
Mata Elsa tampak berbinar. Ia menggerakkan tangannya meraih ponsel dari tangan Bu Hera.
"Terima kasih." ucapnya lirih. "Masih ada satu permintaan, Ra. Berjanjilah kau akan memenuhinya juga!"
Tanpa berpikir panjang aku mengangguk. Dalam benakku Elsa pasti akan menitipkan Ardi, anaknya.
Elsa kembali tersenyum. "Permintaan keduaku, akan aku sampaikan sepulang berobat. Jika aku bisa sembuh, Ra. Berjanjilah kau tidak akan ingkar."
"Aku janji. Tenanglah. Berobatlah dengan tenang. Lalu pulanglah dalam keadaan sehat. Aku akan memenuhi apapun permintaanmu."kataku tulus.
"Terima kasih, Ra."
Wajah Elsa menghilang. Ia memutuskan panggilan. Aku duduk memikirkan keputusanku barusan. Menikah dengan Kak Salman?
Aku memijit pelipisku karena kepalaku tiba-tiba terasa pening.
Tok tok
"Masuk!"
"Bu, diajak bapak meeting."
Aku mengangguk. Ya, memang pagi inj ada meeting membahas anggaran tahun depan.
Aku masuk ruang meeting. Tak lama kemudian Alan tiba. Ia menatapku sebentar lalu duduk di kursinya.
Meeting berlangsung sekitar satu jam. Selesai meeting, aku kembali ke ruanganku. Ku cek ponselku yang sedari tadi bergetar terus saat meeting.
"Mas Ahmad, ada apa dia meneleponku sampai banyak begini?"
Aku merasa cemas melihat panggilan tak terjawab dari Mas Ahmad, kakak laki-lakiku yang tinggal di kota kelahiranku bersama ibu.
Aku hendak menghubungi Mas Ahmad, namun ia sudah meneleponku lagi.
"Assalamualaikum, Mas! Ada apa? Ibu baik-baik sajakan?" Aku langsung menanyakan keadaan ibuku. Aku khawatir kesehatan beliau menurun. Sejak mengetahui perceraianku, ibu sangat terpukul. Beliau jadi sering sakit.
"Ibu baik. Bahkan saat ini beliau sangat bahagia mendengar kabar kalau kamu akan menikah lagi." jawab Mas Ahmad mengagetkanku.
"Menikah lagi?"
"Iya. Bu Hera sudah menelepon Mas. Dan menyampaikan kalau kamu sudah bersedia menikah dengan Salman."
"Oh...maaf Fira belum bilang soalnya tadi ada meeting mendadak."
Kenapa Bu Hera mengabari keluargaku.
"Tidak apa apa. Mas menelpon hanya ingin memastikan, apa kamu beneran mau diperistri Salman?"
"Aku sudah berjanji pada Elsa, Mas. Kalau aku mau menikah dengan Kak Salman."
"Ra, jangan melakukannya karena terpaksa. Tanya hatimu, benarkah kamu mau diperistri Salman."
Bertanya pada hatiku. Hatiku bilang...
__ADS_1
"Ya, Mas. Aku mau."
"Baguslah. Sudah cukup buat Mas. Ya sudah, mas tutup ya. Baik-baik kerja."
"Iya Mas."
Aku menaruh ponselku lalu duduk bersandar. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat.
Kenapa hari ini terasa berat.
Aku memejamkan mata.
Kak Salman. Dulu aku sering mencuri lihat kalau dia sedang duduk di depan kelasnya. Kelas kami berhadapan. Aku selalu duduk dekat jendela agar bisa melihat Kak Salman. Pria paling tampan di sekolah. Sebenarnya banyak sih yang tampan, termasuk Alan. Tapi Kak Salman beda. Ia tidak tebar pesona. Bahkan cenderung cuek pada wanita. Dia hanya tertarik dengan olah raga. Tapi semakin ia cuek, semakin banyak cewek penasaran dan mulai mengejar cintanya. Dan akhirnya banyak yang kecewa. Aku memang mengagumi Kak Salman, bahkan sudah jatuh cinta. Tapi aku tetap diam, tidak berani mendekat hanya memandangnya dari jauh. Sampai akhirnya aku bisa berkenalan dengannya saat Alan mengajaknya ke rumahku. Sejak saat itu, Kak Salman selalu menyapa tiap kali kami berpapasan di sekolah. Bahkan kami seringkali kebetulan naik bis yang sama saat berangkat sekolah.
Aku tersentak dari lamunan masa lalu saat ponselku kembali berdering. Video call dari Elsa lagi.
Aku mengangkatnya, tapi anehnya bukan wajah Elsa yang muncul melainkan sebuah pemandangan yang membuatku bingung. Aku melihat Kak Salman berpakaian rapi dan mengenakan peci duduk di depan seorang bapak bapak yang sepertinya sedang memberikan wejangan pada Kak Salman.
Kak Salman mendengarkannya dengan penuh khidmat, sesekali ia mengangguk.
"Sa!"
Elsa tidak menjawab panggilanku. Ia masih mengarahkan kamera ponselnya ke arah Kak Salman berada. Bapak itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kak Salman
Aku memasang telinga agar bisa mendengarkan apa yang mereka ucapkan. Gambar Kak Salman dan bapak-bapak itu makin lama makin dekat dan suaranya juga terdengar jelas. Rupanya Elsa mendekati mereka.
"Saudara Salman Bin Abdullah saya nikahkan dan kawinkan anda dengan Hayati Nur Zafira binti Abdurahman dengan mas kawin seperangkat perhiasan senilai 100 juta tunai!"
"Bagaimana saksi?Sah?"
"Sah!"
"Bagaimana saksi dari mempelai wanita." tanya bapak-bapak yang duduk di depan Kak Salman pada ponsel yang di pegang oleh pria di sebelah Kak Salman.
"Sah!"
Mas Ahmad. Itu suara Mas Ahmad.
Aku terbengong melihat kejadian yang ditunjukan Elsa lewat layar ponsel.
Kak Salman sudah menikahiku.
Mereka di sana sedang khidmat melantunkan doa.
"Ra!" kini wajah Elsa yang tampak di layar. "Selamat atas pernikahannya." Elsa tersenyum namun di matanya aku bisa melihat kesedihan.
"Sa." ucapku lirih. Aku tidak tahu harus berkata apa. Syok..sudah pasti.
"Ra, siang ini juga aku akan terbang ke Singapura. Jangan lupa janjimu."
Aku mengangguk. "Semoga kau sembuh Sa."
"Kau tidak takut saat aku sembuh lalu meminta Kak Salman lagi darimu?" tanya Elsa
__ADS_1
"Hah!"
Elsa tertawa lalu mengakhiri panggilan.
Menikah. Aku sudah menikah lagi. Kini aku adalah istri Kak Salman. Perasaanku campur aduk.
brak
Pintu ruanganku dibuka dengan keras. Alan berdiri di sana dengan tatapannya yang aneh.
Apa dia tahu pernikahanku.
Mata Alan memerah dan berair. Ia masuk lalu menutup pintu dan langsung berjalan mendekatiku. Di tariknya tanganku hingga aku berdiri. Alan lalu memelukku dengan erat.
"Lan!" aku berusaha melepaskan diri dari Alan tapi tidak bisa. Pelukan Alan sangat kuat bahkan aku sampai sesak.
"Jangan dorong aku, sekali ini saja. Lalu aku akan berusaha melupakanmu." suara Alan bergetar. Aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bahuku. Bahuku terasa basah.
Alan menangis
Aku menelan ludah. Pelan aku mengangkat tangan dan menepuk punggung Alan.
"Kau kenapa? Tolong lepaskan aku. Aku tidak bisa nafas." kataku tersengal.
Alan melepaskan pelukannya. Ia mengusap matanya.
"Aku akan menikahi Anita. Ibu berbuat nekat. Ia tahu kami membohonginya dan juga soal penyakitku. Ia tahu kalau aku bohong soal.penyakitku. Saat ini ia sedang di rawat karena mengiris pergelangan tangannya. Dan ia mengancam bisa melakukan lebih jika aku masih menolak perjodohan ini."
Alan tampak sangat tertekan.
"Lakukan demi ibumu. Aku yakin, pilihannya tepat. Anita gadis baik Lan. Kau pasti bahagia."
Alan tersenyum getir.
"Aku mencintaimu Ra." kata Alan lalu tertawa lirih, "Aku tahu percuma mengutarakan perasaanku. Tapi aku ingin mengatakannya. Untuk terakhir kalinya sebelum aku menjadi milik wanita lain. Hayati Nur Zafira, aku mencintaimu. Dari kita SMA, aku sudah mencintaimu."
Alan berusaha meraih tanganku, tapi aku mengelak. Aku ingat sekarang aku istri Kak Salman. Aku harus menjaga diri. Aku mundur dan menjauhi Alan.
"Sebenci itukah kau padaku Ra, hingga ku sentuhpun kau tak mau." Alan tampak kecewa.
"Aku tidak membencimu Lan. Kau teman terbaikku. Kau selalu ada saat aku butuh bantuan. Untuk itulah aku tulus mendoakan kebahagiaanmu." kataku sungguh-sungguh.
Alan tersenyum lagi. Senyum yang dipaksakan. Senyum penuh kesedihan.
"Ra, bisakah kau memenuhi satu permintaanku!" pinta Alan.
Kenapa hari ini banyak sekali permintaan.
"Aku tidak tahu Lan apakah aku bisa atau tidak. Katakan saja, kalau aku bisa aku akan memenuhinya." jawabku.
"Ra, mungkin ini terdengar gila. Tapi, bolehkah aku menciumu?"
****
__ADS_1