Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Bunda, ayah bersama siapa?


__ADS_3

Alan menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang pagar rumahku.


"Terima kasih." ucapku. Alan mengangguk tanpa kata. "Lan boleh aku meminta sesuatu?" tanyaku sebelum turun.


"Katakan!" jawabnya pendek.


"Menikahlah!" kataku pendek. "Kasihan Bu Riya. Ia sudah tua."


Alan melengos. Ia tidak menjawab perkataanku.


"Ya sudah. Aku turun. Sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." gumam Alan. Setelah aku turun, ia langsung melajukan mobilnya menjauh dan semakin lama semakin tak terlihat.


Maafkan aku Lan, bukan aku tidak peka. Tapi kita beda. Kita tidak akan bisa bersama.


"Bunda!!!" ku lihat Ryan berlari dari kejauhan. Ia langsung memelukku.


"Ryan dari mana?" tanyaku heran melihat anakku ada di luar rumah.


"Dari rumah teman. Tadi ayah minta aku ke rumah teman sambil nunggu bunda pulang. Ayah ada perlu katanya." Ryan berceloteh dengan lancar.


Aku tersenyum tipis. Ku usap rambutnya lalu ku bawa anakku itu masuk.


"Bunda, Ryan lapar." kata Ryan sambil mengelus perutnya.


"Ryan belum makan?!" Anakku menggeleng.


"Tadi ayah buru-buru, jadi aku di suruh nunggu bunda kalau mau makan." katanya sambil mengekoriku ke dapur.


...Kupandangi Ryan dengan penuh rasa iba....


Maafkan bunda, nak. Kamu ikutan jadi korban.


Aku mengambilkan Ryan makan dan menemaninya. Ryan makan dengan lahap. Terlihat kalau dia memang lapar.


"Ryan? Ryan kalau misalnya di suruh memilih tinggal sama ayah apa sama bunda, Ryan pilih siapa?"


"Ryan nggak mau milih. Ryan mau tinggal bersama ayah dan bunda." jawabnya sambil mengunyah makanannya.


Aku diam. Ku elus kepalanya.


"Memangnya ayah dan bunda mau pisah ya? Kok Ryan di suruh milih?" mata Ryan menatap penuh tanya.


"Nggak. Lanjutin gih makannya, lalau sholat. Pasti belum sholat?"


Ruan mengangguk, "Iya belum." ia lalu kembali menikmati makan siangnya.


Ku tinggalkan Ryan di ruang makan. Aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian. Bayangan Mas Andre dan istri mudanya kembali memenuhi pikiranku.


"Ya Allah, ternyata aku masih belum bosa ikhlas. Masih ada rasa sakit ini." gumamku sambil berkali kali menarik nafas panjang.Saat itulah ponselku berbunyi.


Mas Andre mengirim pesan. Ia mengabarkan kalau malam ini tidak pulang karena ada kerjaan mendadak. Ia minta ijin karena memang hari ini jatahnya dia bersamaku.


Ya Allah Mas. Sampai kapan kamu akan berbohong.


Aku membalas pesan Mas Andre dengan jawaban singkat, "Ya."


Aku duduk di sisi ranjang. Mengingat semua yang terjadi, mengingat kata-kata Alan, nasehat Hakim dan adikku. Sungguh, membuatku bingung dan semakin gelisah.

__ADS_1


"Bunda, aku sudah selesai makan. Aku mau mandi, terus nungguin ayah datang. Tadi ayah janji sore ini kami mau main layang-layang di lapangan depan." kata Ryan ceria.


"Yan...ayah hari ini ada kerjaan mendadak. Ryan main layang-layangnya sama teman-teman Ryan saja ya." bujukku.


"Bunda..ayah tadi sudah janji. Nggak mungkin ayah bohong. Kan ayah selalu bilang kita nggak boleh bohong." Ryan kekeh pada keyakinannya kalau ayahnya akan datang.


"Ayah tidak bohong. Tapi ayah ada kerjaan mendadak." Aku mencoba menjelaskan.


"Kerjaan apa? Kan hari ini jadwal ayah libur. Bunda kan yang bilang ayah libur empat hari?"


"Baiklah..baiklah. Ryan boleh nunggu ayah, tapi kalau misal ayah tidak datang, Ryan janji nggak boleh kecewa dan sedih, ya! Ayah masih ada kerjaan."


Ryan mengangguk. Ia lalu berjalan ke kamar mandi. Sebentar kemudian aku sudah mendengar suara gemericik air dari dalam.


Malam harinya, hampir semalaman aku berusaha membujuk dan menghibur Ruan karena ia kecewa ayahnya tidak bisa pulang. Ryan bahkan menangis. Meski cukup lama, akhirnya anak itu bisa berdamai dengan rasa kecewanya. Ia akhirnya tertidur karena lelah.


Saat aku memandangi Ryan dalam lelapnya, bel rumahku berbunyi. Aku sedikit heran ada tamu malam malam. Soalnya rumahku jarang sekali kedatangan tamu. Ku pakai hijabku dan aku melangkah ke depan. Ku buka tirai jendela dan mengintip keluar. Ku lihat Alan berdiri di depan pagar.


Ku ambil ponsel dan menelpon Alan.


"Ada apa?" tanyaku.


'Ambil kunci motormu. Kau lupa tidak meninggalkannya. Jadi bagaimana bisa aku membawa motormu itu ke bengkel." oceh Alan setengah menggerutu.


"Ah maaf. Tunggu aku akan memberikan kunci motorku." jawabku lalu mematikan panggilan ponselku. Aku mencari ke dalam tas. Ketemu, ternyata benar kunci motorku terbawa pulang.


"Maaf. Nih!" aku menyodorkan kunci motor dari sela-sela pagar.


"Kau tidak menyuruhku masuk?!" tanya Alan. Ia membiarkan saja tanganku terulur tanpa mengambil kunci yang aku sodorkan.


"Maag, Mas Andre tidak di rumah soalnya." jawabku.


"Alan sudahlah!" kataku.


"Ra, aku tahu apa yang aku katakan inj salah bahkan mungkin aku berdosa mengatakannya. Ra, cerailah dari Andre lalu....."


"Alan cukup!!!" Aku tak ingin mendengar kalimat Alan berikutnya. Aku tahu apa yang akan ia katakan. "Lan, jika aku harus bercerai, bukan karena aku yang minya. Aku akan menerima jika Mas Andre yang menceraikan aku. Tapi aku tidak akan pernah meminta cerai, kecuali memang ada hal yang bisa membuatku mengubah keputusanku ini." kataku tegas.


"Dan apa hal itu?!" jawab Alan.


"Aku tidak tahu Lan. Biar semuanya Dia yang atur." Aku menjawab setengah bergumam. Kami masih bicara dengan dihalangi pintu pagar.


"Lan pulanglah. Nggak enak di lihat tetangga, bisa jadi fitnah." Aku mengingatkan Alan.


Alan mendesah lalu ia melangkah ke arah motornya. Ia tidak membawa mobil rupanya. Tak berapa lama kemudian, raungan motor balap Alan memecah kesunyian malam.


Keesokan pagi harinya, Mas Andre juga tidak pulang. Biasanya ia akan pulang sebelum aku berangkat kerja.


ting


Notifikasi pesan masuk.


Aku menyambar ponselku karena mengira itu dari Mas Andre, ternyata dari Alan.


Alan mengirim pesan kalau ia akan menjemputku. Aku bingung. Bagaimana caraku minta ijin kepada Mas Andre. Diantara kami ada kesepakatan, kalau pas ia bersama istri keduanya, maka aku tidak boleh menghubunginya. Untuk menjaga perasaan istrinya itu, begitu kata Mas Andre. Aku tidak keberatan, karena akupun tidak suka saat Mas Andre bersamaku, terus wanita itu menghubunginya. Namun apakah selama ini kesepakatan itu berlaku untuk kedua belah pihak atau hanya berlaku terhadapku, aku tidak tahu. Dan aku tidak memperdulikan itu.


Tapi saat ini aku butuh ijin suamiku untuk berangkat kerja baik akan bersama Alan atau naik angkutan. Namun bagaimana caraku minta ijin.


"Baiklah Mas. Lebih baik kau yang marah padaku daripada Allah yang murka." gumamku.

__ADS_1


Aku lalu mengirim pesan meminta ijin apakah aku boleh berangkat kerja bersama Alan atau naik angkutan saja.


Ku taruh ponselku dan aku mulai bersiap.


"Bunda, ayah masih nggak pulang?" Ryan masuk dan duduk di ranjangku.


"Sepertinya begitu. Ryan, sama budhe ya." kataku. Ku lirik wajah Ryan yang terpantul di cermin. Ia cemberut.


Sampai waktu berangkat ke kantor, aku belum menerima balasan pesan yang aku kirim. Pesan itu masih belum terkirim. Rupanya ponsel Mas Andre tidak aktif. Akhirnya aku memutuskan untuk naik taksi online bersama Ryan.


Aku mengajak Ryan menunggu taksi online di depan gerbang perumahan. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depanku. Mobil Alan.


Alan membuka pintu. "Naik!" titahnya.


"Maaf, Lan. Aku sudah pesan taksi online." jawabku. Ku lihat Alan malah turun dari mobilnya.


"Hai Ryan!" sapanya pada Ryan


"Hai Om." balas Ryan.


"Yan. Ryan mau naik taksi online atau bareng om?" tanya Alan. "Nggak boleh tanya bunda. Maunya Ryan sendiri apa"


Ryan yang hendak meminta persetujuanku menjadi urung. Ia kembali menatap Alan dan mobilnya bergantian.


"Ryan mau ikut mobilnya om." jawab Ryan. Senyum penuh kemenangan tercetak di wajah Alan. Meski ia memakai masker, aku bisa melihat kerutan di mata dan mata itu berbinar.


"Lan..bagaimana dengan taksi yang sudah aku pesan."


"Mana ponselmu?" Alan mengulurkan tangannya meminta ponselku.


"Untuk apa?" tanyaku sambil menahan ponselku.


"Cepat. Nanti kau juga akan tahu." Alan memaksa.


Dengan ragu ku serahkan ponselku. Ia mengetik sesuatu di sana kemudian setelah selesai, Alan mengembalikan ponselnya padaku.


"Kau tidak membatalkannya kan Lan? Kasihan lo." protesku.


"Nggak. Aku mengirim pesan agar ia langsung ke tempat tujuan setelah dari sini. Nanti aku bayar di kantor."


"Oh, bisa ya begitu." gumamku bodoh.


Alan tak menanggapi gumamanku.


"Ryan ayo naik!" kata Alan.


Ryan dengan semangat naik ke mobil Alan.


Alan melajukan mobilnya dengan santai. Ia bercanda dengan Ryan sepanjang perjalanan.


"Bunda itu ayah!" teriak Ryan tiba-tiba. Aku dan Alan menoleh ke arah yang ditunjuk Ryan. Kulihat Mas Andre sedang berdiri di depan tempat praktek seorang bidan.


Hatiku tiba-tiba sakit. Apa istri keduanya hamil. Tapi bagaimana bisa? Bukankah selama ini Mas Andre lah yang di vonis susah memiliki keturunan.


"Sudah. Nggak perlu dilihatin!" kata Alan. Kali ini Alan mengulurkan tangannya untuk memutar kepalaku agar tidak menatap Mas Andre dan istri barunya.


"Lan!" seruku karena tindakan Alan itu. Ia tidak berkomentar.


"Bunda, yang bersama ayah itu siapa?" tanya Ryan polos. Alu dan Alan saling menatap. Kami sama-sama bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ryan.

__ADS_1


__ADS_2