
'Ryan! Cepat sayang nanti telat lho."
Fira sibuk melayani anggota keluarga kecilnya pagi itu. Suara teriakannya bergema berulang-ulang, meminta Ryan ataupun Salman untuk segera melakukan aktivitas mereka. Mulai dari mandi, berpakaian dan sarapan.
"Mas, kok malah rebahan sih." Fira menggelitik telapak kaki Salman.
"Geli yang." Salman reflek menariknya.
"Biarkan aku rebahan sebentar." Salman malah memeluk guling.
"Mas, aku harua datang pagi. Ada rapat hari ini." Fira sibuk menyiapkan seragamnya.
"Bunda! Kaos kaki Ryan yang hitam dimana?!" teriak Ruan dari luar kamar Fira yang tertutup.
Fira membuka pintu, "Di tempat biasanya sayang."
"Nggak ada. Ryan sudah cari."
Fira menghela nafas. Drama rutin tiap pagi. Kalau bukan kaos kaki yang hilang, ikat pinggang, dasi atau topi. Fira bergegas ke kamar Ryan. Ia langsung menuju tempat biasa ia menyimpan perlengkapan Ryan.
"Ini sayang." Fira menunjukkan kaos kaki hitam sambil menatap Ryan.
"Kok bisa. Tadi nggak ada. Bunda bisa sulap ya?!" Ryan mengambil kaos kaki itu dari tangan Fira.
Fira mengusap.kepala anaknya gemas. Jika saja ia tidak tahu kalau pria itu hanya bosa fokus pada satu titik sehingga mereka kesulitan tiap kali mencari barang, pasti ia sudah marah dan kesal.
"Sayang!!" Suara Salman menggema.
Fira meninggalkan kamar Ryan.
"Iya mas?!"
"Lihat map yang kemarin?"
"Yang mana?"
"Yang berwarna biru. Yang aku taruh di meja ini kemarin."
"Bukan yang itu?" Fira menunjuk map biru yang ada di nakas.
"Kok bisa pindah ya? Apa dia punya kaki?" gumam Salman nggak jelas.
"Iya. Kakinya dua dan berbulu." jawab Fira asal. Ia ingat semalam suaminya sendiri yang memindahkan map itu setelah memeriksa berkas yang ada di dalamnya.
"Lucunya bumilku." Salman terkekeh.
Salman menyambar map itu lalu keluar.
"Cepatlah bersiap! Aku tunggu di ruang makan." Ganti Salman yang mengoprak-oprak Fira.
Ih bisa bisanya. Dari tadi yang bikin akau belum siap siapa.
Salaman sudah duduk manis di meja makan berdua dengan Ryan.
"Wah jagoan papa dah rapi." Salman mengusap kepala Ryan.
"Papa. Jadi rusak nih rambut Ryan." pria kecil itu memberengut sambil merapikan rambutnya lagi.
Salman terkekeh.
"Bunda mana sih? Lama amat. Ryan dah laparrrr."
Fira datang dan duduk di sebelah Salman. Ia lalu mengambilkan nasi untuk Salman.
__ADS_1
"Cukup yang." Salman menerima piring dari Fira. Ia lalu mengambil sayur dan lauk.
Fira mengambilkan makanan untuk Ryan dan untuk dirinya sendiri. Selanjutnya mereka makan dengan tenang.
Saat mereka sedang menikmati sarapan, ponsel Salman berdering. Salman meliriknya tapi tidak mengangkatnya.
"Siapa, Mas?" tanya Fira.
"Juna." Salman melanjutkan makan paginya.
Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini sebuah pesan masuk.
Salman membukanya. Alisnya langsung berkerut.
"Ada apa, Mas?"
Salman menatap Fira lalu berpindah ke Ryan.
"Soal semalam. Itu lho, soal permintaanmu untuk menyelidiki Leana dan kekasihnya. Mereka akan menikah."
Salman sengaja tidak menyebut nama Andre karena ada Ryan.
"Apa? Bukankah dia punya istri?Kenapa mau menikah lagi? Apa Leana tidak tahu kalau dia beristri?"
"Tahu tapi dia tidak keberatan."
"Oh!"
Wanita itu. Bagaimana jika dia tahu Mas Andre menikah lagi. Dia akan merasakan sakit seperti yang aku rasakan dulu. Kasihan dia.
"Sudahlah. Jangan campuri urusan mereka! Ayo berangkat!" Salman bangkit dari duduknya.
Ryan juga berdiri dan berlari mengambil tas sekolahnya. Fira merapikan meja makan lalu ke kamar mengambil tas kerjanya.
...***...
Saat jam istirahat siang, Fira meminta ijin Salman untuk datang ke kantornya. Salman langsung mengirim bawahannya untuk menjemput Fira.
"Tumben pengen ke sini? Keinginan baby apa bundanya nih?" Salman langsung memeluk Fira saat wanita itu masuk ke ruang kantornya.
"Kantor mas bagus." jawab Fira mengabaikan pertanyaan Salman.Ia mengurai pelukan Salman lalu berjala untuk melihat lihat ruangan Salman.
"Yaiyalah. Kan aku yang desain. Sayang, kamu belum menjawabku lho!"
Fira memutar tubuhnya lalu mendekati suaminya.
"Mas, boleh nggak kalau aku bicara dengan Leana?"
"Untuk apa?"
"Mas aku hanya ingin mengingatkannya Memang menikah lagi bagi seorang pria itu tidak butuh ijin dari istri. Tapi bukan berarti pria boleh menikah berkali kali seenaknya tanpa mempedulikan rasa sakit yang istrinya rasakan. Leana, dia juga nggak boleh menerima begitu saja pria yang sudah menikah. Sebagai sesama wanita, seharusnya dia memahami bagaimana sakitnya saat diduakan."
"Kupikir kau akan merasa puas karena ada yang membalas wanita itu." Salman mengusap kepala Fira.
"Mas. Aku tidak sejahat itu." Fira cemberut.
Salman tertawa. "Boleh. Aku akan memanggilnya. Lebih enak kalian bicara di sini. Tapi...."
"Tapi apa?Imbalan? Nanti malam aku kasih dobel."
"Yes!!" Salman girang. Ia lalu menghubungi Juna untuk memanggil Leana.
Salman lalu menarik Fira ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"De pe ya!" Kaya Salman dan ia langsung menyambar bibir Fira.
"Manis." ucap Salman kala jeda. Ia kemudian memagut lagi. Tangannya menekan tengkuk Fira membuat tautan bibir mereka semakin dalam.
tok tok tok.
Fita mendorong dada Salman. "Ada orang."
Salman mengelus bibir Fira lalu mengecupnya kilat.
"Mas. Bibirmu." Fira mengusap belas lipstik yang menempel di bibir Salman dengan tisu.
"Masuk!"
"Selamat siang, Pak. Bapak memanggil saya?" Leana masuk.
"Iya. Duduklah!"
Leana duduk di sofa. Fira segera bergabung.
"Bu, apa kabar?" Leana mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah baik. Kamu?"
"Alhamdulillah baik juga, Bu."
Salman bergabung.
"Lea, aku memanggilmu karena ada yang mau istriku tanyakan. Jadi kuharap kamu tidak keberatan menjawabnya."
"Soal apa, Pak?"
"Soal hubunganmu dan Andre."
"Memang kenapa, Pak?"
"Lea, bukan maksud kami mencampuri tapi apakah kamu tahu kalau Mas Andre itu sudah beristri?" Fira ganti bertanya.
"Sudah, Bu. Bahkan saya tahu kalau mereka sampai sekarang hanya nikah siri. Belum sah secara hukum negara."
"Dan kamu tidak keberatan dengan statusnya itu? Maksudku apa kamu sampai hati menyakiti istrinya?" Fira langsung ke inti.
"Kalau dia dulu sampai hati menyakiti Bu Fira, kenapa saya enggak."
Fira tersentak. Jawaban Leana di luar dugaannya.
"Tapi Lea, perbuatan jahat jangan dibalas dengan jahat juga."
"Saya berniat baik kok, Bu. Mas Andre ingin memiliki anak dan sampai sekarang wanita itu belum hamil juga. Sayakan lebih muda jadi harapan untuk hamil lebih besar. Lagipula mas Andre akan menikahi saya bukan saja secara hukum agama tapi juga hukum negara." Leana menjelaskan panjang lebar.
Fira dan Salman saling memandang. Mereka sadar tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Tekad Leana sudah bulat.
"Lea. Aku hanya mengingatkan. Poligami memang syariat. Tanggung jawabnya berat jadi jangan dimulai dengan sesuatu yang batil. Karena apapun itu, jaza itu ada. Manusia akan menerima balasan sesuai perbuatan. Semoga kau bisa memikirkan lagi. Jika Andre tetap ingin menikahimu, setidaknya beritahu istri pertamanya. Jangan main belakang." Salman menasehati Leana.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
"Bagus kalau kau mengerti. Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu!"
"Tolong pikirkan lagi ya Lea!" pinta Fira yang merasa sayang jika Leana harus menikahi Andre padahal dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Andre.
Leana mengangguk sambil terdenyum. Ia lalu berjalan menuju pintu, membukanya dan keluar.
Maaf Bu. Aku tidak sebaik Bu Fira.
__ADS_1
Leana memandangi pintu ruangan Salman sebelum akhirnya melangkah kembali ke ruangannya.