Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Assalamualaikum,Pak Haji." Andre mengunjungi Haji Karim selepas sholat Ashar.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Nak Andre. Masuk Nak!" Haji Karim membuka pintu dan mempersilahkan Andre masuk.


"Di luar saja Pak Haji, lebih sejuk." Andre mengambil tempat duduk yang ada di teras rumah Hj. Karim.


Haji Karim terkekeh lalu ikuta duduk di kursi yang berseberangan dengan Andre.


"Ada apa nih? Roman-romannya ada yang sedang galau." Hj. Karim kembali terkekeh.


"Pak Haji bisa saja. Selalu tahu apa yang saya alami. Saya jadi seperti punya bapak yang siap menampung semua keluh kesah saya."


"Alhamdulillah. Mumpung masih diberi nafas, setidaknya harus berguna bagi sesama. Ceritalah!"


Andre tanpa sungkan lagi menceritakan masalahnya termasuk keputusannya menerima tawaran Salman.


"Apakah yang sudah saya lakukan itu benar Pak Haji?" Andre menatap wajah Hj Karim yang sedang serius memikirkan ceritanya.


Hj Karim mengelus jenggotnya sambil manggut-manggut. Ia kemudian menarik nafas panjang.


"Beruntung kau bertemu dengan orang baik. Krena jika ia berahklak buruk, maka kau sudah masuk penjara sekarang."


Andre menunduk malu."Saya juga tidak tahu mengapa menyetujuinya begitu saja ide Ami, Pak Haji."


"Sekarang kau menyesal?"


Andre mengangguk.


"Itulah.Penyesalan memang selalu ada di belakang kalau di depan namanya pendaftaran." Haji Karim terkekeh.


Andre nyengir mendengar candaan garing Hj . Karim.


"Tapi masih bagus kau menyesal daripada tidak."


"Terus bagaimana Pak Haji?"


"Ya, kau kan sudah membuat keputusan. Jadi jalani."


"Maksud Pak Haji apakah keputusan saya dengan menerima saran Salman itu sudah tepat?'


Haji Karim mengangguk. "Dia tidak membawamu pada riba kan?"


Andre menggeleng,"Tidak Pak Haji. Saya mengangsur tanpa bunga dengan cara potong gaji saya. Dia yang membeli cash rumah buat saya. Uang seratus juta ia jadikan uang muka dan itu hadiah darinya karena.."


"Karena apa?" Haji Karim memandang penuh rasa ingin tahu.


"Karena ia berterima kasih saya sudah menceraikan Fira sehingga dia bisa menikahinya."


Hj. Karim tertawa lepas mendengar ucapan Andre.


"Seseorang yang kau anggap tidak berharga, malah bagaikan permata di mata pria lain. Itulah tipu daya kehidupan. Kau sudah terpedaya oleh setan."


Andre menunduk. Ia benar-benar menyesali kebodohannya menceraikan Fira.


"Jadi selalu ingat bahwa mungkin kau memandang biasa wanita di sisimu tapi pada saat bersamaan ada pria yang memandangnya dengan penuh kekaguman. Jaga baik-baik apa yang menjadi milikmu."


"Terus apa yang harus saya lakukan sekarang. Ami sepertinya terus berharap mendapatkan uang itu Pak Haji."


"Andre. Kaulah suaminya. Kaulah pemimpin keluarga. Pembuat keputusan adalah dirimu. Dia sebagai istri kewajibannya adalah tunduk dan patuh pada keputusanmu jika keputusan itu baik dan tidak bertentangan dengan agama. Sekarang kau harus tegas. Ajak dia pindah, atau tinggalkan dia di rumahnya."


"Begitu ya Pak Haji?"


"Iya! Oh ya, tadi siapa namanya?"


"Siapa Pak Haji?"


"Pria yang memberimu uang."


"Salman."


"Salman. Salman. Aku jadi ingin mengenal pria itu." Haji Karim bergumam sendiri.


Andre hanya mengamati perilaku Haji Karim


"Aku ingat dulu aku punya teman. Ia punya anak bernama Salman. Apakah ia adalah Salman yang sama? Tapi nama Salman kan banyak."


"Dimana teman pak Haji sekarang?"


"Dia sudah meninggal saat anak lelakinya mau lulus SMA."

__ADS_1


"Lalu anaknya?"


"Ia dan ibunya pindah ke Jakarta. Melanjutkan hidup di sana."


Bukankah Salman juga dari Jakarta.


Cukup lama mereka mengobrol hingga waktu mendekati magrib. Andre pamit untuk ke masjid.


 ***


Seminggu sudah berlalu. Andre sudah pindah ke rumah barunya. Mia terpaksa mengikuti keputusan Andre karena pihak bank memaksa untuk mengosongkan rumah.


Di rumah Salman.


Salman duduk bersandar di sofa. Ia tampak sangat kelelhan. Fira mendekat sambil membawa segelas minuman.


"Minum, Mas!" Fira duduk di sebelah Salman.


"Makasih sayang." Salman menerima gelas berisi minuman yang disodorkan Fira.


"Mas kita ke dokter ya!"


"Untuk apa sayang? Apakah kamu sakit?" Salman menaruh gelas di meja dan beringsut menghadapkan tubuhnya ke arah Fira.


"Bukan aku tapi mas Salman. Belakangan aku perhatikan Mas berubah. Mas gampang lelah dan ngantuk kan?Mas juga kadang uring-uringan nggak jelas. Apakah pekerjaan di kantor mas sangat banyak hingga membuat mas stres?"


Salman tersenyum. Dibelainya wajah Fira dengan penuh kasih sayang.


"Aku nggak papa. Pekerjaan juga nggak terlalu banyak, masih bisa aku atasi."


"Tapi mas, aku benar-benar khawatir. Kita periksa ya?" Fira memohon dengan mata pupiesnya.


"Baiklah jika itu membuatmu tenang."


"Ayo!"


"Sekarang?"


"Iya. Mumpung ada waktu."


"Ya sudah. Aku mandi dulu."


"Anda baik-baik saja. Tidak ada gangguan kesehatan yang patut di khawatirkan."


"Tuh kan. Apa kataku. Aku baik baik saja." Salman turun dari ranjang periksa. Ia lalu duduk di sebelah Fira.


"Tapi dokter, belakangan ia sering tampak kelelahan dan bahkan pucat."


"Pak Salman, sebenarnya apa yang amda rasakan?"


Salman melirik Fira. Ia takut jika menjawab jujur akan menambah kecemasan Fira.


"Mas, jawab pertanyaan dokter!"


"Sebenarnya sudah dua mingguan ini saya sering mual dokter dan sampai muntah."


"Mas kok nggak pernah cerita." Fira cemberut karena kesal bercampur khawatir.


"Aku nggak papa sayang." Salman mengelus punggung Fira menenangkan.


"Apa gejala mualnya diikuti nyeri di ulu hati, perut begah, perih dan panas di tenggorokan?"


Salman menggeleng. "Tidak dokter. Hanya mual yang sangat."


"Apakah ada pemicu yang membuat anda mual?"


Salman menggeleng, "Saya mualnya saat pagi. Oh ya, pernah pas lewat tempat orang jual martabak saya juga mual saat mencium aroma martabak saat digoreng."


"Eh, bukankah martabak itu makanan kesukaanmu mas?" Fira merasa heran dengan keanehan Salman.


Dokter tersenyum. "Sepertinya yang harus diperiksa adalah anda bu."


"Kok saya dokter?" Fira dan Salman saling menatap dalam kebingungan.


"Iya. Anda yang harus diperiksa. Soalnya apa yang dialami suami anda bisa jadi sesuatu yang ada dalam tubuh anda. Jadi andalah yang harus diperiksa."


Salman yang sudah paham apa maksud sang dokter tersenyum dengan wajah cerah.


"Ayo sayang. Kita periksa." Salman bangkit dari duduknya sambil menarik tangan Fira agar istrinya berdiri.

__ADS_1


"Kami permisi dokter."


"Kok permisi? Katanya aku harus periksa?"


"Kamu periksanya nggak di sini tapi di dokter lain."


Salman merangkul Fira dan membawanya keluar ruang periksa.


"Kenapa nggak di sini mas?"


"Karena dokternya laki-laki. Aku nggak mau dia menyentuhmu." Salman menjawab asal.


Fira diam saat mendengar jawaban Salman. Suaminya itu memang pencemburu. Tapi Fira bahagia, itu tanda kalau Salman sangat mencintainya.


***


'Sudah, mbak bisa turun!"


Fira bangun dan turin dengan dibantu Salman.


"Jadi bagaimana, Tante?" Salman duduk sambil bertanya pada dokter Hanna. Dokter obgyn yang masih familinya.


"Aku akan jawab tapi kamu harus janji dulu!"


"Janji apa tante?"


"Janji hari Minggu bawa istrimu ke rumah! Kamu ini menikah nggak bilang-bilang. Mamamu juga begitu. Sekalinya ngasih kabat perceraian. Lalu memberi kabar lagi pernikahanmu. Tapi nggak ngundang kami."


"Maaf Tante. Nikahnya juga mendadak dan buru-buru. Soalnya takut didahului orang." Salman mengerling kepada Fira.


"Gayamu." Dokter Hanna tertawa.


"Ok. Saya janji hari Minggu akan membawa keluarga kecil saya ke rumah tante Hanna."


"Kupegang janjimu. Awas kalau bohing!"


"Siap tante."


"Selamat. Istrimu hamil."


Jawaban lugas Dokter Hanna mengejutkan Fira dan membahagiakan Salman.


"Tapi kami baru menikah satu bulan lebih beberapa hari dokter." gumam Fira masih tidak percaya.


'Sepertinya saat malam pertama kalian, kamu sedang masa subuh sehingga langsung terjadi pembuahan."


"Tuh kan sayang. Makanya saat itu aku mengajakmu bermain berkali kali agat langsung jadi."


Fira memukul lengan Salman yang ngomong tanpa disaring.


"Jangan kaget. Dia memang begitu." Dokter Hanna tertawa.


"Tapi saya masih bisa itu kan tante?"


Fira kembali memukul lengan Salman.


Salman hanya mengelus lengannya bekas pukulan Fira.


"Boleh. Asal tidak terlalu sering dan hati-hati karena usia kandungannya masih muda."


"Terimakasih tanteku. Aku pulang dulu."


Salman menjabat tangan Dokter Hanna.


"Tebus obatnya biar kamu nggak mual-mual." Dokter Hanna mengingatkan.


"Beres tante."


"Tante Fita pamit dulu."


"Iya Fira. Jaga baik baik kandunganmu mengingat usiamu juga usia rawan.Sering seringlah konsultasi padaku. Jangan sungkan!"


"Makasih tante."


Salman dan Fira akhirnya meninggalkan ruang periksa.


...----------------...


Alhamdulillah bisa up. Maaf jika tersendat. Soalnya butuh mood yang bagus kalau mau nulis agar idenya lancar.

__ADS_1


Makasih dukungannya.


__ADS_2