Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Om Hero


__ADS_3

"Ryan, ayah sedang..."


"Eh Ryan pernah lihat atraksi lumba lumba?" Alan memotong ucapanku.


"Pernah Om. Dulu,sama bunda dan temanku." jawab polos Ryan.


"Mau lihat lagi?" tanha Alan.


"Mau..mau..om." jawab Ryan dengan wajah ceria. Ia sudah melupakan pertanyaannya tentang wanita yang bersama dengan Mas Andre.


"Bagaimana kalau hari Minggu ini kita melihatnya?" ajak Alan.


"Horee...iya Om!" Ryan bersorak senang.


"Tapi ajak bunda." bisik Alan. Aku langsung menoleh.


"Bunda ya...kita lihat lumba-lumba ya!" Ryan mulai merengek. Alan tersenyum melihat Ryan merayuku.


"Bunda nggak bisa. Bunda ada kerjaan hari Minggu ini."


"Ryan, bilang ke bunda, kerjaannya ditunda sama bosnya." kata Alan.


Aku menatapnya sekilas.


"Iya bunda. Hari Minggu kan mestinya libur. Ayolah bunda, Ryan sudah lama tidak jalan-jalan. Ryan bosan di rumah terus. Bunda mau Ryan stres."


Mendengar kalimat Ryan, Alan tergelak. Aku tertawa kecil karena merasa lucu dengan kata-kata Ryan.


"Iya..iya..apa kata besok Minggu."jawabku menenangkan Ryan.


"Horee.." seru Ryan.


"Tos dulu!" Alan menjulurkan tinjunya ke arah Ryan dan mereka melakukan tos. Sepanjang perjalanan ku dengar Alan bersenandung kecil.


Aku merindu ku yakin kau tahu


Tanpa batas waktu ku terpaku


Dalam hati aku tersenyum. "Korban sinetron." batinku.


"Maaf Ra, aku nggak bisa menjaga Ryan. Aku ada keperluan mendadak." kata kakak iparku yang biasa aku titipi Ryan selama aku kerja.


"Yaa mbak. Terus bagaimana?" aku bingung.


"Bawa saja ke kantor!" titah Alan. "Ruan mau kan ikut bunda ke kantor?" tanya Alan. Ryan mengangguk.


"Lan..dia bisa mengganggu aku bekerja." kataku.


"Nggak akan. Biar dia bersamaku nanti. Ayo..bentar lagi kita telat lo." Alan menggandeng Ryan meninggalkan rumah kakak.


"Kak aku pergi dulu. Assalamualaikum." pamitku.


Bergegas aku menyusul Alan dan Ryan yang sudah kembali ke mobil.


"Ryan janji nggak boleh mengganggu kerjaan bunda dan om Alan ya!" pintaku pada Ryan.


"Iya. Ryan janji." jawab Ryan polos.


Tak berapa lama kami sampai di gedung tempat kami bekerja. Alan langsung menggandeng Ryan masuk ke gedung begitu mereka turun dari mobil. Aku mengekor saja di belakang mereka.

__ADS_1


"Pagi Ra..eh ada Ryan. Oh..maaf pak!" sapa Dewi yang langsung salah tingkah saat melihat Alan.


"Iya nggak papa." jawab Alan dengan tenangnya. "Ayo Ryan, kita masuk!"


Alan membawa Ryan ke ruangannya.


Aku masuk ke ruanganku diikuti Dewi.


Ku taruh tasku ke atas meja. Aku mulai menyalakan laptopku.


"Ra...kau baik baik saja kan!" tanya Dewi tiba-tiba.


Aku menoleh dan memandang heran ke arah Dewi ,"Aku baik. Kenapa mendadak kau bertanya begitu?" jawabku.


Dewi mengambil kursi dan duduk di sebelahku. "Ra...aku ingin menyampaikan sesuatu. Tapi ku mohon kamu jangan kaget dan sedih." kata Dewi. Aku menghentikan kegiatanku yang sedang mencoba membuka arsip di laptopku. Aku menghela napas.


Apakah Dewi mengetahui tentang Mas Andre


"Katakan saja, Dew!" printahku.


"Aku melihat Mas Andre bersama wanita lain." akhirnya keluar juga kalimat itu. Aku tersenyum kecut.


"Kenapa kamu biasa saja menerima berita ini?" tanya Dewi.


"Lalu aku harus bagaimana kalau kenyataannya seperti itu." jawabku sambil kembali dengan aktivitasku.


"Jadi kau sudah tahu?" seru Dewi kaget.


Aku mengangguk. "Sudah dua bulan yang lalu." jawabku pendek.


"Dan kau diam saja?" tanya Dewi lagi.


"Ra...tinggalkan Andre!" kata Dewi. Ia tidak lagi memanggil Mas pada Mas Andre. Mungkin ia merasa sakit hati dengan kelakuan Mas Andre.


Aku kembali tersenyum tipis. Sudah dua orang yang memintaku meninggalkan Mas Andre.


"Ra..ku lihat Bos Alan begitu perhatian padamu. Kenapa kamu tidak mencoba menjalin hubungan dengannya?" tanya Dewi


Ku toleh Dewi dan ku cubit lengan gemolnya. Dewi mengaduh.


"Saranmu menyesatkan!" jawabku.


"Kenapa menyesatkan. Andre sudah menkhianatimu. Kamu balas donk. Lagipula, Bos Alan menang banyak dibanding Andre. Bujang, tampan, mapan. Benar-benar nyaris sempurna." puji Dewi.


"Kenapa nggak kamu saja yang menjalanin hubungan dengannya?" ku kembalikan pertanyaan Dewi.


"Ck...kau pikir aku tidak mau. Sayangnya Bos hanya tertarik padamu." jawab Dewi sambil.memanyunkan bibirnya.


ting


Ada pesan masuk ke ponselku.


"Pasti dari Bos, panjang umur dia. Sudah...sana. Aku mendukungmu. Pria tidak setia macam Andre jangan dipiara. Tinggalin saja." kata Dewi sambil.meninggalkan ruanganku.


Ku baca pesan yang memang dari Alan. Ia memintaku ke ruangannya.


"Apa Ryan rewel." gumamku. Aku segera menuju ke ruangan Alan.


"Assalamualaikum!" salamku sambil membuka pintu ruangan Alan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." jawab Alan.


Aku kaget melihat pemandangan di dalam ruangan Alan. Ku kira Alan sedang bekerja, tapi ia malah sedang duduk sambil mangku Ryan di kursi kerjanya. Ia mengajari Ryan permainan di laptopnya.


"Ryan turun! Jangan ganggu kerjaan om Alan. Lagian kamu dah besar pasti Om Alan merasa berat kamu minta pangku begitu." tegurku pada Ryan sambil mendekat kemeja Alan.


"Ryan tidak berat dan juga tidak menganggu. Tapi kalau kamu yang afa di sini, meski sedikit berat aku akan menikmatinya." jawab Alan sambil menunjuk ke pangkuannya.


"Alan!" tegurku sambil.memberi isyarat dengan mata kalau ada Ryan.


Ku lirik Ryan, aku takut anak itu terpengaruh dengan ucapan asal Alan.


"Oo...jadi kalau nggak ada dia nggak papa?" goda Alan dengan senyum jahilnya.


"Sudah..sudah!" Aku menghentikan candaan Alan. Ya..apapun yang keluar dari mulut Alan aku anggap sebagai candaan dia semata. "Ada apa kamu memanggilku?" tanyaku. Ku lihat tidak ada masalah dengan Ryan, jadi Alan memanggilku bukan karena Ryan.


"Ryan duduk dan main sendiri ya! Om ada perlu sama bunda." kata Alan. Ia berdiri dan mengangkat tubuh Ryan lalu mendudukan kembali anak itu di kursinya.


Alan mengajakku berbincang di sofa.


"Bacalah!" perintah Alan sambil memberikan sebuah surat yang ada di meja. Aku mengambil surat itu dan mulai membacanya.


"Diklat?!" tanyaku kaget.


"Ya! Dan kau tahukan ini diklat apa?" tanya Alan lagi. Aku mengangguk. Diklat untuk mereka yang akan naik jabatan.


"Selama!" Alan mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Yaaahhh! Ku kira saking senangnya kau akan menjabat tanganku tanpa berpikir dua kali." kata Alan kecewa. Aku tertawa lirih.


"Tapi bagaimana bisa?" gumamku.


"Kenapa tidak bisa. Sudah waktunya bagimu untuk mendapatkan penghargaan atas kerja kerasmu selama ini. Pangkatmu juga baru naik kan? Jadi wajar kalau kamu dapat promosi jabatan. Dan tahun depan banyak yang akan pensiun." alan menjelaskan.


"Tapi kamu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini kan?" tanyaku menyelidik.


"Maksudmu, promosi kamu ini karena aku yang mengaturnya? Tidak percaya diri banget jadi orang." ejek Alan.


"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau dianggap mengandalkan koneksi. Secara kamu adalah teman baikku." jawabku jujur.


Alan menghela napas, " Itulah. Aku hanya teman baikmu. Tak lebih. Jadi aku juga tidak akan berbuat melebihi kapasitasku sebagai teman baik." kata Alan sarkasme. Ia tersenyum pahit.


"Maaf!" gumamku tanpa sadar.


"Ok, aku memaafkanmu hanya jika hari Minggu nanti kau mau ikut aku ke taman safari. Aku sudah janji pada Ryan. Jangan buat namaku buruk di hadapan anak itu. Baginya aku hero." pinta Alan setengah memaksa.


"Hero?!"


"Ya! Dia sendiri yang bilang." kata Alan bangga.


Aku terkikik geli.


"Kamu nggak percaya?" Alan tampak tidak suka. "Hai Ryan, ini siapa?" tanya Alan pada Ryan sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Om hero Alan." jawab Ryan pendek lalu ia kembali asyik dengan gamenya


Alan tersenyum bangga. Ia menaikkan alisnya beberapa kali sambil.melihatku.


Ya Allah. Apakah Mas Andre mulai tergeser di hati Ryan karena ia sudah mulai sering mengabaikan anak itu. batinku.

__ADS_1


__ADS_2