
POV FIRA
Aku menatap kotak kecil pemberian Alan. Dalam benakku masih bimbang antara meninggalkan kotak itu di kantor atau membawanya pulang.
Ada ketakutan akan kemarahan Kak Salman saat tahu kalau aku merima sesuatu dari Alan.
Tapi bukankah wajar kalau pengantin menerima kado. Akhirnya kemasukkan kado Alan ke dalam tas
Eh, tapi ini kan Alan yang ngasih.
Kukeluarkan lagi benda kotak itu dan menaruhnya di atas meja kerjaku.
Ketika sedang bingung ponselku berdering.
"Assalamualaikum Mas!"
"Waalaikum salam.Belum pulang ya?" tanya Kak Salman.
"Sudah."
"Kok nggak keluar? Aku di depan."
"Iya aku keluar."
Buru-buru kurapikan mejaku lalu menyambar tasku dan bergegas keluar. Sesampainya di luar aku ingat akan kado Alan yang tadi masih tergeletak di meja. Ku putar tubuhku dan kembali masuk untuk mengambil benda itu.
"Apa itu?" Kak Salman bertanya begitu aku masuk ke dalam mobil sambil memegang kotak kecil kado dari Alan.
"Kado dari Alan. Buat mas juga ada." Aku mengeluarkan bungkusan yang satunya dari dalam tas dan menyerahkannya pada Kak Salman.
Kak Salman langsung membuka bungkusan itu.
"Ck dasar si Alan." Muka Kak Salman memerah. Ia menutup kembali bungkusan itu setelah melihat isinya. Aku jadi ingin tahu apa isi kado Alan sehingga membuat muka Kak Salman sampai memerah begitu
"Apa?" Aku yang kepo karena melihat muka Kak Salman memerah mencoba melihat bungkusan yang Kak Salman pegang.
"Apa sih." Kak Salman malah menyembunyikannya.
"Eh kok disembunyiin. Mau lihat aku Mas." Aku menarik tangan Kak Salman yang menyembunyikan kado dari Alan. Kak Salman dengan kekeh mempertahankannya hingga terjadi tarik menarik.
"Pelit banget sih. Apaan isinya aku mau lihat!" rengekku merayu.
"Kamu nggak perlu melihatnya, tapi nanti akan merasakannya." jawab Kak Salman sambil menahan senyum membuatku semakin penasaran.
"Tau ah!" Aku memasang wajah cemberut karena rasa penasarannya nggak menemukan jawaban.
"Daripada kepo dengan kadoku, mending dibuka tuh kado dari Alan." Kata Kak Salman sambil tangannya memasukan kado dari Alan ke dalam saku celananya.
Aku bergeming dan masih cemberut karena benar-benar penasaran apa yang Alan berikan hingga membuat wajah tampan suamiku memerah jengah.
"Ayo dibuka. Aku juga ingin tahu." Kak Salman mencoba mengambil kotak yang ada di pangkuanku. Aku dengan cepat menyambarnya lalu memasukan kotak itu ke dalam tas.
"Mmm mbalas nih." goda Kak Salman.
"Ini kado untukku jadi cukup aku saja yang melihatnya. Orang lain nggak boleh." jawabku masih dengan rasa kesal.
"Tapi seorang istri tidak boleh menerima pemberian dari laki-laki lain tanpa seijin suaminya. Dosa." bisik Kak Salman menyeringai licik
Mendengar kata dosa, Aku mengeluarkan kembali kado dari Alan dengan perasaan terpaksa dan memainkannya di tanganku
"Buka dong!" titah Kak Salman lembut.
__ADS_1
"Iya akan aku buka. Tapi janji dulu!" pintaku dengan memasang wajah menggemaskan.
"Janji apa?" Kak Salman malah mengelus pipiku.
"Setelah aku tunjukkin kado aku, nanti gantian Mas Salman tunjukkin kado dari Alan juga! Bagaimana?" Aku mengajukan penawaran
"Maaf sayang Saat ini kau tidak dalam posisi yang bisa menawar." balas Kak Salman mengulum senyum saat aku kembali menunjukan wajah kesal.
"Buka gih!" Kak Salman menunjuk kado dari Alan dengan menggerakkan dagunya.
Perlahan aku mulai membuka kado dari Alan. Aku tersentak kaget melihat isinya. Langsung aku menoleh ke arah suamiku yang sudah melengos dengan wajahnya yang makin merah.
"Mas..ini.." Aku menutup kembali kado dari Alan. "Aku akan mengembalikannya. Aku juga tidak tahu tadi isinya apa. Kalau tahi tidak akan aku terima." sesalku.
Aku menoleh saat kudengar helaan nafas kasar Kak Salman. Tanpa bicara, ia langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
"Mas..aku akan mengembalikannya." kataku mencoba memecah kesunyian.
Kak Salman masih dalam mode diam entah apa yang ia pikirkan.
"Mas, kita mau kemana?" Aku memandangi jalanan yang tidak menuju ke perumahan.
"Ke rumah kita." jawabnya pendek dan dingin. Aku diam. Rupanya Kak Salman masih kesal. Kado cincin permata biru dari Alanlah yang membuatnya kesal.
Mobil berhenti di depan rumah yang bagiku sangat besar.
Seorang pria tua segera berlari dan membuka pintu pagar saat melihat mobil kami.
"Sore De ." sapanya.
"Sore pak." balas Kak Salman lantas mengendara mobik nemasuki halaman rumah.
"Turun!" perintahnya masih dengan aura dingin.
"Ini ruang tamu, sebelah sana ruang keluarg." Kak Salman menjelaskan isi rumah, "Dapur ada di sebelah kanan. rumah ini ada enam kamar. Dua dibawah dan empat di lantai dua. Kamar kita ada di bawah." Ia kemudian berjalan menuju sebiah kamar yang aku yakini sebagai kamar kami.
Saat pintu dibuka, aku ternganga melihat kamar yang luasnya dua kali kamarku dengan bed yang besar dan nampaknya sangat empuk. Aku berjalan ke tirai yang terpasang di dalam kamar itu. Kubukai tirai tersebut. Kembali aku takjud karena ternyata tirai itu menutupi pintu dan jendela yang semuanya terbuat dari kaca. Dan di luar ada teras dengan tamannya yang cantik.
Saat aku hendak membuka pintu, aku merasakan seseorang memelukku dari belakang.
"Ini kado dari aku!" bisik Kak Salman dekat di sisi telingaku. "Masih lebih bagus dari apa yang diberikan Alan bukan?"
Aku memutar tubuhku. Kini kami berhadapan. Ku pegang pipinya dengan kedua tanganku. "Mas! Jika mas nggak suka, aku akan mengembalikannya besok."
Kak Salman menyentil dahiku." Kamu kenapa menerimanya? Dari bungkusnya tidakkah kamu bisa menebak apa isinya?"
Aku menunduk. Aku memang sempat curiga namun perasaan untuk tidak lagi mengecewakan Alan saat itu lebih mendominasi.
"Aku...aku hanya tidak ingin mengecewakannya lagi. Dan menurutku, tidak ada salahnya pengantin menerima kado." kilahku sambil memainkan ujung jariku di dada Kak Salman.
"Tidak masalah jika kadonya wajar." balas Kak Salman sengit. Aku mendongak berusaha menatapnya namun kembali menunduk saat kulihat matanya yang mengkilatkan amarah.
"Tapi cincinkan nggak papa." gumamku lirih.
"Nggak papa.kalau yang ngasih keluarga atau teman perempuan. Ini ALAN." Kak Salman menekan kata Alan.
"Iya deh besok aku kembalikan!"
"Biar aku saja."
"Jangan!!"
__ADS_1
"Kenapa?! Nggak rela cincinnya dikembalikan?!"
"Bukan itu. Aku nggak mau kalian bertengkar."
"Kenapa? Takut Alan aku buat babak belur?" Kak Salman menarikku hingga aku semakin menempel pada tubuhnya.
"Mas..sesak ih. Mas ini marah tapi pelik-peluk." Aku dorong tubuhnya agar sedikit berjarak.
"Daripada aku marah dan mukulin kamu." jawabnya lalu menghujani wajahku dengan ciuman.
"
"Mas..aku bau keringat. Pulang kerja juga belum ganti seragam."
"Hehehe..kapan lagi nyiumin bu sekcam." balasnya nyengir dan terus saja menciumiku bahkan lebih lagi sampai ia berbisik mengajakku mencoba ranjang baru, akupun pasrah.
"Mas,.kenapa sih segitunya soal kado Alan?" Kumiringkan tubuhku sambil melihat Kak Salman yang berbaring denhan mata terpejam.
"Hmm."
Jawaban apa itu.
"Mas." Aku menggoyang badannya.
"Aku lelah Ra. Biar istirahat bentar. Kamu enak tinggal menikmati. Aku barusan kerja keras." gerutunya lalu memelukku. "Tidur dulu. Kita nginap di sini malam ini."
"Mas, aku nggak bawa baju ganti." protesku.
"Kamu nggak perlu baju sayang." suara Kak Salman sendu. Tanda kalau ia benar-benar mengantuk.
Kuurai pelukannya. "Mau kana?" Kak Salman langsung mengangkat kepalanya.
"Mandi Mas."
Kak Salman tersenyum lalu kembali melanjutkan mimpinya.
...****************...
POV SALMAN
Hatiku tercekat manakala melihatnya masuk sambil memegang sebuah kotak yang aku kenal. Tanpa bertanyapun aku tahu itu dari Alan. Dia memegangi dan memandang kotak itu.
"Apa itu?" tanyaku.
Dia menjawab dengan jujur. Lalu ia memberikan kado dari Alan buatku. Aku membukanya dan tersenyum. Aku ingat, dulu kami pernah bercanda saat SMA bahwa kami akan memberikan kado obat kuat saat salah satu dari kami menikah. Rupanya Alan masih ingat dan benar-benar melakukannya.
"Apa?!" tanyannya. Aku tidak mau menunjukan kado dari Alan. Gengsi donk masak harus pakai obat kuat. Nanti dikirain selama ini aku selalu memakainya. Dia sedikit kesal saat aku tidak mau menunjukan kado dari Alan untukku. Mukanya cemberut menggemaskan.
Kualihkan kekesalannya dengan memintanya membuka kadonya sendiri. Semula ia menolak tapi setelah aku katakan kalau menerima pemberian pria lain itu dosa, ia mau juga membukanya meski dengan terpaksa. Melihat wajahnya yang seperti itu, ingin rasanya aku menerkamnya. Sayang di di pinggir jalan.
Saat kado itu dibuka, ternyata dugaanku tidak salah. Itu cincin yang Alan beli dulu. Ternyata Alan masih menyimpannya. Dulu kami membelinya bersama. Waktu itu Alan bilang akan memberikan cincin itu kepada wanita yang ia cintai. Aku juga membeli cincin untuk wanita yang aku cintai. Tanpa kami sadari saat itu, kami membeli cincin untuk wanita yang sama.
Aku sangat kesal karena Alan berhasil menyerahkannya pada wanita yang ia cintai. Sedangkan cincin yang dahulu aku beli, aku buang ke laut saat mendengar dari Elsa kalau mereka jadian.
Mengingat itu aku merutuki kebodohanku. Kukemudikan mobil dengan perasaan kesal yang sangat. Fira begitu bingung dan berusaha meredakan amarahku. Berkali-kali ia bilang akan mengembalikan cincin it
Aku membawanya ke rumah yanag baru aku beli. Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan padanya rumah itu sampai perabotnya lengkap dan siap kami huni. Namun aku harus menghapus rasa dari cincin itu dengan kado yang lebih meski aku tahu Fira bukan wanita matre.
Aku kembali dibuat kesal saat ia berargumen kalau menerima kado bagi pengantin adalah hal wajar. Dimana otaknya. Apakah ia lupa kalau Alan beda. Ia pria yang memujanya. Bagaimana aku bisa tenang jika pria yang memuja istriku memberi kado benda istimewa nan keramat padanya.
Sebenarnya aku sangat marah. Namun logikaku masih jalan. Rugi aku kalau marah dan bertengkar. Akhirnya kulampiaskan amarahku dengan menciumi wajahnya dan memeluknya. Hingga muncul ide untuk mencoba ranjang baru kami.
__ADS_1
Dan akhirnya paket kado lengkap untuk wanita tercinta. Rumah baru plus plus plus. Karena malam ini aku akan kembali mengurungnya di kamar.