Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Rawat dia dengan kasih sayang


__ADS_3

Tengah malam aku terbangun. Aku seperti mendengar suara orang merintih. Bulu kudukku meremang. Perlahan aku bangun dan berjalan mendekati pintu. Ku tempelkan telingaku di pintu dan suara itu semakin jelas.


"Fira." disela sela rintihannya,suara itu menyebut namaku. "Fira." Ia kembali memanggilku. Aku terkesiap saat mengenali suara itu.


"Alan." Aku segera membuka pintu dan ternyata Alan sudah berdiri dan bersandar di pintu kamarku yang memang aku kunci. Alan limbung ke arahku saat pintu ku buka.


"Ahh.." Aku berusaha menahan tubuh kekar Alan. "Panas sekali badannya. Alan bangun!" kataku menggoyang tubuh Alan. Namun Alan tidak bangun juga. Ia pingsan.


Ku seret tubuh Alan dan ku baringkan di atas ranjangku. Aku bergegas mengambil air hangat untuk mengompres Alan dan juga mengambil termometer untuk mengukur suhu badannya.


Aku kembali ke kamar dan mulai mengompres Alan. Ku sisipkan termometer di bawah ketiak Alan.


"Subhanallah. Panas sekali." Seruku saat kulihat termometer menunjukkan akan tiga puluh sembilan koma delapan.


Tubuh Alan menggigil.


"Lan! Alan!" aku berbisik mencoba membangunkan Alan. Namun Alan tak juga bangun.


"Bagaimana ini?!" aku panik. Kalau Ruan demam, aku biasanya akan memeluknya agar panas tubuhnya pindah ke tubuhku.


"Fira!" suara Alan lemah memanggilku.


"Kau sadar. Lan, aku di sini." Aku mendekat agar Alan bisa melihatku.


Perlahan mata Alan terbuka.


"Lan. Apa yang kau rasakan?" tanyaku


"Dingin, Ra!" gumam Alan. Tubuhnya menggigil.


"Lan, apa kau ada teman dokter yang bisa di panggil?" tanyaku.


Alan mengedipkan matanya. "Ada. Dokter Ridwan. Telpon saja dia." kata Alan.


"Nomornya?!"


"Ada di ponselku." suaranya makin lemah.


"Ponselmj dimana?" aku panik.


"Di saku celanaku. Ambilah!"


"A a pa? Sa saku celana."


"Iya. Ambillah.!"


Dengan tangan bergetar, aku merogoh saku Alan. Aku melakukannya dengan hati hati agar tidak menyentuh apa yang tidak boleh ku sentuh.


"Ra..jangan menggodaku." gumam Alan.


"Ma..maaf." mukaku memerah. Saking hati-hatinya aku malah seperti meraba-raba paha Alan.


Aku menarik keluar ponsel Alan dan langsung mencari kontak dokter Ridwan.

__ADS_1


"Hallo!" dokter Ridwan mengangkat panggilanku.


"Halo dokter. Saya Fira bawahan Pak Alan. Pak Alan demam tinggi dan membutuhkan bantuan dokter. Apa dokter bisa datang ke rumah saya. Nanti saya share lokasinya."


"Bisa. Saya akan segera berangkat."


"Terima kasih dokter." aku menutup telepon.


"Baik sekali dokter ini. Dia langsung mau datang." gumamku.


"Dia sahabatku Ra." jawab Alan dengan suara lemahnya. Rupanya dia mendengar gumamanku.


"Ra..dingin. Selimuti aku."


"Lan, tubuhmu panas. Kamu nggak boleh berselimut."


"Kalau begitu peluk saja aku."


Nih orang. Sedang sakit juga masih saja.


"Ra...dingin." tubuh Alan semakin menggigil. Aku tidak tega melihatnya. Akhirnya aku menyelimutinya. Namun sepertinya tidak ada efeknya. Tubuhnya masih kedinginan.


Aku mematikan AC kamar.


"Ra...!" panggil Alan.


"Lan. Kamu lemah. Jangan banyak bicara deh!" gerutuku saking cemasnya.


Aku terperangah. Ku dekati Alan dan ku goyang tubuhnya.


"Lan!Alan!" panggilku. Tubuh Alan diam saja." Alan!"Aku mengeraskan suaraku. Namun Alan tidak merespon.


"Alan. Kau tidak boleh mati. Bangun!' Aku mulai menangis. " Bangun bodoh!"0Ku goyang tubuh Alan. "Bangun!" Tangisku makin kencang. Aku menjatuhkan wajahku di dada Alan. Tanganku memegang lengan kanan dan kirinya berusaha membangunkan Alan.


"Kau tidak boleh mati. Aku belum membalas kebaikanmu!" kataku sambil terus mengguncang tubuh Alan.


Hatiku tiba-tiba merasa sangat bersedih. Aku merasa akan kehilangan Alan untuk selamanya.


"Alan..bangunlah!!Jangan tinggalkan aku." rintihku tanpa sadar. "Bangunlah! Kau janji akan menikahiku. Kalau kau tidak bangun bagaimana kita bisa menikah?" Aku makin meracau saking paniknya.


"Kau mau menjadi istriku?"


Aku kaget dan langsung mengangkat kepalaku dari dada Alan. "Kau?!?!" reflek aku memukul dada Alan.


"Aw..sakit Fir. Kejam banget!" Alan meringis.


Aku tidak menggubris keluhannya. Ku raba kening Alan. Hatiku lega saat tidak lagi panas


ting tong


"Itu pasti dokter Ridwan. Aku buka pintu dulu!" Aku bergegas meninggalkan Alan.


Aku membuka pintu dan kulihat seorang pria berkacamata berdiri di depan pagar.

__ADS_1


"Mari dokter!" ajakku setelah membuka pintu gerbang


"Terima kasih."


Aku membawa dokter Ridwan ke kamar di mana Alan berada.


"Maaf, bisa tinggalkan kami berdua?" pinta dokter Ridwan dengan sopan.


"Oh bisa." Aku keluar dan menunggu dokter Ridwan memeriksa Alan di luar, di ruang tengah. Ku lihat sofa tempat Alan tadi tidur. Ku baringkan tubuhku, dan karena mataku memang masih mengantuk. Aku tertidur.


Pagi harinya aku terbangun mendengar adzan shubuh.


"Ah aku ketiduran. Nah..bagaimana hasil pemeriksaan Alan semalam?" Aku menyibak selimut yang menutupi tubuhku. Di meja kecil dekat sofa tempatku tidur, kutemukan kertas kecil berisi pesan dari dokter Ridwan.


Alan mengalami infeksi usus. Tolong berikan obat ini dan buatkan makanan yang halus dulu. Jaga pola makannya juga. Satu lagi. Rawat dia dengan kasih sayang. Sepertinya dia kurang kasih sayang.


Aku mengernyitkan alis membaca pesan terakhir dokter Ridwan.


Aku kan bukan siapa siapanya. Kenapa aku harus merawatnya dengan kasih sayang. Terus hubungan merawat denhan kasih sayang dan infeksi ususnya apa coba? Ck. ada ada saja nih dokter.


Aku bangun dan melangkah ke kamarku. Perlahan aku membuka pintu.


"Kau sudaj bangun?" tanya Alan yang sudah rapi dengan stelan koko dan sarung.


Aku terpana. Alan memakai baju dan sarung baru yang aku beli. Semula aku ingin memberikannya pada Mas Andre tapi urung karena dia lebih dulu mengaku sudah menikah lagi saat itu.


"Maaf. Baju ini sepertinya masih baru. Jadi aku pakai nggak papa kan? Nanti aku ganti dengan barang yang sama. Aku butuh soalnya. Kaosku semalam sudah bau." Alan menjelaskan tanpa kuminta karena ia melihatku terus menatapnya.


"Ra!" panggil Alan menyadarkanku.


"Ya..Eh. Pakai saja. Nggak perlu di gantj." jawabku gugup.


"Jamaah yuk!" ajak Alan.


"Kita?"


Alan mengangguk.


"Kamu tidak ke masjid?"


"Sebaiknya di rumah saja Ra. Selain aku masih lemah juga akan menimbulkan pertanyaan para tetangga nanti."


"Oh iya aku lupa." gumamku


"Kecuali..kalau nanti kita sudah halal. Maka aku akan tiap hari datang ke masjid di perumahan ini."


"Lann..jangan mulai deh."


"Ra. Apa yang kau katakan semalam itu benar?" tanya Alan sambil mendekat.


Aku kikuk dan berpikir bagaimana mengalihkan perhatian Alan, "Lan. Aku bangunkan Ryan dulu ya. Kita jamaah bareng!" tanpa menunggu jawaban Alan, aku berlari ke kamar Ryan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2