
Alan terjaga. Dia mengerjabkan mata, menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke samping. Ia mendesah lega saat melihat tempat di sampingnya sudah kosong. Alan bangun lalu duduk. Ia teringat kejadian semalam. Alan menyunggar rambutnya dengan kasar.
Sial! Kenapa aku tidak bisa menahan diri. Semoga dia tidak buru-buru hamil.Lebih baik aku pisah rumah saja. Menjauh darinya agar kejadian ini tidak terulang lagi.
Alan turun dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi, Alan mendengar sayup sayup suara adzan. Ia langsung bersiap untuk melaksanakan sholat. Matanya memutar melihat sekeliling kamar.
Kemana dia?
Tanpa ada niat mencari Anita, Alan keluar dari kamarnya. Tempat yang ia tuju adalah mushola keluarga. Langkah Alan terhenti saat ia melihat sosok wanita memakai mukena duduk berdoa dengan khusuk. Perlahan Alan mendekat. Samar-samar ia mendengar isak tangis.
Rupanya dia di sini.
Alan beringsut.
Anita yang sedang berdoa, merasa kalau ada orang yang mendekat. Ia buru-buru mengakhiri doanya dan menyusut air mata yang membasahi kedua pipinya. Anita menoleh.
"Ma." Ia tersenyum saat melihat Bu Riya duduk di sampingnya sambil.menyiapkan peralatan sholatnya.
"Pengantin baru. Kenapa bangunnya pagi sekali? Mana suamimu?" tanya Bu Riya sambil mengulum senyum penuh arti.
"Mm Kak Alan belum bangun, Ma."
"Pasti kecapekan." Balas Bu Riya mengerling menggoda Anita. Anita membalasnya dengan senyum getir.
Andai mama tahu betapa kasarnya anak mama.
"Ya sudah. Kita sholat berdua saja!" ajak Bu Riya sambil maju dan berdiri di tempat imam. Anita ikut berdiri di belakangnya bersiap menjadi makmum.
Sementara Alan, saat tahu ada Anita di mushola rumahnya, mengurungkan niatnya untuk melakukan sholat di tempat itu. Ia memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya sebelum mamanya sampai sehingga tidak melihatnya. Alan memutuskan melaksanakan sholat subuh di kamarnya. Sendirian.
Di rumah Salman.
Salman membawa kedua putranya untuk sholat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumahnya. Sementara Fira melakukan sholat sendirian di rumah. Setelah selesai, Fira langsung berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.Kali ini ia antusias membuat sarapan kesukaan Ardi sebagai penghuni baru di keluarga kecil mereka. Semalam ia sudah bertanya pada Salman apa makanan kesukaan Ardi. Fira berharap, Ardi akan senang saat tahu makanan kesukaannyalah yang menjadi menu sarapan pagi ini.
"Assalamualaikum!" Suara Salman dan kedua anaknya tiba dari masjid.
"Waalaikumsalam." balas Fira. Salman langsung menghampiri Fira. Ia memeluk Fira dari belakang dan mencium pucuk kepala istrinya itu.
Ia tidak sadar kalau Ardi melihatnya melakukan itu dengan raut wajah tidak suka.
"Pa!" seru Ardi membuat Salman kaget dan langsung melepaskan belitan tangannya pada pinggang Fira.
"Iya sayang." Salman mendekati Ardi.
"Ardi mau minum." balas Ardi.
Fira yang mendengar itu segera mengambil gelas, mengisinya dengan air dan memberikannya kepada Ardi.
"Ini sayang." ucap Fira sambil menyungging senyum.
Di luar dugaannya, Ardi tidak menerima gelas yang ia sodorkan.
"Pa, Ardi mau susu hangat." ucap Ardi tanpa pedulikan Fira.
__ADS_1
Salman yang melihat kelakuan tidak baik Ardi, berniat menegurnya namun Fira memberi isyarat dengan gelengan kepala.
Fira mengembalikan gelas yang berisi minuman. Ia membuatkan susu hangat buat Ardi. Fira menaruh susu itu di meja yang ada di depan Ardi tanpa berkata-kata. Ia kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak.
"Minum!" perintah Salman tegas. Matanya menatap tajam Ardi.
Dengan kesal Ardi mengambil gelas berisi susu itu lalu menyeruputnya sedikit. Ia meletakkan gelas itu ke meja.
"Sudah kenyang." Ardi berlari meninggalkan Salman yang ternganga tak percaya dengan sikapnya.
"Dia?!" Salman menunjuk Ardi sambil menatap Fira.
"Sabar, Mas. Bukankah Mas Salman sendiri yang bilang kalau kita harus pelan-pelan memberitahu Ardi. Hm.' Gita mengelus lengan Salman menenangkan suaminya itu.
'Kau tidak apa-apa?" Salman menggenggam tangan Fira.
Fira menggeleng. "Aku bisa memahami sikapnya, Mas."
"Makasih sayang." Salman mengecup kening Fira lalu memeluknya.
Ardi menutup pintu kamar dengan keras membuat Ruan yang sedang memakai seragam kaget.
"Astaghfirullah." seru Ryan.
Ardi tidak mempedulikan Ryan. Ia melangkah dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi menelungkup.
"Kamu kenapa?" Ryan mendekat sambil merapikan pakaiannya.
"Kamu nggak ganti baju? Bukankah hari ini papa Salman akan mendaftarkanmu sekolah?"
"Dia bukan papamu! Jangan memanggilnya papa!" teriak Ardi sambil bangun dan menatap tajam penuh amarah ke arah Ryan.
"Tapi dia papaku sekarang." Ryan tergagap.
"Dia bukan papamu!" Ardi bangkit dan langsung menubruk tubuh Ryan. Ryan terjengkang dengan Ardi berada di atas tubuhnya mencengkeram krah lehernya.
"Kau kenapa?!" Ruan berteriak marah sambil menahan tangan Ardi.
"Kalian jahat! Bundamu mengambil papaku. Membuat papaku pergi meninggalkan mama. KALIAN JAHAT!!!" Ardi emosi. Ia melayangkan tangannya memukul wajah Ryan. Ruan tidak bisa mengelak karena Ardi menduduki tubuhnya.
Setelah mendapat pukulan, Ryan membalas dengan mendorong dada Ardi. Ardi terjengkang. Ryan balas menduduki tubuhnya. Tangan kanannya mencengkeram krah baju Ardi sedangkan tang kirinya mengepal ke atas siap memukul. Ardi sudah bersiap menutupi wajahnya dengan kedua tangan disilangkan.
"Aku tidak akan memukulmu. Kata Bu Guru, kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan juga." Ryan menahan tangannya di udara. Tangannya yang mencengkeram kerah baju Ardi ia lepaskan sambil menghempaskan tubuh Ardi.
"Bundaku bukan orang jahat. Dia bunda terbaik." ucap Ryan sambil membetulkan pakaiannya.
Ardi terduduk sambil terisak. Ryan memandangnya dengan penuh rasa kasihan.
Ryan duduk di samping Ardi.
"Ayahku juga pergi meninggalkan aku dan bunda." kata Ryan pelan. Ardi menoleh, memandang Ryan tak percaya.
"Ayahku menikah lagi." jawab Ryan sambil menunduk.
__ADS_1
"Dulu, aku sering melihat bundaku menangis tiap selesai sholat. Aku sangat kasihan. Aku tahu kamu pasti juga kasihan melihat mamamu sedih kan?"
Ardi mengangguk.
"Aku juga pernah marah sama wanita yang mengambil ayahku, tapi kata bunda aku nggak boleh marah. Kata bunda semua sudah takdir."
Ardi masih menangis. Ryan merangkulnya. "Bundaku bukan orang jahat. Dia juga menyayangimu. Lihat saja nanti."
"Kamu tidak apa-apa kalau bundamu menyayangiku?" Ardi bertanya pelan.
Ryan menggeleng. "Aku tidak punya ayah dan sekarang ada papa Salman. Kamu jauh dari mamamu, tapi ada bundaku. Kita sama kan?" Ryan tersenyum lalu meringis karena pipinya yang kena pukul Ardi terasa ngilu saat tersenyum.
"Sakit ya? Maaf." Ardi menunduk menyesali perbuatannya.
"Aku laki-laki." ucap Ryan bangga disusul senyum di wajah mungilnya yang tampan. Ardi akhirnya tertawa melihat kenarsisan Ryan.
Di depan pintu kamar mereka, Fira dan Salman bernafas lega. Semula mereka khawatir saat mendengar teriakan Ardi yang mengatakan kalau Fira itu jahat.
Flashback on
Salman memeluk Fira. Ia merasa senang saat Fira tidak mengambil hati perbuatan Ardi.
"Mas, sudah. Lepasin! Aku mau meneruskan masak." Fira berusaha mengurai pelukan Salman.
"Bentar saja." Salman malah menarik tubuh Fira hingga tubuh mereka tidak berjarak meski sehelai rambut.
"Mas, ih. Lepasin! Nanti keburu siang." Suara Fira tercekat karena himpitan tubuh kekar Salman.
"Hmmm wangi sekali. Aku suka kamu harum sekali." Salman mengendus leher Fita dan sesekali mencucupnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Fira mendesah membuat Salman kian semangat. Bibirnya mulai naik menuju ke wakah Fira mencari pelabuhan favoritnya. Saat bibir Salman mulai menyentuh bibir Fira, mereka dikagetkan oleh teriakan Ardi.
"Aww." Salman berteriak kesakitan karena Fira menggigit bibirnya.
"Maaf! Aku terkejut. Ardi. Ardi." Fira mendorong dada Salman dengan cemas.
Salman melepaskan pelukannya. Bergegas ia dan Fira menujj kamar Ryan. Saat mereka akan masuk, bersamaan dengan Ryan menggantung tinjumanya dan bilang jika dia tidak akan membalas memukul Ardi.
Akhirnya mereka diam di depan kamar mendengarkan percakapan kedua anak itu.
Fira sampai menutup mulutnya dan matanya berkaca-kaca melihat bagaimana Ryan membelanya.
"Anakmu hebat." bisim Salman.
Fira hanya mengangguk.
Flasback off
"Kita tinggalkan saja mereka! Ryan ternyata bisa mengatasinya. " Salman menggandeng tangan Fira menjauj dari kamar Ryan.
"Aku akan menyelesaikan memasak. Mas sebaiknya beritahu mereka untuk bersiap sarapan."
Salman mengangguk. Ia mencuri satu kecupan di bibir Fira sebelum Fira beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ih dasar." omel Fira sambil tersenyum.!
__ADS_1