Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Cinta Salman


__ADS_3

Akhirnya kami sampai di hotel tempat kami diklat. Alan turun dari mobil. Ia disambut oleh teman-temannya yang datang dari kota lain.


"Lan! Apa kabar?" tanya seorang pria seusia Alan.


"Baik!" jawab Alan. Mereka bersalaman bahkan berpelukan. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya padaku membuatku jengah. Reflek aku menarik tubuhku ke belakang Kak Salman.


"Dia siapa, Lan?" tanya teman Alan.


"Dia?" Alan menunjuk ke arahku. Teman Alan mengangguk. Alan lalu berbisik ke telinga temannya. Sedetik kemudian mereka tertawa.


"Selamat kalau begitu." pria itu kembali menyalami Alan. "Ayo!"


"Ra, aku duluan ya? Kamu bisa kan check in?" tanya Alan. Aku mengangguk.


"Man, makasih. Kita bertemu lagi nanti setelah diklat selesai." Alan menyalami Kak Salman. Ia lalu masuk sambil berangkulan dengan temannya.


"Ayo!" Kak Salman membawa koperku masuk ke resepsionis untuk check in.


Dengan dibantu Kak Salman aku check in dan mendapatkan nomor kamar.


"Ayo!" Kak Salman kembali mengajakku.


"Kemana?" tanyaku.


"Ke kamarmu lah." Kak Salman menggeret koperku melangkah masuk ke hotel.


"Kak! Aku bisa sendiri." Ku raih koperku dari tangan Kak Salman, tapi tidak berhasil. Kak Salman menepis tanganku dan meneruskan langkahnya. Ia berhenti di depan lift dan memencet tombol. Kami masuk saat pintu lift terbuka.


Dalam lift hanya ada kami berdua. Aku diam, Kak Salman juga diam. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


"Ra!" panggil Kak Salman.


"Ya kak?" tanyaku balik.


Kak Salman menghela nafas panjang. "Apa ada hubungan antara kau dan Alan?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.


"Astaghfirullah, Kak. Ya nggaklah. Alan itu atasanku di kantor dan seperti yang kakak tahu, aku dan Alan memang sudah akrab sejak SMA. Kami nggak ada hubungan apa-apa. Lagipula aku ini wanita bersuami kak. Nggak pantas menjalin hubungan dengan pria. Dosa." jawabku panjang lebar.


"Apa kamu pernah menyukai Alan?" kembali Kak Salman bertanya.

__ADS_1


Aku diam.


"Kamulah yang dulu aku sukai, kak"  batinku.


"Ra, kenapa diam? Kamu pernah menyukai Alan?"


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah menyukai Alan dalam arti khusus. Aku hanya menganggapnya sahabat. Nggak lebih."


"Tapi kamu tahu kan? Kalau Alan mencintaimu?" kali ini Kak Salman menatapku. Bahkan tubuhnya bergerak mendekatiku.


"Ya Allah, kenapa lift ini terasa lambat sekali." keluhku dalam hati. Lantai 5 terasa sangat jauh.


Lift berhenti, Aku bernafas lega. Saat pintu terbuka aku buru-buru keluar. Kak Salman mengikutiku. Kami kembali berjalan dalam diam.


"Ini kamarmu." Kak Salman lalu membuka pintu kamarku. Ia juga menyalakan lampu dan membawa koperku masuk.


"Ayo masuk! Kenapa masih di luar?" tanya Kak Salman dari dalam kamar.


Aku menggeleng. "Aku akan masuk kalau Kak Salman sudah keluar." jawabku.


Kak Salman tersenyum. Ia lalu meletakkan koperku di dalam dan keluar. Sebelum menutup pintu tangannya menyambar card key yang tadi ia gunakan untuk menyalakan lampu.


"Kak! Aku harus bersiap. Satu jam lagi pembukaan." Aku berusaha melepaskan tanganku dari pegangan kak Salman.


"Sebentar." kata Kak Salman. Ia membawaku ke lift lalu menekan nomor lantai paling atas.


Selama di dalam lift, Kak Salman tidak melepaskan tanganku meski aku terus meronta. Lift berhenti dan kak Salman menggandengku keluar. Ia membawaku ke rooftop hotel. Ternyata ada taman mungil yang cantik di rooftop hotel.


Kak Salman melepaskan tanganku dan memintaku duduk di kursi. Ia juga duduk.


"Ra, tolong dengarkan apa yang aku katakan ini. Jangan kau potong sampai aku selesai bicara dan jangan kau jawab sekarang. Aku tidak butuh jawabanmu sekarang." Kak Salman berhenti bicara dan menarik nafas. "Ra, aku mencintaimu. Sejak dulu...."


"Kak, Elsa..."


"Sudah kubilang dengarkan dulu!" sergah Kak Salman. 'Aku mencintaimu. Namun aku membuat kesalahan yang harus kutanggung seumur hidupku. Kesalahanku adalah aku lebih percaya pada apa yang Elsa katakan daripada pada perasaanku. Ra, aku menikahi Elsa karena dalam diri Elsa aku melihatmu. Kalian dulu selalu bersama. Saat aku tahu kamu menjalin hubungan dengan Alan, aku memutuskan untuk mencintai kenanganmu saja. dan Elsa adalah kenanganmu bagiku." Kak Salman diam.


Aku juga diam. Air menitik dari pelupuk mata Kak Salman. "Ra, maaf jika apa yang aku katakan ini menurutmu salah. Jika nanti ada kesempatan bagi kita untuk bersama, maukah kau menungguku Ra?' mata Kak Salman menatapku penuh harap. "Aku bukan pria yang tidak setia Ra. Aku setia dengan perasaanku padamu dan aku juga memperlakukan Elsa dengan baik, Aku tidak pernah mengkhinatinya. Pengkhianatanku hanyalah aku menyimpan cintaku padamu dalam hatiku, dan bukan padanya."


"Kak, Elsa sedang sakit. Tidak sepantasnya kakak berbuat begini." ucapku dengan suara parau menahan sesak di dadaku.

__ADS_1


"Aku tahu, Ra. Tapi aku nggak mau kalah lagi. Aku lihat Alan masih mengharapkanmu juga, dan peluang dia mendapatkanmu lebih dari aku. Alan single dan aku beristri. Tapi Ra, aku berharap, aku punya kesempatan yang sama. Elsa...penyakitnya sudah sangat parah dan dia tidak mau aku bawa berobat ke luar negeri. Dia sudah pasrah dan selalu bilang dia ingin menebus kesalahannya." Suara Kak Salman juga bergetar.


"Ya Allah. Ini apa? Suamiku sendiri mengkhianati cintaku dan mereka bahkan menunggu cintaku. Lalu aku?" 


"Kak, aku harus segera ke kamar. Aku nggak mau sampai terlambat." kataku sambil berdiri. Kak Salman mengangguk,. Ia tidak mencegahku. Ia larut dalam kesedihannya. Entah karena aku atau Elsa.


"Kak, Elsa akan baik-baik saja." ucapku sambil tersenyum.


Kak Salman membalasnya dengan senyum yang dipaksakan.


Kutinggalkan Kak Salman. Berbagai pikiran memenuhi kepalaku. Dari penghinatan Mas Andre, sikap baik Alan, lamaran Elsa dan sekarang ungkapan cinta Kak Salman.


"Ini godaan, Ra. Kau harus kuat! Tatap ke depan dan jangan goyah. demi dirimu dan Ryan." gumamku menguatkan diri.


Sesampainya di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk. Kurogoh tasku untuk mengambil ponselku. Mataku mendelik saat melihat panggilan tak terjawab sangat banyak dan semuanya dari Alan. Segera aku menelpon balik takut ada hal penting.


"Darimana saja kau?" kata pertama yang Alan ucapkan saat mengangkat telepon.


"Waalaikumsalam." sindirku karena Alan tidak mengucap salam.


"Hem. Assalamualaikum. Kau belum menjawab pertanyaanku?"


"Aku dari rooftop dan ponsel aku silent jadi nggak dengar kalau tuan besar Alan menelepon. Apa sudah jelas, tuan besar?".candaku agar Alan tidak marah-marah. Aku senyum-senyum sendiri setelah melontarkan kata-kata candaan itu.


"Sama Salman?" tanya Alan dengan nada tegas membuat senyum di bibirku langsung hilang. Mendengar nama Kak Salman di sebut, ada getaran halus di hatiku.


"Eee iya." jawabku pendek karena gugup.


"Ingat Ra. Salman suami Elsa. Kau tahu kan bagaimana rasanya kalau suamimu diambil orang, jadi jangan pernah punya pikiran buat mengambil Salman dari Elsa!" semprot Alan penuh amarah.


Aku kaget. Aku marah karena Alan sudah menilaiku serendah itu. Ingin aku memaki-makinya namun yang keluar dari mulutku adalah ucapan yang berbeda.


"Itu urusanku. Bukan urusanmu!"


Kuakhiri panggilan tanpa mengucap salam. Entah bagaimana reaksi Alan saat mendengar jawabanku.


...***...


Sambikl nunggu up, boleh kok baca karya author yang lain. Gratis tis tis tis.....

__ADS_1


Semoga terhibur


__ADS_2