
POV AUTHOR
Mahira, adik dari Fira, memandang ruangan tempat suaminya dirawat. Ia tahu kalau biaya rawat inap di ruangan VIP seperti ini tidaklah murah. Apalagi jika nanti suaminya harus menginap lama, pasti uang yang akan Salman keluarkan tidaklah sedikit.
Mahira melirik ke sofa tempat Salman dan Fira sedang duduk. Ia melihat Fira menyandarkan kepalanya di bahu Salman. Rupanya kakaknya itu tengah tidur. Sedangkan Salman, pria itu sedang membaca sesuatu di ponselnya. Mahira mendekat dengan sedikit canggung karena ia belum begitu mengenal kakak ipar barunya itu.
“Kak, sebaiknya Kak Salman ajak Mbak Fira pulang saja. Kasihan sepertinya ia kelelahan. Apalagi besok ia harus bekerja.” Mahira menunjuk Fira yang sedang terlelap dengan matanya.
Salam menyimpan ponselnya lalu melihat ke arah jam yang tertempel di dinding.
”Kau benar. Ternyata sudah malam. Pantas dia tertidur.”
Salman melirik Fira. “Sayang. Bangun! Kita pulang ya!” Ia membangunkan Fira dengan lembut.
Fira bergeming. Sentuhan tangan Salman tidak mampu menariknya dari alam mimpi.
“Mbak Fira pasti sangat capek. Kerja dobel sih.” Mahira tersenyum.
Salman tahu apa maksud perkataan adik iparnya itu. Dia menggaruk kepalanya sambil nyengir.
“Sebaiknya aku gendong saja. Kasihan juga kalau dibangunkan. Lelap banget.” Salman mulai mengangkat tubuh Fira.
“Hati-hati kak dan terima kasih.” Ucap Mahira saat Salman meninggalkan ruang rawat suaminya.
Semoga kebahagianmu langgeng mbak. Meski aku tahu nggak ada yang abadi di dunia ini. Aku akan selalu mendoakanmu. Suamimu orang baik. Semoga kalian langgeng. Amiin.
Mahira menatap kepergian mereka sampai hilang dari pandangannya. Matanya berkaca-kaca karena terharu melihat betapa Salman sangat mencintai Fira
Salman sudah sampai di parkiran. Ia meminta tolong penjaga parkir untuk membukakan pintu mobilnya.
“Kenapa istrinya, Pak?” tanya penjaga parkiran yang heran melihat Salman menggendong Fira.
“Nggak papa. Sedang tidur. Kasihan kalau dibangunkan.” Salman menaruh tubuh Fira di jok depan dengan sangat hati-hati.
“Wah, bapak sangat mencintai istrinya. Salut Pak.” Penjaga parkiran membuat gerakan hormat dengan tangannya.
“Dia amanah pak. Harus dijaga dan disayang. Jadi saat nanti kita dimintai tanggungjawab dari yang memberi amanah, kita tidak akan malu karena sudah melakukan dengan sebaik-baiknya.” Salman lalu mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya kepada penjaga parkir itu.
“Ini untuk apa pak?” Penjaga parkir kaget karena diberi uang yang baginya cukup banyak.
“Buat bapak. Terima kasih sudah membantu saya membukakan pintu mobil. Jika tidak ada bapak, saya pasti kerepotan tadi. Baik pak, saya permisi dulu.” Salman menepuk bahu penjaga parkir tersebut lalu masuk ke mobilnya.
“Terima kasih Pak.” Penjaga parkir itu tersenyum lebar dan dengan penuh semangat ia memandu Salman agar bisa keluar dari tempat parkir itu dengan aman.
Sepeninggal Salman, penjaga parkir itu menciumi lembaran ratusan ribu yang diberikan oleh Salman. Berkali-kali bibirnya mengucap syukur atas rejeki yang ia terima hari ini.
Ya, beginilah hidup. Kadang bagi kita sedikit namun bagi orang lain besar nilainya. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berbagi. Sudahkah anda berbagi hari ini?
Salman mengemudikan mobilnya dengan santai. Sesekali ia melirik Fira yang masih lelap. Salman tertawa kecil melihat posisi tidur Fira yang lucu. Fira tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Salman menepikan mobilnya. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengabadikan wajah Fira. Setelah itu ia mengirim foto itu ke Fira dengan memberi caption “Tidur saja mulutnya terbuka, siap dicium ya..!”
Salman tersenyum lagi membayangkan reaksi Fira esok saat membaca pesan darinya. Ia kemudian menyalakan lagi mesin mobilnya dan melaju menuju rumah baru mereka.
“Tidurlah sayang. Aku tidak akan mengganggumu malam ini.” Bisik Salman setelah meletakan tubuh Fira di ranjang. Dilepasnya jaket yang Fira kenakan menyisakan pakaian dalam Fira. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Fira.
Salman duduk sambil menatap wajah lelah yang sedang terlelap itu. “Kamu nggak boleh dibiarkan tidur sendirian. Tidurmu kayak orang pingsan. Kalau ada yang berniat jahat, kamu juga nggak akan tahu.” Gumamnya lalu menggelengkan kepala. Salman membersihkan tubuhnya lalu menyusul istrinya ke atas ranjang. Dia masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Fira lalu memejamkan mata.
Keesokan harinya.
Fira menggeliat dan membuka matanya perlahan saat dering jam weker membangunkannya.
__ADS_1
Kok di kamar ini lagi? Bukankah semalam aku tidur di rumah sakit.
Fira hendak bangkit namun tangan Salman masih erat membelit perutnya. Fira kemudian memutar tubuhnya menghadap Salman. Dipandanginya wajah tampan Salman sambil tersenyum.
Kamu memang tampan mas.
Tangan Fira terulur membelai alis Salman lalu turun ke hidungnya yang mancung. Terakhir dengan ibu jarinya, ia mengelus bibir Salman.
“Kenapa?Mau morning kiss?” suara serak Salman mengangetkan Fira.
Salman membuka matanya dan dengan cepat disambarnya bibir Fira. “Morning kiss.”
Fira tergagap. “Mas, bagaimana aku pulang semalam?” tanyanya bingung.
“Menurutmu?” Salman menarik Fira ke dalam dekapannya.
“Kamu menggendongku ya?”
“Nggak. Tukang parkir yang menggendongmu.” Goda Salman.
“Masa sih?” Fira melotot tak percaya.
Salman menarik hidung Fira gemas. “Ya iyalah aku. Memang siapa lagi yang mau menggendongmu. Kamu berat tahu.”
“Mas ah nyebelin. Kirain beneran aku digendong tukang parkir.”
“Memangnya kamu mau digendong tukang parkir rumah sakit?” Salman menatap intens wajah Fira.
“Memangnya boleh?” Fira balas menggoda Salman.
“Kalau kamu mau silahkan!” ucap Salman kesal.
“Kalau begitu nanti aku akan tidur lagi di rumah sakit dan bilang ke Mahira agar memanggil tukang parkir buat menggendongku. Tapi aku nggak mau tukang parkir yang tua itu. Tadi aku melihat ada yang masih muda, tegap dan cukup tampan” Fira semakin menjadi.
Fira tertawa melihat wajah cemburu Salman. “Cemburumu lucu mas. Masa cemburu sama tukang parkir yang aku nggak kenal. Lagian, istri nanya baik-baik malah digodain.”
Salman melepaskan cekalannya pada tangan Fira. Ia memindahkan tubuhnya sambil mendengus.
“Aduh yang terbakar cemburu, menggemaskan sekali sih.” Fira memeluk Salman dari belakang.
“Tapi apa itu benar? Apa kau sebenarnya ingin yang lebih muda?” Salman bertanya dengan suara rendah.
Ya Allah, dia menganggap serius candaanku.
“Mas, lihat sini!” Fira memutar tubuh Salman agar menghadap kearahnya. Dia lalu memegang kedua pipi Salman dan dengan menatap dalam ke mata Salman Fira berucap, ”Dari sejak SMA sampai sekarang, hanya ada satu nama di hatiku. Salman Al Farisi. Satu nama namun membuat hatiku penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi nama yang lain. Bahkan mantan suamikupun tidak mendapat tempat seistimewa tempatnya. Sekarang aku bisa bersama dengannya. Tidak ada lagi yang aku inginkan.”
Salman tersenyum mendengar pernyataan Fira. Dikecupnya bibir Fira sekilas.
“Eh, kan morning kissnya sudah tadi.” Fira menatap Salman sambil mengerjapkan matanya karena kaget mendapat kiss lagi.
Cup
Lagi-lagi Salman mendaratkan ciuman di bibir Fira.
“Sudah ah. Kalau diterusin nanti melebar kemana-mana.” Fira beringsut dari duduknya.
“Mau kemana?” Salman menahan tangannya.
“Mandi mas. Tuh sebentar lagi subuh.”
“Habis subuh ya?” Salman menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
“Ngapain?Joging?” Fira mengerutkan alisnya.
Salman mengangguk.
“Lihat nanti.” Fira menarik tangannya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi dan berwudlu mereka berdua lantas melaksanakan sholat subuh dengan berjamaah. Momen seperti ini yang sangat Fira sukai. Mengikuti setiap gerakan yang dipimpin oleh Salman. Mendengarkan suaminya membaca ayat-ayat Al quran, membuatnya merasa tentram dan di akhir sholat, ia akan mengamini doa yang dipanjatkan oleh Salman.
.
“Ahh.” Salman merebahkan kepalanya dipangkuan Fira. Fira mengelus kepala Salman.
“Kapan kamu siap pindah?” tanya Salman.
“Pindah ke rumah ini?”
Salman mengangguk.
“Aku ikut apa kata mas saja. Kapanpun mas ajak pindah, aku siap.” Jawab Fira.
Salman mengangkat tangannya lalu membelai pipi Fira.
“Rumahmu itu mau kau apakan?”
“Enaknya diapakan ya mas?”
“Mahira sudah punya rumah?” Salman ingat adik iparnya.
Fira menggeleng. “Ia tinggal bersama mertuanya.”
“Berikan saja rumahmu itu padanya! Kau kan sudah punya rumah baru.”
“Rumah baru?”
“Iya. Rumah ini aku beli atas namamu. Jadi rumah ini menjadi milikmu.”
Fira tak mampu berkata-kata. Ia hanya menatap pria yang tengah berbaring di pangkuannya itu dengan mata berkaca-kaca. Baru beberapa hari lalu Salman membelikannya mobil dan kali ini ia mendapat rumah.
“Mas…”
“Ini kewajibanku Ra. Jangan berkata apa-apa.” Salman memegang tangan Fira dan menciumnya.
“Joging yuk!” Salman dengan cepat bangkit dari rebahannya.
“Sekarang? Apa nggak terlalu gelap?”
Salman menggeleng. Ia menarik Fira hingga berdiri. Perlahan dibukanya mukena yang Fira kenakan.
“Mas aku bisa melepasnya sendiri.”
Salman hanya tersenyum tanpa menghentikan kegiatannya.
“Ayo!” digandenganya Fira menuju kamar.
“Mas, aku kan nggak bawa baju hanya bawa mukena. Kemarin saja ke rumah sakit pakai jaketmu. Bagaimana mau joging?”
“Jogingnya nggak butuh baju sayang.”
Hemm jadi joging itu yang kamu mau mas. Ayolah joging. Sudah dapat rumah juga. Matre dikit nggak papa lah. Matre ke suami sendiri juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Makasih yang sudah setia membaca dan memberi like. Alhamdulillah level novel bulan ini naik. Semoga performanya kian bagus. Jangan pelit like ya....baca dan like..komen juga. Kasih vote ya....