Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Damai


__ADS_3

"Fira!!!" seru keduanya.


Aku mendekat. Jika tidak ingat sopan santun, rasanya ingin aku menampar mereka berdua.


"Kalian!!! Apa yang kalian lakukan!!" teriakku marah, "Sadarkah kalian, aku wanita bersuami!" Suaraku mulai bergetar. "Alan, sebagai orang terdekatku, harusnya kau menghiburku, bukan menambahi masalahku. Tidakkah kau bayangkan apa yang bisa ibumu lakukan jika ia tahu sikapmu seperti ini?"Kutatap Alan tepat di matanya. Ia menunduk.


"Kak Salman, aku mengakui, dulu aku memang menyimpan rasa padamu. Tapi sekarang, kau suami Elsa. Dan soal keinginan Elsa, maaf aku nggak bisa. Kak, Elsa pasti sakit saat mengatakannya. Kakak tolong pahami dia. Jangan malah memanfaatkan rasa bersalahnya. Apalagi sekarang dia sakit. Dia butuh kakak mendukungnya."


"Tapi Ra.."


Kuangkat telapak tanganku memotong ucapan Kak Salman.


"Kalian bersahabat. Jangan gara-gara masalah nggak penting ini membuat persahabatan kalian rusak. Siapapun yang kelak berjodoh denganku, biarlah Allah yang menentukan." ucapku.


"Alan, bakti ke ibumu lebih penting dari apapun. Dan kak Salman, sebaik-baik pria adalah yang paling baik terhadap istrinya. Jika kakak tidak mencintai Elsa, cintailah dia karena penciptanya."


"Maafkan aku Ra!" kata Kak Salman ,"Aku hilang kendali karena sudah sangat lama aku..."


Kak Salman tidak meneruskan ucapannya. Aku tahu apa yang ia maksudkan, sebagai pria normal yang istrinya tidak bisa melayaninya karena sakit, tidak selingkuh atau jajan sudah merupakan kesabaran yang luar biasa.


"Iya Kak. Aku mengerti. Teruslah bersabar, aku yakin, Kak Salman akan mendapatkan apa yang kakak mau kelak karena kesabaran kakak ini. Aamiin."


"Amiin." kata Kak Salman sambil menatapku. Aku mengalihkan pandangan saat melihat cahaya itu dimatanya.


Sementara Alan hanya diam. Entaj apa yang ia pikirkan.


"Kak, maaf sudah malam. Tolong ajak Ryan pulang." pintaku.


"Dia dimana?" tanya Kak Salman.


Aku menunjuk tempat bermain. "Di sana!"


"Baiklah. Aku akan memanggilnya dan membawanya pulang." Kak Salman meninggalkan aku dan Alan.


"Ra!" suara Alan serak. "Aku...aku.."


"Aku tahu, Lan. Tolong jangan kau uoangi lagi. Aku tidak menyalahkanmu. Aku bisa memahami perasaanmu. Tapi perilaku kalian benar-benar membuatku kecewa." kataku pelan menyesalkan tindakan Alan dan Kak Salman.


"Ra, apa memang tidak ada kesempata buatku?" tanya Alan lemah.


Aku menarik nafas. "Alan, aku sungguh beruntung bisa kau cintai sebesar ini. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa memberimu harapan apapun. Hatiku tidak berada dalam kuasaku Lan. Namun jika takdir menjodohkan kita, kapanpun itu pasti terjadi." jawabku.


Alan menyunggar rambutnya frustasi. "Jadi aku masih boleh berharap kan Ra?"


"Lan. Roda berputar. Jangan diam di tempat. Apa salahnya kalau kamu memberi kesempatan dirimu sendiri untuk mengenal wanita lain. Anita misapnya. Menurut cerita ibumu, ia wanita baik. Bukalah hatimu,Lan. Siapa tahu kalian memang berjodoh." kataku.


Alan tersenyut kecut.


"Salman rupanya sudah memenuhi hatimu Ra, hingga tiada tempat buatku." gumam Alan putus asa.


"Laaan.."


"Nggak papa Ra. Aku mengerti. Soal aku dan Salman, kamu jangan khawatir. Kami hanya berselisih sebentar. Setelah ini pasti kami akan berbaikan lagi. Nggak mungkin persahabatan kami akan kami rusak sendiri. Jika kamu memang lebih memilih Salman, aku rela Ra. Hanya pesanku tolong jangan jadi istri keduanya."

__ADS_1


Aku tertawa lirih sambil memukul lengan Alan. "Kamu aneh. Kamu pikir aku wanita macam itu?"


Alan juga tertawa, "Tidak. Kau bukan wanita yang mampu berbahagia di atas penderitaan orang lain. Jika kau mampu pasti dari dulu kau akan mendapatkan Salman."


"Sudahlah. Ayo!" ajakku.


"Kemana?" tanya Alan.


"Ya masuklah. Mau sampai kapan di taman?" tanyaku.


"Kalau bersamamu, sampai pagi juga ayo aja." kata Alan.


"Mulai deh. Gombal." Aku teryaqa lirih lalu meninggalkan Alan yang segera menyusulku. Kami berjalan beriringan menuju lobi hotel. Alan berjalan sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


Rupanya, Kak Salman masih membujuk Ryan. Saat aku dan Alan masuk, Ryan langsung menyongsong kami.


"Bunda..bolehkan aku nginap di sini bareng bunda?" Ryan memelukku.


Aku bingung menjawabnya Mataku melihat Alan dan Kak Salman bergantian meminta pendapat.


"Bunda, Ryan kangen tidur dipeluk bunda. Kata bunda malam ini sudah nggak ada kegiatan kan?"


"Iya sayang. Tapi besok pagi bunda masih ada kegiatan. Nanti Ryan sama siapa?"


"Jam berapa penutupan?" tanya Kak Salman.


"Jam delapan." Alan yang menjawab.


"Besok sebelum jam delapan aku jemput Ryan, bagaimana?" tanya Kak Salman.


"Nggak papa sih, asal teman sekamarmu nggak keberatan." jawab Alan.


"Itulah. Aku nggak enak." jawabku sambil membelai rambut Ryan. Kalau boleh jujur, aku juga sangat kangen dengan Ryan.


"Tunggu sebentar." kata Kak Salman. Ia lalu berjalan ke resepsionist dan tak berapa lama kemudian ia kembali.


"Nih!" Kak Salman kenyerahkan kunci kamar padaku.


"Ini apa?"


"Aku menyewa kamat buat kalian. Jadi kamu nggak perlu tidur di kamarmu." jawab Kak Salman.


"Terima kasih, Kak." Aku menerima kunci dari tangan Kak Salman.


"Baiklah. Aku pamit. Ryan besok pagi-pagi om jemput ya." Kak Salman mengacak rambut Ryan.


"Iya Om."


"Ra, Lan, aku pulang dulu." pamit Kak Salman.


"Iya Kak."


"Aku antar." kata Alan.

__ADS_1


Mereka berdua lalu keluar dari hotel. Aku dan Ryan juga pergi dari lobi menuju kamar kami.


"Bunda..kamarnya bagus banget." seru Ryan antusias. Ia langsung naik ke ranjang dan meloncat-loncat di atasnya.


"Ryan, hati-hati." Aku mencoba membuat Ryan diam.


"Ayo tidur. Bunda sudah mengantuk. Ingat besok harus bangun pagi." kataku.


Ruan akhirnya mau juga diam. Dia lalu berbaring di sebelahku sambil memeluk tubuhku.


"Berdoa dulu.." Aku membimbing Ryan berdoa. setelah itu tak butuh waktu lama, kudengar dengkur halusnya.


***


Tok tok tok


Aku menoleh ke arah pintu. Siapa pagi-pagi sudah mengetuk pintu. Ku lihat Ryan kembali lelap setelah sholat subuh.


"Masih jam setengah lima. Nggak mungkin Kak Salman. Apa petugas hotel?" gumamku.


Aku memakai jilbabku dan membuka pintu.


"Assalamualaikum, Ra!" Alan dan Kak Salman berdiri di depan kamarku.


"Kalian mau apa?" tanyaku heran.


"Mau berenang." suara riang Ryan mengagetkanku.


"Kau tidak tidur?" tanyaku. Ryan menggeleng sambil tertawa.


"Nih bocah ngerjain bunda ya?" ku gelitiko tubuh Ryan.


"Boleh kan Ra?" tanya Kak Salman.


Aku mengangguk, "Tapi Ryan nggak bawa baju renang."


"Ini, udah aku siapin." Kak Salman memberikan paper bag berisi baju renang padaku.


"Baiklah. Kalian tunggu. Aku akan menyiapkan Ryan dulu."


Aku lalu masuk dan membantu Ryan berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, kami keluar.


"Kamu tidak ikut?" tanya Alan.


Aku menggeleng. "Aku tunggi di kamar saja."


"Baiklah. Ayo Ruan!" Alan menggandeng tangan Ryan menuju kolam renang hotel.


Kak Salman tersenyum lalu menyusul Alan dan Ryan.


Melihat mereka berdua kembali akrab, hatiku sangat lega.


"Kalian yang seperti inilah yang aku mau." gumamku lalu masuk ke kamar.

__ADS_1


Tinggalin jejak ya readers!!!!


__ADS_2