Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Rencana Tasyakuran


__ADS_3

Keesokan harinya, Kak Salman mengajakku dan Ryan ke showroom mobil.


"Ryan yang pilih ya!" titah Kak Salman.


Mata Ryan berbinar. Ia menoleh kepadaku meminta persetujuan. Aku mengangguk. Ryan langsung berkeliling memeriksa mobil mobil yang ada di showroom itu.


Kak Salman mendekat dan merangkulku.


"Kak." sergahku malu karena para pegawai di showroom itu menatap kami dengan tersenyum simpul.


"Kenapa?Malu?Biarin saja. Biar yang punya istri ikutan mesra sama pasangannya dan yang jomblo segera menikah." kilah Kak Salman tanpa perasaan.


"Jomblo?Menikah?Dengan siapa?" balasku yang merasa lucu dengan ucapan Kak Salman.


"Siapa saja terserah mereka. Kita nggak usah ikut mikir. Tapi kenapa masih manggil kak sih?" Kedua tangan Kak Salman memelukku posesif.


"Pengantin baru ya mas?Mesra banget."seloroh seorang pria yang mendekati kami. Dilihat dari pakaiannya dia adalah marketing sebuah merk mobil terkenal.


Kak Salman mengangguk.


"Tapi kok sudah punya anak?" kembali pria itu berkomentar.


"Sebanyak apapun anak kami nanti, bagiku tiap hari kami adalah pengantin baru." jawab Kak Salman membungkam mulut pria itu.


"O..sudah dapat mobil yang cocok mas"


"Anak saya yang milih."


"O..kenapa nggak mbaknya saja." pria itu menatapku membuatku langsung mengalihkan pandangan.


"Istriku ini ingin menyenangkan anak kami. Jadi semua terserah anak kami." Kak Salman kian mengeratkan pelukannya membuat pria itu tampak canggung lalu pamit meninggalkan kami. Sepertinya ia mencari Ryan.


"Kak, jangan kayak gini. Malu." bisikku.


"Biarin. Biar mereka tahu kamu milikku. Terutama para pria yang memandangku dengan tatapan mupengnya."


"Kak, itu hanya perasaanmu."


"Aku pria sayang. Aku tahu apa yang dada di otak mereka melihat wanita secantik kamu." Perkataan tegas Kak Salman seolah tidak mau ada bantahan lagi.


Aku diam, membiarkan saja suamiku melakukan apa yang ia mau.


"Papa, aku sudah tahu pilih yang mana." seru Ryan sambil berlari ke arah kami. Ia mengambil tangan Kak Salman dan menyeretnya ke mobil yang ia maksud.


Kak Salman mengikuti langkah Ryan sambil menarik tanganku.


"Itu Pa,aku suka yang itu!" Ryan menunjuk sebuah mobil yang menurutku terlalu bagus dan mewah buat kami.


"Ok!" sahut Kak Salman santai.


"Kak, jangan yang itu."


"Bunda nggak suka ya? Pa, jangan deh kalau bunda nggak suka." ucap Ryan.


"Kenapa kamu nggak suka sayang?"


"Terlalu bagus. Pasti mahal. Yang biasa saja kak."


Kak Salman mengusap pucuk kepalaku. "Jangan khawatir. Aku mampu membelinya."


"Aku tahu Kak Salman mampu. Tapi.."


"Baiklah. Kalau kau nggak nyaman, kita cari yang sesuai seleramu."

__ADS_1


"Makasih atas pengertiannya kak."


Aku berbisik ke telinga Ryan. Ryan mengangguk tanda ia paham apa mauku. Segera ia berlari kembali mencari apa yang aku mau.


"Bunda. Aku dapat sesuai yang bunda mau." Ryan menyeretku.


Kulihat sebuah mobil yang menurutku bagus dan tidak terkesan mewah dan mahal.


"Yang ini?" tanya Kak Salman. "Kau menyukainya sayang?"


Aku mengangguk.


"Ok. Kita ambil yang ini. Kalian tunggu, aku akan mengurus pembayaran dan surat-suratnya. Ryan, papa titip bunda ya. Jaga dari mata para pria itu!" pesan Kak Salman.


"Siap pa!"


Kak Salman mengecup pucuk kepalaku sebelum pergi.


Pria ini. Tak ada habisnya menghujaniku dengan cinta dan kemesraan.


"Bunda!" suara Ryan membuatku menoleh ke arahnya.


"Iya nak. Ada apa?"


"Bunda bahagia bersuamikan papa?" Ryan menatap penuh tanya.


"Apa Ryan bahagia punya papa seperti papa Salman?"


Ryan mengangguk. "Tapi kebahagiaan Ryan akan hilang kalau bunda tidak bahagia."


Aku memeluk Ryan. "Bunda bahagia sayang. Apalagi melihat Ryan bahagia. Rasanya hidup bunda sudah sempurna."


"Hei, kok malah peluk-pelukan. Papa nggak ikut dipeluk nih?"


"Makasih Pa. Ryan sayang sama papa.*


Ada titik bening meluncur begitu saja dari mataku melihat sikap yang ditunjukkan Ryan.


" Papa juga sayang Ryan. Ayo kita pulang!"


"Mobilnya?" tanya Ryan


"Nanti ada yang mengantar ke rumah." Kak Salman menggandeng kami keluar dari showroom.


"Yang, siapkan tempat!" perintah Kak Salman saat kami tiba di rumah.


"Untuk apa?"


"Kau lupa kalau kita akan mengundang tetangga untuk mengumumkan pernikahan kita?"


"Hari ini?!?" Tanyaku tak percaya.


"Iya. Memang aku belum bilang ya. Tadi saat sholat subuh aku mengundang bapak-bapak yang biasa ke masjid untuk datang sore ini."


"Ya Allah kak. Kenapa mendadak banget."


"Sudah jangan panik. Bukankah aku sudah bilang, semua sudah aku pesankan. Kita tinggal menata tempat saja, sayang." Balas Kak Salman santai


Bukan masalah sudah pesan apa belum. Tapi aku juga harus menyiapkan diri. Menghadapi para tetangga apa lagi mereka yang bermulut julid.


"Apa yang kau lakukan sayang?" Kak Salman menyentuh bahuku saat aku akan menggeser kursi.


"Lho, katanya siapin tempat?" balasku dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Ck. Mana tega aku menyuruh istri cantikku kerja berat sih. Sudah kamu tinggal nyuruh saja. Sebentar lagi akan ada orang datang." Kak Salman meraih tanganku dan menariknya hingga tubuh kami menempel.


"Simpan tenagamu buat nanti." bisiknya dengan senyum mesum..


"Apa?Lagi?" aku terperangah.


"Lagi?Kan hari ini belum sayang, kok lagi apanya." protes Kak Salman masih dengan memelukku


"Iya, tapi tadi malam kan udah. Terus kemarin seharian, juga berkali-kali." gerutuku.


"Hehehe..habis kamu bagai candu.Membuatku ingin dan ingin lagi. Nggak ada puasnya jika bersamamu."


Kutatap wajah tampan yang sedang nyengir tanpa dosa itu.


Ternyata pria ini begitu mesum setelah menikah. Dulu saat SMA nggak pernah mengira kalau Kak Salman akan semesum ini. Dia begitu cool dan jaim.


Aku tersenyum mengingat kenangan saat SMA dulu.


"Hei, apa yang kau senyumkan?" Kak Salman menyentil jidatku.


"Kebiasaan deh. Sakit kak." Aku mengurai pelukan Kak Salman.


"Jangan marah donk." Ditariknya tanganku hingga aku menabrak tubuhnya. Kami berdua jatuh terduduk di kursi dengan posisi Kak Salman memangkuku.


"Kak aku nggak marah." Aku berusaha melepaskan pelukannya lagi.


"Kalau nggak marah, ngapain melepaskan pelukanku?" Kak Salman malah mendekapku erat dan menyandarkan kepalanya di bahuku. "Jangan marah. Bisa layu aku kalau kau marah." gumamnya.


"Layu?" ulangku.


"Hm." Kak Salman mengangguk. "Pisang rajaku akan layu."


"Pisang raja?Layu?"


Kak Salman mencubit pipiku, "Ih...gemesin. Masak nggak paham juga sih. Polos banget istriku."


"Kak..tadi jidat sekarang pipi. Demen banget nyakitin istri." omelku.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipiku membuat mataku terbelalak. Kaget. Ya aku belum terbiasa dengan kejutan kejutan yang Kak Salman berikan. Pernikahan kami baru berjalan dua hari.


"Dah nggak sakit?" Bisik Kak Salman. Kepalanya masih setia menyandar di bahuku.


Aku mengangguk tanpa kata. Aku sedang menata hatiku yang sudah berdebar tak karuan.


ting tong


"Ada tamu." Ku lepas tangan Kak Salman yang melingkar di pinggangku.


"Biar aku." cegah Kak Salman saat aku akan bergerak untuk membuka pintu.


"Mari pak. Ruangan ini yang akan kami pakai. Minta tolong kursinya di pinggirkan." perintah Kak Salman kepada para pria yang datang. Ternyata mereka adalah orang yang Kak Salman minta untuk membantu menata rumah kami.


Aku meninggalkan mereka menuju dapur untuk menyiapkan minuman dam camilan bagi para bapak yang menolong kami.


"Kak. Ini minumannya."


Kak Salman menerima baki yang aku sodorkan lalu membawanya kepada para bapak itu.


Tak butuh waktu lama, ruang depan sudah siap untuk menerima tamu acara sore nanti.


Semoga acara nanti lancar. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2