Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Perjanjian Salman dan Andre


__ADS_3

"Aku memang sedang mengalami kesulitan. Sebenarnya ini bukan masalahku tapi masalah keluarga istriku. Jadi rumah yang sekarang aku tinggali bersama istriku itu rumah keluarga dan terancam disita bank. Adik iparku yang menjadikan rumah itu sebagai anggunan di bank. Dia tidak mampu membayar dan rumah kami terancam diambil bank."


"Bukankah adik iparmu yang berbuat? Kenapa kau yang bingung mencari uang?"


"Karena aku juga tinggal di sana dan.."


"Istrimu yang memaksamu." Salman memotong perkataan Andre.


Andre diam karena tebakan Salman tepat.


"Ndre. Kuberitahu ya. Rumah itu rumah keluarga istrimu. Bagaimanapun kamu tidak ada hak atas rumah itu. Maksudku begini. Umur manusia kan tidak ada yang tahu. Misalnya, istrimu itu dipanggil dulu maka bukan mustahil kamu akan diusir dari rumah itu karena kamu orang luar."


Salman menjeda perkataannya. Ia mengamati Andre yang tampak mulai menimbang ucapannya.


"Saranku, gunakan uang yang akan aku berikan nanti untuk beli rumah. Jadi jika ada apa-apa dengan istrimu kamu tidak akan terusir."


"Tapi kalau terjadi sesuatu denganku?"


"Ya sebagai istri, dia akan dapat warisanmu. Pikirkan baik-baik!"


Andre diam. Wajahnya serius. Alisnya bertaut.


Ucapan Salman ada benarnya. Lagi pula aku tidak punya rumah. Jika ada apa apa dengan pernikahanku, aku tidak punya tempat pulang.


"Baik. Aku terima saranmu. Tapi uang 100 juta hanya bisa untuk dp rumah."


"Ya. Dengan depe sebesar itu kamu tinggal mengangsur sisanya dan tidak akan terlalu besar."


"Gajiku kecil." Pelan sekali suara Andre, namun Salman masih bisa mendengarnya.


"Apa kau mau bekerja padaku?"


Andre langsung menatap Salman kaget. Ia tidak mengira kalau Salman akan menawarinya pekerjaan.


"Kau tahu siapa aku kan? Aku mantan suami dari istrimu." Andre menegaskan.


"Tahu. Justru itu aku ingin menjalin hubungan baik denganmu. Sudahilah permusuhan yang tidak ada gunanya. Manusia hidup dengan takdirnya masing-masing. Anggap saja aku sedang berterima kasih karena kau lepaskan Fira untukku."


"Kau tidak takut aku mengambil Fira darimu?"


Salman tergelak. "Sama sekali tidak. Karena kamu tidak akan mampu melakukannya."


"Kenapa kamu begitu percaya diri?" Tatapan Andre sinis ke arah Salman.


"Karena aku percaya pada kekuatan cinta kami. Cinta kami sudah teruji sejak lama."


Apa maksudnya teruji lama? Apakah saat bersamaku, Fira mencintainya.


"Bukalah map di hadapanmu itu!"


Andre melakukan apa yang dikatakan Salman.


"Perjanjian?"


"Ya. Kau pikir aku akan memberikan uang tanpa jaminan apapun? Baca baik-baik"

__ADS_1


Andre membaca setiap pasal dalam perjanjian yang Salman berikan.


Pantas dia begitu percaya diri, ternyata dia sudah mempersiapkan sedetil ini. Benar-benar pria yang sulit dihadapi. Tapi isi perjanjian ini meski tidak sangat menguntungkan juga tidak merugikanku. Aku hanya harus menjauhi Fira. Tidak membuat masalah dengannya.


"Ok. Aku setuju. Dimana aku harus tanda tangan."


Salman menunjukkan tempat di mana Andre harus membubuhkan tanda tangannya.


"Sekarang mana uangku?"


"Aku sudah bilang tidak akan memberimu uang."


"Kau jangan membohongiku, Man." Suara Andre meninggi.


"Ck. Dasar pemarah. Aku tidak menyiapkan uang tapi akan aku siapkan rumah. Sekarang kamu keluar dan pergilah ke ruang sekretarisku. Dia akan menyiapkan semua. Termasuk pekerjaan yang aku tawarkan."


Salman mempersilahkan Andre keluar dengan tangannya.


Merasa sudah diusir, Andre bangkit dan beranjak dari sofa.


"Tunggu?"


Andre yang sudah mencapai pintu berhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Salman lagi.


"Dia bukan wanita baik. Jika kau merasa mampu mendidiknya menjadi lebih baik, maka lanjutkanlah. Namun jika tidak, saranku cari saja yang lain. Ingat, istrimu kelak di akhirat adalah tanggungjawabmu."


Andre tidak menjawab. Ia kembali melanjutkan tujuannya semula.


***


Salman menjemput Fira. Begitu istrinya masuk ke mobil, ia menyodorkan sebuah buku.


"Betulkah?" Fira langsung meraih buku yang ada di tangan Salman. Ia menatap bahagia buah karya pertamanya.


"Perlu dirayakan nih!" Salman menggoda Fira namun yang digoda nggak ngeh karena masih sibuk mengagumi karyanya.


"Fir!"


"Hem." Fita mendehem sambil membaca novelnya.


"Aku mempekerjakan Andre di perusahaanku."


Bug


Fira menjatuhkan novel yang sedang ia baca saking kagetnya.


"Maksud, Mas?" Matanya memandang Salman menuntut penjelasan.


"Gaji Andre di perusahaan lamanya kan kurang jadi aku menawarkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik agar ia bisa mencicil rumah barunya."


"Rumah baru?"


"Iya. Jadi dia kemarin butuh uang itu untuk menebus rumah yang sekarang ia tempati bersama istrinya. Rumah itu dianggunkan ke bank oleh adik iparnya. Jadi aku saranin daripada menebus rumah yang jelas-jelas nggak akan pernah jadi miliknya, mending ia beli saja rumah baru dan dia setuju. Jadi aku membantunya membeli rumah. Begitu."


Fira diam. Ia memungut novelnya yang jatuh dan membersihkannya tanpa mengomentari cerita Salman.

__ADS_1


"Fir. Kamu marah?"


Fira menggeleng, "Aku hanya merasa tidak nyaman. Jika dia menjadi pegawaimu, bukankah kita akan sering bertemu dengannya? Itu membuatku tidak nyaman."


"Aku yang mungkin akan sering bertemu dia, tapi kamu tidak. Dia hanya karyawan biasa yang tidak setiap saat aku berinteraksi dengannya."


"Kalau itu baik menurut mas, Fira ngikut saja. Asal ke depannya dia tidak mengganggu kita."


"Aku pastikan itu sayang. Aku pastikan dia tidak akan merecoki rumah tangga kita lagi."


Salman memeluk Fira.


***


"Mas, bagaimana? Dapat uangnya? Tadi pihak bank datang lagi dan aku bilang kalau besok kita sudah akan melunasi pinjaman Rofik." Ami memberondong Andre dengan pertanyaan begitu suaminya itu masuk rumah.


Andre tidak menjawab peryanyaan Ami. Ia terus melangkah masuk ke kamar.


"Mas?" Ami mengikuti Andre yang sekarang sedang membuka bajunya.


"Biarkan aku mandi dulu. Aku belum sholat Ashar." Andre meninggalkan Ami yang cemberut.


Ami menjatuhkan badannya ke ranjang. Ia menunggu Andre selesai mandi dengan tidak sabar.


Orang sekaya Salman tidak akan memberi uang tunai. Dia pasti memberi cek atau mentransfer langsung ke rekening Mas Andre.


Ami berdiri. Ia memeriksa kantong pakaian yang dipakai Andre siang tadi.


Nggak ada cek. Mungkin di dompetnya.


Ami merogoh saku celana Andre mengambil dompet. Ia membukanya dan wajahnya mengeras.


Wanita laknat kenapa masih dia simpan.


Ami mengambil foto Fira yang masih Andre simoan di dompetnya lalu menyobeknya menjadi serpihan serpihan kecil. Ia kemudian memeriksa dompet Andre.


Nggak ada juga. Beraryi ditranafer.


Ami memasukkan kembali dompet Andre ke sakunya. Ia lalu duduk menunggu Andre.


Andre masuk ke kamar dengan rambutnya yang basah. Ia memandang Ami yang menunjukkan gejala aneh.


"Apa yang kau lakukan?" Andre menatap Ami lalu membuka almari mengambil baju ganti.


"Aku menunggumu. Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Besok." jawab Andre pendek sambil memakai sarung dan baju kokonya.


"Aku mau ke masjid. Pulang habis isya." Andre keluar. Ami mengejarnya.


"Kau baru pulang dan sekarang sudah mau pergi lagi?" Ami menahan langkah Andre dengan menarik tangannya.


"Aku ada perlu dengan pak haji. Ini juga demi masa depan kita. Jadi tunggulah di rumah." Andre berkata dengan lembut. Ia mengurai pegangan tangan Ami.


Ami menatap kepergian Andre dengan kesal.

__ADS_1


Kenapa dia berubah.


...***...


__ADS_2