
"Bang, aku ingatkan sekali lagi. Jangan macam-macam!" tegas Anita sambil menatap tajam Raul.
Raul hanya menyungging senyum misterius. Pandangnya tetap lurus ke jalan yang ada di depannya.
"Kenapa kau justru berteman baik dengan orang yang menjadi penyebab penderitaanmu?" tanya Raul tanpa melihat Anita.
"Kak Fira?"
Raul menjawab dengan seringai tips di ujung bibirnya.
"Asal Bang Raul tahu ya, kak Fira itu orang baik. Aku bersyukur bisa mengenalnya. Lagipula, bukan salahnya kalau Kak Alan mencintainya. Mereka berteman sudah sangat lama." jelas Anita singkat.
"Cih, baik. Kalau dia wanita baik-baik, dia tidak akan merebut suami orang." sinis Raul.
Bug.
Anita memukul lengan Raul. "Kalau Bang Raul tidak tahu ceritanya, jangan menuduh yang macam-macam!"
"Kamu dibutakan oleh kebaikannya yang palsu, Nit." sanggah Raul.
"Bang Raul yang dibutakan oleh kebencian. Bang Raul benci Kak Alan. Jadi akhirnya Bang Raul ikutan membenci Kak Fira juga karena menurut Bang Raul semua sikap Kak Alan disebabkan oleh Kak Fira."
"Kenyataannya memang begitu kan?" Raul tetap kekeh dengan penilaiannya terhadap Fira.
Anita menarik nafas panjang dan dalam. Ia menatap Raul yang sedang fokus menyetir.
"Bang, penilaian abang itu salah. Sangat salah. Aku yakin, kalau Bang Raul mengenal Kak Fira, Bang Raul takan bersikap seperti aku. Bang Raul tahu enggak, aku sangat menyayangi Kak Fira."
"Jadi menurutmu kalau aku mengenal wanita itu, maka aku juga akan menyayanginya. Omong kosong." bibir Raul menyungging senyum meremehkan.
"Eh..hati hati tuh mulut. Bisa kemakan omongan sendiri baru tahu." Nita mengacungkan telunjuknya.
"Cih. Jangan panggil aku Raul kalau sampai bertekuk lutut sama wanita itu." Raul masih saja bersikap sombong dan meremehkan.
"Ck. Sombong. Ku sumpahin kuwalat baru tahu rasa."
Raul tidak menanggapi komentar Anita
Mereka terdiam beberapa saat sampai tawa lirih Anita memecah keheningan.
Raul melirik Anita, "Apa yang kau tertawakan?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan nama yang cocok buat Bang Raul." Anita kembali tertawa setelah selesai bicara.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku? Bukankah tadi Bang Raul bilang, kalau sampau Bang Raul bertekuk lutut sama Kak Fira, maka aku tidka boleh memanggil abang dengan nama Raul. Jadi aku mulai mencari nama yang cocok buat abang." Anita terkikik geli.
"Mimpi saja." dengus Raul yang disambut tawa renyah Anita.
__ADS_1
"Tertawa saja terus." Raul kesal karena Anita menteryawakannya.
"Rauli. Ruli...ayo bang pilih yang abang suka."
"Diam!" bentak Raul
Anita bukannya diam. Ia malah mengeraskan ketawanya.
"Baik. Kita bertaruh. Kau boleh memanggilku sesukamu jika aku bertekuk lutut atau terpesona sama wanita itu." tantang Raul yang kesal karena merasa diremehkan oleh Anita.
"Dia punya nama bang, namanya Fira."
"Nggak penting."
"Belum. Bukan enggak." goda Anita.
"Tutup mulutmu!"
Raul semakin kesal. Rasa benci sekaligus penasarannya terhadap Fira kian bertambah.
...****************...
"Minum mas!" Fira menyodorkan segelas air putih kepada Salman yang sedang sibuk di ruang kerjanya.
"Makasih sayang." Salman menerimanya dan dengan tiga kali tegukan ia menghabiskan air itu.
"Nggak juga sih. Hanya beberapa berkas saja. Kenapa?" Salman menatap Fira.
Fira menunduk. "Bukan apa-apa." jawabnya lirih.
"Hei, kenapa mukamu memerah ha? Ada apa? Katakan saja!" Salman mengelus pipi Fira.
Fira memegang tangan Salman.
"Bukan apa-apa. Mas selesaikan saja kerjaan Mas dulu. Aku akan menemani Mas di sini."
"Bener nggak ada apa-apa?"
Fira mengangguk.
Salman mengelus kepala Fira lembut lalu melanjutkan pekerjaannya.
Fira menatap kagum suaminya.
Mas Salman sangat mempesona jika sedang fokus begini. Beruntung sekali aku sebagai istrinya.
Sepuluh menit sudah berlalu, namun tidak ada tanda tanda Salman akan mengakhiri pekerjaannya.
"Mas,.masih lama ya?" tanya Fira.
__ADS_1
"Hm..sebentar lagi." jawab Salman pendek
Fira diam. Ia masih terus memandangi Salman. Semakin lama ia merasa suaminya semakin menggoda.
Fira mulai gelisah. Ia tidak tenang dalam duduknya. Berkali kali Fira mengubah posisi duduknya.
Salman tidak menyadari kegelisahan Fira karena terlalu fokus pada kerjaannya.
"Mas!" panggil Fira akhirnya.
"Hm."
"Mas, kenapa harus bekerja keras sih?"
Fira menggeser duduknya. Kini ia duduk di meja dekat laptop Salman.
Salman tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.
"Sayang, aku melakukannya untuk kita. Sebentar lagi akan ada anggota baru dalam keluarga kecil kita. Jadi aku menyiapkan segalanya dari sekarang." Salman menjelaskan sambil tangannya mengelus perut buncit Fira.
Fira menahan tangan Salman saat Salman akan menarik tangannya itu.
"Tapi yang di dalam belum membutuhkan itu sekarang." gumam Fira lirih. Tangannya meremas lembut tangan Salman.
Salman memandangi Fira menunggu apa lagi yang akan Fira ucapkan.
Fira juga menatap Salman dengan sorot mata hangat dan mesra.
"Lalu apa yang dia butuhkan sekarang." bisik Salman mesra.
Fira mengerucutkan bibirnya manja.Dia tidak menjawab pertanyaan Salman. Fira merasa kesal karena Salman tidak peka terhadap sinyal yang ia berikan.
"Tahu ah." Fira melepaskan tangan Salman. Ia beranjak dari tempatnya duduknya. Baru beranjak beberapa langkah, Salman menghentikan langkah Fira dengan memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku! Jangan kesal begitu! Maaf kalau kau merasa terabaikan karena kerjaanku." sesal Salman sambil.menaruh kepalanya di bahu Fira.
"Aku tidak kesal dan juga tidak merasa diabaikan. Hanya saja saat ini aku..mm..anak kita sedang..merindukanmu." ucap Fira lirih dan ragu. Mukanya memerah.
Salman tersenyum tipis.
Hup
Salman mengangkat tubuh Fira ke dalam gendongannya.
"Kalau begitu, mari kita hapuskan kerinduan anak kita."
Fira tersenyum malu. Ia menyembunyikan wajahnya ke dada Salman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1