
Aku menunduk memandangi surat keputusan yang ada di pangkuanku. Aku menghela nafas menahan agar air mataku tidak jatuh lagi. Aku sedih bukan karena berpisah dengan Mas Andre. Aku sedih karena aku telah gagal.
"Masih sedih?" tanya Kak Salman.
“Wajar kan jika aku bersedih, Kak?” balasku.
“Wajar Ra. Tapi kalua terus menerus sedih jadinya nggak wajar.” Alan menimpali.
“Iya Kak. Kak Fira jangan sedih terus. Kak Fira nggak rugi kok. Kak Fira cantik, baik, mandiri, lembut, pasti nanti dapat pengganti yang lebih baik. Bukan begitu Kak Salman?” Anita mengedip pada Kak Salman.
“Hem.” Alan terbatuk lalu menegak minumannya sambal melengos.
Kak Salman hanya tersenyum. “Perceraian memang membawa luka, Ra. Aku juga sudah mengalaminya. Bagaimanapun, cinta atau tidak cinta, kita harus berpisah dengan orang yang telah menemani hidup kita selama ini. Kesedihan itu pasti terasa. Tapi ingat, hidup kita harus terus berjalan. Hidup kita tidak akan berhenti hanya karena ada orang yang pergi.”
"Aku harus bilang apa ke Ryan, Kak? Dia masih kecil." gumamku.
"Aku rasa Ryan akan baik-baik saja. Bukankah selama menikah lagi, Andre jarang pulang?" kata Alan.
"Iya sih. Tapi Ryan pasti akan kehilangan sosok ayah. Anak itu sudah tidak punya bapak dan sekarang ia harus berpisah dari ayahnya juga." kataku getir membayangkan nasib Ryan.
"Ada kami Ra. Aku dan Alan." kata Kak Salman.
"Ada aku juga, Kak. Aku akan sering main ke kakak deh biar kenal sama Ryan." ucap Anita ceria.
"Ryan butuh sosok ayah, bukan sosok emak. Ngapain kamu ikutan?" semprot Alan pada Anita.
"Kan aku bisa jadi temannya agar ia tidak terlalu memikirkan ayahnya. Benar kan Kak Fira?" Anita menatapku dengan senyum jenaka.
Aku terhibur melihat keceriaan gadis ini. Anita benar-benar baik. Sedikit lega mengetahui kalau pilihan Bu Riya untuk Alan adalah wanita yang baik.
"Boleh. Mainlah ke rumah!" jawabku.
"Tuh kan, Kak Fira saja mengijinkan." Anita berkata senang karena merasa menang.
"Ck." Alan kembali melengos dan menegak minumannya.
"Kalian kapan diresmikan?" Kak Salman mengubah topik pembicaraan.
"Siapa?Kami?" tanya Alan menegaskan pertanyaan Kak Salman.
"Iya. Kalian. Masak kami." jawab Kak Salman.
Mendengar kata kami dari mulut Kak Salman, aku langsung menoleh dan pandangan mata kami bertemu. Dadaku kembali berdebar. Aku langsung menunduk.
"Ih.. Kak Fira mukanya merah." goda Anita.
"Sudah. Jangan menggoda orang. Jawab tuh pertanyaan Salman." Alan menarik rambut Anita.
"Aw sakit kak." protes Anita. "Mmm kami nggak akan diresmikan karena kami hanya pura-pura." jawab Anita sambil nyengir.
"Kok bisa?!?" Aku dan Kak Salman bertanya bersamaan.
__ADS_1
"Jadi begini. Ayahku dan ibunya Kak Alan kan menjodohkan kami. Tapi aku dan Kak Alan masing-masing punya pilihan sendiri. Jadi sementara kami pura-pura mengikuti kemauan orang tua kami biar mereka tenang. Begitu." Anita menjelaskan.
"Kalian membohongi mereka?" tanyaku. Aku menatap tajam ke Alan.
"Bukan bohong, Ra. Kau tahu kan, nggak mungkin kami menikah tanpa cinta." Alan membela diri. "Lihat pernikahanmu dan Salman. Ya memang cinta bukan segalanya, tapi dalam pernikahan, cinta itu penting. Kalau aku tidak mencintai orang lain, aku bisa menerima Anita dan berusaha mencintainya. Begitu juga Anita. Karena masing-masing dari kami memiliki tambatan hati, jadinya yaaaa...beginilah."
"Bukankah kemarin kau bilang mundur." tanya Kak Salman dengan sedikit penekanan pada suaranya.
"Aku memang mundur. Tapi kan tidak bisa hilang begitu saja, Man." jawab Alan. Ada nada luka dalam suaranya.
"By the way, siapa sih cewek yang Kak Alan sukai?Aku jadi pengen ketemu deh." celutuk Anita.
Kami bertiga terdiam. Alan mengaduk minumannya lalu menyeruputnya. Kak Salman sibuk memotong steak yang ada di piringnya. Sedangkan aku, kembali membaca putusan sidang yang baru saja aku terima.
"Kok semuanya diam sih? Kalian aneh deh." Anita cemberut karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.
"Aku harus segera kembali ke kantor." Alan berdiri. "Kau mau pulang apa tetap di sini?" tanyanya pada Anita.
"Aku ada janji." jawab Anita pendek.
"Ya sudah. Hati-hati! Awas ketahuan!" Alan memperingatkan Anita. "Ra, Man, aku pergi dulu."
"Ya." jawab Kak Salman.
"Makasih Lan." jawabku.
Alan melambaikan tangannya dan melangkah meninggalkan kami.
"Ku kira Alan sudah menemukan tempat berlabuh, ternyata." gumamku.
"Ra!" panggil Kak Salman.
"Ya, Kak." Aku menoleh. Kami saling berpandangan.
"Selama masa iddah, ada kemungkinan Andre akan mengajak rujuk. Bagaimana kalau itu terjadi?"
"Kalau aku mau rujuk, buat apa aku menuntut cerai Kak." jawabku.
"Jadi?"
"Aku nggak akan rujuk." jawabku tegas.
Kak Salman tersenyum. "Habiskan makananmu. Kita pulang."
***
Hari pelantikan yang aku tunggu akhirnya datang juga. Aku sungguh penasaran dimana aku akan ditempatkan.
"Ryan! Cepat sayang! Nanti kita terlambat lo."
"Iya Bunda. Bentar lagi Ryan siap." sahut Ryan.
__ADS_1
"Sudah siap bunda." Pria kecilku itu berdiri dengan pakaian rapi. Aku mengusap kepalanya.
"Makin pintar anak bunda. Ayo berangkat!" ajakku. Kami keluar dan aku mengunci pintu. Saat membuka gerbang, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di dedap rumahku. Kaca mobil terbuka dan aku melihat.
"Ku kira aku salah alamat, kak." seru Anita dari dalam mobilnya.
"Anita! Ada apa kamu kemari?" tanyaku heran.
"Jemput kakak lah. Mau apa lagi. Masuk kak! Aku akan mengantar kakak. Bukankah hari ini hari penting Kak Fira?"
"Tapi Nit?"
"Masuklah. Nanti telat lo!"
Mendengar kata telat, aku tidak lagi banyak bertanya. Kukunci pintu gerbang dan bersama Ryan, langsung masuk ke mobil Anita.
"Darimana kau tahu alamatku dan pasti ada yang menyuruhmu menjemputku?" tebakku. Dalam pikiranku, pasti Alan yang menyuruh Anita.
"Tepat sekali. Kak Fira memang genius. Ada seseorang yang sangat mencintai kakak, yang ingin selalu menjaga kakak, dan selalu mengkhawatirkan kakak. Dia yang meminta bantuanku." jawab Anita berteka teki.
"Siapa, Nit?" tanyaku meski aku tahu jawaban Anita pasti Alan.
"Hehehehe...sayangnya aku dilarang bilang Kak. Bagaimana dong?" Anita terkekeh.
"Kau ini."
"Hai tampan! Kamu Ryan ya. Kenalin namaku Anita."
"Hai Anita." balas Ryan membuat Anita tertawa.
"Ryan, sebut tante Anita."
"Ih tante. Aku belum tua kali kak. Ryan, panggil saja Kak Anita. Jangan tante." protes Anita yang membuatku tertawa geli.
"Anita."
"Ya kak?"
"Mmm jangan tersinggung ya, kakak mau tanya. Kenapa kamu nggak berhijab?"
"Nah! Itu masalahnya kak." jawab Anita yang membuatku heran
"Kenapa?"
"Hehehe...aku mau belajar dari kak Fira, bolehkan?"
"Oooo jadi kamu menjemputku karena ada maunya?" godaku.
"Kan nggak papa kak. Simbiosis mutualisme," balas Anita.
Aku tersenyum. Berbincang dengan Anita yang periang membuat suasana hatiku membaik. Dalam hati aku berdoa agar Allah menumbuhkan cinta di hati Alan untuk Anita begitupun sebaliknya. Gadis ini benar-benar baik.
__ADS_1
***