Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Keluarga kecil Salman


__ADS_3

Salman memandang jeran ke arah Fira yang masuk ke mobil dengan wajah lesu. Tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum.


Salman membuka kaca mobil lalu melongokkan kepalanya ke luar.


"Mas, apa yang kau lakukan?" Fira menyentuh bahu Salman.


"Melihat langit? Langit cerah." jawab Salman lalu menarik kepalanya masuk.


"Langit di luar cerah lalu kenapa wajah cantik istriku ini mendung?" Salman mengelus wajah Fira.


"Aku kesal Mas." Fira menjawab lalu cemberut.


"Kesal sama Mas ya? Karena Mas telat jemput?" tebak Salman. Sore ini ia telat lima menit tidak seperti biasanya yang selalu on time.


Fira menggeleng, "Bukan. Bukan kesal pada Mas Salman. Tapi sama Ami."


"Ami? Ami istrinya Andre?" Salman bertanya sambil menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya memecah lalu lintas sore.


"Iya. Tadi ia ke.kantor."


"Untuk apa?"


"Ya itulah. Dia menuduhku balas dendam dengan membuat Andre dan Leana menikah." Fira berkata penuh rasa kesal.


"Terus kamu jawab apa?" Salman menanggapinya dengan santai. Ia tahu kalau saat ini Fira butuh tempat buat mengeluarkan semua kekesalannya. Jadi dia memutuskan untuk jadi pendengar yang baik.


"Ya aku jawab kalau aku nggak perlu balas dendam. Justru aku berterimakasih padannya."


"Berterima kasih? Untuk apa?"


"Ya dengan hadirnya dia, aku dan Andre akhirnya cerai dan kita bisa menikah."


Salman tertawa lirih.


"Kok Mas teryawa sih? Jadi tambah kesal."


Salman meraih tangan Fira lalu menggenggamnya.


"Mas tertawa karena bahagia. Jawabanmu tadi menunjukkan kalau kamh merasa lebih beruntung mendapatkan aku. Benar tidak? Tidak kebanggaan lo buatku."


Salman mengecup punggung tangan Fira.


"Sudah. Jangan ditanggepi orang seperti itu. Dia itu belum selesai dengan dirinya sendiri, makanya bawaannya selalu curiga pada orang lain." Salman mengelus kepala Fira.


"Bagaimana kabar anakku?Rewel enggak?" Tangan Salman berpindah ke perut Fira.


"Enggak. Dia baik kayak papanya." Fira memegang tangan Salman yang ada di perutnya.


"Mm gitu ya. Agar semakin mirip papanya berarti harus sering berinteraksi dengan papanya."


"Iya. Mas Salman kan sering mengajaknya mengobrol."


"Dan harus sering dijengukin juga diajak main bersama." Salman mengedipkan matanya.


"Modus!"


Salman kembali tertawa.


"Kita sudah sampai." Salman memelankan laju mobilnya saat mendekati sekolah Ryan.


"Kamu tunggu saja di sini. Aku yang akan turun." Salman mengecup kening Fira lalu turin dari mobil.


Fira melihatnya, saat Salman berbicara dengan satpam. Tak berapa lama kemudian, Ryan dan Ardi keluar.


"Bunda!" Sapa kedua bocah itu saat masuk mobil dan duduk di kursi belakang Fira.


Fira tersenyum senang saat Ardi sudah tidak canggung lagi memanggilnya bunda.


Salman masuk dan mulai melajukan mobilnya.


"Bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Fira kepada kedua bocaj di belakangnya.


"Seru bunda. Enak ada Ardi. Ryan merasa punya saudara." jawab Ryan bahagia.


"Kalau Ardi? Bagaimana hari pertamamu?" Fira memutar kepalanya menatap ke Ardi.


"Enak. Untung ada Ryan jadi Ardi nggak merasa terlalu asing, Bunda." jawab Arfi menatao mata Fira. Ia sedikit lirih saat menguvap kata bunda karena gugup dipandangi oleh Fira.


"Wah hal baik semacam ini patut dirayakan." Salman bersuara.


"Kita rayakan dengan makan malam di luar. Bagaimana?" sambung Salman.


"Bagaimana anak-anak?"


"Yes! Ryan mau." Ryan sangat bersemangat.


"Ardi juga mau." Ardi berbinar. Kebahagiaan masuk ke dalam hatinya. Ia semakin yakin kalau papanya masih menyayanginya meski sudah memiliki keluarga yang baru.


Mobik mereka terus meluncur membelah lalu lintas menuju ke rumah. Arfi dan Ryan terus menceritakan kegiatan mereka di sekolah. Jika ada yang lucu, mereka akan tertawa.


Fira tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya. Ia sempat merasa takut kalau keduanya akan menjaga jarak sebab malam sebelumnya mereka berkelahi.


Mobil tiba-tiba melambat lalu menepi dan berhenti.


"Ada apa mas?" Fira menatap Salman yang pandangannya fokus ke satu arab.


"Itu Alan kan?"

__ADS_1


Fira mengikuti arah pandangan Salman. Ia melihat Alan turun dari mobil sambil menggeret koper masuk ke sebuah hotel.


"Kenapa dia ke hotel?" gumam Fira.


"Apa ada jadwal pelatihan atau apa yang bertempat di hotel ini?"


Fira menggeleng.


"Sebenarnya dari tadi aku juga heran. Mestinya dia masih cuti namun pagi tadi muncul dan ikut rapat."


Fira dan Salman saling pandang penuh tanya. Salman lantas membuka pintu.


"Mas,mau kemana?" Fira mencegah Salman keluar dengan menahan tangannya.


"Aku akan bertanya padanya."


"Mas nggak usah. Kita nggak usah ikut campur." Fira menggelengkan kepala.


"Tapi Anita? Aku tidak bisa diam saja kalau Anita diperlakukan seenaknya oleh Alan. Anita pernah membantu kita sayang."


"Aku percaya kalau Anita akan datang ke kita saat membutuhkan bantuan. Namun saat ini kita lihat dulu situasinya. Siapa tahu ada acara mendadak di hotel itu yang aku tidak tahu."


"Tapi kau bisa mencari tahu kan?"


Fira mengangguk. "Ya Mas. Aku akan cari tahu. Kita pilang saja yuk. Anak-anak sudah kelelahan tuh." Fira mengalahkan ekor matanya ke belakang. Salman menoleh dan melihat Ryan serta Ardi sudah duduk bersandar dengan nyaman.


"Bagaimana mereka bisa tidur?" gumam Salman.


"Sudah ayo pulang. Ingat janji Mas mau ngajak mereka makan malam."


Salman menuruti ucapan Fira. Ia kembali melajukan mobilnya untuk pulang.


Malam hari.


"Ayo anak-anak. Kalian sudah siap apa belum?" Fira masuk ke kamar Ryan.


"Siap, Bunda." Ryan dan Ardi menjawab dengan kompak.


"Aduh, ganteng-ganteng banget anak bunda." Fira mencium kening Ryan dan Arfi bergantian.


"Siapa dulu dong papanya." Salman tiba-tiba sudah berdiri di belakang Fira.


Ruan dan Ardi segera keluar begitu Salman datang. Sementara Fira tertawa mendengar ucaoan narsis suaminya itu. Ia mengelus pipi Salman sambil berbisik.


"Memang papanyalah yang paling ganteng."


Salman merona. Refleks ia menarik pinggang Fira yang mulai berisi.


"Kau menggodaku sayang?" Ucap Salman diakhiri dengan ciuman di bibir ranum Fira.


Fira mendorong tubuh Salman saat pria itu malah keenakan." Anak-anak sudah menunggu."


"Nanti ya!" pintanya memelas.


Fira tidak menjawab. Ia hanya meleletkan lidahnya menggoda Salman sambil menjauh dari suami tampannya itu.


Salman mengeraskan rahangnya menahan rasa yang muncul akibat ulah Fira.


"Mas, kita mau makan di sini? Apa enggak terlalu mewah?" bisik Fira saat mobil Salman memasukan pelataran sebuah resto yang termegah di kotanya itu.


"Sekali-sekali nggak papa sayang. Hitung-hitung perayaan selamat datang buat Ardi. Ayo turun!" Salman lalu menoleh ke belakang."Anak-anak ayo!"


Ryan dan Ardi langsung membuka pintu begitu komando Salman terdengar.


Fira juga keluar. Mereka berempat berjalan masuk ke restoran dengan bergandengan tangan.


Salman memeluk erat pinggang Fira dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggandeng Ardi. Ryan bergandengan dengan Fira.


"Anda sudah datang Mari saya antar ke meja anda." seorang pelayan me yambut mereka.


"Mas sudah reservasi? Kapan?" Fira berbisik. Ia tidak menyangka kalau Salman sudah memesan meja.


"Tadi pagi." Salman tersenyum.


"Kok bisa? Bukankah rencana makan di luar baru tadi sore."


"Enggak sih. Aku sudah punya rencana ini sejak pagi.


"Oo gitu." Fira mencebik.


"Kondisikan tuh bibir. Jangan membuatku khilaf." Salman memberi cubitan kecil di pinggang Fira.


"Ish dasar Omes." Fira menggerutu.


Salman hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan Fira.


"Silahkan Tuan. Ini ruangan untuk keluarga tuan. Makanan sebentar lagi akan kami antara."


Salman mengangguk sebagai jawaban.


"Wah ini asik sekali. Pemandangan malam terlihat dari sini." Ryan mendekati jendela kaca yang menampilkan pemandangan malam di kota. Lampu bertebaran di mana-mana seperti bintang.


"Kalian suka tempatnya?"


"Suka pa."


"Kalau bunda suka enggak?" tanya Salman mesra.

__ADS_1


Fira hanya menatap suaminya. Ia sadar jika ucapan mesra sudah keluar, pria dihadapannya ini pasti ada maunya.


Fira tersenyum sambil menggerakkan kepalanya penuh hormat pada Salman.


Salman terkekeh melihat Fira berakting formal.


Tak lama kemudian makanan tiba. Mereka lantas sibuk menyantap hidangan yang diaajikan.


"Enak banget. Ryan belums pernah makan makanan kayak ini." Ryan tampak gembiri.


Fira menatapnya sedih. Ya dulu mereka harus berhemat. Jadi nggak bisa datang ke rumah makan mewah begini.


"Kalau Ryan suka, kapan kapan kita bisa ke sini lagi "..


"Betul, Pa?!" Mata Ryan berbinar.


Salman mengangguk.


"Yes!!"


"Mas, jangan terlalu memanjakannya." Fira berbisik perlahan agar tidak didengar oleh kedua anaknya.


"Nggak papa sayang. Toh nggak setiap hari."


Mereka lalu makan dengan tenang. Selesai makan, Salman memanggil pelayan resto untuk membayar bill.


Setelah semuanya beres, mereka keluar dengan hati puas.


Di palataran resto, Fira menarik tangan Salman.


"Mas itu kan Alan?"


Mereka melihat Alan masuk ke resto.


"Mm rupanya ia mau makan malam juga. Biarkan saja. Katamu kita nggak boleh mencampuri urusannya." Salman menarik tangan Fira menuju mobil.


"Pa, kita ke mall dulu ya! Aku mau beli cemilan buat nanti malam. Banyak tugas, Pa." pinta Ardi.


"Banyak tugas kok belinya cemilan."


"Ya buat ngemil sambil.ngerjain tugas pa. Bukan begitu Ryan?"


"Ha, aku nggak pernah ngemil kalau belajar. Lagipula ngemil itu nggak sehat kata bunda."


"Kamu nggak asik ah." Ardi cemberut.


"Ok, kita ke mall. Tapi beli cemilannya yang sehat. Kita cari buah." Salman memutuskan.


"Kalau itu Ryan juga mau."


"Ya sudahlah daripada enggak. Tapi boleh nambah coklat kan, Pa?" rengek Ardi.


"Bagaimana bunda?" Salman malah melemparnya ke Fira.


"Boleh tapi jangan terlalu banyak." tegas Fira.


"Makasih bunda." Ardi berteriak bahagia.


Salman tersenyum.


Di Mall


Keluarga Salman sedang sibuk memilih buah, dan di tempat yang sama, Anita juga sedang belanja. Ia juga memilih buah buahan.


"Anita!" panggil Fira.


"Mbak." Anita langsung mendekati Fira. Mereka bersalaman lalu cipika cipiki.


Fira mengeryitkan alis saat melihat banyak tanda merah di leher Anita meski disamarkan dengan foundation.


"Pengantin baru kok belanja sendirian. Kana suamimu?" tanya Salman.


Anita tersenyum tipis.


"Dia sedang ada kerjaan di luar kota. Katanya akan lama. Mbak Fira pasti tahu. Kan kalian satu kantor." jawab Anita.


Fira menelan salivanya dengan susah payah. Dia memandang iba pada Anita. Rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke hati Fira. Alan melakukan ini pasti karena belum bisa mencintai Anita dan itu karena dirinya.


Fira sedih. Ia menarik Anita dan memeluknya erat.


"Mbak ada apa?" tanya Anita yang heran dengan sikap Fira.


Fira melepaskan pelukannya.


"Nggak papa. Mbak hanya bahagia akhirnya kamu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai. Semoga kalian langgeng."


Anita tersenyum tipis.


Andai mbak tahu perlakuannya padaku.


"Kamu sendirian, Nit?" Salman ikut bicara.


"Aku diantar sepupu aku kak." jawab Anita.


"Tuh dia!" Anita menunjuk.pada seorang pria yang berjalan mendekat.


"Raul." gumam Salman cemas. Ia langsung menoleh ke tempat anak-anaknya tadi berada dan ia kaget saat tidak menjumpai Ryan dan Ardi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2