Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Menghindari Raul


__ADS_3

Tubuh Elsa seketika tegang. Ia buru-buru menaruh gelas dan melangkah mendekati Salman.


"Man." panggilnya setengah berbisik.


Salman menoleh.


"Raul." Elsa menunjuk ke atas pelaminan dimana Raul sedang memberi selamat pada Alan dan Anita.


"Kita pulang!" Salman langsung menarik tangan Fira.


"Ada apa, Mas?"  Fira menatap Elsa yang panik lalu beralih ke Salman.


"Nanti aku ceritakan. Yang jelas kita tidak boleh tampak di sini saat ini."


Tanpa banyak bertanya, Fira mengikuti langkah kaki Salman yang cepat. Mereka menuju parkiran. Salman membukakan pintu untuk Fira sedangkan Elsa langsung membuka pintu belakang dan masuk. Ia duduk sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Sa, kamu tidak apa-apa?" Fira menengok dan menatap Elsa khawatir.


Elsa mengangguk. "Aku tidak apa-apa."


Salman segera memacu mobilnya meninggalkan tempat resepsi Alan.


Alan yang sempat melihat kepergian ketiga orang itu tampak bingung.


Kenapa mereka terburu-buru? Dan Elsa? Kenapa Salman mengajaknya juga? Ada apa ini?


"Selamat ya Nit." Raul menyalami dan memeluk Anita.


"Terima kasih, Bang. Kapan abang menyusul? Jangan lama-lama sendiriannya, Bang!"


"Abang sedang berusaha, sebentar lagi juga menyusulmu."


"Amiin."


Raul lantas mendekati Alan."Selamat. Nitip Anita. Kalau kau sampai menyakitinya, kau akan berhadapan denganku."


Alan hanya tersenyum tipis sambil balas menjabat tangan Raul.


Setelah berfoto, Raul turun dan bergabung dengan keluarga Anita.


***


"Sekarang kalian harus cerita!" Fira menatap Elsa yang ada di hadapannya dan Salman yang duduk di sampingnya bergantian.


"Sa!" Salman meminta Elsa yang bercerita.


"Laki-laki yang tadi adalah papa kandung Ardi."


Fira kaget. Ia langsung menoleh ke Salman.


"Kau tahu kenapa Ardi sakit? Dia tertekan saat mengetahui kalau dia bukan anakku."


"Oh."


"Raul datang ke sekolah Ardi sambil membawa surat pengesahan. Ia menunjukkan pada pihak sekolah. Semua teman Ardi menjadi tahu kalau Ardi bukan anak kandungku sehingga mereka membulynya."


"Oh kasihan Ardi." gumam Fira sambil menatap Elsa yang menunduk.


"Semua salahku." suara Elsa lirih.


"Lalu kalau ia papa kandung Ardi kenapa kita harus menghindarinya?"


"Raul tidak tahu kalau aku membawa Ardi. Jika tahu dia pasti akan mendatangi Ardi lagi." Salman menjelaskan alasannya.


"Tapi bukankah salah ya, kita memisahkan ayah dan anak?" Fira kembali menatap Elsa dan Salman bergantian.


"Aku tidak berniat memisahkan mereka. Setidaknya sampai kondisi Ardi baik dan bisa menerima kenyataan ini. Pelan-pelan aku akan memberinya pengertian. Kamu bantu aku ya sayang" balas Salman lalu menggenggam tangan Fira.

__ADS_1


Fira mengangguk sambil membalas genggaman tangan Salman.


"Ra,sebelum aku berangkat berobat waktu itu, aku pernah memintamu berjanji satu hal kan." Elsa mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Ia menatap Fira penuh harap.


Fira mengangguk, "Iya. Aku ingat. "


"Kau berjanji akan memenuhi apapun permintaanku."


Fira kembali mengangguk. "Aku tidak akan mengingkari janjiku."


Salman mempererat genggaman tangannya. Ia was-was jika Elsa meminta yang aneh-aneh.


"Sa, Fira sekarang istriku. Apapun yang ia putuskan nanti harus meminta persetujuan dariku." Salman mengingatkan Elsa sekaligus berjaga-jaga kalau Elsa meminta hal yang tidak masuk akal.


"Aku tahu." jawab Elsa getir.


Awalnya aku ingin memintamu mengijinkanku menjadi istri kedua Salman, namun melihat kuatnya cinta Salman padamu, aku hanya akan menggali lubang penderitaanku sendiri jika setiap hari melihat kemesraan kalian. Dan Ardi, dia lebih membutuhkan janjimu daripada aku.


"Ra, aku titip Ardi. Berjanjilah kalau kau akan mendidiknya seperti anakmu sendiri. Meski nanti bayi kalian lahir, berjanjilah kau tidak akan membedakan perlakuanmu terhadap Ardi. Meski nanti Ardi sudah bisa menerima Raul, kumohon jangan berikan Ardi padanya karena aku tidak yakin Ardi akan tumbuh dengan baik dalam asuhan Raul dan keluarganya. Bisakah kau memenuhi janjimu dulu, Ra?"


Fira memandang Salman. Ucapan Salman tadi mengingatkannya kalau apapun yang ia lakukan harus meminta persetujuan suaminya itu.


Salman mengangguk.


"Aku janji, Sa. Aku janji."


"Terima kasih, Fir.Aku tahu kau sangat baik. Maafkan salahku dulu." Elsa menangis sedih. Tanpa ia ketahui, darah meleleh dari hidungnya.


"Sa, kau berdarah." Fira segera mengambil tisu yang ada di hadapannya dan mengusap darah yang keluar dari hidung Elsa.


"Aku tidak apa-apa." Elsa mengambil tisu dari tangan Fira.


"Kita pulang saja. Udara malam sepertinya tidak baik bagi kesehatanmu." Salman berdiri. Ia mengulurkan tangan membantu Fira.


Sikap perhatian Salman pada Fira itu tak luput dari mata Elsa.


Semua yang kau lakukan padanya sangat alami, tampak dari hati dan tidak ada keterpaksaan sama sekali. Ternyata cintamu padanya memang sangat besar, Man. Di sini aku yang sakit, tapi Fira yang selalu kau lindungi dan jaga.


"Sa, malam-malam begini?" Fira tidak percaya dengan permintaan Elsa.


"Lebih cepat aku kembali ke Jakarta lebih baik. Kalau aku menunda aku takut Raul mengetahui keberadaanku dan berpikir kalau Ardi juga ada di sini."


"Baiklah." Salman mengiyakan permintaan Elsa.


Fira tidak lagi berkata. Jika Salman sudah membuat keputusan, maka lebih baik baginya untuk diam dan menurut.


***


"Hati-hati. Sampaikan salamku pada ibu." Fira memeluk Elsa.


"Ya. Nitip Ardi." Elsa mengelus punggung Fira. "Dan maaf, mungkin saat bayimu lahir nanti, aku tidak bisa memberi kalian ucapan selamat." Elsa melepaskan pelukannya. Tangannya mengelus perut Fira.


Kau beruntung Fir, bisa mengandung benih Salman.


"Kenapa begitu? Kau harus datang saat aku melahirkan! Aku akan menunggumu." Fira menggenggam tangan Elsa.


Salman hanya diam memperhatikan interaksi kedua wanita itu. Ia menyadari apa maksud perkataan Elsa, beda dengan Fira.


"Man. Makasih, dan maaf." Elsa menatap Salman.


Salman mengangguk.


"Ra, boleh aku memeluk Salman untuk yang terakhir kalinya?" pinta Elsa sambil memandang wajah Fira penuh harap.


"Maaf Sa, itu tidak bagus." Salman segera menjawab. Ia tahu Fira akan mengijinkan permintaan Elsa karena hati Fira sangat lembut.


Elsa tertawa. "Ya sudah. Yang mau dipeluk ternyata keberatan. Aku pergi."

__ADS_1


Elsa melambaikan tangan lalu masuk ke dalam bandara untuk check in.


"Mas.."


"Apa? Kau mau merelakan aku dipeluk wanita lain? Jangan harap." Salman mengusap gemas kepala Fira lalu merengkuh bahu istrinya itu dan membawanya menuju mobil mereka.


"Mas. Kita pergi sudah sangat lama, apa anak-anak baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik saja." Salman menunjukan video di ponselnya.


"Ini apa?"


"Aku memasang cctv di rumah dan aku hubungkan dengan ponselku ini. Jadi kapanpun aku bisa melihat keadaan di rumah."


"Sejak kapan?"


Salman tidak menjawab. Ia hanya tersenyum misterius.


"Sejak kapan?" rengek Fira ingin tahu.


"Rahasia." Bisik Salman lalu mengecup pipi Fira. Yang dikecup malah cemberut kesal.


***


Di hotel.


Raul terus mengamati setiap tamu Alan. Ia mencari sosok yang dikenalnya. Namun sampai acara berakhir, ia tidak menemukan baik Salman maupun Elsa.


"Apa mereka berdua tidak datang? Bukankah dari info yang aku dapat, suami Anita adalah teman sekolah mereka."


Raul lalu mendekati Alan yang sedang duduk menjamu keluarga Anita. Ia sudah turun dari pelaminan.


"Meriah sekali pestanya. Kau sepertinya mengundang semua temanmu." Raul duduk di sebelah Alan.


"Tidak semua. Hanya teman baikku saja."


Apa mereka berdua bukan teman baik Alan sehingga tidak ikut diundang? Apakah info yang mengatakan kalau mereka bersahabat adalah salah. Sepertinya aku harus bertanya langsung pada Alan.


"Apa kau mengenal Salman?"


Alan kaget saat Raul menyebut nama Salman.


Apa Salman buru-buru pergi tadi karena melihat pria ini? Batin Alan.


"Salman yang mana?"


"Salman itu, yang memiliki perusahaan penerbitan. Suami Elsa. Eh mantan suami Elsa. Bukankah kalian berteman semasa sekolah dulu?"


"Oh, Salman itu. Iya aku mengenalnya." Alan menjawab sekedarnya.


"Apa kau tidak mengundang mereka berdua."


"Aku mengundang mereka."


"Tapi kenapa mereka tidak datang?'


"Mereka datang tadi. Tapi langsung balik ke Jakarta sepertinya." jawab Alan berbohong. Ia merasakan sesuatu yang ganjil saat Raul terus meminta informasi tentang Salman.


Ada apa diantara mereka? Aku akan menelepon Salman setelah ini.


...----------------...


Hai readers


Othor ada karya baru lho


Tengokin ya

__ADS_1



Beri dukungan ya!!!


__ADS_2