Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Berebut


__ADS_3

Selama diklat,aku sama sekali tidak bertemu dengan Alan. Ruangan kami terpisah. Sejak telepon sore itu, Alan tidak pernah menghubungiku.Dia benar-benar marah.


Dan Elsa, tiap aku istirahat, ia selalu menelpon dengan alasan Ryan ingin bicara. Benar sih, Ryan yang mengobrol denganku, tapi setelahnya, bukan lagi Elsa yang mengambil alih telepon. Ia selalu meminta Kak Salman menggantikan dirinya. Akhirnya meski sebentar kami saling menyapa. Kak Salman selalu menunjukkan perhatiannya. Mulai dari hal-hal kecil sekalipun.


Malam ini,hari terakhir diklat Besok kami semua sudah harus kembali ke kota kami masing-masing. Malam ini, aku ingin menikmati pemandangan kota Jakarta. Banyak diantara peserta diklat yang minta ijin jalan jalan keluar. Tapi aku lebih memilih menikmati Jakarta saat malam dari roof top.


Dan disinilah aku akhirnya. Memandangi Jakarta dari ketinggian. Berada di atas dan melihat ke bawah, aku merasa benar benar kecil dan sendirian.


'Ternyata sendirian itu sangat sepi.' gumamku.


'Kenaoa nggak menelpon Salman untuk menemani?"


Aku kaget mengenali suara orang yang mengomentari gumamanku. Aku menoleh dan melihat Alan sudah berdiri di belakangku.


"Kau?!" Aku bergerak hendak meninggalkan Alan. Tapi dengan cepat Alan menyambar tanganku dan menarikku ke tempat lain.


"Alan lepaskan!" seruku meronta. Tapi Alan nggak peduli. Ia terus menarikku.


"Aw!" Aku berteriak kesakitan saat Alan melepaskanku dan mendorongku hingga tubuhku menghimpit dinding. Segera ia mengunciku dengan kedua tangannya. Aku tidak bisa bergerak.


"Alan! Jaga batasanmu!" bentakku sambil melotot marah.


"Kenapa harus aku yang menjaga batasa?Kenapa Salman tidak?" Suara Alan tak kalah kerasnya.


Tanganku bergerak hendak menampar Alan karena sekali lagi ucapannya kurasakan merendahkanku. Tapi Alan menangkap tanganku dan menguncinya di belakang tubuhku. Reflek tangan kiriku mencoba memukul Alan, tapi hal yang sama terjadi. Kini kedua tanganku berada di belakang tubuhku dengan tangan Alan menggenggamnya erat erat. Sepintas akan tampak, Alan sedang memelukku


"Apan kumohon!" suaraku melemah.


Alan mendekatkan wajahnya, aku memalingkan mukaku.


"Ra,aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku rela menolak sekian banyak wanita hanya demi menunggumu. Tidakkah kau bisa merayakannya. Jadi kumohon. Setelah berpisah dari Andre, tolong jangan bersama Salaman. Aku tahu Elsa memintamu menikahi Salman. Dan aku juga tahu, Salman masih mengharapkanmu. Tapi ingat, Ra. Nggak ada wanita yang benar-benar rela berbagi suami. Kau tahu rasa sakitnya kan?" Setelah berbicara, Alan menjatuhkan wajahnya ke pundakku. Aku merasakan tubuhnya bergetar. "Kau tahu Ra, membayangkan kamu bersama Salman, membuatku hampir gila. Aku bisa tegar saat kau memilih menikahi Andre. Karena aku tahu hatimu bukan untuk Andre. Tapi Salman." gumam Alan.


Aku diam sambil menelan ludahku yang terasa pahit.


"Lan lepaskan aku. Jaga batasanmu. Aku bersuami, Lan." kataku mengingatkan.


Perlahan Alan melepaskan tanganku. Ia juga menarik kepalanya dari bahuku. Alan mundur dua langkah. Aku sidkit bernafas lega.


"Maaf Ra. Aku lepas kendali." kata Alan menyesali perbuatannya.


"Sebaiknya, kita saling menjauh Lan." kataku sambil bergerak hendak meninggalkan Alan. Apan kembali meraih tanganku.


"Aku tidak mau!" katanya tegas.


"Lan, diantara kita tidak ada kemungkinan bersama." seruku sambil menarik lepas tanganku. Namun Alan kembali menyambarnya.


"Kenapa? Karena Salman? Kau ingin menjadi istri keduanya?"


Aku tertawa sedih. "Kau tahu itu tidak mungkin, Lan."


"Lalu karena apa?" desak Alan. "Jika alasanmu masuk akal, aku akan menerimanya."


"Ibumu!" jawabku tegas. "Ibumu sejak awal tidak menghendaki kita bersama. Sejak SMA, Lan. Tidakkah kau tahu itu. Dan aku? Aku tidak mau menjadi penyebab retaknya hubunganmu dengan ibumu. Beliau orang baik Lan."

__ADS_1


"Ra, soal ibu. Biar aku yang menanganinya. Kau tidak usah khawatir."


"Lan, dilihat dari sisi manapun, aku tidak akan bisa memenuhi kriteria menantu idaman ibumu. Tolong, jangan bawa aku ke dalam masalah yang lebih rumit lagi. Biarkan aku menikmati sisa hidupku dengan bahagia,Alan. Dan soal istri kedua Kak Salman. Kamu tenang saja. Aku sudah menolak permintaan Elsa. Dan kau tahu aturannya kan? Itu tidak akan mungkin aku lakukan. Aku tidak akan mengorbankan pekerjaanku."


Alan melepaskan tanganku setelah aku menyelesaikan ucapanku.


"Ra, kumohon. Percaya padaku. Soal ibu, aku yang akan mengurusnya. Kau hanya perlu percaya padaku!" pinta Alan.


Aku menghela nafas berat, "Lan, jangan terlalu berharap. Aku juga tidak bisa berjanji apa-apa padamu. Maafkan aku."


Aku meninggalkan Alan. Dengan bergegas aku kembali turun dari roof top lalu masuk ke lift. Aku menyandarkan tubuhku di dinding lift. Air mata mulai turun.


Aku menghapus air mataku saat lift berhenti dan pintunya terbuka.


Ada sepasang pria dan wanita masuk sambil berpelukan mesra. Melihat gelagat nggak baik, aku segera keluar begitu mereka masuk.


"Asataghfirullah." gumamku mengelus dada. Aku melanjutkan jalan ke kamarku melewati tangga.


drt drt drt


Ponselku bergetar. Aku mengangkat dan melihat ada panggilan dari Kak Salman.


Aku enggan mengangkatnya tapi saat ingat kalau kemungkinan yang telpon adalah Ryan, aku mengangkatnya.


"Assalamualaikum, kak." kataku menjawab panggilan Kak Salam.


"Ra, kami ada di lobi. Kamu keluar donk!" kata kan Salman lalu mengakhiri panggilan.


"Hai..Asallamualaikum jago


Bunda." seruku begitu melihat Ryan yang datang bersama Kak Salman. Ryan berlari memelukku.


"Maaf Ra. Dia memaksa minta ketemu kamu." Kak Salman berkata.


"Nggak papa Kak. Lagipula aku lagi santai. Sudah nggak ada kegiatan. Tinggal penutupan besok pagi, dan aku akan pulang." jawabku.


"Bunda mau pulan!!" seru Ryan gembira.


"Iya nak. Kita akan pulang."


"Pulang ke rumah om Salman kan Bun?" tanya Ryan dengan riang.


"Ke rumah Om Alan." Alan yang tiba-tiba sudah berafa di lobi menjawab mengagetkan aku, Kak Salman dan Ryan.


"Om Alan..!!" Ryan menghambur ke Alan.


Alan menangkap Ryan lalu mengangkatnya dan membawa Ryan berputar-putar. Ryan tertawa bahagia.


"Kamu tambah berat saja!"kata Alan sambil menurunkan Ryan.


"Iya. Tante Elsa dan Om Salman ngasih makannya enak-enak. Jadi Ryan habisin tiap makan. Malah Ryan nambah." jawab Ryan dengan cerianya. Kak Salman mengusap kepala Ryan sambil tertawa.


"Jadi masakan bunda nggak enak nih?" kataku cemberut.

__ADS_1


"Hehehe masakan bunda masih yang paling enak." kata Ryan lalu memelukku.


"Ih paling bisa nih anak." kata mengacak rambut Ryan.


"Man, aku ingin bicara." kata Alan sambil meninggalkan kami.


"Ra, aku ke Alan dulu." pamit Kak Salman.


Aku mengangguk Dalam hati aku penasaran sekaligus khawatir apa yang ingin Alan bicarakan dengan Kak Salman.


Apa aku ikutin saja mereka ya, tapi menguping kan tidak baik. kataku dalam hati.


"Bunda kita ke sana yuk!" ajak Ryan menunjuk ke arah Alan dan Kak Salman menghilang.


"Kemana?"


"Ke sana. Tadi aku melihat ada permainan di sana." Ryan manarik tanganku menuju ke tempat yang ia maksud.


Aku mengikutinya. Langkah kaki kami akhirnya sampai di tempat yang banyak permainan untuk anak.


"Buda Ryan main ya!"


"Iya. Hati-hati ya." kataku.


Ryan segera berlari dan bermain dengan alat-alat permainan yang ada. Sambil menunggu Ryan, aku memutar pandanganku. Dan tanpa sengaja, dari jendela kaca, aku melihat Kak Salam dan Alan di taman. Entah apa yang mereka bicarakan, yang aku lihat, Alan mendorong tubuh Kak Salman hingga dia terhuyung ke belakang.


"Kak!" pekikku tanpa sadar. Aku segera menutup mulutku.


"Ryan, bunda tinggal dulu nggak papa kan?Sebentar." kataku. Ryan mengangguk. "Jangan kemana-mana. Tunggu bunda di sini." pesanku. Setelah mendapat jawaban dari Ryan, aku bergegas ke luat ke arah Alan dan Kak Salman.


Aku mengendap-endap dan bersembunyi di balik tanaman dekat mereka berdua bicara.


"Aku tidak akan menyerah." kata Kak Salman.


"Cih. Tak tahu malu. Ingat kau beristri." sergah Alan marah.


"Lan, sadarlah. Dia tidak mencintaimu." kata Kak Salman kalem.


Muka Alan memerah, ia menghantamkan tinjunya ke arah Kak Salman. Untuk Kak Salman berhasil mengelak. Aku hampir berteriak melihat mereka bertengkar.


"Aku tidak mengira. Niatmu menolong menerbitkan novelnya ternyata ada maksud lain. Dasar lelaki buaya. Menyesal aku mengirimkan novel Fira padamu." kata Alan sinis.


"Kau salah Lan. Aku tulus membantunya karena memang tulisannya bagus. Masalah perasaanku nggak ada hubungannya dengan itu."


"Kau pikir aku percaya? Jaman sekarang menolong tanpa pamrih itu omong kosong."


"Begitukah? Lalu bagaimana denganmu? Apa pertolonganmu selama ini padanya juga disertai pamrih? balas Kak Salman tak kalah sengit.


" Kau!!" Alan menunjuk Kak Salman penuh emosi. Ia kembali mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Kak Salman.


"Kalian berhenti!!!!" Bentakku.


Alan dan Kak Salman langsung menoleh kaget ke arahku yang menatap mereka dengan mata menyala.

__ADS_1


__ADS_2