihatku menatap tajam Alan. Sedangkan Alan, ia sama sekali tidak mengerti apa yang kami bicarakan karena ia fokus pada ponselnya.


"Terima kasih Sa. InshaAllah aku kuat." jawabku sambil tersenyum.


"Jangan merasa sendiri. Kalau kamu butuh apa-apa, hubungi aku. Kita kan sahabat dan lebih dari itu, ijinkan aku menebus kesalahanku padamu." kata Elsa yang masih berupa teka-teki bagiku.


"Kamu salah apa, Sa? Kamu nggak salah apapun padaku."

__ADS_1


"Aku punya salah padamu Ra. Sebuah kesalahan besar yang aku tidak tahu apakah kamu akan memaafkannya atau tidak. Tapi kuharap kamu mau memaafkannya." Elsa menepuk-nepuk punggung tanganku.


Obrolan kami terhenti karena kedatangan Kak Salman.


"Ayo, makan. Bi Rani sudah menyiapkannya." ajak Kak Salman. "Lan, ayo makan dulu. Simpan dulu ponselmu itu. Sudah macam istri saja tuh ponsel. Di elus-elus terus." goda kak Salman pada Alan.


"Kalau istri bukan cuma aku elus, aku peluk dan cium juga." jawab Alan lalu mereka berdua tertawa.


"Makanya cepetan nikah." sambung Elsa yang ikut menggoda Alan.


"Doakan Sa. Sebentar lagi aku akan melamarnya. Dan semoga ia tidak menolakku." jawab Alan sambil menatap ke arahku. Aku langsung menunduk.


"Butuh bantuan, Sa?" kataku mengalihkan rasa gugupku atas perkataan Alan. Elsa mengangguk. Aku lalu membantu Elsa berdiri dan memapahnya ke ruang makan menyusul Kak Salman dan Alan.


"Di sini saja." kata Elsa minta di bantu duduk dekat Alan.


"Eh, kenapa tidak di sana?" tanyaku sambil mataku mengarah ke kursi yang ada di sebelah Kak Salman.


"Terlalu jauh, Ra. Aku sudah capek jalan." Elsa beralasan. Aku lalu menuruti kemauannya. Menarik kursi di sebelah Alan lalu membantu Elsa duduk.


Ku lihat Alan sudah mengambil nasi dan lauk, ia sudah  siap akan  makan saat aku menyenggol bahunya.


"Apa? Mau disuapin?" tanya Alan sambil mengangkat satu sendok penuh makanan.


Elsa dan Kak Salman menatap kami.


"Ck, bukan. Kamu pindah ke sana. Biar aku duduk di sini." kataku.


"Sini Ra!" panggil Kak Salman dengan sikapnya yang wajar.


Aku lalu melangkah dan duduk di sebelah Kak Salman. Tanpa aku sengaja, kaki menyandung karpet yang mengalasi meja makan. Tubuhku terhuyung ke depan dan jatuh menimpa Kak Salman yang langsung menangkapku dengan sigap.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya kak Salman. Mata kami saling menatap dan aku melihat cahaya itu di matanya. Cahaya seperti yang pernah aku lihat dulu. Dulu sekali saat kami masih SMA.


Aku buru-buru menarik tubuhku dari dekapan Kak Salman. "Maaf...aku tidak sengaja Kak." kataku gugup.


"Tidak apa-apa. Duduklah!" Kak Salman menarik kursi di sebelahnya. Aku melangkah dan duduk di kursi itu. Aku hendak membuka piring untuk mengambil makan, namun tiba-tiba Kak Salman sudah melakukannya untukku.


"Silahkan!" katanya setelah selesai membuka piringku. Aku mengangguk.


Ku perhatikan menu yang ada di meja makan. Kenapa semua menunya adalah makanan kesukaanku.


Melihat aku hanya memperhatikan makanan yang ada di meja, Alan yang duduk berseberangan denganku langsung berdiri dan mengambil nasi lalu meletakannya di piringku. Ia juga mengambil beberapa lauk kesukaanku.


"Cepat makan! Jangan banyak berpikir!" kata Alan.


Aku sangat canggung dengan sikap Alan. Ku lihat Elsa. Ia mengulum senyum. Aku juga melirik Kak Salman. Ia seolah tidak terganggu oleh perbuatan Alan. Ia tetap menyantap makanannya dengan santai.


"Terima kasih, Lan. Tapi kamu nggak perlu seperti ini. Aku bisa mengambilnya sendiri."ucapku. Aku lalu dengan perlahan mulai menyantap makananku.


Sebuah lauk kembali mendarat di piringku. "Bukankah kamu menyukai ini?" tanya Kak Salman setelah menaruh sepotong cumi goreng krispi ke piringku.

__ADS_1


"E..iya." aku lebih gugup daripada saat Alan mengambilkan makanan tadi.


"Kau lihat kan Ra? Masih banyak yang menyayangimu. Jadi kehilangan suamimu tidak harus membuatmu terpuruk." kata Elsa. "Lagipula, mungkin ini adalah jawaban Allah buat seseorang yang selalu menyebut namamu dalam doanya setiap malam. Kau dipisahkan dari Andre agar bisa bersamanya." lanjut Elsa.


"Uhuk!!" Kak Salman terbatuk karena tersedak makanan.


Karena teko air dekat denganku, aku segera menuangkan airnya ke gelas yang ada di depan Kak Salman.


"Makasih Ra." kata Kak Salman. Ia lalu melanjutkan makannya. Begitu juga aku.


Selesai makan kami masih duduk di tempat kami masing-masing. Bi Rani, asisten rumah tangga Elsa membereskan piring kotor dan menyimpan sisa makanan. Saat meja makan sudah bersih, ia lalu menaruh beberapa camilan dan buah di atasnya.


"Jam berapa check in?" tanya Kak Salman.


Alan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tiga jam lagi." jawabnya.


"Mumpung masih ada waktu, kenapa kalian tidak jalan-jalan dulu." usul Elsa. "Ryan pasti suka diajak berkeliling."


"Bukankah masih pandemi?"


"Nggak papa. Sudah boleh kok. Asal tidak lupa protokol kesehatan." jawab Kak Salman.


"Tapi..."


"Kenapa?Takut tertular? Jangan khawatir, kalau kamu sakit dan tertular, aku yang akan merawatmu." potong Alan.


Elsa tertawa sedangkan Kak Salman hanya tersenyum tipis dan..hambar. Ah..tidak mungkin. Dia adalah suami Elsa. Sadar Fira.


"Oh Ya Ra. Kapan kau menamatkan novelmu?" tanya Kak Salman tiba-tiba.


Alan langsung terbatuk-batuk.


"Novel?" Aku menatap Kak Salman bingung.


"Gini Ra. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah bertindak lancang. Aku pernah membuka komputer di ruanganmu dan tanpa sengaja aku membaca tulisanmu. Aku mengkopinya dan ku kirim ke Salman. Menurut Salman cerita yang kau tulis bagus. Jadi ia bermaksud menerbitkannya." Alan menjelaskan.


Aku menghela nafas. Andai kau tahu Lan, itu adalah coretan tentang hidup yang aku jalani serta hayalan akan kehidupan yang aku harapkan. Bukan novel.


"Bagaimana Ra?" Pertanyaan Kak Salman membuatku menoleh. "Sayang lo kalau hanya berhenti di komputermu. Ceritanya bagus. Pasti akan meledak nanti."


"Aku tidak yakin Kak." jawabku ragu.


"Cobalah Ra. Aku yakin kamu mampu." bujuk Elsa menyemangatiku.


"Iya. Jangan sia-siakan usahaku mencurinya dari komputermu." kata Alan sambil nyengir  yang langsung di sambung tawa renyah Elsa. Kali ini kudengar Kak Salman juga tertawa meski lirih.


"Baiklah. Akan aku coba." kataku akhirnya.


"Nah! Begitu donk. Ayo kita jalan-jalan merayakan karir baru Fira sebagai penulis." kata Alan penuh semangat. Dia tersenyum lebar. Tentu saja. Dengan aku setuju, ia beranggapan aku tidak akan menghukumnya karena mencuri tulisanku. Tapi tunggu saja kamu, Alan yang usil. Aku akan menghukummu.


...🥀🥀🥀🥀...

__ADS_1


__ADS_2