Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Rekonstruksi


__ADS_3

Hai Readers


Karena banyak yang tanya bagaimana kehidupan Andre pasca bercerai jadi sudut pandang cerita ini aku ubah ya. POV nya author sebagai orang ketiga jadi bisa menceritakan semua tokohnya. Kalau tetap sebagai orang pertama, nggak akan bisa. So check it out


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya Fira terlambat bangun. Berulang kali Salman berusaha membangunkan istrinya itu, namun Fira hanya menggeliat dan kembali melanjutkan mimpinya.


"Sayang bangun donk! Dah mau adzan nih. Nanti telat sholatnya." Dengan sabar Salman terus berusaha membangunkan Fira.


Sepertinya dia benar benar kecapekan. Maafkan aku sayang, sorenya kamu dah capek mengurusi tasyakuran, malamnya aku buat lebih capek lagi.


Salman menyunggingkan senyum saat mengingat kejadian malam sebelumnya.


Flashback


"Capek?" Salman mendekati Fira yang sedang duduk sambil memijat lengan dan kakinya bergantian. Fira mengangguk. Ia benar-benat kecapekan melayani para tetangga yang datang untuk memenuhi undangan mereka.


"Aku nggak nyangka deh kak, kalau bakalan seramai tadi. Dah mirip kawinan tau nggak."


"Lha bukannya memang acara kawinan. Kawinan kita?" seloroh Salman.


"Iya sih. Tapi niatnya kan tasyakuran kecilan-kecilan, jadinya malah kayak kondangan. Mana mereka bawa banyak kado lagi. Aku jadi nggak enak kak."


Awalnya aku ingin pesta besar. Tapi kamu pasti akan menolaknya. Jadi yaa hanya seperti inilah yang bisa kulakuka


Salman mendekati Fira. Dipegangnya bahu istrinya itu.


"Maaf kalau aku nggak cerita dari awal. Sebenarnya aku ingin menggelar pesta untuk merayakan pernikahan kita, namun waktunya mepet jadi aku buat saja acara seperti tadi. Maaf ya! Yang penting sekarang para tetangga sudah tahu kalau kita ini sah sebagai suami istri."


"Jadi ini memang rencana Kak Salman dari awal?" Fira mendongak menatap wajah suaminya.


Salman mengangguk. Dikecupnya kening Fira.


"Ya. Aku ingin memberikan sesuatu yang tak bisa kau lupakan meski sederhana." Kembali diusapnya bahu Fira.


"Terima kasih Kak." Fira kembali memasang senyum termanisnya sambil memegang tangan Salman yang masih bertengger di bahunya.


"Ryan sudah tidur?"


"Ya. Sejak habis Isya tadi dia sudah tidur."


"Syukurlah." ucap Salman.


"Kok?" Fira heran karena Salman mengucap syukur.


"Hehehe." Salman hanya tertawa nyengir. "Kita istirahat juga yuk!" Ditariknya tubuh Fira hinga wanita itu bangkit dari duduknya.


"Gendong!" Fira merentangkan tanganya.


"Cie yang sudah mulai berani manja." goda Salman.


"Bodo. Capek tahu." Fira tak menanggapi olok-olok suaminya. Segera ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Salman saat pria itu mengangkat tubuhnya. Salman kembali terkekeh.


"Berat ya Kak?"


"Nggak." Salman membopong Fira menuju kamar mereka.


"Yang bener?Kok wajahnya kayak nahan berat gitu." Fira menatap lekat wajah suaminya.


"Tau aja."

__ADS_1


"Jadi beneran aku berat?!" Nafa suara Fira sedikit meninggi. Wajahnya mulai cemberut.


"Enggak." Salman menaruh tubuh Fira dengan perlahan ke atas ranjang. Ia lalu duduk di sisi Fira sambil mengamati wajah cemberut istrinya itu


"Jangan bohong deh, kalau enggak terus kenapa bilang tau aja." Fira bicara sambil memonyongkan bibirnya saat menirukan jawaban Salman.


Salman tertawa lalu mencubit kedua pipi Fira.


"Ih sakit!" Fira memegangi kedua tangan Salman.


"Iya. Tau aja. Tau kalau aku lagi nahan sesuatu yang berat. Berat buat ditahan karena butuh disalurkan. Apalagi lihat bibir monyong-monyong kayak tadi. Pengen nggigit tau." Salman menyentil kening Fira lalu bangkit dan melangkah ke kamar mandi.


Fira meraba bekas sentilan Salman, bibirnya menyunggingkan senyum.


Dasar mesum. Lihat bibir monyong saja nafsu. Kerjain aah.


Fita lalu merebahkan tubuhnya dan pura-pura lelap.


"Sayang. Bersih-bersih gih." ucap Salman sambil.mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menoleh ke pembaringan saat ucapannya nggak ada respon dari Fira.


"Malah tidur." Salman mendekat. "Beneran tidur. Kasihan pasti capek banget dia." gumam Salman sambil mengelus wajah Fira. "Dasar sembrono. Tidur masih dengan memakai bedak. Nanti kalau jerawatan bingung."


Fira yang memang pura-pura lelap sekuat tenaga menahan agar tidak tertawa mendengat gumaman Salman.


Salman bangkit dan menuju ke meja rias Fira. Ia melihat perawatan wajah Fira, membacanya lalu mengambil yang menurutnya biasa Fira pakai untuk membersihkan wajahnya saat malam. Salman kembali duduk di sebelah Fira.


Eh apa yang akan ia lakukan?


"Ini yang mana dulu yang dipakai ya?" gumam Salman sambil kembali membaca petunjuk pemakaian yang ada pada kasan alat kecantikan itu.


Sepertinya dia mau membersihkan wajahku. Okay kak. Silahkan.Malam ini aku akan menikmati facial ala Kak Salman


Salman membuka cleansing milk lalu mengeluarkan isinya dan menaruhnya di wajah Fira.


Ah banyak banget pakai cleansingnya. Bisa cepet habis donk.


"Terus diapain ya?" Salman kembali membaca petunjuk. " Ratakan ke seluruh wajah sambil dipijat perlahan. Mm perlahan ya."


Dengan sangat pelan, Salman meratakan cleansing milk ke seluruh wajah Fira.


Ini bukan pelan lagi tapi slow motion


Salman juga melakukan pijatan. Namun pelan versi Salman yang nota bene pria, pasti beda dengan pelan versi wanita.


Ini bukan pijatan pelan. Sudah kayak ditoyor toyor wajahku.


"Terus usap pakai kapas. Kapas. Dimana kapasnya." Salman celingukan mencari kapas. "Kan hanya untuk membersihkan saja, jadi nggak ada kapas, pakai tisue saja." Salman meraih tisue yang ada di nakas. Ia mengambil beberapa lembar lalu membersihkan wajah Fira dengan sangat hati-hati dan lembut.


Baik banget suamiku.


"Beri toner. Teteskan toner pada kapas lalu tepuk tepukan perlahan pada wajah. Kapas lagi. Tisue saja." Salman lalu menyemprotkan toner pada tisue hingga tisue itu basah lalu menepukannya ke wajah Fira.


Kalau pakai tisue yang ada tonernya ke serap tisue kakak. Tuh kan nempel deh.


"Eh, kok jadi nempel di wajah sih." Dengan telaten dan hati hati Salman membersihkan serpihan tisue basah yang menempel dan mengotori wajah Fira.


"Dah bersih." ucap Salman bangga. Ia lalu menunduk dan mengecup kening Fira. Ditatapnya wajah istrinya itu dari dekat. Dielusnya pipi Fira.Salman mengeratkan rahangnya.


"Kau tahu sayang, bagiku ini seperti mimpi. Dulu, aku hanya bisa menyentuhmu dalam hayalanku. Fira, aku tidak tahu mengapa sangat sulit bagiku melupakanmu. Bahkan meski aku menikahi Elsa, hanya kamu yang memenuhi hati dan fikiranku hingga aku tidak mampu melaksanakan kewajibanku tanpa bantuan obat." Salman menjeda ucapannya untuk menghela nafas.


Menggunakan obat. Obat apa maksudnya?

__ADS_1


Fira masih melanjutkan aktingnya. Ia ingin mendengar lebih banyak curahan hati Salman.


Sementara itu Salman masih mengelus pipi Fira sambil memandangi wajah lelap istrinya itu. Kini tangannya bergerak perlahan dan dengan ibu jarinya, ia mengusap dengan lembut bibir Fira.


"Namun bersamamu, aku tidak perlu menggunakan obat apapun. Keinginan untuk itu muncul tiap saat hanya dengan menatapmu. Kau pasti berpikir aku terlalu mesum, tapi mau bagaimana lagi. Kamu dah bagai candu buatku." Salman mengecup lembut bibir Fira. Bukan cuma sekali, ia mengulanginya dan ciumannya kini lebih menuntut. Dibukanya bibir Fira dengan ibu jari lalu dipagutnya dengan. penuh cinta dan kelembutan. Ia tidak tahu jika di bawah, tangan Fira mencengkeram sprei.


Ah..bagaimana ini? Apa aku pura pura terbangun. Atau tetap melanjutkan aksiku. Ck..niatnya mau ngerjain kenapa malah jadi begini . Eh apa yang akan ia lakukan lagi.Kenapa tangannya terus bergerak ke bawah.


Salman menarik turun resleting gamais Fira dan menyusupkan tangannya ke dalam. Ia mengusap lembut dan memainkan milik Fira yang sekarang sudah menjadi miliknya juga.


"Kamu ini tidur apa pingsan sih? Masak aku giniin nggak bangun juga. Ngak tahu kalau suaminya tersiksa ya?" bisik Salman.


Dia..dia.menghisapnya. Apa dia tahu kalau aku pura pura ya? Oh tubuh...bekerjasamalah. Jangan buat aku malu.


Fira merasakan hasratnya mulai bangkit karena sentuhan dan ciuman Salman. Ia ingin membalasnya namun ia malu kalau ketahuan pura-pura tidur.


Salman terus dengan kegiatannya. Tangan mulai liar dan menjamah apapun yang ia mau.


Jangan di situ...aku nggak kuat bertahan kalau tanganmu bermain di sana.


Fira hampir merasakan puncak kenikmatan karena ulah Salman saat tiba-tiba pria itu berhenti.


"Maaf sayang, aku akan menyelesaikannya sendiri di kamar mandi." bisiknya lalu ia mengecup Fira


Kalau aku membiarkan suamiku melakukan itu padahal aku bisa melayaninya, aku akan berdosa.Masa bodoh dengan malu. Rasa takutku pada murkaNya lebih besar dari rasa malu. Dan lagi, aku juga nggak mau berhenti di tengah jalan begini. Nggak enak tahu.


Salman hendak bangkit namun Fira mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan lakukan sendiri! Ada aku kak." ucap Fira dengan suara parau.


"Kau tidak tidur?"


"Maaf."


"Enak saja maaf, kau harus terima hukumanmu!"


Flashback off


Salman tersenyum lagi.


Ahh...apa ia pura-pura lagi. Boleh diukabg yang semalam.


Dan Salman melakukan rekonstruksi kejadian semalam namun kali ini Fira memang benar-benar lelap dan bukan sedang berakting.


Fira merasa dirinya sedang bermimpi bermesraan dengan Salman. Namun makin lama ia merasakan mimpinya itu makin nyata. Bahkan saat penyatuan, ia merasa benar-benar melakukannya. Akhirnya Fira terbangun dan betapa kagetnya dia melihat Salman sedang berpacu di atasnya.


"Kak..mm."


Bibir Salman membekap Fira hingga protes yang hendak keluarpun kembali masuk dengan terpaksa. Dan rekontruksi kejadian semalam berlanjut dengan paripurna.


...----------------...


Di tempat lain di waktu dan jam yang sama, Andre sedang bersitegang dengan Ami, istrinya.


"Mas, apa nggak bisa mengusahakannya?" rengek Ami. Rupanya ia sedang meminta uang pada Andre untuk biaya sekolah anaknya ya g notabene anak tiri Andre.


Andre menyunggar kasar rambutnya. Ia ingat, dulu Fira tidak pernah merengek rengek meminta uang padanya.


"Kau ini. Subuh saja belum datang, kau sudah meributkan masalah uang. Pagi begini kemana aku harus cari uang?" bentak Andre kesal. Ia yang sudah siap berangkat ke masjid, segera keluar meninggalkan Ami.


"Mas kan bisa pinjam ke orang-orang di masjid nanti? Ini persyaratan siswa baru. Harus dilunasi di awal atau dianggap mengundurkan diri. Hari ini batas akhirnya." rengek Ami lagi sambil mengikuti langkah Andre.

__ADS_1


Andre mengabaikan rengekan Ami. Ia mengambil motor dan menaikinya meninggalkan Ami yang menatap kepergiannya dengan segudang rasa kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2