
"Om Alan pindah kesini saja!" Celutuk Ryan saat kami sedang makan pagi.
"Uhuk!" kalimat polos anakku itu mengagetkanku.
"Minum Ra!" Alan mengambilkan minuman untukku.
"Makasih." jawabku.
"Kenapa?Ryan suka om tinggal di sini?" Alan bertanya pada Ryan tapi matanya menatap ke arahku.
" Iya, seru kalau tiap hari makan pagi bareng bareng beginj. Biasanya aku cuma berdua sama bunda." keluh Ryan membuat hatiku trenyuh.
"Maafkan bunda." ucapku dengan nada sedih.
Ryan yang peka seolah tahu akan kesedihanku.
"Bunda jangan sedih. Bunda nggak salah kok." Ryan membelai lenganku.
"Om, kenapa makan bubur?" Ryan kembali bertanya pada Alan.
"Semalam om demam. Dan kata dokter usus om bermasalah. Jadi sementara om makannya yang halus halus dulu. Kayak bubur ini." jawab Alan.
"Emang enak, Om?" tanya Ryan sambil bergidik melihat bubur di mangkok Alan. Ryan memang tidak menyukai bubur maupun makanan yang memiliki tekstur lembek kainnya.
"Enak. Tahu nggak kenapa enak?"
Ryan menggeleng. Aku hanya memperhatikan interaksi kedua orang di depanku.
"Karena bunda Ryan yang bikin. Apapun kalau bunda Ryan yang bikin, bagi Om sangat enak." jawab Alan.
"Uhuk." kembali aku tersedak. Cepat cepat aku meraih gelas minumanku.
"Kamu kenapa sih Ra?Sebentar-sebentar tersedak." tanya Alan usil.
Aku menggeleng,"Nggak papa." jawabku singkat.
"Bunda. Kok muka bunda merah? Bunda sakit?" tanya Ryan. Ia mendekat dan memegang keningku.
...Nih anak malah ikutan...
"Yan, Bunda nggak papa." aku menegang tangan Ryan. Ku lihat Alan mengulum senyum.
"Bunda, aku dah kenyang." kata Ryan sambil bergegas meninggalkan meja makan.
"Yan! Habiskan!" Aku berdiri dan bermaksud mengejar Ryan untuk menyuapi sisa makanan yang nggak ia habiskan.
"Ra! Duduklah!" Alan memegang tanganku dan memintaku duduk.
Aku menurut dan duduk seperti yang Alan minta. Aku diam menunduk menunggu apa yang akan Alan katakan.
Aku mendongak saat Alan tak juga bicara. Ku lihat ia mengernyit menahan sakit sambil memegang perutnya.
"Lan! Kau tidak apa-apa?" tanyaku cemas. Alan mengangkat matanya menatapku. Ia benar-benar sedang menahan sakit.
"Lan. Ke dokter ya? Ku antar ke rumah sakit." ajakku. Aku bangkit. Tapi lagi-lagi Alan menahanku.
"Ra, jika penyakitku nggak bisa sembuh, apakah kau bersedia menemani hari-hari terakhirku?" tanya Alan lemah.
"Jangan ngelantur. Ayo ke rumah sakit. Kamu tidak akan apa-apa." kataku sambil menarik tanganku dari genggaman Alan.
"Ra. Aku tidak bercanda. Aku tahu sakitku bukan sekedar infeksi usus seperti yang Ridwan bilang. Waktuku sepertinya nggak banyak Ra. Jadi jawablah aku?" mata Alan penuh harap.
"Lan. Aku tidak.bisa menjawab sekarang. Aku belum resmi cerai dan kalaupun cerai, aku masih harus menjalani masa idah. Selama masa idah aku nggak boleh menerima pinangan dari siapapun."
"Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu nanti. Telpon Budi. Antar aku ke rumah sakitnya dr Ridwan." Alan menyandarkan tubuhnya di kursi.
Aku mengambil ponsel Alan dan menghubungi Pak Budi.
"Kamu nggak ganti pakaian?" tanyaku saat Alan masih mengenakan sarung, baju koko dan peci.
Alan menggeleng. "Aku suka memakai baju ini." jawabnya berusaha tersenyum. Ia lalu memejamkan matanya. Kupandangi wajah terpejam Alan. Sebenarnya Alan sangat tampan. Garis wajahnya tegas, hidungnya mancung, alisnya hitam dan matanya tajam. Dan bibirnya, bibirnya sempurna, tidak tipis dan juga tidak tebal. Pasti enak saat...astghfirullah. Aku memukul.kepalaku saat pikiran kotor itu melintas di kepalaku.
Kenapa sejak kemarin pikiranku liar terhadap Alan.
"Kenapa kau memukuli kepalamu? Apa nggak sakit?" tanya Alan.
"Nggak. Nggak papa." jawabku pendek.
"Ra, kenapa kau jadi gugupan begini? Biasanya kau santai saja saat bersamaku. Apa kau mulai menyukaiku?" Alan tersenyum tipis lalu meringis.
__ADS_1
"Diam ah. Tuh sakit lagi kan. Pak Budi mana sih. Lama amat." aku tidak menggubris pertanyaan Alan.
tin
Ku dengar bunyi klakson.
"Itu pasti Pak Budi." seruku.
"Bantu aku Ra!" pinta Alan.
Membantunya? memapah maksudnya? Berarti kami akan berangkulan.
"Mm..Aku panggilkan Pak Budi saja ya." kataku lalu berlari ke depan.
"Pak!Bantu Pak Alan berjalan, ya!" pintaku.
"Baik, Bu." Pak Budi turun dari mobil lalu mengikutiku masuk.
Alan memandang kehadiran Pak Budi dengan sorot mata yanag sulit di lukiskan. Pak Budi sampai menunduk tak sanggup menatap mata Alan.
"Sebentar. Aku ambil tas dulu." Aku masuk ke kamar.
Saat aku kembali aku hanya melihat Apan tanpa ada Pak Budi.
"Pak Budi?" tanyaku.
"Punggungnya mendadak sakit, jadi ia nggak kuat memapahku." jawab Alan dengan suara lemah.
"Lalu?" tanyaku bingung.
"Ya kamulah yang bantu aku. Masak aku harus jalan sendiri. Kalau jatuh bagaimana?" ucap Alan.
"Aku pamit Ryan dulu." Aku segera ke kamar Ryan. Ternya Ryan ingin ikut ke rumah sakit.
"Yan, bantu bunda pegangin Om Alan ya!"
Ruan mendekat ke Alan. "Ayo Om!" ia mengulurkan tangan mungilnya.
"Ra! Kau mau aku jatuh lalu menimpa Ryan juha?" mata Alan tajam menatapku.
Aky menelan ludah. Yah, sepertinya aku nggak lagi bisa mengelak.
Perlahan aku membawa Alan menuju mobil. Ryan dengan cekatan mengunci pintu dan pagar rumahku lalu menyusulku ke mobil Alan.
Pak Budi membukakan pintu. Ryan masuk dan langsung duduk di jok belakang. Aku membantu Alan masuk dan duduk, lalu aku duduk di sebelahnya.
"Om, kenapa om senyum senyum?" tanya Ryan yang membuatku langsung melihat ke arah Alan. Sepintas aku memang melihat senyumnya namun ia segera memasang wajah sakitnya.
"Enggak. Kapan om senyum? Kau aneh Yan, om meringis kesakitan bukan tersenyum." jawab Alan.
"Masak sih." gumam Ryan.
"Berangkat Pak!" titah Alan. Pak Budi segera melajukan mobilnya membawa kami ke rumah sakit.
Cukup lama dr Ridwan memeriksa Alan sampai akhirnya ia memanggilku masuk.
"Mbak Fira ya. Begini sebenarnya semalam saya ingin berbincang dengan mbak, tapi mbaknya tidur. Jadi saya hanya bisa meninggalkan pesan seperti itu."
"Iya dokter."
"Alan...dia..." dokter Ridwan tidak melanjutkan bicaranya. .
"Alan kenapa dokter?" aku mulai panik. Teringat ucapan Alan tadi.
"Intinya, rawat dia dengan baik jangan sampai ada penyesalan nanti." kata dokter Ridwan. "Ini resep obatnya bisa mbak tebus di bagian farmasi."
"Alan?"
"Dia aku suruh istirahat."
"Dokter, apa tidak sebaiknya kita beritahu bu Riya soal penyakit Alan?"
"Sebaiknya begitu. Mbak bisa menelponnya!"
Aku mengangguk. Lalu aku masuk ke kamar tempat Alan di rawat. Ia sedang tidur sambil diinfus.
"Lan!" kataku pelan.
Alan membuka matanya. Ia tersenyum.
__ADS_1
"Aku telepon ibumu ya!" tanyaku.
Alan menggeleng. "Aku sudah meminta Pak Budi buat menjemputnya."
"Ryan?"
"Ya dia ikut Pak Budi lah."
Aku tercekat dan langsung menelan ludah.
"Artinya, Ryan ke rumahmu dan akan bertemu dengan bu Riya?" gumamku. Wajahku terasa dingin. Aku takut membayangkan apa yang akan Bu Riya katakan pada Ryan. Atau bagaimana sikapnya ke Ryan.
"Ra, kau jangan khawatir begitu. Ibuku tidak sekejam itu." kata Alan membela ibunya.
"Maaf!" kataku pendek. Ucapan Alan tidak serta merta mampu mengusir kekhawatiranku. Bagaimana kalau Bu Riya menginterogasi Ryan. Bagaimaba kalau Bu Riya tahu semalam Alan menginap di rumahku.
"Alan!!" suara seorang wanita terdengar penuh kecemasan memanggil nama Alan. Aku berbalik dan melihat Bu Riya berjalan tergesa mendekati Alan.
Aku menyingkir, menjauh.
"Lan!Apa yang terjadi. Kenapa pulang-pulang kau malah sakit begini? Kamu kenapa nak!" rintih Bu Riya.
"Bu, Alan nggak papa." ku dengar Alan mencoba menenangkan ibunya. "Ra, bisa kamu keluar sebentar. Aku ingin berbincang dengan ibuku."
"Eh..iya. Maaf. Bu, Fira pamit..." belum selesai aku bicara, Alan memotongnya.
"Kau jangan pulang! Tunggu di depan saja!" titah Alan.
"Baim, Pak!" aku sengaja memanggilnya pak agar Bu Riya tidak berpikir macam-macam tentang kami.
Aku keluar dan ku lihat Ruan duduk di luar bersama Pak Budi.
"Bunda. Om Alan sakit apa?" tanya Ryan.
"On Alan sakit perut."
"Pantas tadi pagi Om Alan sarapan bubur."
Aku tersenyum dan mengelus kepala Ryan.
"Kenapa di luar?"
Aku menoleh dan melihat dokter Ridwan berdiri di belakangku.
"Oh dokter. Itu ada ibunya Alan di dalam." jawabku.
"Tante Riya?" tanya dokter Ridwan.
Aku mengangguk. Dokter Ridwan lalu pamit dan masuk ke kamar Alan.
"Bunda, aku lapar." bisik Ryan.
Ya sekarang sudah siang.
"Ryan mau makan apa?"
"Ayam."
"Ya udah. Kita cari ayam yuk. Tapi maskernya dipakai dengan benar dong." Aku membetulkan masker Ryan. Kami lalu berjalan keluar dari rumah sakit menuju salah satu tempat makan ayam yang terkenal yang ada di depan rumah sakit. Setelah memesan kami membawa makanan kami ke meja. Ku lihat Ruan tergesa makan dan ia sangat lahap.
"Yan, makan yang bener! Jangan terburu buru begitu!" aku mengingatkan Ruan. Dia hanya mengangguk namun tidak merubah makannya.
drt drt
Ponselku berbunyi. Ku lihat ada nama Alan.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Kamu dimana?" tanya Alan.
"Aku sedang membawa Ryan makan. Ia kelaparan." jawabku.
"Kembalilah cepat. Ibu menunggumu!" Alan lalu menutup sambungannya.
Apa?Bu Riya menungguku. Ada apa?Apa dia akan memarahiku karena membiarkan Alan menginap.
Ya Allah tolong hamba.
...***...
__ADS_1
Banyakin koment ya..like juga