Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Ryan Menghilang.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan suamimu?" Tanya Fira sambil menaruh sekeranjang buah yang tadi sempat ia beli untuk Mahira.


"Sudah membaik. Tadi dokter bilang saat visit, kalau besok sudah bisa pulang tapi harus rajin kontrol." Mahira menjelaskan.


"Mbak, kenapa dengan Kak Salman? Sakitkah? Lemes gitu?"


Fira langsung menoleh ke arah Salman begitu mendengar ucapan Mahira. Ia melihat Salman sedang duduk bersandar di sofa dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Dia tampak sangat kelelahan.


Fira mendekat, "Mas, kamu nggak papa kan?"


Salman membuka mata. Ia tersenyum.


"Nggak papa. Hanya sedikit ngantuk. Entahlah, belakangan ini aku suka ngantuk nggak jelas. Padahal malam tidurku juga cukup. Kalau sedang tidak.."


"Tidak apa?!" Sambar Fira.


"Tidak sedang kau ganggu." Salman terkekeh.


"Nggak kebalik?!" Fira mendelik.


Mahira tersenyum mendengar perdebatan mesra itu.


"Sudah jangan bawel. Aku mau tidur sebentar." Salman memindahkan kepalanya kepangkuan Fira.


"Mas, ini rumah sakit." Desis Fira.


"Hm..siapa juga yang bilang ini rumah hantu. Sudah diam. Aku ngantuk." Salman malah melingkarkan tangannya ke pinggang Fira dan membenamkan wajahnya pada perut istrinya itu. Fira tentu saja menjadi kikuk dan canggung karena ada Mahira dan suaminya.


"Sudah mbak. Nggak papa. Kasihan Kak Salman." ucap Mahira.


Mereka lantas mengobrol dengan suara lirih karena Salman sudah terdengar nafasnya teratur. Tanda kalau dia telah menyambangi alam mimpinya.


Tiga puluh menit berlalu namun Salman tak juga bangun. Paha Fira terasa kebas. Berkali-kali Fira melihat jam di dinding.


"Mas, aku harus kembali ke kantor." Fira mengguncang pelan tubuh Salman.


"Bentar lagi sayang." Tolak Salman dengan suara serak.


"Mas nggak enak kalau aku terlambat." Kembali Fira berbisik.


Salman menggeliat. Ia lantas bangun dan mengusap wajahnya. Fira menepuk-nepuk pahanya yang kebas.


"Maaf Rif, Ra, aku ngantuk banget tadi."


Arif dan Mahira tersenyum, "Nggak papa kak. Makasih dah nyempatin waktu jenguk aku." kata Arif.


"Ya dah. Kamu cepat sembuh. Nanti saat akan pulang hubungi aku atau mbakmu. Biar kami bisa menjemputmu." Salman bangun dari duduknya. Ia mengulurkan tangan membantu Fira berdiri.


"Ra, kami pamit dulu ya!" Fira memeluk adiknya.


Salman menyalami Arif lalu berbalik ke arah Fira dan merangkulnya. Membawa wanitanya itu keluar dari kamar.


Sepasang suami istri yang mereka tinggalkan menatap kepergian keduanya dengan sorot kagum.


"Baik banget Kak Salman." Puji Arif.


"Iya. Aku sampai sungkan. Entah bagaimana kita membalasnya."


"Doakan saja semoga mereka langgeng."


Mahira mengangguk.


"Ra, maaf ya aku tidak bisa memberikan seperti apa yang Kak Salman berikan pada mbak Fira." lirih Arif.


"Mas, rejeki itu sudah ada takarannya masing-masing. Mas Arif adalah suami yang bertanggung jawab. Aku sudah merasa sangat bahagia dengan kehidupan kita." Mahira mengelus lengan Arif lembut.


"Aku beruntung punya istri kamu, Ra." Arif memegang tangan istrinya lalu mengecupnya. Mahira mengelus pundak suaminya.


Fira sedang berjalan menuju ruangannya saat Dewi mengejarnya.


"Bu tunggu!"


Fira berbalik dan melihat Dewi berlari kecil ke arahnya.


"Ada apa?"


"Sebentar. Aku mengatur nafasku dulu." Dewi menarik nafas panjang beberapa kali hingga bisa bernafas dengan tenang.

__ADS_1


"Sudah. Mm.. aku mau nanya. Apa ibu tahu ada apa dengan Anita?"


"Memang kenapa Anita?" Fira beranjak menuju ruangannya dengan diekori Dewi.


"Tadi aku telepon. Aku kabari soal bos Alan tapi dia lempeng banget. Kayak nggak peduli gitu."


Dewi masuk dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Kalau mau tahu tanya saja pada orangnya, Wi."


"Yah...sama juga bohong. Kamu pasti tahu deh secara Anita itu deket banget bahkan ngefans sama kamu."


"Tapi sayangnya aku nggak mau memberitahumu. Gimana dong." Fira menyalakan komputernya dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Nggak asik ah." Dewi bangkit. Ia tahu jika Fira sudah ngomong seperti itu, percuma ia memohon. Nggak bakalan buka mulut.


"Permisi Bu." Dewi beranjak keluar. Fira menatapnya dengan senyuman.


Sore hari


"Lama menunggu ya, Mas?" Fira masuk dan mulai duduk di sebelah Salman.


"Lumayan." Jawab Salman lalu menggeliatkan badannya.


"Mas, belakangan sepertinya Mas beda deh. Kayak kesehatan Mas terganggu ya? Periksa yuk!" Fira menyentuh lengan suaminya dan menatap penuh khawatir.


"Nggak usah. Aku nggak papa. Hanya banyak kerjaan. Kita langsung jemput Ryan?"


"Iya. Tapi Mas, periksa ya! Biar tahu juga, dan biar aku tenang." Fira kembali membujuk suaminya.


Salman menoleh dan melihat betapa Fira benar-benar khawatir.


"Iya. Nanti aku periksa. Sudah ya, jangan khawatir begitu. Aku nggak akan mato muda lagi." seloroh Salman.


"Hush. Jangan ngasal kalau ngomong."


"Duh..yang takut jadi janda." Salman mencolek dagu Fira.


"Sudah ah. Aku nggak suka Mas Salman ngomong sembarangan." Mata Fira berkaca kaca. Ia membayangkan bagaimana kalau Salman meninggalkannya. Baru sebentar kebahagiaan menghampirinya dan ia tidak sanggup kalau harus kehilangan Salman.


"Sayang maaf. Aku cuma bercanda. Hei, sudah jangan nangis." Salman menarik Fira ke dalam pelukannya. Berada dalam pelukan Salman, tangis Fira malah pecah.


"Jangan bicara soal kematian lagi!" rengek Fira demgan suara serak.


"Iyaa.." Tapi sayang, bukankah kita harus senantiasa siap karena kematian bisa datang kapan saja." bisik Salman.


"Iya Mas. Tapi jangan diomongin begitu." Fira menarik tubuhnya. Ia lalu mengusao bekas airmata di pipinya.


"Iya. Maaf. Sudah ya jangan nangis lagi." Salman ikut mengusap bekas air mata Fira.


"Ayo kak! Nanti Ryan menunggu lama."


"Laksanakan Bu!"


Fira memukul lengan Salman. Berdua mereka tertawa.


Mobil Salman melaju santai.


"Ra!"


"Iya mas."


"Tadi kenapa bisa nangis?"


Fira cemberut karena Salman mengungkit hal yang membuatnya sedih.


"Ra?!" Salman memannggil karena Fira tak juga memberi jawaban.


"Mas Salman apa tidak sedih jika kata-kata itu keluar dari mulut Fira?"


"Sedih sih."


"Kenapa sedih?"


"Karena aku..Eh tadi aku yang bertanya. Kenapa malah aku juga yang harus menjawab?"


Fita tertawa lirih. "Alasanku sedih sama dengan alasanmu Mas." jawab Fira.

__ADS_1


"Bisa lebih dijelaskan?" pancing Salman. Ia begitu ingin memdengar ungkapan perasaan Fira.


"Itu..karena..aku takut kehilnaganmu Mas."


"Apa?Aku nggak dengar sayang. suaramu kecil sekali." Salman mendekatkan kepalanya sambil terua menatap jalanan di depannya.


"Aku takut lehilanganmu." Fira berteriak ke telinga Salman karena kesal Salman mempermainkannya.


"Aw...bisa tuli aku yang!! Kalau aku tuli, kamu harus menggunakan bahasa isyarat saat minta nanti." Salman mengelus telingan kirinya.


"Nggak paoa. Aku bisa." Fira puas bisa membalas suaminya.


"Oh ya? Nanti praktekin ya!!" Salman mencolek dagu Fira.i


"Ogah. Tunggu Mas Salman tuli."


"Amit-amit Pengen banget suamjnya tuli." kata Salman dengan wajah ditekuk.


"Astaghfirullah. Naudzubillah. Enggak mas. Bercanda." Fira menyender manja di lengan Salman yang sedang mengemudi.


Ya Allah, ampuni mulut hamba yanhlg sedang blong remnya.


"Tapi nggak paoa Ra. Kita berlatih bahasa isyarat. Kan bisa dipakai saat membutuhkan, misal kalau pas pengen terus ramai orang. Nggak mungkin juga kan aku akan bilang keras keras, sayang on in yuk, aku lahi pengen." Salman tergelak karena merasa lucu dengan kata-katanya sendiri.


"Dasar." Fira memukul lembut lengan Salman.


Mobil sampai di sekolah Ryan. Fira turun diikuti Salman.


"mau jempu Ruan Bu?" sapa satpam sekolah Ryan.


"Iya Pak. Belum keluar ya?" jawab Fira sambil mengarahkan tatapannya ke dalam sekolah Ryan.


"Sudah bu. Ryan juga sudah dijemput."


"Apa?!?" Fira dan Salman kaget.


"Siapa yang menjemputnya Pak?" tanya Fira khawatir.


"Seorang wanita. Tadi mengakunya tantenya Ryan."


"Mas." Fira menatap Salman


"Kenapa pihak sekolah ceroboh sekalk. Bagaimana kalau wanita itu penculik." gerutu Salman yang mulai kesal karena melihat Fira sedih.


"Yang, coba telepon mamanya!" titah Salman.


Fita berusaha menghubungi kakak iparnya Andre. Mereka mengobrol sebentar. Fira tidak menayakan soal Ryan tapi obrolan mereka menjurus ke Ryan.


"Mbak Mira nggak menjemputnya Mas. Siapa ya?"


"Mm Anita? Ryan nggak akan ikut kalau dia tidak mengenal wanita itu kan?"


Fira segera menghubungi Anita.


"Assalamualaikum Nit. Apa Ruan bersamamu?" tanya Fira.


"Waalaikimsalam. Nggak mbak. Ryan nghak ada di sini. Kenapa mbak?"


"Nggak papa. Makasih ya Nit. Maaf mengganggu." Fira mengakhiri panggilannya. Ia benar benar cemas.


"Mas, Anita nggak menjemput Ryan." Fira mulai terisak.


"Sayang tenang dulu ya." Salman mendekap Fira.


"Pak, bagaimana ciri-ciri wanita itu?" Salman berpaling ke arah Pak Satpam.


"Orangnya berjilban. Tingginya sama dengan ibu ini hanya sedikit gemukan. Kalau ibu kan ramping cantik." mata satpam tidak lepas fari Fira.


Mata Salman mendelik saat satpam iti justru memuji Fira.


"Pak, jaga pandangannya." Salman memasang badannya menutupi Fira.


"Ayo sayang. Kita pulang. Percuma, satpam ini sepertinya nggak bisa membantu kita." Salman mengamit bahu Fira dan membawanya pergi.


"Tunggu Pak. Saya baru ingat. Dia tafi datang bersama seorang pria juga dengan rambut agak ikal sepanjang ini." satpam iti menunjuk bawah telingannya.


"Andre!" seru Fira dan Salman bersamaan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2