
"Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga." ucapku penuh sukur saat mobil Alan yang mengantarku berhenti
tepat di depan pagar rumahku.
"Ra. Sepertinya ada Andre." kata Alan.
Aku mengamati ke dalam pagar dan melihat sepeda motor Mas Andre.
"Kau benar, Lan." jawabku lalu membuka pintu mobil dan keluar. Alan juga turun dari mobilnya.
"Biar aku Ra." kata Alan saat aku bermaksud membangunkan Ryan yang tertidur di jok belakang.
"Kasihan kalau dibangunkan, biar aku gendong saja." Alan lalu mengangkat Ryan.
Aku membukakan pintu pagar dan pintu rumah untuk Alan.
"Tolong langsung bawa ke kamarnya saja, Lan!" pintaku. Aku menemani Alan membawa Ryan ke kamarnya.
Saat kami keluar dari kamar Ryan, Mas Andre sudah berdiri dengan tatapan tajam ke arah kami. Aku menutup pintu kamar Ryan perlahan. Aku bingung, bagaimana aku harus menyapa Mas Andre karena kami lama tidak bertemu dan komunikasi.
"Darimana kalian?" tanyanya dingin.
"Aku dan Fira baru pulang dari Jakarta." jawab Alan tak kalah dinginnya.
"Bagus ya. Sudah berani bawa istri orang berlibur ha!" Mas Andre tiba-tiba menarik kerah baju Alan lalu menghempaskan Alan ke belakang.
"Apa-apaan kau Dre?"Alan berteriak emosi. Ia bangkit dan merangsek maju. Mas Andre yang sudah dikuasai
amarah melepaskan tinjunya ke muka Alan dan mengenai pelipisnya. Alan terhuyung dan menabrak kursi
"Alan!!!"aku memekik ngeri saat kulihat darah segar mengucur dari pelipis Alan. Alan mengusap lelehan darah di pelipisnya. Ia diam menatap tajam Mas Andre. Ku lihat Alan mengepalkan tangannya berusaha menahan diri dan emosi. Alan bukannya tidak mampu membalas, tapi ia tidak mau membalas.
"Masih bisa bangun ya!!" kembali Mas Andre melayangkan bogem mentahnya ke arah wajah Alan. Spontan aku
maju, menghalangi pukulan Mas Andre agar tidak mengenai Alan, Tidak, Alan tidak boleh terluka lebih dari ini. Ia tidak bersalah.
BUG!!
Hantaman keras Mas Andre mendarat di pipiku. Aku terpental.
"FIRA!!" Alan memekik. Dan dengan cepat ia mendorong dan menghantam Mas Andre hingga suamiku itu tersungkur.
"Biadap kau!!" cerca Alan sambil menarik krah kemeja Mas Andre.
Kepalaku terasa sangat pusing dan mataku nanar. Namun aku masih bisa melihat dari mulut Mas Andre keluar darah.
"Hentikan!" seruku lemah. Aku berusaha duduk dan bersandar di dinding.
Tangan Alan yang sudah siap memukul Mas Andre terhenti di udara. Ia lalu menghempaskan tubuh Mas Andre yang sudah tampak lemah.
"He..he..he..' Mas Andre tertawa. "Tak kusangka kau akan membalasku seperti ini Ra. Tak kusangka kau juga selingkuh di belakangku bahkan sampai pergi selama berhari-hari bersama pria lain. Bahkan anak kita kau ajari berbuat salah." tuduh Mas Andre.
"Tutup mulutmu, Ndre!!" teriak Alan yang kembali hendak memukul Mas Andre.
"Alan!" seruku menahan emosi Alan.Air mata mulai mengalir di pipiku. Hati ini sangat sakit mendengar tuduhan Mas Andre
__ADS_1
"Apa!!! Kau mau memukulku? Pukul!! Kau lebih muda dari aku. Tenagamu juga lebih kuat.Makanya, Fira lebih memilihmu. Karena kau pasti lebih memuaskan dibanding aku. Benar kan Ra?" ucap Mas Andre sinis.
"Kau pikir Fira sebusuk dirimu ha?!"
"Hahaha..munafik! Kalian benar-benar munafik! Cuih!" Mas Andre berdiri dengan susah payah, "KAU! ISTRI DURJANA. SAAT INI JUGA KUJATUHKAN TALAK TIGA PADAMU. KITA CERAI!!" seru Mas Andre lalu pergi dengan tertatih.
Aku memejamkan mata.
"Ra, kau tidak apa-apa?" tanya Alan cemas. Ia hendak memegang lebam di pipiku namun tangannya terhenti. "Aku kompres ya!" tanpa menunggu jawabanku, Alan bergegas mengambil es batu lalu membungkusnya dengan kain yang berhasil ia temukan di dapur.
"Ini bersih kan Ra?" tanyanya. Aku mengangguk.
Perlahan dan dengan lembut Alan mengompres pipiku yang kurasakan sangat ngilu.
"Sssshhhh." desisku menahan sakit.
"Sakit ya?" tanya Alan Aku memandangnya. Ku lihat kecemasan di matanya.
"Alan, kau juga terluka." ucapku lemah.
"Ini!" Alan menunjuk pelipisnya yang sudah mengering darahnya. "Ini bukan apa-apa." katanya. Ia kembali mengompres wajahku.
"Maaf Lan. Aku bukan saja melukai hatimu, tapi juga melukai tubuhmu." kataku penuh penyesalan.
Alan hanya tersenyum.
"Kenapa Lan?" tanyaku.
"Kenapa apa?" Alan balik bertanya. Pandangannya tertuju pada lebamku sambil terus menemplekan kain
"Kenapa kau mencintaiku? Kenapa kau tidak mencari wanita lain? Kenapa cintamu begitu besar Alan?"
rintihku.
Alan diam. Ia menarik tangannya dari wajahmu.
"Kau tahu Ra, aku tidak berharap kau mencintaiku sebesar cintaku padamu. Namun andai kau mau berusaha
menerimaku dan kita berjuang bersama meluluhkan hati ibu, aku yakin kita akan bahagian tanpa harus ada yang tersakiti. Tanpa ada orang ketiga, seperti Elsa misalnya, yang akan tersakiti. Kita akan meraih kebahagiaan kita dengan memperjuangkannya." kata Alan menatap lekat mataku.
Kami saling menatap. Aku bagai terhipnotis sorot mata penuh cinta milik Alan. Wajah Alan makin lama makin
mendekat dan...
"Lan." Aku memutus kontak mata dan berpaling.
"Hem," Alan berdehem. Sejenak kami diam kikuk.
"Apa pipimu sudah tidak sakit?" Alan membuka suara memecah keheningan.
Aku mengangguk. "Lukamu?" aku ganti bertanya.
Alan tersenyum getir, "Kalau boleh jujur, sedikit perih." kata Alan nyengir.
Aku tersenyum melihat mimik lucu Alan. Kami berdua lalu tertawa.
__ADS_1
"Maaf ya Ra. Gara-gara aku, kau dan Andre bercerai." kata Alan.
"Apa sih? Kau kan tahu masalah rumah tanggaku. Rumah tanggaku memang hanya menunggu waktu Lan. Jika selama ini aku diam, itu bukan untuk memperbaiki keadaan, hanya menunda perpisahan. Dan sekarang semua sudah berakhir. Aku tinggal mengurus suratnya saja." kataku.
"Kau tidak sedih?"
"Sedih Lan. Aku berharap sekali menikah dalam seumur hidupku. Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Pernikahanku harus kandas." kataku getir.
"Sabar Ra!" Alan berusaha menghiburku. Ia kembali menatapku penuh cinta. Aku menunduk.
"Lan, sudah malam. Sebaiknya kau pulang." kataku saat menyadari suasana di antara kami sudah berubah. Ya kalau ada dua orang laki-laki dan perempuan bersama, maka yang ketiga adalah setan. Rupanya setan sudah mulai berbisik bisik menggodaku dan Alan. Alan bangkit. Ku kira ia akan keluar namun Alan malah menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Lan! Apa yang kamu lakukan?" tanyaku panik melihat tindakan Alan.
"Ra, aku capek. Dua jam aku menyetir. Belum istirahat sudah harus berkelahi. Kau tega menyuruhku pulang
menyetir sendiri? Apalagi kepalaku masih pusing kena hantaman tangan Andre bajingan itu." gerutu Alan lalu menutup matanya dengan lengan tangan kanannya.
"Tapi, kau tidak boleh menginap Lan. Apa kata tetangga besok saat kau keluar dari rumahku. Apa lagi mobilmu ada
di depan. Mereka akan menggunjing Lan. Akan timbul fitnah." Aku mencoba membuat Alan mengerti. Namun Alan bergemin. Ia masih setia dengan keputusannya.
"Lan!" rengekku.
Alan membuka tangannya. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan membuat panggilan.
"Di, datang ke rumah Bu Fira dan bawa mobilku ke rumahmu!" perintah Alan pada Budi sopir kantor.
"Sudah beres kan?" katanya lalu melanjutkan tidurnya.
Aku tahu tak mungkin mengusir manusia keras kepala yang satu ini. Akhirnya aku ke kamar mengambil bantal dan selimut lalu keluar lagi.
"Pakailah!" kataku sambil memberikan bantal dan selimut itu pada Alan. Alan tidak menerima selimut dan bantal
yang aku sodorkan, ia malah mengangkat sedikit kepalanya memintaku meletakkan bantal di sana.
"Manja!" gerutuku lalu aku jongkok di sisi Alan dan menaruh bantal di bawah kepalanya.
"Selimut?" tanya Alan.
"Pakai sendiri." jawabku dan bangkit . Saat aku akan pergi, Alan menarik tanganku dengan kuat hingga aku
terhuyung dan jatuh menimpa dadanya.
"Enak juga selimutnya." gumam Alan.
"Kau kurang ajar!" aku menarik tubuhku dan memukul Alan yang malah terkekeh melihatku marah. Aku langsung ke kamar dan menutup pintu lalu menguncinya. Aku meraba dadaku dan entah mengapa aku merasakan hawa menjadi panas. Ku kibas-kibaskan tanganku untuk mendinginkan tubuhku, Aku lalu mencari remote ac dan menyalakannya. Meski suhunya sudah ku setel rendah, namun rasanya pasih panas.
"Kenapa malam ini panas sekali." gumamku gelisah. Pikiranku tertuju pada Alan yang tidur di sofa
ruang keluarga."AAAHHH..." aku berteriak frustasi.
"Astaghfirullah." aku beristighfar berkali-kali. Aku lalu ke kamar mandi dan merendam tubuhku yang terasa panas dalam bathtub. Baru aku merasa dingin dan pikiranku kembali tenang.
Banyakin like dan komennya ya....
__ADS_1