
"Alan?" gumamku saat membuka pagar dan Alan mendorongku masuk hingga tubuhku menabrak dinding lalu Alan mengunciku dengan kedua tanganya.
"Apa itu benar??" suara Alan penuh tekanan. Mata tajamnya menghujam
Aku mengangguk.
"****!!" Alan memukul dinding di sebelahku. Aku mengernyit ngeri.
"Lan..."Ucapku namun aku tidak sempat menyelesaikannya karena Alan mengangkat telunjuknya sebagai isyarat agar aku diam. Mata Alan masih menatapku dengan tajam. Rahangnya mengeras.
"Lan!." gumamku lirih. Aku takut dengan sikap Alan sekarang. Alan masih menatapku, lalu perlahan ia menarik kedua tangannya, kakinya mundur dua langkah. Ku lihay tetesan darah dari buku buku jemarinya.
"Semoga kau bahagia." ucapnya dan berbalik pergi. Sekilas aku sempat melihat mata Alan berair.
"Maafkan aku Lan. Lupakan aku. Aku tidak pantas untukmu." gumamku lirih sambil memejamkan mata. Semakin terpejam, semakin jelas bayangan wajah Alan yang terluka, tangannya yang berdarah dan mata Alan, mata itu berkaca-kaca.
"Maafkan aku." gumamku lagi.
Cup
Kecupan lembut dan dingin dikeningku membuatku membuka mata.
"Kak. Sejak kapan kak Salman datang?"
"Sejak tadi." Kak Salman tersenyum lembut. Tangannya mengusap pipiku. "Alan kemari ya?"
Aku mengangguk.
Mata Kak Salman lalu berakih ke dinding di sebelahku.
"Nanti akan aku bersihkan." ucapnya saat melihat bekas darah Alan menempel di dinding. "Ayo masuk!"
Kak Salman merengkuh bahuku dan membawaku masuk ke rumah.
"Kamu masih kepikiran sama Alan?"
"Kak, maaf. Bukan aku menaruh hati sama Alan hanya saja..."
"Iya,aku tahu." Kak Salman membawaku ke dalam pelukannya. "Hatimu sangat lembut sayang." Kak Salman mengecup pucuk kepalaku. "Sudah lupakan Alan!Bagaimana kita akan bulan madu kalau disini ada Alan?" Kak Salman menunjuk kepalaku dengan ujung telunjuknya.
"Kak sakit." rengekku manja.
"Sakit ya? Sini aku obati." Kak Salman lalu mencium kepalaku. "Mana lagi yang sakit? Ini?" Kak Salman mencium kedua pipiku. "Ini juga kah?" Kak Salman langsung mengecup bibirku.
__ADS_1
"Kaaak"
"Kenapa? Masih saki?" Kak Salman kembali mengecup bibirku. Kali ini lebih lama, lama dan mulai menyesapnya lebih dalam. Tangannya juga sudah mulai aktif.
"Haah."
Kami melepaskan nafas saat couman kami terjeda. Mata kami saling memandang dan tersenyum. Aku menunduk sambil memainkan kancing kemeja di dada kak Salman.
Kak Salman melepas penutup kepalaku dengan perlahan.
"Bulan madu yuk!" Ajaknya.
"Kemana?" tanyaku.
"Dekat sini saja." Kak Salman meloloskan jilbabku dan menaruhnya di kursi. Tangannya lalu melepas ikatan rambutku dan menggerai rambut panjangku. Ia ambil beberapa helai lalu diciumnya.
"Di dekat sini tidak ada tempat untuk bulan madu kak." jawabku.
"Ada." Kak Salman menarik tubuhku lebih dekat. Ia lalu menunduk dan menciumi leherku membuatku melenguh nikmat.
"Kaakk" desahku saat bibir kak Salman terus turun.
"Aw!" pekikku saat tubuhku tiba tiba terangkat.
Kak Salman menggendongku ke kamar dan meletakkanku dengan lembut di atas ranjang.
Satu jam kemudian, kami terbaring kelelahan sambil berpelukan.
"Jangan terlalu memikirkan Alan, ia akan baik-baik saja." Kak Salman mengelus punggungku.
"Kak Salam nggak marah kan?"
"Nggak. Buat apa aku marah. Kau sudah jadi milikku." Kak Salman mendekapku dengan erat hingga dadaku menempel di dadanya. Kulit kami saling bersentuhan.
"Kau menggodaku ya?!" tanya Kak Salman tiba-tiba.
"Hah?Apa?" aku bingung.
"Ini?Dadamu menekanku? Apa namanya kalau bukan menggoda?" senyum jail terukir di wajah tampan Kak Salman.
"Itu? Kakak kan yang menarikku." elakku.
"Nggak mau tahu. Kau harus bertanggung jawab." Dengan gerakan cepat Kak Salman memutar tubuhnya. Kini ia sudah berada di atasku.Matanya menatapku lembut, bibirnya masih tersenyum.
__ADS_1
"Eh..tapi...mmm." ucapku tenggelam dalam ciuman panjang Kak Salman. Dan kami kembali mengulangi bulan madu kami.
Pria ini, siapa sangka tenaga dan staminanya sekuat ini. Kalau dilihat orangnya kalem. Tapi jika sudah di ranjang, singa saja kalah ganas.
"Kak, sudah ya.." rengekku setelah kesekian kalinya kami main.
Dia tertawa. "Kamu harus banyak olahraga Ra."
"Bukan aku yang kurang olah raga, kak Salman tuh yang terlalu ganas." omelku
"Tapi kamu puas kan?"
Aku tertawa lirih. Tak bisa aku pungkiri memang aku sangat puas.
"Kenapa tertawa?"
"Nggak ada. Ngerasa lucu saja. Bulan madu kita ini unik. Dari ranjang ke kamar mandi kembali ke ranjang ke kamar mandi lagi."
"Mau gimana lagi. Istriku orang sibuk yang nggak bisa dibawa kemana-mana." keluh Kak Salman.
Aku kembali tertawa. Ku cubit perut Kak Salman hingga ia mengaduh lalu memegang tanganku.
"Mm mau dihukum lagi hah?" ancam Kak Salman.
"Ampun kak. Sudah..capek aku."
Kini ganti Kak Salman yang tertawa.
"Oh ya Kak. Soal suray nikah. Bagaimana bisa sih?Kakak belum cerita lo."
"Itu. Dewi dan Anita yang membantuku."
"Maksud kakak, mereka berdua yang kakak sebut kaki tangan kakak?"
"Iya. Dewi ambil berkasmu, lalu dikirm ke aku. Dan Anita yang selalu memantaumu dan mengirim info ke aku."
"Dasar mereka tuh ya..pengkhianat." gerutuku sambil tersenyum.
"Pengkhianatan yang menyenangkan bukan?"
"Iya sih."
Kak Salman tergelak. Ia mendekapku lagi.
__ADS_1
"Kaaakk..jangan mulai deh." rajukku saat kembali dadaku menekan ke tubuhnya.
"Sekali lagi ya?Lalu kita mandi dan sholat!" Bisik lembut kak Salman. Selesai berucap, tanpa menunggu persetujuanku ia kembali mengajakku terbang.