
Hampir tiga bulan sudah, aku menjalani masa janda. Dan itu artinya juga hampir tiga bulan aku menjadi sekretaris Alan. Ya, jabatan baruku adalah sekcam atau sekretaris camat dan camatnya adalah Alan. Sepertinya aku dan Alan memang berjodoh kalau urusan kerjaan. Dan Dewi, entah bagaimana caranya, ia juga mutasi ke kantorku. Kembali menjadi staf di kantor kecamatan.
"Pagi Bu Sekcam." Suara ceria Anita menyapaku. Penampilan gadis ini sudah berubah. Sekarang ia berhijab. Sikapnya masih ceria namun sudah tidak pecicilan lagi, dan dia masih sangat rajin mengantar dan menjemputku. Ia juga senang menemaniku kemanapun aku pergi. Namun sampai sekarang, ia belum mau memberitahukan siapa yang menyuruhnya.
"Nit! Kamu dibayar berapa sih sama tuh orang?" tanyaku saat kami dalam perjalanan ke sekolah Ryan.
"Mmm besar pokoknya. Sesuai harapanku." balas Anita dengan mimik jenakanya.
"Sudahlah, kasih tahu mbak!"
"No no no." Anita menggelengkan kepalanya tiga kali.
Harus dijebak nih.
"Kabar Alan gimana Nit?"
"Hah, mbak ini aneh. Kan yang setiap hari ketemu mbak Fira. Kok nanyanya ke aku?"
"Maksud mbak, hubungan kalian."
"Ya biasa saja."
"Masih pura-pura?"
"Ya begitulah."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan ya? Sampai mbak Fira nikah." Anita melirikku.
"Lho kok jadi aku?"
"Iya. Kalau mbak Fira nikah, Kak Alan pasti juga pengen nikah. Jadi kita nikah deh, hahahaha." Ringan sekali jawaban Anita. Tanpa beban.
"Nit!"
"Iya mbak?"
"Kamu kan anak orang kaya, kok mau sih disuruh suruh antar jemput aku? Nggak malu?"
Anita menggeleng,"Dengan menemani mbak, aku ngerasa jadi orang berguna. Selama ini kerjaanku hanya main dan hura-hura. Bersama mbak, aku mendapat banyak ilmu. Jadi aku nggak malu dan nggak rugi. Aku pengen hebat kayak mbak Fira." puji Anita dengan amta fokus ke jalanan.
"Hebat apanya. Rumah tanggaku saja berantakan." Aku tersenyum getir.
"Itu bukan salah mbak. Dia saja yang nggak tahu bersyukur." bibir Anita manyun.
Aku tertawa geli.
"Mbak bagaimana dengan Kak Salman?" Anita melirikku.
Kak Salman. Sejak sidang terakhir kemarin ia belum ada kabarnya.
"Mbak?!" Anita mencolek lenganku.
"Eh. Kamu nanya apa tadi?" aku tergagap.
"Yaahh...mbak ngelamun ya? Bagaimana dengan Kak Salman?!"
"Aku tidak tahu. Sudah lama dia nggak ada kabar." jawabku sendu.
"Pantas. Tadi waktu aku tanya langsung melamun. Kangen ya?!" goda Anita.
"Apaan sih?" elakku namun tak urung wajahku memerah.
__ADS_1
Benarkah aku kangen. Kak Salman kenapa nggak ada kabar. Apa terjadi sesuatu dengannya?
"Sudah sampai, Ryan." seri Anita lalu menoleh ke belakang. Ryan masih asik memainkan ponselnya.
"Sini ponselnya!" aku mengambil ponsel dari Ryan. Kami lalu turun.
"Dah bunda. Dah tante. Assalamulaikum."
"Kakak Ryan..kakak." rengek Anita yang nggak mau dipanggil tante.
"Waalaikumsalam."
Aku tertawa melihat ekspresi kesal Anita karena Ryan masih saja memanggilnya tante.
Setibanya di kantor, Dewi langsung menempel padaku.
"Dia mengantarmu lagi? Sebenarnya apa sih maunya?Kok terus mendekatimu?"
"Siapa?Anita?"
"Siapa lagi. Diakan wanita yang dijodohkan dengan Bos Alan. Kenapa dia terus lengket denganmu?Pasti ada maunya. Kalau dia baikin kamu, maka kamu nggak akan ngambil bos Alan darinya."
"Wik, Anita gadis yang baik. Titik. Sudah ya..jangan khawatir. Ia tidak ada modus apa-apa. Dia baik padaku karena ada yang menyuruhnya."
"Oh ya?!? Apa bos Alan ya?"
Aku mengangkat bahu. "Sudah, keluar sana. Aku mau kerja."
"Aish...siap bu sekcam." Dewi memberi hormat lalu keluar.
Baru saja aku mendudukkan tubuhku di kursi, ponselku berdering. Video call dari Elsa
Kebetulan. Lama aku berniat menghubunginya, tapi karena kesibukanku, jadi tertunda terus.
"Assalamualaikum, Sa. Hai, pa kabar?" ku lihat wajah Elsa kian kurus dan pucat.
"Tapi tidak denganku Sa. Aku menyayangkan keputusanmu menggugat cerai Kak Salman. Apa yang kau pikirkan hingga membuat keputusan seperti itu, Sa? Tidakkah kau kasihan pada Ardi?!"
"Ra...untuk itulah aku meneleponmu sekarang. Kau masih ingat permintaanku saat kau ke Jakarta beberapa bulan yang lalu?"
"Ya. Dan aku sudah menolaknya."
"Kau menolak karena kau nggak mau dan nggak bisa jadi yang ke dua kan? Jadi sekarang kau tidak akan jadi yang kedua lagi."
"Sa! Jangan bilang kau menuntut cerai demi aku!"
"Hahaha...bukan demi kamu Ra. Tapi demi aku. Demi agar aku selamanya tidak dihantui rasa bersalah baik padamu maupun pada Kak Salman."
"Sa! Pernikahan kalian bukan kesalahan."
"Kamu nggak tahu Ra. Kamu nggak tahu cerita yang sebenarnya. Aku salah Ra. Aku telah berbuat salah. Kak Salman. Aku sengaja memisahkan kalian. Kak Salman. Aku menjebaknya. Ardi bukan anak Kak Salman. Ra."
Duarr
Pengakuan Elsa sangat mengejutkanku.
"Sa!"
"Kamu nggak perlu kaget Ra. Aku sangat mencintai Kak Salman. Saat itu yang kupikirkan adalah bagaimana mendapatkannya. Aku melakukan segala cara termasuk membohongi Kak Salman tentang hubunganmu dan Alan."
"Kak Salman, apa dia tahu soal Ardi?"
"Dia tahu Ra. Sejak awal dia tahu. Dia tidak pernah menyentuhku sampai aku melahirkan Ardi."
__ADS_1
"Kenapa dia..." Aku tidak melanjutkan ucapanku karena takut menyinggung Elsa.
"Kenapa dia bertahan? Itu yang ingin kau tanyakan? Dia patah hati Ra. Baginya menikah dengan siapapun tidak ada bedanya. Sama-sama bukan denganmu. Dia mencintaimu Ra. Sampai sekarangpun ia masih mencintaimu."
Aku diam.
Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia tidak percaya begitu saja soal hubunganku dan Alan.
"Ra, maukah kau memenuhi dua permintaanku?" Wajah Elsa mengernyit seperti menahan sakit.
"Sa, kau tidak apa-apa?" aku khawatir melihat wajahnya yang kian pucat.
Elsa menggeleng lemah.
"Bukankah kau janji akan berobat ke Singapura jika Kak Salman setuju bercerai?Kenapa kau belum berangkat juga?"
"Aku akan berangkat jika keinginanku sudah terpenuhi Ra. Jadi berjanjilah kau akan memenuhi dua keinginanku. Setelahnya aku akan berobat."
"Sa, kumohon. Jangan jadikan sakitmu untuk menekanku." kataku gusar karena Elsa semakin pucat.
"Maafkan keegoisanku Ra. Ijinkan aku memperbaiki semuanya."
"Aku memaafkanmu. Tidakkah itu cukup."
Elsa menggeleng. Wajahnya kian pucat.
"Ku mohon, menikahlah dengan Kak Salman."
Bruk. Pet.
Layar kameraku tiba-tiba gelap. Tidak ada lagi wajah Elsa. Aku bingung apa yang sedang terjadi. Dalam kebingunganku a aku mendengat suara teriakan dari dalam ponselku
"Elsaaa!!"
Suara wanita menjerit memanggil nama Elsa.
"Elsa!!" aku berteriak mencoba memanggil Elsa melalui ponselku. "Elsa, kau kenapa!! Jawab aku!! Siapapun di sana jawab aku."
Ponsel Elsa sepertinya ada yang mengangkat.
"Fira!" Wajah Bu Hera, mamanya Elsa tampak di layar.
"Bu, Elsa?"
"Elsa pingsan. Ra, ibu sudah tahu dan mendengar pembicaraan kalian. Elsa juga sudah menceritakan semuanya pada ibu. Ra, ibu memohon padamu, penuhi keinginan Elsa, nak. Karena mungkin itu keinginan terakhirnya."
Aku terpaku mendengar ucaoan Bu Hera.
Separah itukah Elsa.
"Ra bersediakah kau menikah dengan Salman?" tanya Bu Hera. "Ibu mohon. Kalau kamu bersedia, Elsa akan langsung berangkat ke Singapura untuk berobat Ra."
Demi Elsa, bukankah aku hanya tinggal bilang iya. Perkara nikah tidaknya, itu tergantung nanti. Siapa tahu Elsa sembuh.
" Bu, tolong dekatkan ponselnya ke Elsa!"
Aku melihat Bu Hera mendekatkan ponselnya ke Elsa. Aku melihat ada perawat yang mencoba menyadarkan Elsa. Cukup lama perawat itu berusaha, akhirnya Elsa sadar juga. Aku menitikkan airmata melihat tubuh ringkih wanita yang dulu pernah menjadi sahabatku itu.
Mata Elsa terbuka dan langsung menatapku. Ia memaksakan untuk tersenyum.
"Sa. Aku penuhi permintaanmu. Aku akan menikah dengan Kak Salman."
***
__ADS_1
Kasih like yang banyak dong
kasih Vote juga