
"Ardi kamu kenapa sembunyi?" Ryan mengikuti apa yang Ardi lakukan. Mereka jongkok diantara tumpukan dos makanan.
"Ada orang jahat." jawab Arfi sambil matanya mengawasi Raul.
"Pria itu?" tunjuk Ryan.
"Hem."
"Wah, dia mendekati Bunda dan papa. Kita harus ke sana."
"Jangan!" Ardi menahan Ryan.
"Dia hanya jahat padaku. Dia tidak akan jahat pada bunda dan Papa."
"Kenapa begitu?" Ryan heran.
"Pokoknya dia nggak boleh tahu aku ada di sini atau nanti dia bisa menculikku."
"Apa? Menculikmu? Aku tidak akan membiarkan dia menculikmu. Kita sembunyi di tempat yang aman saja yuk!" ajak Ryan.
"Dimana?"
Ruan celingukan mencari tempat yang dirasa aman untuk sembunyi.
"Kita ke mushola saja. Tadi aku melihat mushola di dekat mobil papa parkir!"
Ardi mengangguk.
Mereka lalu mengendap-endap keluar dari mall.
"Hai. Kita ketemu juga akhirnya." ucap Raul sambil mengulurkan tangannya mengajak Salman bersalaman.
"Kalian saling kenal?" Anita bergantian menatap sepupunya dan Salman.
"Dia mantan suami temanku. Elsa." jawab Raul sambil melirik Salman penuh arti.
"Ya. Dia kawan baik Elsa. Sangat baik dan sangat akrab." balas Salman santai sambil merangkul Fira.
"Sudah dapat ganti rupanya. Lumayan." Raul memandang Fira dari atas sampai bawah.
"Apa kau sedang hamil?" tanya Raul.
Fira kaget. Bagaimana mungkin Raul bisa tahu kalau dirinya hamil hanya dengan melihat saja. Padahal perutnya belum begitu kentara.
"Jangan heran, mbak. Selain pengusaha, sepupuku ini juga spesialis obgyn." Anita menjelaskan karena melihat wajah Fira yanag tampak keheranan.
"Kali ini kamu nggak butuh bantuanku untuk membuat istrimu hamil, tidak seperti dulu." ucap Raul frontal.
Salman tersenyum."Yang satu ini, cukup aku yang melakukannya."
"Kalian ngomongin apa sih? Memang istri kak Salman dulu pasiennya bang Raul?" tanya Anita.
"Iya. Pasien paling baik dan paling kasihan. Ia begitu ingin punya anak tapi suaminya nggak mampu" jawab Raul sambil matanya taka lepas menatap Salman.
Salman menanggapi ucapan Raul dengan santai. Ia bukan tidak mampu membuat Elsa hamil, tapi dia nggak pernah menyentuh Elsa.
Anita tak percaya dengan apa yang Raul katakan. "Abang jangan asal kalau bicara! Siapa bilang Kak Salman nggak mampu? Buktinya Mbak Fira hamil sekarang." Bela Anita.
Raul mengalihkan pandangannya ke wajah cantik Fira yang langsung menyembunyikan dirinya di belakang Salman.
Raul tertawa.
"Wanita pemalu. Ternyata seleramu wanita yang pemalu. Memang wanita pemalu lebih membuat penasaran."
"Jaga matamu!" Salman menghardik Raul yang terus saja memandangi Fira.
"Kenapa? Takut? Tenang saja, dia bukan tipeku. Tapi kalau dia mau denganku, aku juga bersedia."
"Bang!!" seru Anita marah.
Salman sudah ke mengepalkan tangannya menahan lahar panas yang mulai memaksa keluar.
"Sayang sabar!" bisik Fira sambil.mengelus lengan kekar Salman.
"Kan tadi aku seperti melihat Ryan?" Anita mengalihkan pembicaraan
"Iya. Tadi dia ada tapi mungkin sedang belanja."
"Sama siapa?" tanya Anita.
Jangan-jangan Anita melihat Ardi?
Fira mencengkeram lengan Salman karena gugup bagaimana harus menjawab pertanyaan Anita.
"Maksudmu?" balas Salman mencoba mengulur waktu sambil memikirkan jawaban yang tepat.
"Ya, kak Salman dan Mbak Fira kan ada di sini. Ryannya belanja sama siapa?"
Raul mengamati Salman dan Fira.
"Oh, anak itu biasa kalau di ajak belanja selalu memisahkan diri. Nanti juga akan balik ke sini. Lagi pula mal ini kan nggak luas-luas banget."
:Bagaimana sayang? Sudah selesai memilih buahnya?"
Fira mengangguk.
__ADS_1
"Anita, kami duluan. Salam buat Alan!"
Anita tersenyum tipis sambil mengangguk.
Maaf kak, aku tidak bisa menyampaikan salammu.
"Nita, aku duluan ya! Semoga bahagia." Fira memeluk Anita.
"Makasih mbak."
Salman melambaikan tangan pada Raul tanpa mengucapkan apapun. Ia merangkul pinggang Fira dan mengajaknya menuju kasir dengan tergesa. Hatinya cemas memikirkan Ardi dan Ryan yang tidak ia ketahui ada dimana.
Di mushola.
Ardi duduk sambil memeluk lutut. Wajahnya pucat karena takut. Ruan dengan setia menemaninya.
"Sudah kamu jangan takut. Kita aman di sini. Pria itu tidak akan mungkin datang kemari."
"Iya. Jangan sampai ia melihatku. Dia akan membawaku pergi. Aku tidak mau pisah dari papa Salman. Papaku hanya papa Salman."suara Ardi gemetar. Tangannya makin erat memeluk lututnya.
Ryan mendekat dan merangkulnya.
"Kamu jangan takut. Ada aku. Aku tidak akan membiarkan dia membawamu."
Ardi menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia melepas rangkulan Ruan dan tangannya mulai melepas kaosnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Ryan kaget.
"Dia akan mengenaliku dalam pakaian ini. Aku harus membuangnya." Ardi melempar kaosnya begitu saja.
Ryan ikut melepas kaosnya lalu memberikannya pada Ardi.
"Pakailah! Nanti kau sakit. Kata papa Salman kau kan baru sembuh." Ryan menyodorkan kaosnya.
Ardi menatap Ryan haru.
"Makasih, Yan. Kamu baik banget. Aku memang kedinginan. Tapi kalau aku memakai kaos ini, kamu?"
Ryan celingukan. "Sebentar. Kamu tunggu saja di sini dan jangan kemana-mana" Ia mengambil kaos Ardi. Kemudian ia mengendap-endap keluar dari mushola.
Ardi menunggu Ryan dengan cemas. Sesekali ia mengintip ke arah luar. Saat ia melihat bayangan Ryan, baru dirinya bisa bernafas dengan lega.
"Tarrrraaaa...bagaimana?" Ryan memamerkan penampilan barunya. Kaos Ardi yang semula berkerah, ia hilangkan kerahnya dan juga kedua lengannya.
"Kau apakan kaosku?"
"Maaf. Aku membuang krah dan lengannya. Dengan begini, dia tidak akan mengenali ini sebagai pakaianmu kan?"
Ardi tersenyum lalu mengangguk.
"Aku akan mencari papa dan bunda. Takutnya mereka mencemaskan kita. Kamu tetap di sini. Apa kamu berani?"
Ardi menggeleng. "Jangan pergi!"
Ardi memegang erat tangan Ryan.
"Tapi kita harus memberitahu papa." ucap Ryan.
"Jangan pergi!" wajah Ardi kembali ketakutan.
"Ya sudah. Kita intip saja. Nanti kalau kelihatan papa keluar, aku akan mendekatinya."
Ardi mengangguk.
Ryan duduk di sebelah Ardi. Matanya mengawasi setiap orang yang keluar masuk mall.
"Kalian sedang apa di sini?" tegur seorang bapak yang rupanya adalah pengurus mushola.
"Ini pak, kami menunggu orang tua kami keluar dari mall." Ryan yang menjawab.
"Kalian terpisah dari orang tua kalian?" tanya bapak itu.
Ryan mengangguk.
"Ayo bapak antar ke bagian informasi agar dibuat pengumuman."
"Jangan!!!" Ardi dan Ryan berseru bersamaan.
"Kenapa? Kalian ini aneh. Kalau diinfokan, kalian akan cepat bertemu dengan orang tua kalian."
"Jangan, Pak. Sebenarnya kami disini sedang bersembunyi. Ada orang yang berniat jahat pada kami. Kalau diinfokan, orang itu juga akan tahu kalau kami di sini." Ryan menjelaskan.
"Berniat jahat? Penculik maksud kalian?"
"Semacam itu. Jadi kami akan menunggu orang tua kami keluar di sini." ucap Ryan menegaskan.
"I..iya pak." Ardi menambahi dengan suara bergetar.
"Bagaimana ya. Orang tua kalian pasti cemas." Dahi pengurus mushola itu berkerut memikirkan jalan keluar.
"Maaf, apa bapak punya hp?" tanya Ruan sopan.
"Punya. Tapi ya hp jadul." pria itu nyengir
""Boleh saya pinjam?"
__ADS_1
"Boleh. Sebentar saya ambil." pria itu melangkah meninggalkan Ryan dan Ardi
"Yan, kau yakin bapak itu orang baik?"
Ryan mengangguk.
Tak lama kemudian sang bapak datang.
"Ini nak, hp bapak." Ia menyodorkan hpnya pada Ryan.
"Boleh saya pakai telepon pak?" Ryan minta ijin sambil menerima hp itu.
"Silahkan."
"Kamu hafal nomor papa?" Tanya Ardi
Ryan menggeleng. "Tapi aku hafal no bunda."
Dia lalu memencet nomor ponsel Fira.
Di mall
"Mas, anak-anak di mana ya?" Fira berbisik ke Salman sambil.menunghu antrian.
"Kamu ngantri di sini! Aku akan mencoba memutar mencari mereka."
Fira mengangguk.
Salman mengelus bahu Fira sebelum pergi. Ia berkeliling tiap lorong mencari keberadaan Ardi dan Ryan.
Kalian dimana sih.
Setelah hampir tiap lorong ia periksa dan tidak menjumpai kedua anaknya, Salman kembali ke tempat Fira.
"Bagaimana Mas?"
Salman menggeleng. "Sayang sepertinya ponselmu berdering."
Fira segera membuka tasnya mengambil ponsel
"Mas?!" ucapnya panik sambil menunjukkan layar ponselnya ke Salman.
"Sini biar aku yang angkat." Salman mengambil ponsel Fira.
"Halo. Ini siapa?" Tegas Salman.
"Pa, ini aku Ryan. Aku dan Ardi ada di mushola dekat parkiran."
"Kalian baik-baik saja?" tanya Salman sambil menghembuskan nafas lega.
"Iya, Pa. Tapi Ardi, dia ketakutan."
"Kalian di sana saja jangan kemana-mana. Sebentar lagi papa jemput."
Salman menutup panggilan.
"Mereka aman."
"Alhamdulillah."
Selesai membayar belanjaannya, Salman dan Fira segera keluar menuju tempat parkir. Mereka tidak menyadari kalau Raul mengamatinya dari jauh
Kenapa mereka keluar hanya berdua? Bukankah tadi Anita bilang melihat anak mereka. Hm mencurigakan.
"Nit, abang tinggal dulu ya! Nanti kamu langsung ke mobil saja."
Anita melambaikan tangannya tanda memberi ijin Raul
Raul segera menyusul Salman.
Salman dan Fira berjalan menuju mushola.
"Pa!" panggil Ryan.
"Ryan!" Fira memeluk anaknya itu. Ia lalu mengusap kepalanya.
"Ardi mana?" tanya Fira saat tidak melihat Ardi.
"Dia ada di dalam. Ketiduran." jawab Ryan.
"Kalian kenapa bisa ada di sini?" Salman bertanya sambil mengamati sekeliling.
"Ardi bilang ada orang jahat lalu lari terus aku mengajaknya sembunyi di sini." Ryan menjelaskan.
Salman mengelus kepala Ryan. "Anak.pintar. Sekarang kamu sama.bunda pergilah ke.mobil. Ini kuncinya. Papa akan membawa Ardi!"
"Baik Pa."
"Sayang, pergilah dengan Ryan. Nanti aku akan menyusul."
Fira mengangguk.
Fira dan Ryan meninggalkan mushola menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Raul yang tadi mengikuti Salman memperhatikan dari jauh.
Rupanya anaknya ada di mushola. Anaknya seusia Ardi dan juga mirip. Aku bahkan hampir mengira dia adalah Ardi. Apalagi kaos yang dia pakai, seperti kaos Ardi yang dulu aku bawakan dari Dubai. Motif yang sama.
__ADS_1
Raul berbalik dan kembali masuk ke mall. Pada saat bersamaan, Salman keluar dari mushola sambil menggendong Ardi.