Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Pertemuan di Supermarket


__ADS_3

'Yank, Bu Riya masuk rumah sakit ya?" tanya Kak Salman selesai kami jamaah.


"Kok Kak Salman tahu?Ah Dewi ya?" tebakku.


"Ya, ia memberitahuku. Sebenarnya tadi aku menanyakan Alan, ia menjawab kalau Alan sedang jagain Ibunya di rumah sakit. Kok kamu nggak jenguk ibu bosmu lagi sakit."


"Sebenarnya sejak kemarin pengen jenguk tapi..."


"Takut?"


"Bukan takut sih, hanya nggak nyaman saja kalau bertemu Bu Riya."


"Ya sudah. Bagaimana kalau sore ini kita jenguk beliau sekalian nanti jemput Ryan?"


Aku menatap ragu ke arah Kak Salman.


"Kenapa? Masih enggan? Kan ada aku. Kita bisa mengabarkan pernikahan kita pada Bu Riya." Kak Salman mengelus rambutku yang masih agak basah.


"Justru itu, kak. Aku nggak enak kalau datang sama Kak Salman karena.."


Apa aku harus cerita kalau Bu Riya pernah melamarku untuk Alan dengan syarat kalau aku harus mau dipoligami.


"Karena apa?"


"Kak..janji jangan berpikir yang macam-macam ya! Aku mau cerita."


Kak Salman mengangguk. Ia lalu melingkarkan tangannya di pinggangku dan menaruh kepalanya di bahuku.


"Wangi banget." Kak Salman mengendua leherku membuatku kegelian.


"Kak ish jadi cerita nggak nih?"


"Ceritalah. Aku mendengarkan kok." katanya lalu bibirnya kembali menyusuri leherku


"Kak, bagaimana bisa dengar kalau Kak Salman ngelakuin itu."


"Bisa. Wong aku mendengar pakai telinga. Lagian yang kupakai menciumimu kan bibirku, bukan telingaku" belanya nggak mau kalah.


"Terserah kakak deh." Aku mengalah membiarkan Kak Salman melakukan apa yang ia suka dan akhirnya akupun bercerita dengan suara terbata-bata karena perbuatan Kak Salman.


"Jadi intinya, Bu Riya pernah memintaku untuk menikah dengan Alan. Aw...sakit Kak." seruku saat ku rasakan gigitan Kak Salman di leherku.


"Habis aku kesel dengan ceritamu. Kenapa kamu mau."


"Eh siapa yang mau. Aku nggak bilang mau."


"Iya, tapi juga nggak menolaknya kan?" Kak Salman berdiri dan menjauhiku.


Ngambek nih.


Aku berdiri dan langsung memeluknya dari belakang.


"Kak Salman marah?" bisikku. Ia diam


"Maaf. Tapi aku kan sekarang sudah jadi istrimu." bujukku


Kudengar ia menghela nafas. "Tapi kau tidak menolak permintaan Bu Riya. Itu tandanya kau juga suka sama Alan."


Ku putar tubuh Kak Salman hingga menghadapku. Aku berjinjit dan mengalungkan tanganku di lehernya lalu kusambar bibirnya yang sedang cemberut itu. Mata Kak Salman membesar.


"Hanya kamu yang dihatiku Kak." bisikku.


Mata Kak Salman yang semula marah tampak meredup Ia menatapku dengan lembut. Diangkatnya tubuhku. Ku lingkarkan kakiku kebadan tegapnya. Kami lalu berciuman.

__ADS_1


"Aku butuh bukti." ucap Kak Salman lalu mulai merebahkanku lagi di ranjang.


"Kak, kan tadi sudah banyak buktinya." protesku.


"Masih kurang." sergah Kak Salman mulai menarik lepas pakaianku.


...***...


Aku duduk di depan cermin dengan wajah kutekuk.


"Nih bibir minta di kuncir ya?" goda Kak Salman sambil menowel bibirku yang cemberut. Aku sangat kesal. Badanku sudah capek semua, perih dan ngilu. Kak Salman benar-benar overdosis. Dari pagi hingga menjelang Ashar kami hanya melakukan hal itu. Berhenti u tuk sholat dan makan lalu ia akan mulai lagi.


"Kenapa?Marah?" tanyanya lembut.


Dia paling tahu kelemahanku nggak bisa mendengar suara lembutnya yang langsung membuat amarahku menguap.


"Kak, hari ini cukup ya. Aku capek, benar-benar capek." rayuku.


"Iya, iya." ia mengelus rambutku yang masih basah."Sini ku bantu keringkan." Kak Salman mengambil hair dryer lalu mulai mengeringkan rambutku.


"Kita jenguk Bu Riya ya!" pintanya lagi.


"Ya." anggukku.


Kak Salman denhan telaten mengeringkan rambutku lalu membantu menyisirnya.


"Dah selesai." ucapnya.


"Makasih, Kak." sahutku.


cup


"Kakak!" pekikku saat Kak Salman kembali menghisap leherku.


"Upah!" ia terkekeh lalu keluar dari kamar, "Cepat gantinya ya!"


"Lama amat!" Kak Salman kembali membuka pintu saat aku melepas bajuku.


"Kak!" teriakku kaget. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan gamis yang ku pegang.


"Ra, aku suamimu. Nggak usah malu begitu." Kak Salman malah masuk.


Ia memandangiku tubuhku membuatku gugup.


"Kak keluarlah. Aku mau ganti baju."


"Ganti saja Ra." Kak Salman duduk dibibir ranjang sambil terus menatapku.


Bagaimana ini, masa bodoh ah toh kami suami istri.


Aku akhirnya melepas pakaianku di depan Kak Salman dengan posisi memunggunginya.


"Niat banget menggodaku." Kak Salman memelukku dari belakang dan langsung menyecap punggungku dengan bibirnya.


"Kak, please!" rintihku memelas.


"Iya. Aku hanya ingin membantumu berpakaian." ucapnya lalu melepaskan pelukannya. "Nanti malam saja." lanjutnya


Apa?!?!Nanti malam mau minta lagi.Nih orang nggak ada matinya.


Aku mempercepat acara berpakaianku. Kak Salman yang bilangnya membantu malah merecoki dengan menggodaku . Ia membelai setiap inchi tubuhku yang ia lihat.


"Akhirnya." Aku bernafas lega saat berhasil berpakaian dengan sempurna. "Bagaimana kak?" tanyaku meminta pendapat Kak Salman.

__ADS_1


"Cantik!" pujinya. Ia lalu mendekat, "Tapi lebih cantik kalau nggak pakai apa-apa."


Aku langsung mencubit perut Kak Salman hingga ia berteriak kesakitan.


"Rasain. Rese sih." omelku.


"Awas. Aku akan menuntut balas." ancam Kak Salman yang membuatku begidik.


Kak Salman mendorong motorku keluar dari pagar. 'Ra sebaiknya kita beli mobil deh." kata Kak Salman.


"Buat apa kak?"


"Ya kan sekarang kamu nggak hanya berdua sama Ryan, ada aku. Jadi kalau jalan jalan enak pakai mobil. Ryan tambah besar,nggak mungkin kan kalau selalu dibonceng di depan." jelas Kak Salman.


"Tabunganku nggak cukuo Kak."


Kak Salman menyentil keningku. "Kau pikir aku apa? Nggak mungkinlah aku menyuruhmu beli sendiri. Aku suamimj. Aku yanh akan beli buatmu."


Aku terdiam. Ya, Kak Salman beda dengan Mas Andre. Dulu Mas Andre selalu menyuruhku beli ini itu dengan uangku. Tapi Kak Salman tentu nggak demikian.


Astaghfirullah. Kenapa aku jadi membandingkan mereka. Jelas beda lah, Kak Salman kan pengusaha.


"Malah bengong. Ayo naik!" titah Kak Salman mengagetkanku. Aku segera naik ke boncengan di belakang Kak Salman.


"Pegangan! Jangan sampai jatuh!" Kak Salman menarik tanganku dan melingkarkan diperutnya.


"Kak, dilihat tetangga. Mereka belum tahu kalau kita suami istri. Nggak enak." ucapku menarik tanganku.


"Ok, tapi nanti di jalan, peluk ya." pinta Kak Salman.


Aku tersenyum lalu mengangguk. Kak Salman melajukan motor kami dengan perlahan.


"Ra, belanja dulu ya! Buat oleh-oleh Bu Riya."


"Iya Kak."


Kak Salman mengarahkan motor memasuki plataran sebuah supermarket terbesar dikotaku. Aku turun melepas helm. Kak Salman mengambil helmku dan menaruhnya di sepeda.


"Kamu masuk dulu. Tunggu aku di dalam. Aku mau ambil uang."


Aku menuruti perintah Kak Salman dan meninggalkannya untuk masuk lebih dulu ke dalam supermarket. Aku berdiri menunggu di dalam dekat pintu ke supermarket. Mataku melihat lalu lalang pembeli yang keluar masuk.


"Ada janda nih." sebuah suara yang sangat aku kenal mengagetkanku. Reflek aku menoleh dan kulihat Mas Andre bersama istrinya sedang menatapku dengan pandangan mencibir. Aku membuang muka kembali melihat ke arah luar tanpa mempedulikan kedua makhluk yang telah meluluhlantakan hidupku itu.


"Ngapain berdiri di situ?" kata Mas Andre.


"Masak Mas nggak ngerti sih, ya lagi memajang diri lah. Siapa tahu laku." timpal istrinya membuat telingaku memanas.


Sabar Ya Allah. Beri hamba kesabaran. Kak Salman segeralah datang.


"Begitu ya. Pasti laku, aku juga mau beli kalau memang dijual." ejek Mas Andre.


Tanganku mengepal menahan marah. Ingin rasanya aku menampar mulut usil mereka. Beruntung Kak Salman segera datang.


"Lama amat sih Kak?" Aku langsung menyambar lengan Kak Salman dan menggandengnya dengan mesra. Sekilas kulirik kedua mahkluk usil itu. Ku lihat wajah Mas Andre terbengong.


"Kenapa?Baru juga ditinggal sebentar dah manja saja. Apa jangan-jangan sudah isi. Kan aku seharian lembur tadi." canda Kak Salman membuatku tertawa.


"Ayo sayank. Kita belanja yang banyak. Aku mau menghabiskan uangmu." ku keraskan suaraku agar kedua orang itu mendengarnya


Kak Salman mengusap kepalaku lalu mengecupnya. "Apapun untukmu sayank." jawab Kak Salman. Ia lalu mengambil troly yang besar dan membawaku masuk sambil mendorong troly.


Rasain. Aku bisa mendapatkan yang lebih baik darimu Mas. Jaga mulut usilmu itu kalau kamu nggak mau aku buat malu.

__ADS_1


...****...


Andre usil karena kecewa tuh dicerai sama Fira. Sudahlah Ndre, terima akibat perbuatanmu.


__ADS_2