
"Lama amat. Bilangnya cuma sebentar." semprot Alan begitu aku dan Kak Salman tiba di tempat anak-anak bermain.
"Ayo Rian! Kita pulang!" ajakku pada Ryan tanpa menghiraukan omelan Alan. Aku segera menggandeng Ryan keluar dari mall dengan sedikit tergesa.
Maafkan aku Sa.
Aku terus meminta maaf pada Elsa dalam hati. Aku merasa telah mengkhianati sahabatku itu. Anganku kembali ke saat aku dan Kak Salman foto pas nyobain baju pengantin yang menurut kak Salman untuk Elsa.
flashback on
"Dekatan dikit donk mas, mbak. Nggak papa lagi toh bentar lagi nikah!" goda mbak pelayan yang Kak Salman mintain tolong buat ambil gambar kami.
Kak Salman melirikku, lalu tanpa ijin ia meriah pinggangku.
"Begini nggak papa kan mbak?" tanya Kak Salman.
"Kak!" Aku meronta tapi terlambat. Si embak sudah membidikkan kameranya.
"Ih..bagus lho. Natural banget. Mbaknya tampak malu-malu gitu. Dan Masnya, tatapan matanya penuh cinta." komentar si embak sambil nunjukin fotonya pada Kak Salman.
Kak Salman tersenyum. "Bagus, Ra!" ia menunjukkan foto kami padaku.
"Kak aku mau ganti baju." Kutinggalkan Kak Salman.
Setelah ganti baju aku kembali dan langsung mengajak kak Salman menemui Alan dan anak-anak.
flashback off
"Ra!" teriak Alan. Ia menyusulku setengah berlari.
"Ra! Ada apa?" tanya Alan.
"Nggak ada apa-apa, Lan." elakku
"Lalu kenapa kau buru-buru mengajak pulang?" tanya Alan lagi.
"Lan, bukankah kita harus ke hotel tempat pelatihan?Aku nggak mau karena keenakan belanja nanti terlambat."
"Hanya itu?" Alan masih penasaran.
"Iya. Apalagi." jawabku.
"Ya udahlah." Alan tidak lagi mengorek ngorek keterangan dariku.
Aku berhenti di dekat mobil menunggu Kak Salman yang masih berada jauh di belakangku.
"Bunda, Ryan haus." rengek Ryan.
"Waduh, bunda nggak ada minuman sayang. Sabar ya tunggu Om Salman. Nanti kalau pintu mobilnya dibuka, ada minuman di dalam."
"Tapi Ryan hausnya sekarang." Ruan terus merengek membuatku bingung.
"Ikut Om yuk. Cari minuman!" ajak Alan pada Ryan. Ryan langsung mengiyakan. Ia menggandeng tangan Alan. Alan membawa Ryan mencari minuman.
Iss bodohnya aku. Kenapa aku nggak ikut Alan saja. Kalau begini, bisa-bisa aku berduaan lagi dengan Kak Salman.
Benar saja. Sebentar kemudian Kak Salman dan Ardi tiba.
"Alan?" tanya Kak Salman.
"Cari minuman buat Ryan." jawabku sambil menunduk.
__ADS_1
Kak Salman membuka pintu dan Ardi langsung masuk.
"Ra! Kamu marah?" tanya Kak Salman.
Aku menggeleng.
"Syukurlah. Aku bisa mati kalau kau marah." gombal Kak Salman sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum kecut.
"Mau masuk?"
"Nunggu Ryan Kak." jawabku.
"Aku masuk dulu ya?"
"Silahkan."
Kak Salman masuk dan duduk di belakang kemudi. Aku menatap ke arah Alan dan Ryan menghilang. Tak lama kemudian, aku melihat mereka berdua berjalan menuju ke arahku sambil bergandengan. Mereka berjalan sambil tertawa gembira entah karena apa.
"Apa yang menyenangkan hingga kalian tertawa senang begitu?" tanyaku.
"Rahasia pria." jawab Ryan lalu ngangkak dan masuk ke mobil.
"Kamu ajari apa anakku, Lan?" aku cemberut.
"Yang jelas bukan hal buruk. Aku mengajarinya untuk jadi pria setia. Seperti aku." jawab Alan lalu mengedipkan sebelah matanya.
Aku menggelengkan kepala dan masuk ke mobil. Setelah Alan juga masuk, Kak Salman melajukan kereta besi itu kembali ke rumahnya.
***
"Ra, makasih. Gaun pilihanmu bagus." kata Elsa.
Aku tersenyum. "Sa, bener nih Ryan nggak akan merepotkan kalian?"
Aku menatap ke arah Ryan yang sedang bermain bersama Ardi. Ia tampak sangat bahagia punya teman bermain.
"Makasih ya, Sa." ucapku tulus.
"Sudah jangan dipikir. Bentar lagi juga akan jadi saudara mereka." jawab Elsa.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Ya..maksudku akrab seperti saudara." Elsa mengoreksi ucapannya.
"Ra, ada yang ingin aku sampaikan. Ini soal Kak Salman." kata Elsa kemudian.
Mendengar nama Kak Salman di sebut, aku teringat kejadian di mall. Jangan-jangan Elsa curiga pada kami.
"Memang Kak Salman kenapa?" tanyaku gugup.
"Ra. Maafkan aku. Karena sudah mengambil Kak Salman darimu." kata Elsa membuatku kaget.
:Sa, apa maksudmu? Sejak kapan kamu mengambil Kak Salman? Dia bukan milikku, Sa." jawabku.
"Tidak Ra. Sejatinya Kak Salman milikmu. Hatinya milikmu. Aku tahu itu sejak dulu. Dan aku juga tahu karaktermu. Kau akan mengalah dan selalu memikirkan orang lain. Itulah sebabnya aku bilang padamu kalau aku menyukai Kak Salman. Dan benar, kau mengalah demi aku kan?"
Aku diam karena apa yang Elsa katakan adalah benar. Aku mengubur perasaanku pada Kak Salman demi Elsa. Namun ada juga alasan lain. Sama halnya dengan Alan, aku merasa tidak pantas buat Kak Salman.
"Ra. Kak Salman sebenarnya pernah menitipkan surat pernyataan cintanya untukmu padaku. Tapi aku tidak memberikannya padamu. Bahkan aku bilang ke Kak Salman, kalau orang yang kau sukai adalah Alan. Dan Kak Salman percaya karena kau dan Alan memang dekat. Maafkan aku Ra. Aku sangat egois saat itu."
Aku tersenyum kecut,"Sudahlah, Sa. Semua toh sudah terjadi. Mungkin memang Kak Salman jodohmu, jalannya saja harus begini." jawabku. "Dan aku bahagia melihat kalian berdua hidup bahagia." sambungku.
__ADS_1
"Tidak, Ra. Aku tidak bahagia. Aku memang mendapatkan raga Kak Salman. Namun tidak hatinya. Hatinya masih milikmu. Aku tidak menyalahkannya. Sebagai suami, ia memperlakukanku dengan sangat baik dan juga memenuhi tanggung jawabnya dengan baik. Tapi aku tahu, Ra. Jauh dalam lubuk hatinya, ia juga sedih. Ia masih mengharapkanmu untuk jadi istrinya, Ra."
Aku tertawa lirih.
"Sa, hidup memang begitu. Tidak selamanya yang kita mau bisa kita raih. Kita hanya menjalani apa kehendaknya."
"Kau benar. Tapi nggak ada salahnya manusia berusaha kan?" kata Elsa.
"Ya..manusia memang harus berusaha." balasku.
"Dan untuk itulah aku bicara padamu sekarang. Ra, menikahlah dengan Kak Salman!" pinta Elsa.
Duarr
Bagai mendengat guntur aku mendengar permintaan Elsa. Mataku langsung terbelalak tak percaya.
"Kau gila, Sa. Aku masih sah istri orang dan Kak Salman adalah suamimu!" tukasku tegas.
"Makanya, Ra. Bercerailah dari Andre dan.."
"Stop! Jangan lanjutkan Sa!"
"Kenapa, Ra?Sedalam itukah cintamu pada Andre hingga kau rela berbagi?"
"Bukan itu. Jangan jadi penyebab rusaknya rumah tangga orang, Sa. Jangan menyuruhku bercerai. Dosa. Kalau nanti aku bercerai, biarlah atas keputusanku sendiri. Bukan karena perintah siapapun." jawabku.
Elsa menghela napas. "Baiklah. Ingat permintaanku. Nanti setelah kau cerai dari Andre, menikahlah dengan Kak Salman. Ijinkan aku menebus kesalahanku pada kalian berdua."
"Aku tidak bisa, Sa." jawabku tegas.
"Kenapa? Aku yang memintamu. Aku yang melamarmu untuk suamiku." Elsa masih memohon. "Kalian tidak menghianatiku. Aku ikhlas."
"Tetap nggak bisa, Sa. Karena kami selaku abdi negara, tidak boleh menjadi istri kedua, ketiga dan keempat. Jadi percuma kamu merengek dan memohon padaku. Aku tidak akan pernah menerima lamaranmu. titik." jawabku tegas.
"Jadi kau hanya bisa jadi istri pertama?"
"Ya!! Pertama dan satu-satunya. Aku nggak akan mau berbagi lagi, Sa. Kau belum tahu bagaimana rasanya. Bagaimana sakitnya" kataku memupus harapan Elsa untuk menjodohkanku dengan Kak Salman.
"Baiklah. Aku mengerti." kata Elsa tersenyum.
Aku lega. Elsa mengerti penjelasanku. Ia pasti membatalkan niatnya.
"Ra!!!" kudengat teriakan Alan.
"Sa, Alan mencariku. Sepertinya kami haris ke hotel."
"Ya sudah. Berangkatlah dan jangan pikirkan Ryan. Aku akan menjaganya dengan baik. Maaf, tidak.bisa mengantar ke depan." kata Elsa.
"Nggak papa. Kamu jaga kesehatan." pesanku lalu memeluk Elsa.
Aku berjalan ke Ryan dan berpamitan. Ryan mencium kedua pipiku."Bunda belajarnya yang pinter. Ryan tunggu di sini."
"Iya sayang. Ryan nggak boleh bandel ya. Jadi anak baik!" pesanku. Ruan mengangguk.
Aku meninggalkan mereka. Di depan Alan sudah siap. Kak Salman juga. Dia akan mengantar kami ke hotel.
"Ngobrol apa? Lama banget?" tanya Alan sambil berjalan di sebelahku.
"Nggak ada. Cerita masa lalu." jawabku pendek.
Kami masuk mobil. Alan duduk di depan bersama Kak Salman. Aku di belakang. Sengaja aku memilih duduk di belakang Alan, karena masih nggak enak jika berdekatan dengan Kak Salman. Aroma parfumnya saja mampu membuatku deg degan. Apalagi rencana gila Elsa. Sepertinya aku harus jauh-jauh dari Kak Salman jika ingin jantungku sehat.
__ADS_1
...☘☘☘...
Banyakin like dan komenya donk....