Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Apakah sejarah akan terulang?


__ADS_3

Fira berkali-kali memeriksa ponselnya.


Tidak ada pesan dari Mas Salman. Mengapa sampai siang begini ia belum menghubungiku. WA-ku juga belum dibacanya.


Fira gelisah, Ia berusaha menyibukkan diri namun hatinya tidak bisa diajak kompromi. Bayangan Salman terus mengganggunya


Awas nanti kamu Mas. Beraninya tidak memberi kabar. Minta tidur di luar ya.


Fira mulai geram. Ia belum pernah merasa segelisah ini saat jauh dari orang yang ia sayang.


“Bu.” Dewi membuka pintu dan masuk ke ruangan Fira.


“Apa?!’ Fira sewot


Dewi kaget mendengar nada sewot Fira.


“Pe em es Bu? Sewot banget.” Goda Dewi heran melihat sikap uring-uringan Fira.


“Kesel nih. Mas Salman nggak ada kabar.”


“Iya. WA-ku juga belum dibaca?” Dewi lalu menutup mulutnya karena keceplosan.


“WA-mu? Kamu mengirim WA ke suamiku? Kalian sering berbalas pesan di belakangku?” Suara Fira meninggi.


“Sabar Bu! Sabar. Semua tidak seperti yang Ibu bayangkan.” Dewi mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan Wa-nya ke Salman pada Fira.


“Nih baca! Aku hanya memberitahu suamimu kalau kamu sedang mual. Sudah menjadi tugasku menjagamu saat dirinya tidak ada. Kau taulah aku kan tangan kanannya.” Dewi membanggakan diri.


“Bener kamu dan Mas Salman nggak pernah WA-an yang aneh-aneh?” Mata Fira menyelidik.


“Amit-amit Fira, meski jomblo abadi tapi aku bukan pelakor.” Dewi mengetuk meja tiga kali dengan punggung tangannya.


Fira tertawa, “Akhirnya kau mengaku sebagai jomblo abadi.”


“Ck. Bumil memang aneh. Sebentar marah sebentar tertawa.” Dewi menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.


“Ngapain kamu kemari? Ada perlu?” Fira bangun dari kursinya lalu melangkah ke sofa dan duduk di sana.


Dewi mengikuti Fira duduk di sofa.


“Aku mau tanya apa nanti malam kamu ke kondangannya bos Alan?”


“Jelaslah aku datang. Itulah, aku kesal sekali karena Mas Salman belum ada kabar. Kalau dia tidak pulang, bagaimana aku bisa ke nikahannya Alan.”


“Bagaimana kalau bareng sama aku? Aku juga sendirian.”


“Boleh. Tapi jika Mas Salman tidak pulang lo ya. Kalau dia datang, ya aku sama suamiku.”


“Iya, iya. Yang punya suami. Nggak punya perasaan sama sekali.” Dewi kembali manyun.


“Makanya, cepat cari pasangan. Truk saja gandengan, masa kamu enggak.” Fira terkekeh.


“Sadis amat, nyamain orang dengan truk. Jelas-jelas aku cantik begini,  mananya yang sama dengan truk.” Dewi berdiri sambil memamerkan bodinya dihadapan Fira.


“Hmm..setidaknya bampernya sama.” Fira tergelak.


“Sialan. Yang begini nih yang dicari cowok. Empuk.” Dewi juga tertawa.


Sore harinya, Fira pulang kerja dijemput oleh Juna, asisten Salman.


“Mas Juna, apa tidak ada kabar dari Mas Salman?”


“Belum ada, Bu.” Jawab Juna tanpa menatap mata Fira.


“Apa ada masalah di perusahaan pusat, Mas?"


Fira berpikir jika ada masalah di perusahaan Salman yang ada di Jakarta sehingga menghambat langkahnya untuk pulang karena Salman sudah mengabari kalau Ardi baik-baik saja.


“Perusahaan pusat baik-baik saja, Bu. Tidak ada masalah. Kita langsung pulang, Bu?” Juna mengalihkan pembicaraan.


“Jemput Ryan dulu, Mas.”


Juna membawa mobilnya ke arah sekolah Ryan.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Fira turun.


“Mau menjemput Ryan, Bu?” Satpam sekolahan Ryan menghampiri Fira.


“Iya, Pak. Bisa dipanggilkan Ryannya!” pinta Fira sopan.


“Tapi tadi Ryan sudah ada yang jemput, Bu.”


Fira kaget,”Siapa, Pak?”

__ADS_1


“Saya tidak melihatnya sih, Bu. Hanya tadi Ryan pamit dan nitip pesan kalau bundanya datang, saya disuruh menyampaikan kalau dirinya sudah di jemput.”


“Baik. Terima kasih, Pak.”


Fira beranjak ke mobilnya.


“Langsung pulang, Bu?” Juna sudah mengira kalau Ryan sudah di jemput karena Fira kembali ke mobil tanpa Ryan.


“Mas Juna tahu enggak siapa yang menjemput Ryan?” Fira memandang Juna yang malah menunduk.


“Saya tidak bisa memastikan, Bu.”


Kenapa jawaban mas Juna aneh. Bukankah seharusnya dia bilang tidak kalau memang tidak tahu. Terus Ryan juga. Ia pasti mengenal orang yang menjemputnya karena dia dengan mudah ikut orang itu. Apakah Mas Andre? Ah, tidak mungkin. Ryan sudah aku wanti-wanti untuk tidak ikut Mas Andre tanpa ijinku.Jangan-jangan, Mas Salman.


Fira langsung tersenyum ceria.


“Kita pulang, Bu?” Juna kembali mengulang pertanyaannya.


“Iya, Mas. Langsung pulang saja!” Wajah Fira cerah. Ia berharap melihat suaminya di rumah.


Juna melajukan mobilnya santai seperti biasa.


“Bisa lebih cepat, Mas!” Fira sudah tidak sabar untuk sampai di rumah dan memeluk Salman. Rindunya sudah membuncah butuh penyaluran.


 “Baik, Bu.” Juna menambah kecepatan laju mobilnya.


“Kita sudah sampai, Bu.”


“Iya. Makasih ya, Mas. Seharian sudah merepotkan mas Juna untuk antar jemput.”


“Ini sudah tugas saya, Bu.”


Fira turun dari mobil. Ia berusaha membuka gerbang rumahnya.


Kok masih terkunci? Apa Mas Salman belum pulang? Terus siapa yang menjemput Ryan.


Fira mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Fira membuka kunci gerbang lalu masuk. Di tutupnya pintu gerbang kemudian ia melangkah mendekati pintu rumahnya. Ia berharap hanya pintu gerbang yang terkunci namun pintu rumah tidak.


Terkunci juga. Berarti Mas Salman memang belum pulang.


Hati Fira sedih.Matany berkaca-kaca. Ia membuka kunci pintu rumahnya dengan air mata yang mulai meleleh.


“Assalamualaika wa'alaibadillahish sholihin.” Salam Fira sebelum masuk rumahnya yang kosong.


Kapan kau akan pulang Mas, aku kangen.


Fira melangkah ke kamarnya. Ia membuka pintu dan masuk. Fira menaruh tas di meja lalu membanting tubuhnya terlentang di ranjang. Saat ia sudah terbaring sempurna, sekelebat bayangan dengan cepat menuju arahnya dan langsung menindihnya.


“Apa kabar sayang?”


Fira terbelalak melihat Salman berada di atasnya.


“Mas.” Ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Salman yang disambut Salman dengan bahagia. Mereka lalu menyalurkan rasa rindunya melalui ciuman yang hangat dan mesra.


“Mas jahat.Seharian nggak ngasih kabar, Aku kangen tahu.” Fira merajuk sambik memukul mesra dada Salman.


“Sengaja. Biar saat ketemu bisa lebih dahsyat.” Bisik Salman lalu kembali menyambar bibir Fira.


“Bundanya Ryan, aku kangen banget. Bukan hanya padamu tapi juga pada calon anakku. Bolehkah aku menemuinya?” Salman mengedipkan matanya.


Fira mengangguk.”Mereka juga sangat kangen.”


Satu jam kemudian.


“Mas, Ryan dimana?” Fira baru teringat anaknya saat kegiatan panasnya dengan Salman usai.


“Sedang main di kamar sama Ardi.” Jawab Salman sambil mendekap tubuh polos Fira.


“Jadi Ardi datang?”pekik Fira bahagia. Ia sampai bangun dari tidurnya.


“Iya. Kan aku sudah bilang kalau aku akan membawa Ardi.” Salman menarik Fira agar kembali berbaring dalam pelukannya.


“Mas Salman tidak lupa kan kalau malam ini kita harus ke pesta pernikahan Alan?”


“Enggaklah.” Tangan Salman kembali bergerilya. Matanya menatap genit.Ia lalu memutar posisi tubuhnya.


“Mas mau apa?” Fira yang masih lelah pura-pura bertanya.Ia tahu jika sudah berada di atasnya itu tandanya Salman akan meminta lagi.


“Masih kangen.” Salman nyengir.


“Mas belum juga sepuluh  mmmm.” Ucapan Fira tenggelam dalam ciuman Salman.


Mereka kembali berpacu mengejar kenikmatan yang menjadi penyatuan cinta mereka berdua.

__ADS_1


“Sudah siap?” Salman membuka pintu kamar.


“Wow, istri siapa ini? Hei bidadari, kau kemanakan istriku?” goda Salman yang melihat Fira berdandan dengan sangat cantik.


“Lebay ih. Anak-anak bagaimana?”


“Mereka tidak mau ikut. Mau bermain saja. Ayo, kita harus menjemput seseorang.” Salman mengulurkan tangannya.


“Siapa Mas?” Fira menerima uluran tangan Salman dan mulai melangkah beriringan.


“Nanti kau juga akan tahu.” Salman mencolek hidung Fira.


“Kalau melihatmu secantik ini rasanya aku tidak rela membawamu keluar. Aku ingin menikmatinya sendirian.” Salman menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Fira.


“Kita nggak usah berangka ya!” Salman mengelus wajah dan berakhir di bibir Fira.


Fira mencubit perut Salman.


“Apaan sih? Yang menikah itu sahabatmu. Masa tidak datang.”


“Sahabatku yang mencintaimu. Aku benar-benar tidak rela Alan melihat kecantikanmu malam ini.”


“Terus aku harus bagaimana, Mas? Ganti baju dan menghapus make-upku? Kalau aku tampil jelek, justru mereka akan bergosip kalau suamiku tak becus mengurusku.” protes Fira.


“Biarin mereka bergosip, yang penting aku becus mengurusmu. Buktinya sore tadi sudah aku kasih dobel kan jatahnya?” Salman menaik turunkan alisnya.


“Eh, jatahmu yang dobel, Mas.”  Fira sewot.


Salman tergelak.


“Gimana nih? Jadi berangkat apa tidak?”


“Berangkat dong sayang. Sudah cantik begini. Tapi..” Salman menoleh ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan.


“Apa sih, Mas?’ Fira heran dengan sikap Salman.


“Tapi depe dulu buat nanti malam ya!”


“Apa?”


Cup


Salman mencium bibir Fira sekilas.


“Kurang.” Ia lalu mencium lagi kali ini lebih lama dan dalam.


“Sudah ah!” Fira mendorong Salman.


“Kapan berangkatnya kalau begini terus.”


“Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu yang terlalu menggoda.” Salman mengambil tangan Fira dan menggandengnya keluar.


"Kenapa kita kesini, Mas?" tanya Fira saat mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah.


"Menjemput orang yang tadi aku ceritakan."


"Siapa?" Fira memandang ke arah rumah menunggu siapa yang akan keluar.


Mata Fira membola saat melihat Elsa keluar dari rumah itu. Ia melenggang anggun dan cantik.


"Elsa." desis Fira.


"Ya, Elsa.Alan juga mengundangnya."


"Jadi tadi Mas Salman pulang bareng Elsa?" Fira memandang wajah Salman.


"Koreksi. Bukan hanya dengan Elsa tapi ada Ardi juga." Salman merasakan nada cemburu dalam suara Fira sehingga harus menegaskan kalau bukan hanya berdua saja dengan Elsa.


Sebenarnya masih banyak yang ingin Fira tanyakan, namun urung karena Elsa sudah mendekat.


"Apa kabar, Fir?" sapa Elsa sambil mengembangkan senyumnya.


"Alhamdulillah baik, Sa. Masuk Sa!" Fira langsung menyuruh Elsa masuk ke mobil.


"Oh, iya. Terima kasih."


Elsa membuka pintu belakang lalu masuk dan duduk.


Fira diam. Ia merasa aneh dan tidak suka karena Salman tidak bilang jika ia pulang bersama dengan Elsa. Apalagi seharian Salman tidak memberi kabar. Fira mulai berpikir yang aneh-aneh. Hatinya kembali sakit.


Apakah sejarah akan berulang. Batin Fira pilu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2