
"Sudah cukup Kak."
"Baru segini. Katanya mau habisin uangku." Kak Salman menatapku sambil tersenyum.
"Kaak."
"Iya. Aku tahu. Karena Andre kan. Emangnya dia ngomong apa hingga kau niat banget bikin dia panas?"
"Adalah. Nggak enak di dengar." jawabku sambil menarik tangan Kak Salman menuju kasir.
"Aku ingin tahu." Kak Salman menahan tanganku.
"Nanti saja aku cerita. Jangan di sini nggak enak."
"Janji ya!"
"Mm." Aku mengangguk.
"Beneran sudah nggak ada yang mau kau beli? Mau beli baju enggak?"
"Enggak kak. Dah banyak baju aku."
"Tas? Biasanya wanita suka koleksi tuh tas."
"Enggak Kak. Sudah cukup."
"Apa mau perhiasan?"
"Kak Salman sayang, sudah ya. Nanti kesorean. Telat jemput Ryan juga."
Kak Salman terkekeh. Ia lalu mengikuti langkahku ke kasir. Dengan sabar kami menunggu kasir mentotal belanjaan kami. Setelahnya, Kak Salman langsung membayarnya.
"Ayo!" Kak Salman menenteng semua belanjaan tanpa membiarkanku membantunya.
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit tempat Bu Riya dirawat.
"Ayo masuk!"
"Kak Salman yakin?" Aku ragu untuk masuk. Terbayang wajah Alan yang terluka. Apa aku sanggup melihatnya terluka lagi dengan kedatangan kami berdua.
"Yakin. Dan kau juga harus yakin semua akan baik-baik saja." Kak Salman membimbingku masuk. Kami mencari ruang rawat Bu Riya.
"Assalamualaikum!" Kak Salman mengucap salam lalu mendorong pintu. Di dalam tampak Bu Riya tengah duduk bersandar di headboard. Anita duduk disisi ranjang sambil memegang piring. Rupanya ia sedang menyuapi Bu Riya. Alan..ia tidak ada di ruangan itu membuatku sedikit lega.
"Kak Fira, Kak Salman, masuklah!" kata Anita.
Kami masuk dan langsung mengambil tangan Bu Riya untuk bersalaman.
"Kok kamu ada di sini?Kapan datang?" tanya Bu Riya pada Kak Salman.
"Kemarin Bu, maaf baru sempat jenguk."
"Nggak papa. Bagaimana kabar Elsa?"
Aku mendongak menatap Kak Salman. Ya Bu Riya tidak tahu kalau Kak Salman sudah bercerai dari Elsa. Alan mungkin tidak cerita.
"Elsa, dia sedang pengobatan di Singapura Bu."
"Oh...sakit apa?" Bu Riya tampak kaget.
"Dia menderita kanker Bu."
"Ohh...semoga lekas sehat. Kamu yang tabah ya Man. Eh kok kamu nggak menemani Elsa di Singapura?"
"Karena kami sudah bercerai bu,empat bulan yang lalu." jawab Kak Salman kalem.
"Kok bisa? Kamu kok tega istri sakit malah dicerai?"
"Bukan saya bu, Elsa yang menggugat cerai saya." Kak Salman masih menjawab dengan sabar.
Aku dan Anita hanya diam mendengarkan.
"Oh, mungkin ia pikir hidupnya nggak akan lama jadi memutuskan untuk berpisah." Bu Riya membuat kesimpulan. Ia sama sekali tidak menatapku. Mungkin baginya keberadaanku tidak penting.
__ADS_1
"Jadi kamu duda sekarang ya..mau nggak tante jodohin sana anak teman tante? Ia anaknya cantik, dan berlatar belakang baik, dari keluarga mapan juga."
Kak Salman tersenyum, "Saya sudah menikah bu. Dan ini istri saya." Kak Salman menarik tanganku mendekat.
"Fira?!Dia istrimu?!" kaget Bu Riya.
"Iya. Kami sudah menikah kemarin." jawab Kak Salman, "Jadi kami masih pengantin baru, mohon restunya Bu Riya!" Kak Salman memberi hormat ke Bu Riya.
Bu Riya menatapku dengan pandangan aneh seolah menyelidik.
"Apa orangtuamu tahu pernikahanmu?Kok kesannya diam-diam?Kalian menikah siri ya?"
"Mereka tahu dan sangat mendukung Bahkan mereka memintaku membawa Fira bertemu mereka. Dan kami menikah sah Bu. Elsa juga tahu soal pernikahan kami. Dia malah yang meminta Fira menikah dengan saya."
Jawaban Kak Salman membungkam Bu Riya. "Selamat!" katanya pendek.
"Makasih Bu. Restu ibu membuat kami kian mantab melangkah." sambut Kak Salman.
Aku menarik kemeja Kak Salman. Sungguh aku merasa sangat tertekan dengan situasi ini.
"Bu Riya, saya doakan semoga ibu lekas sehat dan kami mohon pamit, karena harus menjemput Ryan."
Kak Salman lalu menjabat tangan Bu Riya dan menciumnya. Aku melakukan hal yang sama. Kamipun beranjak keluar dari ruangan Bu Riya. Saat Kak Salman membuka pintu, bersamaan dengan Alan yang mau masuk. Alan tampak kaget.
"Kau?!" serunya.
"Lan." balas Kak Salman.
Alan menerobos masuk tanpa sedikitpun melihat ke arahku.
"Terima kasih sudah menjenguk ibu." katanya berbasa basi.
"Ya. Kami permisi dulu." Kak Salman menggandengku keluar.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kak Salman saat kami sudah sampai di luar.
"Ada Kak Salman. Aku pasti baik-baik saja." jawabku mengulas senyum menunjukan kalau hatiku baik-baik saja.
Kak Salman mengelus kepalaku. "Maaf seharusnya aku mendengarkanmu tadi dan kita tidak perlu datang ke rumah sakit." gumamnya penuh penyesalan.
"Duh sholehahnya istriku. Jadi gemes pengen gigit lagi." Kak Salman mencubit pipiku.
"Kak malu ah. Dilihatin orang tuh." Aku menunduk karena banyak mata pengunjung rumah sakit menatap ke arah kami.
"Paling mereka iri karena aku menggandeng wanita cantik."
Hatiku menghangat mendengar pujian Kak Salman.
Biarlah Bu Riya menganggapku rendah,yang penting aku bagai ratu di mata suamiku.
Tanpa sadar aku tertawa lirih.
"Kenapa tertawa?Ada yang lucu?"
"Nggak. Hanya bahagia saja kok."
"Nah gitu donk. Hidup ini singkat jadi harus dinikmati. Jangan sedih terus."
"Siap Bos." candaku.
"Siap?Artinya nanti malam kita bisa donk menikmati indahnya hidup berdua lagi?" Kak Salman memainkan alisnya.
"Ih maunya. Ayo cepat jemput Ryan. Nanti dia ngambek kalau kita telat."
Kak Salman terkekeh. Sekejab kemudian kami meluncur menuju sekolah Ryan. Sesampainya di sekolah Ryan, suasana sudah sepi. Aku segera turun dan mendatangi satpam.
"Maaf Pak, apa Ryannya masih di dalam?"
"Sebentar bu, saya cekkan." Satpam itu masuk dan kembali sambil menggandeng Ryan.
"Bunda dan ayah kok lama sih?" gerutu Ryan.
"Maaf, tadi bunda sama ayah masih jenguk ibunya om Alan di rumah sakit."
__ADS_1
Ryan cemberut, ia langsung berjalan menuju sepeda motor.
"Kok bundanya dicuekin?" tanya Kak Salman kalem.
"Habis bunda telat."
"Lho kan bunda sudah jelasin sebabnya dan sudah minta maaf juga."
Ryan bergeming. Ia naik dan duduk di depan Kak Salman.
Kak Salman mengangguk menyuruhku naik. Dalam perjalanan ke rumah, Ryan masih anteng dan setia dengan ngambeknya.
Ryan meloncat turun begitu kami sampai. Saat aku membuka pintu ia langsung menerobos masuk dan menuju kamarnya lalu mengunci diri di dalam.
"Ryan!" aku mengetuk pintu sambil memanggil namanya.
"Biar aku saja. Kamu siapkan makanan kesukaannya. Ia pasti lapar." Kak Salman memegang bahuku dan membuatku menepi. Aku menurut apa yang Kak Salman bilang. Aku menuju dapur dan membuat makanan kesukaan Ryan. Tak lama kemudian Kak Salman keluar dan menyusulku ke dapur.
"Bagaimana?" tanyaku tak sabar.
"Bentar lagi ia akan keluar. Nanti kau akan mendengar sendiri ceritanya." jawab Kak Salman lalu memelukku.
"Kak." aku berusaha mengurai pelukan Kak Salman.
"Jangan panggil kak dong, berasa kakak adik." rajuk Kak Salman.
"Maunya dipanggil apa?" tanyaku balik.
"Nggak tahu. Pokoknya mesra dan hanya buat aku." Kak Salman membenamkan wajahnya ke ceruk leherku. "Kalau di rumah dan hanya ada aku, hijabnya dilepas dong, biar gampang."
"Gampang apanya?"
"Gampang kalau mau gigit lehermu yank. Masak nggak paham sih."
Aku tertawa geli saat Kak Salman menduselkan kepalanya ke ceruk leherku yang masih tertutup hijab.
"Ayah, Bunda!" panggil Ryan.
Kami langsung saling menjauh dengan gugup seperti baru tertangkab melakukan kesalahan.
"Iya sayang." aku mendekati Ryan.
"Maafin Ryan." katanya lirih. Aku langsung memeluk anakku itu.
"Bunda maafin."
"Bunda nggak marah?"
Aku menggeleng. "Bunda terlalu sayang sama Ryan hingga tak bisa marah. Bunda hanya sedih."
"Bunda sayang sama Ryan meski sudah menikah dengan ayah Salman?"
"Tentu sayang. Sampai kapanpun Bunda akan tetap sayang sama Ryan."
"Tapi ayah Andre bilang kalau bunda akan lebih sayang sama ayah Salman."
Aku kaget mendengar ucapan Ryan.
"Kapan kamu ketemu ayah Andre?"
"Tadi ayah Andre datang ke sekolah mau jemput Ryan. Tapi Ryan nggak mau. Terus ia bilang kalau bunda sedang jalan jalan sama ayah Salman dan melupakan Ryan."
Aku memeluk Ryan lagi. "Sayang bunda dan ayah Salman bukan jalan jalan. Kami ke supermarket untuk membeli buah tangan buat ibunya Om Alan. Dan Bunda juga beliin cemilan kesukaan Ryan." bujukku.
"Iya, tadi Ayah Salman juga sudah bilanh ke Ryan kalau bunda sangat sayanh sama Ryan. Makanya sekarang bunda juga buat makanan kesukaan Ryan kan?"
"Ya, ayah benar. Bunda buat masakan untuk Ryan. Kesukaan Ryan."
Ryan mengecup pipiku,"Makasih bunda, maafin Ryan ya." ucapnya tulus.
"Ya, yuk kita makan. Ryan pasti sudah lapar kan?"
Ryan mengangguk dan langsung menyusul Kak Salman yang sedari tadi diam memperhatikan aku dan Ryan dari meja makan.
__ADS_1
"Makasih." ucapku tanpa suara kepada Kak Salman. Ia mengedipkan matanya sebagai jawaban.
...***...