Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Persyaratan Andre


__ADS_3

"Aku akan meneleponnya. Berikan nomor telepon Andre!" Salman geram.


Fira memberikan nomor kontak Andre pada Salman.


"Halo, Ndre. Ini aku Salman. Ruan bersamamu?"


"Ya!"


"Baik. Dimana kalian. Aku akan menjemputnya."


"Kami ada di cafe Mentari. Kalian kemari saja." Andre menutup panggilan.


"Sial, dia menutupnya."


"Mas!"


"Mereka di cafe Mentari. Kita susul ke sana!"


Fira mengangguk dan bergegas naik ke mobil. Salman dengan cepat melajukan mobil mereka menuju cafe Mentari.


"Mas itu mereka!" tunjuk Fira begitu mobil memasuki pelataran cafe.


"Sayanh, hati-hati." teriak Salman kafena Fira buru buru turin saat mobil belum sempurna berhenti.


Fira berlari menuju ke arah Andre dan istrinya.


"Mana Ryan?!?" tanya Fira panik karena tidak melihat keberadaan Ryan.


"Cih.Nggak punya adat. Salam kek. Muslim apa bukan?!" sindir istri Andre.


"Orang macam kalian nggak pantas mendapatkan salam dari istriku."balas Salman yang juga sudah tiba di meja Andre.


Andre diam dengan mata menatap kagum pada Fira.


Kenapa dia makin mempesona.


" Mas!!" Istri Andre memukul lengannya.


"Kenapa ?? Rumput tetangga lebih hijau ya? Ya, karena dirawat dengan baik sama yang punya." sindir Salman sambil menarik Fira ke belakang tubuhnya. Menyembunyikan wanita pujaannya itu dari tatapan lapar Andre.


"Hem." Andre berdehem menghilangkan rasa malunya.


"Aku ingin bicara dengan kalian berdua. Duduklah!"


"Mas aku ke toilet dulu. Ingat pesanku!" istri Andre berdiri dan meninggalkan mereka bertiga.


"Dimana Ryan?!?" kembali Fira bertanya dengan mata menyala.


"Dia ada. Kamu tenang saja." jawab Andre santai.


"Kalau ada, panggil dia. Katakan bundanya datang untuk menjemputnya!" hardik Fira uang sudah hilang kesabarannya.


"Aku akan memanggilnya setelah kita membuat kesepakatan." ucap Andre. Suaranya sedikit bergetar.


"Kesepakatan apa?" sambar Salman. Ia khawatir jika kesepakatan yang Andre maksud adalah mengajak Fira rujuk demi Ryan.

__ADS_1


Berani kau mengucapkan syarat itu, kuhancurkan kau hari ini juga.


"Katakan!!" bentak Salman membuat Fira dan Andre kaget.


"Rupanya kau sangat menyayangi anak itu yang jelas-jelas nggak ada hubungan darah dengan kalian. Kalau dipikir-pikir, aku lebih berhak karena aku omnya." sindir Andre.


"Jangan banyak omong kau!!" Salman sudah mengulurkan tangannya dan menarik krah kaos Andre.


"Mas, sabar. Ini tempat umum." Fira menarik tangan Salman.


Andre tersenyum kecut. Ia membemahi krah kaosnya.


"Sebenarnya aku juga terpaksa tapi mau bagaimana lagi, aku butuh uang." ucap Andre yang bagaikan petir di telinga Fira.


"Apa?!Kau menculik Ruan demi uang." tamparan Fira melayang ke pipi Andre.


Andre tergelak ,"Kau menamparku? Apa sebegitu inginnya kau menyentuhku lagi Fir?"


"Bangsat kau Dre?" Salman hampir kalap jika Fira tidak menahannya.


"Dimana Ryan. Katakan!!" bentak Salman.


"Buat kesepakatan dulu! Baru aku panggil Ryan."


"Ok. Berapa maumu?" tanya Salman.


"Nggak banyak. Hanya 100 juta."


"Terlalu kau Mas. Kau ingin memeras kami. Darimana aku dapat uang sebanyak itu?" hardik Fira.


Ya Allah kenapa Mas Andre jadi begini. Dulu dia orang yang baik.


Maaf Ra. Aku terpaksa.


"Kamu nggak punya tapi Salman pasti punya." lirih Andre.


Salman mengepalkan tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk menghajar wajah pria tak tahu malu yang sedang duduk di hadapannya ini.


"Bukankah begitu, Man?" Andre dengan berani memandang Salman. Wajah merah Salman kian memerah karena amarahnya sudah memuncak.


"Kalaupun aku punya. Aku tidak akan memberikannya padamu dengan cuma-cuma." Suara Salman dalam dan menekan.


"Nggak cuma-cuma, Man. Kebahagiaan Fira taruhannya. Kau kan tahu, Ryan adalah segalanya bagi Fira. Aku saja ia kesampingkan demi Ryan." cicit Andre.


"Ok. Datang ke kantorku dan akan aku berikan uang itu padamu! Sekarang bawa kesini Ryan!"


"Tunggu. Setelah aku dapat uanhnya baru Ryan aku antar."


"Jangan ngelunjak kau Ndre!!" Salman bangkit dan siap menghajar Andre.


"Mas!" Fira menahan Salman.


"Bawa Ryan, atau kesepakatan kita batal!" ancam Salman.


"Dan itu akan membuat Fira hancur." kata Andre dengan pedenya.

__ADS_1


"Kepedean kamu Ndre. Aku bisa menempuh jalur hukum untuk mendapatkan Ryan. Kau pasti tahu, dengan kemampuanku aku akan bisa membawa pulang Ryan dan menjebloskanmu ke dalam penjara. Jadi bawa Ryan kemari sekarang juga!!" tegas Salman.


Andre menatap Salman. Ia tidak memikirkan apa yang diucapkan Salman. Nyalinya menciut. Dengan kekayaan yang Salman miliki, tentu tidak sulit bagi Salman membayar pengacara yang bisa memudahkannya memenangkan kasus jika Salman benar-benar membawa kasus Ryan ini ke meja hijau. Lagipula memang dirinya yang bersalah.


"Baik. Tapi janji kalau kau tidak akan ingkar!"


"Aku bukan dirimu." balas Salman.


Andre bangkit dan meninggalkan mereka.


"Mas, jangan memberinya uang. Dia akan memanfaatkan kita terus nanti."


"Tenang sayang. Suamimu bukan orang bodoh. Aku hanya ingin tahu, buat apa ia butuh uang sebanyak itu."


"Aku juga heran. Ini seperti bukan Mas Andre yang aku kenal."


"Sepertinya wanita itu membawa pengaruh buruk buat dirinya."


Obrolan mereka berhenti saat dari araj Andre pergi tadi, muncul Ryan.


"Papa Salman." Ruan berlari dan langsung memeluk Salman.


"Sayang kamu lupa sama bunda."


"Bunda ketutup paoa sih. Jadi Ryan nggak lihat." Ryan tertawa lalu beralih memeluk Fira.


"Bunda sudah sehat?" tanya Ryan.


"Bunda sehat. Kenapa Ryan bertanya begitu?" Fira mengelus kepala Ryan.


"Tante itu bilang, bunda sakit dan Ruan diajak menjenguknya bareng ayah." jawab Ruan polos.


Fira langsung menyorot sengit ke arah Andre yang memalingkan mukanya.


"Bunda nggak sakit sayang. Lain kali jangan percaya omongan orang. Kalau ada yang bilang bunda kenapa kenapa, Ruan minta bu guru untuk menghubungi bunda ya!" Salman menasehati Ryan.


Ryan mengangguk. "Iya, Pa. Pa, Ryan lapar."


Fira kembali menyorot Andre. "Jadi kau belum memberinya makan, Mas?" Kesal sekali Fira pada pria dihadapannya ini Andre hanya menunduk.


"Ayo. Kita cari makan." Salman bangkit lalu menarik tangan Fira agar ikut berdiri.


"Ku tunggu besok di kantor!!!" Salman kemudian menggandeng Ruan dan Fira meninggalkan cafe dan Andre yang masih menunduk.


"Bagaimana mas? Dapat uangnya?"


"Dapat. Apa kau sudah puas sekarang? Kau menjual harga diri suamimu sebesar 100 juta." Andre tersenyum sinis.


Jika saja aku masih bersama Fira,aku tidak akan mengalami kejadian memalukan ini.


Wanita itu memberengut. "Mas jangan salahkan aku. Salahkan diri Mas sendiri yang tidak mampu memberikan apa yang aku mau." Wanita itu bangkit dan meninggalkan Andre begitu saja.


Kenapa aku bisa jatuh dalam pelukan wanita ini. Kemana dia yang dulu kupandang baik. Kemana semua ilmu agama yang ia tunjukkan dulu pergi. Apa ia hanya menampilkannya untuk menebar perangkap saja?Dan bodohnya aku yang masuk ke dalam perangkapnya.


Andre menyunggar rambutnya dengan kasar. Lamat- lamat ia mendengar tausiah dari ponsel pelanggan yang baru datang dan duduk tidak jauh dari mejanya. Rupanya pemuda itu sedang melihat video tik tok sambil menunggu pesanannya datang.

__ADS_1


Jangan menilai baik orang hanya karena dia mengucapkan kata kata yang baik. Jika perbuatannya selaras dengan ucapannya, barulah ia manusia yang baik.


Selamat membaca semoga ada hikmah yang dapat saudara petik.


__ADS_2