
"Kau?!Kenapa kau kemari?" semprot Dewi langsung saat melihat wanita yang berdiri di pintu.
"Aku ada urusan dengannya." Wanita itu menunjuk Fira.
"Kamu nggak level sama dia. Urusanmu denganku." Dewi merangsek maju.
"Wik!" tegur Fira kalem. "Dia tamuku."
"Masuklah dan silahkan duduk." Fira berusaha setenang mungkin. Meskipun kini dia sudah berpisah dengan Andre dan sudah menikah dengan Salman namun wanita dihadapannya itulah yang menyebabkan Andre memilih meninggalkannya. Bertemu seperti ini membuat Fira tidak nyaman juga. Luka lamanya jadi terasa lagi.
"Apa kau akan menemuiku dengan tetap duduk di meja kerjamu?" Ami menatap Fira yang enggan pindah ke sofa dan duduk dengannya.
"Kenapa?Kau keberatan? Beruntung dia mau menemuimu dan tidak mengusirmu keluar." Dewi nyolot. Ia benar-benar kesal dengan pelakor yang sekarang duduk manis di sofa ruangan Fira.
"Dew." Fira menegur Dewi lembut.
"Maaf, aku lebih nyaman duduk di sini karena banyak berkas yang harus aku tanda tangani. Jadi kamu tidak keberatankan kalau aku sambil kerja?"
Dasar sombong. Pantas Andre dulu mengkhianatimu.
"Benar-benar tidak menghormati tamu. Aparat macam apa kau ini." gerutu Ami.
"Hei jaga omonganmu!! Sekarang aku tanya, kamu datang untuk urusan pribadi apa urusan sebagai warga? Karena yang aku tahu kamu bukan warga kecamatan ini kan?" Dewi kembali nyambar dengan tidak sabar.
Fira diam. Dalam hati ia mendukung ucapan Dewi. Ami pasti datang bukan sebagai warga.
"Huf baiklah. Terserah kalian. Aku datang untuk bilang betapa kotornya hatimu. Kau membalasku dengan mengirim wanita itu untuk jadi istri kedua Mas Andre. Bukankah ini rencanamu hah? Dasar wanita ular." Ami berdiri. Ia hendak mendekati Fira namun Dewi segera pasang badan menghalanginya.
"Kau mau apa, hah?!" tantang Dewi dengan wajah geram.
"Minggir kau!!" Ami mendorong tubuh Dewi ke samping.
Dewi mempertahankan posisinya dengan sekuat tenaga. Tangannya balas mencengkeram pundak Ami. Terjadilah dorong mendorong antara keduanya.
"Kau pikir aku tidak berani melawanmu, ha?!" seru Dewi sambil terus mendorong tubuh Ami.
"Minggir kau!! Dasar kacung. Jongos." Ami terus terusan mengata-ngatai Dewi membuat telinga Dewi memerah. Tangan Dewi mencengkeram jilbab Ami dan siap menariknya.
"Dew jangan! Hentikan!" Hardik Fira. Ia tidak ingin Dewi melakukan perbuatan yang keterlaluan dengan menarik lepas hijab Ami.
Dewi melepaskan cengkeramannya. Saat Dewi lengah, Ami malah menjambaknya.
__ADS_1
"Aw, ****** kau ya!" maki Dewi. Ia memukul perut Ami.
"Kalian berhenti!!!" Fira berteriak menghentikan namun mereka berdua tidak mengindahkannya. Akhirnya fIra keluar dan memanggil satpam kantor mereka untuk melerai kedua wanita yang sedang bergulat itu.
"Lerai mereka, Pak!" titah Fira.
"Baik Bu."
Kedua satpam itu segera menarik tubuh Dewi dan Amin untuk saling menjauh.
"Lepaskan aku! Ih najis. Jangan pegang-pegang. Dasar satpam.kurang ajar." Ami mengomel.
Sedangkan Dewi merapikan penampilannya sambil terus menatap tajam Ami.
"Lepaskan dia, Pak!" Fira kembali memberi perintah.
Satpam yang memegangi Ami segera melepaskan cekalannya di tubuh Ami.
"Terima kasih, Pak. Bapak berdua bisa meninggalkan kami."
"Beneran nggak papa kalau kami tinggal, Bu?" Kedua satpam itu tampak khawatir.
Fira mengangguk.
"Dew, kau duduk saja di sana!" Fira menunjuk kurai di sebelah meja kerjanya. Dewi dengan patuh mengikuti perintah Fira.
Ami kembali duduk di sofa. Fira kemudian duduk di seberang Ami.
"Dengar! Aku hanya akan berkata sekali saja dan tidak akan mengulanginya lagi. Soal suamimu yang menikah lagi, iti bukan urusanku dan tidak ada sangkut pautnya denganku."
"Aku.." Ami hendak protes tapi urung.
Fira menaikkan telunjuknya sebagai tanda agar Ami diam dan tidak menyela ucapannya.
"Kau menuduhku balas dendam. Untuk apa aku balas dendam. Justru aku ingin berterima kasih padamu. Karena apa? Karena kau sudah menunjukkan padaku siapa sebenarnya laki-laki yang selama ini hidup denganku. Kedua, karena kehadiranmu aku bisa cerai dengan Andre dan menikahi Mas Salman. Pria yang jauh lebih baik dari Andre. Dan yang ketiga, karena dengan menjadi istri Mas Salman, aku bisa hamil. Suatu hal yanga dari dulu sangat aku idam idamkan. Jadi untuk apa aku balas dendam jika kehadiranmu justru merubah hidupku menjadi lebih baik." Fira mengakhiri ucapannya dengan menatap tajam ke mata Ami langsung. Ami keder melihat sikap tegas Fira.
Semua perkataannya masuk akal. Memang kehidupannya jauh lebih baik dari saat masih menjadi istri Mas Andre. Sedangkan hidupku, makin lama makin terpuruk. Apalagi sekarang Mas Andre malah menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan lebih cantik daripada aku.
"Tapi semua ini terjadi setelah Mas Andre kerja di perusahaan suamimu. Jadi nggak mungkin kalian nggak tahu. Lalu kenapa kalian membiarkan ini terjadi jika bukan karena ingin membalasku."
"Oo jadi kamu ngerasa berbuat salah ya sehingga pantas mendapat balasan?" sindir Dewi.
__ADS_1
Ami diam. Dia menatap Dewi kesal. Dewi malah mencebikkan bibirnya mengejek Ami.
"Aku tidak bohong. Kami memang tahu. Tapi itu bukan urusan kami jadi untuk apa kami harus melarang mereka. Mereka yang mau menjalani, kenapa kami yang bingung." balas Fira yang langsung mendapat acungan jempol dari Dewi.
"Seharusnya kalian menegurnya. Bukankah salah kalau berselingkuh di belakang istri dan menikah tanpa ijin istri pertamanya?" gerutu Ami.
"Apa kau dulu juga berpikir begitu saat menikah dengan Mas Andre?" Fira balik bertanya. Ami diam tersudut.
"Aku masih ingat dulu kau pernah bilang kalau pria itu boleh menikah tanpa ijin istri pertamanya, lalu kenapa itu jadi masalah sekarang?"
Ami mendengus kesal saat ucapannya dulu dikembalikan kepadanya oleh Fira.
"Tapi mereka selingkuh!" teriak Ami membela diri.
"Lalu kalian dulu apa?Bukankah kalian juga selingkuh pada awalnya?" balas Fira. Sebenarnya dalam hati Fira tidak tega melihat Ami. Ia tahu benar bagaimana sakitnya dikhianati. Tapi wanita di depannya ini benar-benar menguji kesabaran Fira.
"Kurasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." kata Fira menyudahi percakapan mereka.
Ami bergeming. Ia tampak belum puas dengan jawaban Fira. Hatinya masih masgul.
"Apa kau tidak dengar? Bu Fira bilang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Itu artinya kau bisa keluar!" Dewi berkata dengan nada sinis.
Ami masih diam.
"Apa kau lupa pintu keluar? Ayo aku tunjukkan!" Dewi bangkit dan berjalan ke arah Ami. Namun sebelum ia menyentuh Ami, Fira menahannya.
"Dew, tidak perlu! Dia hafal kok pintu masuk dan keluarnya."
Ami berdiri. "Ok, kali ini aku percaya kata-katamu. Tapi satu hal, kau harus membuktikan kebenaran ucapanmu dengan tindakan. Pecat wanita itu dari perusahaan suamimu!"
"Nih orang gila atau bagaimana." gumam Dewi dengan senyuman mengejek.
Fira hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Ami. Meskipun Leana keluar dari perusahaan, tidak akan menjamin Andre akan meninggalkannya. Secara Leana lebih muda dan cantik.
Dewi melangkah ke pintu dan membukanya, "Silahkan!" ucapnya mengusir Ami.
Ami melengos lalu berjalan keluar. Dewi langsung menutup kembali pintu itu.
"Jadi benar Andre menikah lagi?" Dewi berbalik dan melihat Fira.
"Seperti yang kau dengar." jawab Fira. Ia lalu kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
...----------------...