Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Berbagi Kebahagiaan


__ADS_3

Andre memasuki lobi kantor. Ia heran karena suasana di lobi tidak seperti biasanya. Pagi ini lobi kantor tampak meriah. Banyak bunga menghiasi setiap sudutnya. Bahkan ada meja besar berisi kue kue mini yang disuguhkan ke setiap orang yang masuk ke lobi tak terkecuali karyawan.


"Pagi Mas Andre!" Leana, teman sekantor Andre tiba-tiba berdiri di sebelah Andre.


"Baru datang Mas? Kenapa nggak langsung masuk? Malah bengong di mari." Leana memamerkan senyum manisnya.


"Ada apa ya Lea? Kenapa lobi tampak beda? Kenapa dihias sedemikian rupa? Ada kue banyak lagi." Andre mendekati meja yang menghidangkan aneka kue basah dalam berbagai bentuk dan jenis. Leana mengekor di belakangnya.


"Mas Andre nggak tahu?"


Andre menggeleng. "Kamu tahu?"


"Tahu. Tadi pagi batu tahu." Leana tertawa lirih.


"Itu namanya kamu juha baru tahu."


"Ya nggak papa, yang penting aku lebih tahu dari Mas Andre."


"Ok. Beritahu aku!"


"Mmm tapi nanti traktir aku makan siang ya!" Leana mengerjapkan matanya memohon.


"Iya iya. Cepag katakan!" Andre tidak sabar karena sangat penasaran.


"Baik, jangan ingkar! Tadi Pak Raihan, asistennya Pak Salman, yang memerintahkan menghias ruangan ini untuk menyambut Pak Salman nanti. Dan soal kue, itu perintah Pak Salman langsung. Beliau ingin berbagi kebahagiaan dengan para karyawannya."


"Kebahagian apa?"


Leana angkat bahu. "Aku juga belum tahu. Pak Raihan tidak bilang apa-apa. Katanya nanti Pak Salman yang akan menyampaikan berita gembira itu. Ayo mas, ambil kue!"


Leana mengambil wadah yang tersedia lalu mengisinya dengan kue sesuai seleranya. Andre melakukan hal yang sama.


"Kok kamu baru ambil kue? Bukankah kamu sudah datang sedari tadi?" Andre dan Leana berjalan berdampingan.


"Sengaja. Aku menunggu Mas Andre." Leana mengerling ke arah Andre.


Andre tertawa, "Bisa saja kamu."


***


"Sayang, ijin cuti ya!" Fira cemas karena Salman terus muntah muntah.


"Aku nggak papa.Kamu tenang saja nggak usah cemas. Aku justru menikmatinya." Salman menenangkan Fira.


"Mas ini aneh."


"Bener, aku menikmatinya. Bahkan jika nanti kamu hamil lagi, yang kedua, ketiga, keempat, aku tetap ingin seperti ini. Biar aku saja yang merasakannya. Jangan kamu." Salman membelai pipi Fira yang merona bahagia mengetahui betapa Salman sangat peduli padanya.


" Mas ini kayak kita akan punya anak banyak saja."


"Aku mau kita punya anak banyak sayang. Jadi kumohon jangan menggunakan alat kontrasepsi ya. Jangan menunda."


"Tapi kalau aku hamil lagi pas anak kita masih kecil bagaimana?"


"Nggak papa. Itu rejeki. Jangan ditolak!"


"Pasti akan repot."


"Nggak akan aku biarkan kamu repot sendirian. Aku akan carikan baby siter untuk masing masing anak kita nanti. Satu anak satu baby siter. Mereka akan membantumu."


Fira memandang Salman.


"Kalau anak kita banyak, waktu aku buat kamu pasti berkurang."


Salman memeluk Fira, "Nggak akan. Aku akan bersamamu mengurus mereka. Jadi kita masih akan selalu berduaan."


"Ya udah. Terserah sponsornya saja." Fira menjatuhkan kepalanya di dada Salman.


"Papa, bunda. Antarin aku sekolah!" Ruan mengetuk pintu kamar Fira.


"Ah sampai lupa. Mas juga. Nggak.kerja ya?"

__ADS_1


"Kerja dong. Aku sudah janji sama Raihan akan melakukan perayaan kehamilanmu bersama pegawai di kantor." Salman merapikan pakaiannya yang kusut.


"Jangan lupa obat dari dokter diminum mas!"


"Iya. Kalau mualnya nggak tertahankan akan aku minum." Salman merangkul Fita keluar dari kamar.


"Papa sakitkah?" Ryan menatap wajah Salman.


"Enggak. Memang kenapa?"


"Papa pucat."


"Iya soalnya papa barusan muntah." Salman mengusap rambut Ryan.


"Ayo berangkat! Nanti kamu terlambat."


Bertiga mereka berangkat bersama.


***


"Surprise!!!" Dewi memimpin staf yang lain memberi kejutan pada Fira.


"Selamat ya bu. Akhirnya yang dinanti hadir juga." Satu persatu staf di kantor Fira memberi bunga dan ucapan selamat.


"Makasih. Kalian pasti tahu dari Dewi ya?"


Mereka mengangguk sambil tertawa.


"Maaf ya sudah membuat kalian repot menyiapkan ini semua."


"Enggak kok bumil cantik. Kita sangat bahagia melakukan ini. Semoga bumil dan debaynya sehat selalu ya!" Ucapan Dewi langsunhlg diamini oleh staf lainnya.


"Ada apa ini?" Suara bariton Alan membuat yang ada di ruangan Fira menoleh.


"Oh Pak Alan. Silahkan, Pak! Bu kami keluar dulu." Dewi memberi isyarat kepada teman-temannya untuk keluar dati ruangan Fira.


"Ada apa? Kenapa banyak bunga?" Alan mengambil satu bunga yang tergeletak di meja Fira.


"Oh, anak-anak memberi ucapan selamat."


Fira diam.


Bagaimana ini? Apakah aku bilang saja. Tapi ..ah..Alan harus move on. Mungkin jika tahu aku hamil, dia baru bisa benar-benar berusaha melepaskan perasaannya padaku dan menerima wanita lain masuk ke hatinya.


"Selamat untuk kehamilanku."


Alan berjengkit kaget.


"Kau hamil?!?"


Fira mengangguk.


"Anak Salman?!?"


"Kalau bukan anak Mas Salman, anak siapa?" Fira cemberut.


"Maaf bukan maksudku begitu. Soalnya kamu dan Salman sama-sama lama menikah dan nggak punya anak. Jadi aku berpikir kalau kalian..."


"Mandul?! Kamu nggak salah berpikir demikian. Bahkan mantan suamiku juga berpikir demikian hingga ia menikah lagi dengan alasan ingin memiliki anak. Tapi sayangnya ternyata aku nggak mandul. Begitupun Mas Salman."


Alan menelan ludah dengan susah payah.


"Selamat kalau begitu. Pasti Salman sangat bahagia."


"Kami sangat bahagia. Oh ya. Tadi bapak kemari ada perlu apa?"


"Itu, apa Anita menghubungimu?"


Fira mengernyitkan alisnya sambil menggeleng.


"Begitu ya. Tolong jika nanti ia menghubungimu, sampaikan kalah aku sangat menyesal. Jika ia mau, aku akan bertanggung jawab."

__ADS_1


Bertanggung jawab? Apa yang sudah terjadi di antara mereka. Sejak peristiwa ciuman itu, Anita bagai menghilang. Dia tidak pernah menghubungiku lagi.


"Baik."


"Baik?!?" Alan mengulang jawaban Fira sambil menatap tajam wajah Fira.


"Iya. Saya akan menyampaikan pesan bapak jika Anita menghubungi saya."


"Kau tidak ingin tahu kenapa aku berkata mau bertanggung jawab?"


"Maaf, tapi itu urusan bapak dan Anita. " Saya tidak ingin terlalu ikut campur."


"Ra, aku teman baikmu. Sahabat suamimu. Apakah kamu lupa?"


Fira diam.


"Sudahlah. Terima kasih atas kesediaanmu membantuku."


Alan keluar.


Apa aku salah bicara? Kenapa Alan marah.


***


Salman memasuki lobi kantornya. Raihan sudah meminta staf baris. Ada Andre di antara mereka.


"Satu, duq, tiga."


Sebuah kain bertuliskan "Selamat menjadi calon ayah." terbentang menyambut kedatangan Salman.


Salman tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Apa maksud tulisan itu. Calon ayah? Salman akan menjadi ayah? Apa Fira hamil?


Andre terbelalak membaca ucapan selamat untuk Salman.


"Terima kasih atas ucapan selamat yang kalian berikan. Ini pasti ulah kamu ya Rai?!"


Raihan membungkuk lalu membuat gerakan menghormat dengan tangan kanannya.


"Hari ini saya ingin merayakan kebahagiaan saya bersama kalian jadi hari ini kalian hanya setengah hari bekerja ."


Belum selesai Salman berkata, tepuk tangan riuh menyambut ucapannya.


"Tapi gaji tetap utuh kan pak?" celutuk salah satu karyawan yang langsung menimbulkan suara tawa.


"Tenang saja. Gaji ful." Salman mengangkat kedua tangan meminta para karyawan menghentikan tertawanya.


"Yes."


"Pak Salman memutuskan kerja setengah hari pasti karena ingin cepat pulang juga kan? Nggak tahan jauh jauh dari istri." goda karyawan Salman.


Salman hanya menanggapinya dengan senyuman manisnya. Namun beda halnya dengan Andre. Hatinya bagai dicubit. Sakit.


"Yaiyalah. Kan kerjaan Pak Salman nambah. Harus mengukir kuping, mata, hidung dan masih banyak lagi."


Gemuruh tawa bergema mendengar candaan itu.


"Sudah!Sudah! Kalian mau bekerja apa tetap berkumpul di sini? Atau nggak jadi kerja setengah hari?"


"Jangan Pak."


Para karyawan membubarkan diri. Sebelum kembali ke ruangan masing masing, mereka menyalami Salman.


Andre yang paling akhir mendatangi Salman.


"Jadi Fira hamil?"


"Alhamdulillah.Iya." Salman mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Selamat!"

__ADS_1


Andre mengulurkan tangan dan disambut oleh Salman. Salman menarik Andre dan memeluknya.


Mengapa Fira bisa hamil? Jadi sebenarnya akukah yang bermasalah? Tapi Ami pernah hamil meski akhirnya keguguran?


__ADS_2