
Alan bergegas menuju ke parkiran hotel. Ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang terus mengawasinya.
Dia bilang ada kerjaan ke luar kota, tahunya nginap di sini.Mau main main sama adikku. Belum tahu siapa aku.
Alan melajukan mobilnya dengan cepat menuju kantor. Di belakangnya Raul menguntit.
Alan masih belum menyadari keberadaan Raul. Hari ini ia terburu-buru karena ada pertemuan penting dengan atasannya.
Alan membelokkan mobilnya ke halaman kantor. Raul berhenti di depan dan terus mengawasi Alan.
Alan memarkir mobilnya dan turun. Dengan cepat, ia berjalan masuk. Beberapa bawahan yang berpapasan dengannya mengangguk hormat. Alan membalas dengan tangannya.
Pada saat bersamaan, Salman yang sedang mengantar Fira mendekat ke arah kantor.
Salman memperlambat laju mobilnya saat melihat ada mobil yang ia kenali sebagai mobil Raul berhenti di depan kantor tempat Fita kerja.
"Sayang, apa kamu hari ini ada kegiatan penting?" tanya Salman sambil menoleh ke arah Fira.
Fira menggeleng. "Enggak. Memang ada rapat sih, tapi Pak Alan yang datang dan tidak membutuhkan aku. Kenapa Mas?"
Salman menepikan mobil dan berhenti.
"Kau lihat mobil di depan?" dengan matanya Salman menunjuk mobil Raul.
"Ya. Kenapa dengan mobil itu?"
"Kalau aku tidak salah, itu mobil Raul."
"Raul, papanya Ardi?" Fira menegaskan kalimat Salman.
Salman mengangguk. "Kenapa dia di sini? Apa dia menunggu kita?" gumam Salman.
"Mas, terus bagaimana?" Fira sedikit panik.
"Sepertinya kita tidak bisa menghindar lagi. Kita harus menemui dan bicara dengannya." ujar Salman. Salman hendak membuka pintu mobil namun urung karena mobil Raul tiba-tiba bergerak meninggalkan kantor Fira.
"Eh, dia pergi mas. Kok aneh."
"Sepertinya dugaan kita salah. Dia datang bukan untuk kita." Ucap Salman sambil menutup pintu mobilnya lagi.
"Kalau begitu, untuk apa dia di sana tadi?"
Salman mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Sudahlah. Ayo aku antar kamu sampai ke dalam ya!"
Salman mulai menjalankan mobilnya mendekat ke kantor Fira. Seperti ucapannya, Salman mengantar Fira sampai ke dalam.
"Mas, sudah sampai di sini saja."
"Kenapa? Malu?"
"Iya. Tuh banyak yang lihatin. Apalagi ini, tangan Mas nggak lepas dari pinggangku." Fira cemberut manja.
"Ya mau gimana lagi. Ini caraku menandai kalau kamu milikku." senyum jahil mengembang di bibir Salman.
__ADS_1
"Masih perlu tanda? Apa tanda yang ini nggak cukup?" Fira menunjuk ke perutnya yang sudah mulai menonjol.
"Semakin banyak tanda semakin mudah dikenali kan?" Salman tak mau kalah.
"Iya..iya. Sudah ya. Aku mau kerja dulu." Fira mendorong tubuh Salman menjauh. Namun reflek Salman malah menariknya dan memberi kecupan di kening dan bibirnya.
"Nah, sekarang sudah boleh kerja." Salman memberikan senyum termanisnya.
Fira melotot. Ia sungguh tidak menyangka kalau suaminya akan menciumnya di tempatnya bekerja. Mata Fira memutar melihat sekeliling. Ia bisa melihat beberapa rekan kerjanya tersenyum sambil menunduk.
"Sudah sana masuk! Apa masih kurang? Mau nambah?" Salman mendekat.
"Enggak ah. Cukup. Aku masuk. Assalamualaikum." Fira segera menarik diri dan bergegas masuk. Mukanya terasa memanas karena malu.
Salman terkekeh melihat Fira yang tersipu.
Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Penantianku yang panjang tidak sia sia. Aku bahagia bersamanya.
Salman memutar langkahnya menuju ke arah luar. Saat ia menoleh, ia melihat Alan sedang berbincang dengan seseorang.
Alan. Tunggu. Raul saudara Anita. Apakah tadi Raul datang untuk Alan? Apakah Alan masih tinggal di hotel dan Raul mengetahuinya. Ck, dasar Alan.
Salman menggelengkan kepalanya menyesalkan tindakan Alan.
...**...
Di sebuah cafe.
"Kenapa kau bohong!?" hardik Raul pada Anita yang terus menunduk sambil berderai air mata.
"Bang, tolong biarkan Anita menyelesaikan masalah rumah tangga Anita sendiri." lirih Anita.
"Dengan cara apa? Dengan diam saja tanpa berbuat apapun?" sinis Raul.
"Bang, aku yakin. Kesabaranku akan membuahkan hasil. Dia memang tidak mencintaiku. Aku tahu itu dari dulu. Jadi aku tidak memaksanya."
"Bodoh. Kalian para wanita memang bodoh. Elsa dulu juga rela menikahi pria yang sama sekali tidak mencintainya. Kini kaupun sama. Kau pikir kesetiaanmu akan mampu meluluhkan hati Alan. Elsa saja yang bertahun tahun menikah tidak mampu membuat Salman jatuh cinta padanya. Sudahlah. Kubur mimpi bodohmu itu!" semprot Raul sengit.
Anita kian tertunduk sedih. Ia tahu perjalanan cinta Salman dan Fira. Ia juga tahu kalau Alan juga sangat mencintai Fira.
Benarkah aku tidak akan mampu meluluhkan hati Kak Alan?
"Pria brengsek itu harus diberi pelajaran." Raul bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah luar.
"Bang, tunggu!" Anita berlari mengejar Raul.
Raul tidak menggubrisnya. Ia semakin mempercepat langkahnya ke luar dari cafe tempatnya bertemu dengan Anita.
Bug.
"Sorry!" ucap Raul sambil melihat siapa yang ia tabrak.
"Kau?!" Raul kaget saat tahu pria yang ia tabrak adalah Salman.
"Bang tunggu! Eh, Kak Salman." Anita tiba di tempat Raul dan Salman yang berdiri saling menatap sengit.
__ADS_1
"Hai Anita. Apa kabar?" Salman menyapa Anita ramah.
"Aku baik, Kak." Anita tersenyum.
"Cih. Terus saja bohong." sinis Raul.
"Bang." Anita menegur Raul.
"Dia tidak baik baik saja. Teman brengsekmu itu sudah mempermainkannya." Raul kian sinis.
"Hm. Sesama orang brengsek lebih baik jangan saling menghina." ucap Salman. Seulas senyum sinis terbit di bibir tipisnya.
"Apa kau bilang?" Raul geram. Ia mendekati Salman.
"Bang." Anita menahan tangan Raul.
"Nit, aku mau bicara." Salman mengabaikan kemarahan Raul.
"Kak, kalau ini soal Kak Alan, maaf. Aku tidak bisa membicarakannya dengan Kak Salman." ucap Anita.
"Nit, aku bisa membantumu." kata Salman menyakinkan.
"Membantu hah? Bagaimana? Memaksanya pulang? Tidak perlu. Alu bisa melakukannya lebih baik dari mu." Raul mewakili Anita menjawab Salman.
"Bang." Anita menyentak tangan Raul.
"Nit. Fira.. dia merasa.."
"Kak, ini bukan salah Kak Fira. Jadi sampaikan padanya untuk tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada rumah tanggaku." potong Anita cepat.
Fira. Salman sangat mencintai wanita itu bahkan kecantikan Elsa tidak mampu menggoyahkan cintanya. Kini, Alan juga. Anita yang masih segar dan muda ini juga tidak mampu membuat Alan berpaling dari Fira. Sehebat apa pesona si Fira ini. batin Raul
"Baiklah kalau kamu tidak membutuhkan bantuan kami. Tapi jika ada apa-apa, jangan sungkan. Datanglah pada kami."
Raul kembali menatap Salman sinis."Tidak perlu. Dia punya aku yang siap membantunya kapanpun. Dia tidak membutuhkan kalian. Sebaiknya kalian jauh jauh dari Anita."
Salman melayangkan tatapan kesal ke arah Raul yang juga sedang memandangnya penuh rasa benci.
"Pasti, Kak. Kalian sudah seperti saudaraku. Aku pasti tidak akan sungkan. Sampaikan salamku pada Ryan dan Kak Fira." jawab Anita sambil tersenyum lembut.
"Ok. Kalau begitu aku masuk dulu. Rekan kerjaku pasti sudah menunggu di dalam." Salman melambaikan tangan lalu meninggalkan Anita dan Raul.
"Nit, si Fira itu kerja ya?" tanya Raul yang membuat Anita menoleh.
"Kenapa Bang Raul menanyakan Kak Fira?"
"Hah? Bukan apa-apa. Penasaran saja. Seperti apa wanita yang mampu membuat Salman dan Alan tergila gila."
Anita memandang Raul curiga.
"Jangan macam-macam!" Anita mengarahkan jari telunjuknya ke Raul.
*Aku enggak akan macam macam. Cuma satu macam saja.
...***...
__ADS_1
Maaf ya...agak lemot upnya. Kerjaan menumpuk soalnya...semoga masih setia menunggu*