
Keesokan harinya, aku masuk kerja seperti biasa. Tiba di kantor aku langsung masuk keruanganku. Tanpa aku sadari, Dewi ternyata mengikutiku.
"Lihat matamu!" kata Dewi sambil menarik bahuku hingga aku berputar menghadapnya.
"Apa sih wik?" tanyaku sambil memalingkan wajah karena aku tidak ingin Dewi melihat mata sembabku.
"Andre membuatmu menangis lagi? Sampai kapan kamu tahan hidup seperti ini. Iya hidup memang sebentar dan tidak abadi. Tapi kita punya pilihan untuk hidup bahagia atau susah." Dewi mulai berceramah.
Aku diam dan melangkah ke meja kerjaku.
"Kali ini apa yang ia lakukan?" cerca Dewi. "Jawab, Ra! Jangan hanya diam." seru Dewi saat aku masih setia dengan aksi diamku. Dia mengikutiku dan berdiri di sebelahku
"Ra!!" Dewi membentakku.
Aku mendongak dan menatap wajahnya. Airmataku mulai meluncur turun satu persatu, "Semalam, aku meminta kami untuk berpisah saja, Wik." jawabku dengan suara bergetar.
Dewi langsung memelukku. Kutumpahkan tangisku dalam pelukannya. "Aku gagal, Wik. Aku gagal menyelamatkan rumah tanggaku. Aku gagal menjadi istri yang baik, Wik."
Dewi semakin erat memelukku. Ia diam tanpa komentar dan hanya menepuk punggungku menenangkan. Saat aku dalam dekapan Dewi, aku mendengar ada yang membuka pintu ruanganku. Segera kuseka airmataku dan aku mendongak menatap pintu namun tiada siapapun di sana.
"Tadi siapa, Wik?" tanyaku.
"Nggak ada orang. Angin saja." jawab Dewi.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Dewi sudah melepaskan pelukannya. Dia lalu duduk di kursi yang ada di depan mejaku.
"Ini memang tahap tersulit dalam hidupmu. Tapi aku yakin, kamu akan kuat. Kamu wanita tangguh." hibur Dewi. Aku hanya tersenyum hambar. Detik berikutnya aku melihat ada pesan masuk ke ponsel Dewi dan Dewi membalasnya. Entah pesan dari siapa. Tak lama kemudian, ponselku juga bergetar. Ku lirik ada panggilan dari Alan. Aku mengangkatnya dan Alan memintaku ke ruangannya.
"Siapa?" tanya Dewi.
"Pak Alan. Dia memintaku ke ruangannya." jawabku.
"Ya sudah. Kesanalah. Aku juga mau balik ke tempatku. Eh tapi bersihkan dulu wajahmu. Jangan tampil acak acakan begitu di depan Bos." goda Dewi sambil mengedipkan matanya. Ku lempar dia dengan pensil yang ada di mejaku. Dewi berlalu dengan tawa yang menggema.
"Dasar." gerutuku. Tak urung aku tersenyum melihat tingkah konyol temanku yang satu itu.
Aku keluar dan berjalan menuju ruangan Alan. Ku tarik nafas beberapa kali sebelum aku mengetuk pintu ruangan Alan.
"Masuk!" terdengar suara bariton Alan yang menyuruhku masuk.
"Assalamualaikum, Pak!" ku sapa Alan dengar hormat karena ini di kantor.
"Tutup!" titah Alan tegas. Aku diam. Karena biasanya saat aku berada di ruangan Alan dan kami hanya berdua, aku tidak pernah menutup pintu ruangan Alan.
__ADS_1
"Tapi, Pak?" Jawabku protes.
Alan berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia menutup pintu bahkan menguncinya.
"Lan!" sergahku panik. Aku panik bukan karena takut Alan akan berbuat macam-macam. Tidak. Aku percaya pada Alan. Aku hanya tidak ingin mendatangkan fitnah. Dan terlebih lagi ini tidak baik.
Aku berusaha membuka pintu, namun Alan malah menarikku ke arah sofa.
"Lan!" seruku sambil menarik lepas tanganku dari cengkraman Alan.
"Duduk!" kembali Alan memberikan perintah tegasnya. Aku duduk.
Alan ikut duduk di sofa berseberangan dengan tempatku duduk.
"Apa yang membuatmu akhirnya memutuskan pisah?" tanyanya langsung. Aku kaget. Satu-satunya orang yang tahu aku memutuskan pisah adalah Dewi. Kenapa sekarang Alan juga tahu.
"Kamu tahu darimana?" kujawab pertanyaan Alan dengan pertanyaan juga.
"Tadi aku melihatmu menangis dalam pelukan Dewi." terang Alan.
"Oh, jadi yang tadi membuka pintu itu kamu. Tapi kenapa Dewi bohong." gumamku.
"Aku yang melarangnya memberitahumu."
Ya..tentu saja Dewi nurut. Alan yang nyuruh.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja keinginan itu muncul."
"Kau gila!"
Aku kaget dengan reaksi Alan.
"Kenapa? Selama ini kau selalu menganjurkan aku untuk pisah kan?"
"Iya. Tapi itu dulu sebelum surat promosimu turun. Ra, bertahanlah sebentar! Jika kau angkat kasus perceraianmu, itu akan mengurangi hasil penilaianmu untuk naik jabatan. Kau tahu kan abdi negara seperti kita sangat susah jika ingin mengurus perceraian. Kasusnya lama bisa berbulan bulan. Tidak segampang masyarakat sipil lainnya."
Aku menunduk.
"Bertahanlah sebentar lagi, ya! Jangan kau naikkan permohonan ceraimu ke kantor."
"Lalu aku harus bagaimana, Lan. Aku sudah terlanjur bilang ingin pisah. Jika aku tidak segera mengurusnya, Mas Andre akan berpikir kalau aku hanya menggertak saja."
"Ra, kumohon. Untuk saat ini jangan kau pikirkan Andre dulu. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Jika dia sudah tidak bisa kau pegang, lepas. Namun jangan sampai kau kehilangan karirmu juga. Setidaknya, salah satu harus sukses."
__ADS_1
Aku menunduk sambil meremas jemariku di pangkuan.
"Ra, tegarlah seperti sebelumnya." pinta Alan yang sudah pindah duduk di sebelahku. "Buat dirimu berharga. Agar jalan kita mulus kedepannya." bisik Alan lembut.
Aku menoleh,"Maksudmu?"
Kulihat Alan menghela napas. "Aku tahu sikap ibukulah yang membuatmu menahan perasaanmu padaku." Alan berkata dengan percaya diri kalau aku menyukainya. Dan hal itu membuatku terkesima hingga aku tak mampu berucap sepatah katapun.
"Jadi bertahanlah sampai kamu menempati posisi jabatan barumu. Baru kau urus perceraianmu. Aku akan membantumu. Dan setelah itu, kita bisa bersama."
Aku semakin melongo mendengar rencana Alan.
Disatu sisi aku setuju kalau urusan perceraianku akan berpengaruh pada proses promosiku dan memang harus ditunda. Tapi rencana setelah perceraian?! Aku ragu.
"Lan...tidak semudah itu. Setelah aku naik jabatan, tidak semudah itu ibumu akan menerimaku. Kau lupa kalau aku akan punya satu kekurangan yang nanti akan membuat jurang perbedaan kita semakin dalam?"
"Apa itu?"
"Aku janda dan kau perjaka." aku tersenyum hambar. "Ibumu pasti tidak akan mau punya menantu janda. Apa kata dunia? Kalau anak perjakanya menikahi janda. Seolah anaknya tidak mampu mendapatkan perawan." kataku.
Kutatap wajah Alan. Wajahnya nampak sedikit muram.
"Jadi kau memanggilku ke sini ada perlu apa?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya aku ingin segera keluar.
"Ra, jawab jujur. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Alan dengan sorot mata penuh harap.
"Lan, kau tak pantas bertanya seperti itu pada wanita bersuami." ucapku.
"Jawab saja, Ra!" Alan memaksaku.
"Baiklah. Tapi sebelumnya aku minta maaf kalau..."
"Stop!!!" Alan mengangkat tangannya. "Jangan lanjutkan. Aku sudah tahu."
Aku tersenyum lalu berdiri dari dudukku.
"So...karena nggak ada keperluan, aku boleh keluar?" tanyaku dan tanpa menunggu jawaban Alan, aku berjalan meninggalkan sofa menuju pintu.
"Ra, kalau kau sudah menjanda, bersediakah kau menungguku sampai aku menjadi duda?"
Pertanyaan Alan yang aneh itu mampu menghentikan langkahku. Aku berbalik dan menatapnya dengan sorot mata penuh tanya.
"Aku akan menikahi Anita, dan setelahnya aku akan menceraikannya."Alan memperjelas perkataannya.
__ADS_1
"Kau gila. Itu sama saja kau mempermainkan pernikahan yang suci Lan." kataku tidak setuju.
"Menurutmu bagaimana Anita akan menjalani hidupnya setelah bercerai? Pikirkan itu!" kataku tegas lalu kembali menuju pintu. "Dan ingat! Aku tidak suka pria yang mempermainkan wanita." tandasku sebelum keluar dari ruangan Alan.