
Ryan menyantap makanan yang kusediakan di meja dengan lahap.
"Papa, kita jadi jalan jalan kan?" tanya Ryan yang langsung membuatku terbatuk.
"Papa?!" tanyaku heran.
"Iya. Aku nggak mau manggil ayah. Aku mau manggil papa saja." cicit Ryan.
Kak Salman tersenyum, "Jadi donk. Kan papa sudah janji. Ryan mau jalan jalan kemana sih?"
Aku melirik Kak Salman yang langsung dibalas dengan kedipan sebelah matanya membuatku langsung tertunduk dengan dada berdebar.
Kenapa masih suka jantungan saat melihat Kak Salman. Bukankah kami sudah melewati hal yang lebih dari sekedar kedipan mata.
"Mau ke fun fair." jawab Ryan dengan mulut penuh makanan.
"Sayang, jangan bicara saat makan." tegurku.
Ryan hanya mengangguk. Detik berikutnya ia menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Sudah habis. Boleh bicara kan Nda?" celoteh Ryan riang. "Ryan mau ke fun fair dan menaiki semua wahana yang ada di sana.Besok Ryan akan cerita ke teman-teman kalau Ryan juga bisa bersenang senang dengan papa Ryan."
Ucapan penuh semangat dari Ryan justru mengiris hatiku. Aku menelan makanan yang kukunyah dengan susah payah. Sesak di dada membuat tenggorokanku seolah menyempit.
Setuhan hangat di tanganku membuatku menoleh ke samping. Tampak Kak Salman tersenyum sambil mengangguk menyemangatiku. Ia tahu apa yang kurasakan.
"Ok, setelah magrib kita akan ke fun fair." ucap Kak Salman.
"Horee!" sorak Ryan, "Papa Salman is the best." Ia mengacungkan jempolnya. Lalu beranjak dari kursinya untuk memeluk Kak Salman. "Makasih Pa." ucap Ryan bahagia.
"Hanya papa yang dipeluk?" protesku.
Ryan lalu berpindah memelukku. "Love you bunda." Ia mencium pipiku.
"Love you too." balasku bahagia melihat kebahagiaan Ryan dan keceriaannya yang sudah cukup lama hilang sejak keputusanku berpisah dengan Mas Andre
"Ryan ke kamar. Mau siap siap sholat magrib." katanya lalu berlari meninggalkan kami.
"Eh bukankah magrib masih lama." gumamku.
"Dia terlalu bahagia hingga tak sabar menunggu magrib tiba. Biarkan saja. Jangan rusak moodnya." kata Kak Salman.
Aku dan Kak Salman meneruskan makan kami.
__ADS_1
"Terima kasih,Kak." aku memeluk Kak Salman saat kami berdua berada di kamar setelah selesai makan.
"Yang niat donk ucapin terimakasihnya. Masak cuman pelukan."
Aku menarik tanganku sambil cemberut. "Ya udah kalau nggak mau terima pelukan." balasku pura-pura ngambek.
"Eh mau kok." Kak Salman menahan tanganku, "Tapi lebih senang kalau pelukannya plus plus." ucapnya sebelum akhirnya menautkan bibir kenyal dan dinginnya itu ke bibirku. Aku memejamkan mata menikmati permainan bibir Kak Salman yang awalnya lembut namun makin lama makin liar menuntut sambil mendorong pelan tubuhku hingga aku menempel di sisi ranjang dan jatuh terduduk. Kak Salman masih terus mendorong membuatku terlentang dan dia segera mengungkungku. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah. Tangannya sudah bekerja dengan lihainya.
"Kak..." desahku saat ia kian dalam mencumbuku.
"Nikmati saja sayank." bisik lembutnya.
Kegiatan kami terus berlangsung dan saat Kak Salman sudah siap mencetak gol, kami dikejutkan dengan ketukan di pintu.
tok tok tok
"Papa, sudah mau magrib. Ke masjid yuk!" Suara nyaring Ryan berteriak dari luar.
Kak Salman mematung di posisinya. Aku menahan senyum melihat ekspresi terkejutnya dan juga penasaran apa jawabannya atas ucapan Ryan.
" Bukankah masih setengah jam lagi." lirihnya. Aku menutup mulut agar tawaku tidak keluar.
"Iya sayang. Tunggu saja, papa masih kerokin bunda!" teriak Kak Salman membuat mataku membola.
"Nggak juga. Aku memang sedang kerokin kamu, tapi bukan bagian luar, melainkan bagian dalam." jawabnya yang langsung menghentakkan pinggulnya.
'Aww!!" aku memekik kaget lalu reflek menutup mulutku.
"Bunda kenapa?" teriak Ryan. Rupanya anak itu masih berdiri di depan kamar kami dan mendengar teriakanku.
"Jawab!" bisik Kak Salman sambil terus melanjutkan gerakannya.
Aku mengatur napas untuk menormalkan suaraku.
"Nggak apa apa Ryan. Papa Salman kerokinnya mendadak membuat bunda keget." jawabku yang langsung mendapat tanggapan senyum tipis dari Kak Salman.
"Oh. Ryan tunggu di depan. Papa cepetan kerokinnya. Jangan lama lama nanti bunda malah masuk angin." teriak Ryan disusul suara kaki diseret pergi dari depan kamar kami.
Kak Salman terkekeh. Aku memukul bahunya.
"Eh..berani memukulku. Rasakan hukumanmu." bisik Kak Salman lalu menenggelamkan wajahnya ke leherku. Aku melenguh saat merasakan hisapan di leherku. Kudekap erat tubuh Kak Salman dan akhirnya kami mencapai puncak bersama.
"Sore yang indah." ucap Kak Salman lalu mengecup keningku. " Aku mandi duluan ya. Ryan sudah menungguku."
__ADS_1
Aku mengangguk karena memang aku ingin beristirahat. Seharian ini entah sudah berapa kali aku dibuat lemas oleh suami keduaku itu. Aku menarik selimut menutupi tubuhku. Lama-lama kantuk mulai menyerang dan membuatku terlelap.
"Bangun, mau magrib malah tidur." Aku mendengar lamat-lamat suara Kak Salman membangunkanku dan menowel pipiku. Ia bahkan mengusapkan tangannya yang dingin karena habis mandi ke wajahku. Aku menggeliat dan membuka mataku dengan malas.
"Bangun, Ra!" bisik Kak Salman, "Atau mau kukerjai lagi." Kak Salman bersiap naik ke ranjang. Aku menggulingkan tubuhku ke samping.
"Bangun, aku sudah bangun." seruku lalu langsung turun dari ranjang dan melesat ke kamar mandi. Samar kudengar tawa Kak Salman. Aku menata napasku yang ngos-ngosan karena kelakuan Kak Salman.
Ck dasar suami usil.
Aku lalu mengambil wudlu sebelum mengguyur tubuhku di bawah siraman air dari shower.
Selesai mandi aku keluar dan tak mendapati Kak Salman di kamar. Masih dengan kimono mandi, aku keluar sambil mengeringkan rambutku pakai handuk.
Di luar aku melihat dua priaku duduk santai di kursi. Masing-masing sudah rapi dengan stelan sarung dan koko juga peci.
"Bunda sudah sehat?" tanya Ryan saat aku mendekat.
"Kapan bunda sakit?" balasku polos.
"Hem!" dehem Kak Salman keras. Aku menatapnya bingung
"Kan tadi dikerokin papa, itu karena bunda nggak enak badan kan? Kok malah keramas. Nanti tambah masuk angin lo bun." ucap pria kecilku itu sok menasehati.
glek
Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku melirik suamimu yang malah memasang senyum jahilnya membuatku gemes dan sebal. Mataku melotot
Gara gara kakak.
Anehnya, pria itu malah tersenyum manis dengan tatapan tanpa dosa.
"Bunda minum air hangat sana! Jangan sampai sakit. Nanti batal jalan-jalannya. Aku mau ke masjid. Ayo Pa, kita berangkat!" Ryan bangkit diikuti Kak Salman yang masih tersenyum sambil menatapku dengan tatapan menggoda. Ia bahkan menaik turunkan alisnya.
Menyebalkan. Awas, nanti nggak akan aku kasih.
Aku berbalik hendak kembali ke kamar saat kembali kudengar suara Ryan yanag entah mengapa menjadi sangat cerewet. "Bunda, sekalian minum tolak angin. Atau jahe hangat. Assalamualaikum bunda. Aku berangkat."
Ya ampun. Kenapa sih dengan bocah itu.
Aku menatap punggung kedua priaku sampai hilang tertutup pintu pagar.
"Begini nih akibat membohongi anak kecil." gumamku sambil masuk kembali ke kamar.
__ADS_1