
Alan berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat jam dinding.
Bagaimana ini?Apa aku ajak ketemuan saja si Salman. Tapi sudah malam begini.
Anita yang sejak tadi memperhatikan perilaku Alan mencoba menenangkan.
"Mas, kenapa gelisah? Kalau Mas Alan tidak mau melakukannya sekarang, aku bisa mengerti."
Alan menoleh. Ucapan Anita membuatnya sadar jika sekarang adalah malam pertama mereka. Alan mendekat dan duduk di sebelah Anita.
"Maaf. Tapi ada yang aku pikirkan. Ini soal Salman."
Nggak jauh-jauh dari Kak Fira. Batin Anita sedih.
"Ada apa dengan Kak Salman?" Anita menunjukkan wajah tertarik meski sebenarnya ia enggan jika harus membicarakan orang lain di malam pertama mereka.
"Aku juga belum tahu, hanya saja aku merasa aneh."
"Aneh?" Anita bertanya sambil mengubah posisinya. Ia kini rebahan dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Mm Nit, soal Raul. Dia sepupumu kan?"
"Kenapa nanya. Mas Alan kan tahu kalau dia sepupu aku."
"Apa kalian dekat?"
Kenapa jadi ngomongin Bang Raul? Katanya tadi cemas sama Kak Salman.
"Lumayan." jawab Anita enggan. Ia sudah sangat capek seharian ini.
"Sedekat apa?" Alan menggebu.
"Ya, sedekat saudara. Mau sedekat apa?" Anita kembali duduk. Minatnya bangkit manakala Alan banyak menanyakan Raul.
"Maksudku apa kau tahu siapa temannya? pacarnya? Atau apa saja yang berhubungan dengan dia?"
Anita menelisik wajah Alan.
"Kak Alan jawab dulu pertanyaanku. Kenapa tiba-tiba membahas bang Raul?"
Alan menggeser duduknya. Ia menarik nafas.
"Tadi saat Raul datang, Salman buru-buru pergi sambil menggandeng Fira. Elsa juha mengikutinya. Mereka tampak tergesa-gesa."
"Elsa?"
"Iya. Wanita cantik bergaun merah tadi."
Anita mengingat-ingat wanita yang dimaksud Alan.
"Yang tadi cipika cipiki sama Kak Alan?" jawab Anita kesal.
Alan mengangguk tanpa dosa.
"Jadi namanya Elsa. Elsa, aku seperti pernah mendengar nama itu." gumam Anita.
"Dan yang lebih mengherankan lagi, Raul menanyakan Salman padaku.Dia juga menanyakan Elsa. Bahkan dia tahu kalau Salman dan Elsa sudah cerai. Mereka sepertinya saling kenal."
"Bang Raul menanyakan Kak Salman? Tapi nggak heran kalau mereka saling kenal. Sama-sama pebisnis. Mungkin pernah kerjasama."
"Emang apa bisnisnya Raul?"
"Aku kurang tahu. Yang jelas ia memproduksi semacam barang."
"Salman kan di penerbitan. Bagaimana mereka bisa kerjasama? Oh ya aku lupa. Salman juga punya usaha advertising."
"Nah tuh. Kali aja Kak Salman pernah menangani projectnya Bang Raul."
"Tapi kalau rekan bisnis kenapa menghindar?" gumam Alan seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Kak Alan mau tahu?"
Alan mengangguk.
"Aku akan cari tahu. Tapi nggak gratis."
"Sama suami perhitungan banget." Alan mendengus kesal.
"Suami di atas kertas." Anita kembali merebahkan tubuhnya dan memunggungi Alan.
"Eh." Alan tersentak. Ia memandangi punggung Anita dengan tatapan nanar.
"Maaf, Nit. Aku.."
"Sudahlah. Tidur, Kak! Besok aku akan coba cari tahu dari Bang Raul."
__ADS_1
"Terima kasih. Mm tadi kamu minta upah. Memang mau minta apa?" Alan masih memandangi punggung Anita.
"Nanti jika aku sudah tahu apa yang aku inginkan, aku akan bilang. Tapi janji dulu, Kak Alan akan memenuhi apapun permintaanku." Anita berbalik menghadap Alan.
Alan mengangguk. "Aku janji."
Anita tersenyum lalu memejamkan mata. Saking lelahnya, ia pun lelap.
Alan masih gelisah. Ia tidak bisa tidur.
Aku hubungi Salman saja.
Alan perlahan bangun dan menjauh dari Anita. Ia keluar menuju balkon kamarnya.
"Man, kamu di mana?"
"Lagi dalam perjalanan."
"Memang mau kemana?"
"Habis mengantar Elsa ke bandara. Ada apa? Malam pertama bukannya memanjakan istri malah menghubungiku. Awas Anita cemburu!" Salman terkekeh.
"Sialan. Aku mau ketemu, bisa enggak?"
"Mm setengah jam lagi aku nyampek. Ketemuan di mana?"
"Di cafe biasa kita nongkrong dulu. Sekalian mengenang masa lalu."
"Ok."
Alan mengakhiri panggilan. Ia masuk kembali ke kamar dan mengambil pakaian untuk ganti. Perlahan ia keluar tanpa menimbulkan suara agar Anita yang terlelap tidak bangun.
"Mau kemana, Lan?" Bu Riya yang sedang mengambil air minum menegur Alan saat melihat Alan rapi.
"Ada janji, Ma. Sebentar kok." Alan mendekati mamanya lalu mengecup pipinya.
"Kau tinggalkan Anita? Ini malam pertama kalian."
"Kan tidak harus sekarang juga kan, Ma. Anita kecapekan. Dia tidur sekarang." dalih Alan lalu melanjutkan langkahnya keluar.
Bu Riya hanya menggelengkan kepalanya.
Dia pasti belum bisa menerima Anita dan masih memikirkan Fira.
**
Salman mengangguk.
"Dia ingin menemui Mas Salman?"
Salman kembali mengangguk. "Penting kayaknya."
"Harus malam ini ya?" bisik Fira.
Salman menoleh sebentar ke Fira lalu kembali fokus ke jalan.
"Memang kenapa?"
"Soalnya kan sekarang malam pertama mereka, kenapa dia malah mengajak Mas ketemuan?"
Salman tertawa, "Sepertinya ia masih enggan melepas keperjakaannya. Belum tahu saja dia bagaimana rasanya. Nanti kalau sudah tahu, beuh dijamin nambah terus."
"Mas ah. Kalau ngomong suka asal. Dulu perasaan Mas Salman nggak banyak ngomong deh. Jaim gitu." Fira tersenyum.
"Itu karena kamu nggak kenal saja. Aku dari dulu begini tapi ya di depan orang dekat saja. Aku bisa menjadi diriku sendiri."
"Kamu suka aku yang bagaimana?" sambung Salman sambil melirik Fira.
"Yang apa adanya. Tidak jaim dan tidak neko-neko."
"Siap bu bos. Di jamin tidak neko-neko." Salman mencolek pipi Fira gemas.
Setengah jam berlalu tanpa terasa.
"Sayang, mau ikut menemui Alan atau pulang?"
"Pulang saja, Mas. Kasihan anak-anak."
Salman meraih tangan Fira lalu mengecupnya. "Makasih ya, sudah mau menerima Ardi. Kedepannya ia pasti sangat membutuhkan perhatian. Aku belum cerita soal hubungan kita ke Arfi. Pelan-pelan saja ya!"
Fira mengangguk. Salman kembali mencium tangannya.
Mobil terus melaju menuju rumah mereka.
"Mas, aku turun di depan saja. Mas langsung saja berangkat. Kasihan Alan pasti dah nungguin."
__ADS_1
"Nggak. Aku akan mengantarmu sampai ke kamar." tegas Salman.
Fira tidak protes. Sudah menjadi watak Salman jika ia bersuara tegas tandanya tidak mau dibantah.
"Sampai." Salman membunyikan klakson. Penjaga rumah mereka langsung membukakan pintu gerbang dan mengangguk hormat saat Salman lewat.
"Malam kang!" sapa Salman ramah. "Nggak usah ditutup dulu , bentar lagi aku juga akan keluar."
"Baik den."
Salman menghentikan mobilnya di depan garasi. Ia lalu turun, begitupun Fira.
"Ayo masuk!" Salman merengkuh Fira dan membawanya masuk.
"Mas, aku sudah di rumah. Mas Salman bisa menemui Alan sekarang."
"Sudah dibilangin akan aku antar sampai kamar." Salman menurunkan tangannya yang semula di bahu pindah ke.pinggang.
"Sepi. Anak-anak pasti sudah tidur." gumam Fira.
Mereka lalu masuk ke kamar.
"Nah, sudah di kamar. Sana gih berangkat!" Fira menarik tubuhnya lalu mendorong dada Salman. Bukannya menjauh Salman malah menarik tubuh Fira hingga menempel di badannya.
"Aku sudah menahannya dari tadi." Selesai bicara, Salman langsung menyambar bibir Fira. Ciuman yang dalam dan penuh gairah. Tangan Salman mulai beraksi menjamah apa yang ingin ia jamah.
"Mas, udah. Nanti keblabasan. Kasihan Alannya." Kata Fira sabil mengatur nafasnya karena Salman membuatnya kehabisan nafas.
"Ah si Alan. Ngapain juga malam malam ngajak ketemuan. Terus ini bagaimana? Dah siap nih." Salman menunjuk ke bagian bawah perutnya dengan wajah ngenes.
Fira tertawa geli. Ia mendekat dan mengelusnya.
"Sabat ya."
"Eh malah dielus. Tanggung jawab!" Salman hendak menerkam Fira saat istrinya itu dengan gesit menghindar lalu lari ke kamar mandi.
"Sudah sana berangkat!" kepala Fira nongol dari balik pintu dengan muka tertawa geli melihat penderitaan Salman.
"Iya. Jangan tidur dulu! Tunggu aku!"
***
"Sudah lama." Salman menepuk bahu Alan lalu duduk di sebelahnya. Alan menoleh lalu tersenyum sinis. Ia mengambil tisu dan melemparkannya le Salman.
"Usap dulu tuh bibir!"
Salman mengambil tisu lalu mengusap bibirnya. Ia tersenyum saat melihat noda lipstik di tisu. Ia lalu menatap wajah kesal Alan.
"Kenapa kesal begitu wajahnya? Pengen ya? Pulang sana, Anita kasihan dianggurin." Salman tertawa lirih.
"Cih. Siapa juga yang pengen. Kesal nungguin tahu? Yang ditungguin malah lagi enak-enakan." Alan menggerutu menumpahkan kekesalannya.
"Seharusnya aku yang kesal. Malam inj aku sudah merancang malam panas bersama Fira. Kamu malah ngajak ketemuan. Ada apa sih? Penting banget." kata Salman lalu melambaikan tangan memanggil pelayan cafe. Ia memesan minuman.
"Soal Raul." jawab Alana begitu Salman selesai dengan pesanannya.
Salman langsung memandang tajam wajah Alan.
"Raul?"
"Sudahlah Man. Aku tahu ada sesuatu diantara kalian. Tadi Raul menanyakanmu padaku."
"Nanya apa?"
Pelayan datang membawakan pesanan Salman.
"Makasih."
"Nanya apakah aku mengundangmu."
"Kau jawab apa?" Salman menyesap minumannya.
*Aku jawab kalau aku mengundangmu tapi kamunya langsung balik Jakarta."
"Bagus. Thanks Lan.*
"Sebenarnya ada apa?"
"Ceritanya panjang. Tapi aku tidak punya hak untuk cerita. Kau tanya Elsa saja. Cuman aku minta tolong, jangan bilang kalau aku sekarang menetap di kota ini. Bilang ke Anita juga. Kalau Raul bertanya soal aku, kalian pura-pura saja nggak tahu."
*Ada apa sih?" Alan nampak sangat penasaran.
"Singkat saja ya. Raul ayah kandung Ardi dan sekarang ia ingin mengambil Ardi. Sedangkan Ardi sedang bersamaku saat ini."
"Apa?!?!" Alan nampak syok mendengar penjelasan singkat Salman.
__ADS_1
"Kok bisa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...