Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Prolaktin dan Kesulitan Andre


__ADS_3

"Mas!" Fira mendekati Salman yang sibuk dengan laptopnya. Ia duduk di sebelah suaminya.


"Hem. Ryan sudah tidur?" Pangan Salman masih fokus pada layar laptopnya.


"Ya." Fira membaca apa yang sedang Salman ketik. Ternyata Salman membuat surat perjanjian.


"Mas jadi memberi Mas Andre uang?"


"Lihat besok."


"Maksud Mas?"


"Aku ingin tahu apa yang membuatnya nekat melakukan hal itu. Seperti katamu, itu bukan Andre. Pasti ia mempunyai alasan yang kuat. Kalau memang diperlukan, aku akan menolongnya." Salman berucap sambil tetap serius membuat surat perjanjian antara dirinya dan Andre.


Fita menatap kagum wajah tampan yang sedang serius itu.


Tidak hanya wajahmu yang tampan mas, hatimu juga tampan.


"Ngapain senyam-senyum?" Salman melirik dengan ekor matanya.


Fira tersipu karena tertangkap basah sedang mengagumi suaminya.


Kepalang basah. Jujur sajalah.


"Mas tampan." Wajah Fira merona.


Bibir Salman melengkung membentuk senyum maut andalannya. Ia menyingkirkan laptop dari pangkuannya dan menaruhnya ke atas nakas.


"Sudah selesai mas?"


"Belum." Salman merebahkan tubuhnya sbil menarik Fira hingga wanita itu berada di atasnya.


"Kok disudahi kalau belum selesai?" Fira menopang tubuhnya dengan menumpu pada dada Salman.


"Karena ada yang ngganggu." Salman menyelipkan anak rambut Fira yang menutupi wajah Fira ke belakang telinga. Matanya menatap lekat wajah cantik istrinya itu.


Fira manyun. "Aku kan nggak ngapa-ngapain, Mas. Cuma lihat saja."


"Lihat dengan tatapan menggoda yang membuatku tidak tahan." Salman mempererat dekapannya hingga tubuh mereka menempel sempurna.


"Siapa yang menggoda?"


"Terus tadi ngapain memandangiku sampai terkagum-kagum dan bilang kalau aku tampan?" Salman menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Fira dengan gemas.


"Habis Mas baik banget. Hati mas baik." Fira merona.


"Makasih karena aku tahu Mas melakukannya demi aku." Fira meletakkan kepalanya ke dada Salman.


"Kamu salah. Aku melakukannya untukku sendiri. Kamu amanah bagiku. Menjaga kebahagiaanmu adalah kewajibanku. Jika aku lalai melakukan kewajibanku, maka Allah akan murka padaku. Jadi aku melakukannya untukku sendiri." Salman mengelus punggung Fira.


"Kewajiban suami membahagiakan istri kewajiban istri membahagiakan suami. Jika kita melakukan kewajiban kita, maka rumah tangga kita akan bahagia." Fira memainkan tangannya di dada Salman.


"Nyonya Salman, apakah malam ini bisa melakukan kewajibanmu?"


Fira mengangkat kepalanya menatap mata Salman. Mereka saling menatap beberapa saat lalu dengan cepat Salman mengubah posisi, memejamkan mata membaca doa dan melakukan kewajiban memberi nafkah batin pada Fira.


Salman duduk bersandar pada headboard. Tangan kanannya sibuk membuka laptop. Ia memeriksa surat yang ia susun. Membetulkan yang salah dan menambah yang kurang.

__ADS_1


"Mas kok nggak tidur?" Fira mendongak.


"Bentar lagi. Masih memeriksa ini."Mata Salman mengarah ke layar laptopnya.


"Bukan itu. Dari yang aku baca, pria itu pasti tidur setelah melakukan itu. Tapi Mas Salman kok beda. Nggak pernah langsung tidur."


Salman menoleh dan memandang Fira yang menatapnya dengan wajah polos. Ia terkekeh.


"Karena aku beda. Seperti yang kamu bilang."


"Berarti mas nggak normal ya?"


"Enak saja nggak normal. Sangat normal. Melebihi orang normal yang lain. Seperti orang jenius." Pandangan Salman kembali fokus ke laptopnya


Fira beringsut untuk duduk sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya.


"Aku kok nggak paham?"


Salman menoleh, "Coba kau vwritakan apa yang kau baca!"


"Jadi pria itu pasti tidur setelah begituan salah satunya karena saat mencapai puncak mereka akan melepaskan prolaktin yang memicu rasa kelelahan dan mengantuk. Tapi mas sama sekali nggak lelah dan mengantuk?"


Salman manggut-manggut.


"Begitu ya. Sepertinya hormon prolaktinku tidak cukup banyak keluar hingga tidak mampu membuatku mengantuk." Ia melirik penuh arti.


Fira yang menangkap maksud lirikan suaminya langsung sadar kalau ia telah membangunkan macan yang sedang tidur.


"Sepertinya aku salah bicara deh." Fira merosot dan masuk ke selimut lalu membungkus tubuhnya sampai kepala.


"Terlambat sayang. Prolaktinku harus dikeluarkan agar aku bisa tidur."


Setelah tiga kali kegiatan baru prolaktin Salman keluar semua dan ia akhirnya terlelap dalam damai.


Lain kali aku nggak akan bertanya soal prolaktin lagi. Ah pinggangku.


Fira mendesis merasakan pinggangnya yang bagai mau patah. Susah payah ia mencari posisi tidur yang enak sampai menemukan tempat ternyamannya, masuk ke dalam dekapan Salman.


Siang hari di kantor Salman.


Andre datang untuk memenuhi janjinya. Ia menuju resepsionis yang ada di lobi.


"Mau ketemu Pak Salman, Mbak!."


Dua wanita yang ada di meja resepsionis menatap Andre.


"Sudah buat janji Pak?"


"Sudah."


Salah satu dari petugas resepsionis menghubungi sekretaris Salman.


"Mari Pak, saya antar ke ruangan Pak Salman!"


Andre mengikuti petugas itu menuju ruangan Salman.


"Silahkan Pak! Pak Salman sudah menunggu di dalam."

__ADS_1


"Terima kasih."


Andre mengetuk pintu lalu mendorongnya hingga terbuka. Ia takjub melihat ruangan kerja Salman.


"Masuk dan duduklah!" Suara tegas dan dingin Salman menggema.


Andre hanya mengangguk. Ia masuk sambil terus mengagumi ruangan Salman.


Gila!! Sekaya apa suami Fira ini? Bukankah ini kantor cabangnya. Jika kantor cabang saja sekeren ini, bagaimana dengan kantor pusatnya di Jakarta.


Andre duduk. Saat merasakan sofa yang empuk, kekagumannya kian bertambah. Tak berapa lama Salman mendatangi Andre.


"Akhirnya sampai juga kau ke kantorku." Salman duduk di depan Andre. Ia mengangkat kakinya hingga saling bertumpu. Tangan kanannya lurus di sandaran sofa sedang tangan kirinya berada di atas lutut. Pandangannya tajam menembus mata Andre.


Andre balik menatap ke arah Salman. Pandangannya terganggu saat melihat tanda merah di pangkal leher Salman.


Salman memang sengaja tidak mengancingkan dua kancing bagian atas kemejanya sehingga dadanya terekspose.


Sialan. Dia mau pamer rupanya. Dulu Fira tidak pernah berbuat seperti itu padaku.


"Tepati janjimu!" Ada rasa kesal dalam nada suara Andre.


"Tenang. Aku tidak akan ingkar." Salman mengubah posisi duduknya. Ia mencondongkan badannya dengan kedua siku menumpu lututnya.


"Andre. Fira cerita kalau kamu sebenarnya bukan orang yang suka memaksakan kehendak. Dia heran kenapa kamu bisa melakukan hal ini. Kesulitan apa yang kamu hadapi hingga memaksamu menjual harga dirimu seperti ini?"


Andre menunduk.


Ternyata kau masih mengenaliku Fir.


"Katakan apa kesulitanmu. Kalau bisa aku akan membantumu."


Andre langsung mengangkat wajahnya," Kau mau membantu kesulitanku?" Ia terkekeh tidak percaya.


"Ya. Demi Fira." Salman meyakinkan Andre dengan tatapan matanya.


"Kau sangat mencintai Fira, ya?"


"Ya. Sangat. Terimakasih karena kau sudah melepaskannya hingga aku bisa mengambilnya. Asal kau tahu, dia itu berlian."


Andre tersenyum kecut.


Ya. Dia berlian. Aku saja yang bodoh karena terlambat menyadarinya. Memang benar kita tidak akan menyadari betapa berharganya seseorang sampai kita kehilangan orang itu. Apakah Fira juga merasakan kehilangan diriku?


"Jadi?" Pertanyaan Salman menyadarkan Andre.


"Ceritakan kesulitanmu!"


Andre menarik nafas beberapa kali lalu mulai bercerita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai..kak.mbak..mak..dik.


Dengerin ceritanya besok ya.


Sekarang bobok dulu. Dah nguantuk berat

__ADS_1


__ADS_2