Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Wanita itu


__ADS_3

Fira baru saja kembali duduk di kursinya saat ponselnya berdering.


Alan


"Assalamualaikum, Pak!"


"Waalaikumsalam. Dia masih di situ?" Alan tidak menyebut nama namun Fira tahu kalau yang ia maksud adalah Anita.


"Sudah pergi. Baru saja." Fira tidak mau berbicara banyak. Ia sudah merasa sangat bersalah menjadi akar penyebab kejadian di ruang meeting yang membuat Anita sampai menangis.


"Apa dia cerita padamu?" Alan bertanya mengambang.


Dari nada bicaranya sepertinya Alan nggak ingin aku tahu masalah mereka. Tapi aku tidak.boleh bohong juga kan.


"Kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan mencampuri masalah diantara kalian." Fira memberikan jawaban yang ambigu.


Apa maksudnya?Anita cerita apa tidak? Tapi dengan jawabannya itu, aku tidak bisa memaksanya untuk bicara karena dia menegaskan tidak ingin ikut campur.


"Baiklah. Terimakasih. Wassalamualaikum." Alan mengakhiri panggilannya.


"Waalaikumsalam." Fira menaruh kembali ponselnya ke atas meja.


Bip


Ponselnya kembali berbunyi.


Fira mengusap.layar dan ada notifikasi pesan dari Salman.


Makan siang aku jemput. Kita besuk ke rumah sakit. Takut adikmu butuh bantuan.


Fira tersenyum. Ia bahagia karena Salman menerima keluarganya secara utuh. Ia juga sangat perhatian pada kesusahan adiknya.


Iya Mas.


Fira masih tersenyum memandangi ponselnya saat Dewi masuk.


"Lihat apa sih bu? Seneng banget kayaknya?" Dewi kepo.


"Bukan apa-apa." Fira membalik ponselnya.


"Ck. Pelit amat. Paling juga dari Aa Salman." Dewi memainkan bibirnya saat menyebut nama Salman. Ia manaruh map di hadapan Fira. Fira tahu kalau Dewi datang untuk minta tanda tangannya.


"Sirik aja. Makanya cepetan nikah biar tahu indahnya dunia pernikahan." Fira mengetuk kening Dewi dengan bolpoin yang ia pegang. Fira lalu membuka map, memeriksa berkas sebentar kemudian membubuhkan tanda tangan di tempat yang disediakan.


"Kalau dapat suami setia macam Bos Alan dan Kak Salman, aku sih pengen banget nikah. Tapi takut dapat yang macam Si Andre. Hiii..ogah." Dewi begidik ngeri.


Fira sedikit berubah wajahnya saat Dewi menyebut nama Andre.


"Maaf,aku salah bicara ya." Dewi memukul mulutnya beberapa kali.


"Nggak. Semua wanita pasti memiliki harapan seperti kamu. Nggak ada wanita yang mau dikhianati atau diduakan. Memang sih kalau bisa sabar hafiahnya surga. Tapi poligami masih menjadi surga yang tak dirindukan oleh sebagain besar wanita. Karena memang sangat berat." Fira menghela nafas.


Aku saja baru mencoba beberapa saat sudah sangat menderita.


"Sudah. Jangan sedih karena masa lalu." Dewi mengelus tangan Fira. Ia benar-benar merasa bersalah telah tanpa sengaja mengungkit soal Andre.


"Siapa juga yang sedih karena masa lalu." Fira terkekeh geli melihat wajah bersalah Dewi.


"Wajahmu aneh." seloroh Fira.


"Ck. Kirain." Bibir Dewi mengerucut seba


"Eh, mau dengar cerita apa nggak?" Tanya Dewi.


"Kalau mau nggosip jangan di sini." tolak Fira sambil memeriksa beberapa berkas di mejanya.

__ADS_1


"Bukan gosip. Jadi ceritanya aku sama Atik, temanku hang jadi guru SMA, kemarin belanja ke supermarket. Kamu tahu kami bertemu dengan siapa?" Dewi berharap Fira penasaran.


"Enggak." jawab Fira cuek membuat Dewi kecewa.


"Ck. Kami bertemu dengan mantanmu dan selingkuhannya." ucap Dewi kesal.


Sudah kuduga.


"Kamu nggak ingin tahu kelanjutannya?" pancing Dewi.


"Enggak." Fira tetap cuek.


"Kamu nggak asik ah. Diajak ngobrol tuh perhatiin lawan bicaramu. Jangan sibuk sendiri." omel Dewi keki dengan sikap cuek Fira.


"Lha ini jam kerja kan? Bukan waktunya ngobrol." jawab Fira menatap Dewi.


"Iya, iya, jam kerja." Dewi manyun. Ia lantas bangkit. Sambil membawa berkas yang tadi ditandatangani Fira, ia melangkah ke arah pintu.


"Tapi tunggu. Aku tahu kamu nggak ingin tahu soal selingkuhan mantanmu, tapi karena aku baik hati aku akan memberitahumu. Gratis." Dewi berbalik dan menatap Fira yang masih sibuk memeriksa berkas.


Aku tahu, mungkin kau tampak sibuk tapi pasti telingamu bisa mendengar ucapanku.


"Atik mengenal baik wanita itu. Dia adalah mantan wali muridnya bahkan mantan istri dari paman suaminya. Mereka bercerai karena wanita itu ketahuan selingkuh. Dan yang lebih mengagetkan, wanita itu pernah menjadi pembantu di rumah mamanya Atik. Info selesai. Kalau mau tahu lebih banyak, kamu tahu dimana mencariku." Dewi berbalik, membuka pintu lalu keluar.


Fira menghela nafas panjang beberapa kali. Jujur, info dari Dewi mengagetkannya.


Sudahlah. Seperti apapun wanita itu tidak ada hubungannya denganku. Mas Andre sudah memilihnya dibanding aku dan lagi aku juga sudah memiliki suami yang baik. Nggak perlu mengurusi mereka lagi.


Bip


Notifikasi di ponsel Fira berbunyi. Salman mengirim pesan.


Aku sudah di depan.


Sudah jam makan siang rupanya.


Iya, aku keluar.


Fira paham kenapa Salman lebih memilih menunggu di luar daripada masuk dan mencarinya ke ruangannya. Salman tidak mau jadi bahan gosip pata staf di kantor Fira.


"Mau makan siang?" Alan lewat saat Fira keluar dari ruangannya.


"Eh iya."


"Mau makan siang denganku?" Alan berdiri di hadapan Fira.


"Maaf, Mas Salman menungguku di depan. Assalamualaikum."


Alan hanya menatap saat Fira melintas di hadapannya.


Setidaknya aku sudah berusaha.


Tanpa Alan sadari, Dewi menatapnya dengan iba dari kejauhan.


Bos, move on dong. Sedih banget lihatnya.


"Aku tahu." gumam Dewi lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon Anita.


"Hello Nit, kamu dimana?"


Dewi mengobrol dengan Anita.


"Yaaa..jadi kamu nggak bisa ke sini ya? Soalnya Bos Alan lagi melow kayaknya. Kesempatan buatmu menghiburnya. Jadi nggak bisa ya? Ya sudah lanjutkan. Bye Nit."


"Tumben si Nita lempeng. Biasanya semangat empat lima kalau sudah menyangkut Bos Alan. Ada yang aneh. Bukan Dewi kalau nggak bisa cari tahu."

__ADS_1


Dewi mengibaskan tangannya lalu melangkah keluar untuk makan siang.


Di halaman, Fira bergegas menghampiri mobil Salman yang sudah menunggunya di samping gerbang masuk kantornya.


"Assalamualaikum, Mas." Fira membuka pintu dan masuk. Belum sempat pantatnya menyentuh jok, Salman sudah menariknya.


"Kangen." Salman memeluk Fira.


"Mas, jangan di sini juga. Di lihat tan teman aku nanti. Malu." Fira mendorong tubuh suaminya yang semakin bucin akut itu.


"Mm jadi kita cari tempat yang aman bagaimana?" Salman kembali mendekat dan mengendus pipi Fira.


"Mas. Ke rumah sakit! Sekarang!" tegas Fira deng mata besarnya.


"Wuih. Jadi begini tampang Nyonya Salman saat sedang menunjukan kekuasaannya?" Salman terkekeh.


"Laksanakan Nyonya besar. Tapi bayarannya dobel ya!" Salman mencolek dagu Fira.


"Mulai deh. Gini banget ya punya suamj perhitungan." Fira mendengus.


Salman kembali tertawa.


Mobil terus melaju dan berhenti di depan sebuah kedai makan.


"Kita makan dulu sekalian bawain buat Mahira." Salman turun diikuti Fira.


Bergandengan tangan mereka masuk ke dalam kedai.


"Selamat siang. Mau pesan apa?" seorang wanita yang merupakan pegawai kedai menghampiri mereka begitu mereka duduk.


"Iga bakar empat porsi. Dua dimakan di sini dan dua lagi di bungkus." jawab Salman.


Mas Salman tahu apa yang pengen aku makan. Dia seperti bisa membaca pikiranku


"Baik pak."


"Minumnya jus jeruk dan jambu. Esnya jangan terlalu banyak, begitupun dengan gulanya. Jangan banyak-banyak gula."


"Baik, Pak. Mau nambah lagi, Pak?"


"Tidak. Cukup."


"Baik Pak.Mohon ditunggu kami siapkan pesanan bapak."


Wanita itu pergi.


"Sopan sekali dia." Fira memuji wanita pegawai kedai itu.


"Ya. Itulah kenapa aku suka makan di sini. Bersih dan orang orangnya sopan serta ramah. Makanannya juga enak."


"Mas Salman sering makan di sin?"


"Dulu saat masih di kota ini, sering. Bareng sama Alan."


Ironis sekali. Dulu aku aku menghemat,jadi kalau mau makan ke sini, mikir-mikir dulu. Sekarang.


Salman menyorot wajah sendu Fira.


"Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?"


Fira menggeleng lalu tersenyum.


"Bersamamu, nggak ada yang bisa membuatku nggak nyaman." lirih Fira.


Ucapan yang lirih itu ternyata membuat hati Salman menghangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2